NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 14

Hari yang dinanti tiba. Masjid Al-Fattah, yang biasanya dipenuhi oleh mahasiswa dengan kening berkerut memikirkan tugas, kini disulap menjadi ruang yang begitu syahdu. Aroma bunga melati dan kayu gaharu memenuhi udara. Matahari pagi menembus celah-celah ventilasi, menciptakan garis-garis cahaya yang seolah-olah menjadi saksi bisu atas sebuah janji besar.

Sasya duduk di ruang transit khusus akhwat, tangannya dingin meski sudah dibalut henna putih yang cantik. Ia mengenakan kebaya putih panjang dengan payet sederhana namun elegan. Di balik cadar tipisnya, bibirnya tak henti merapal zikir.

"Sya, Pak Alkan sudah masuk ke area masjid. Ganteng banget, Sya! Kaku-kaku cool gitu pakai beskap putih," lapor Putri yang bolak-balik jadi informan.

"Put, jantung gue berasa mau overclocking. Rasanya lebih tegang daripada nunggu hasil compile program yang paling ribet," bisik Sasya.

Di tengah masjid, Alkan duduk berhadapan dengan Pak Baskoro. Di hadapan mereka, ada sebuah meja kayu kecil dan mikrofon. Alkan tampak begitu tenang, namun jika dilihat lebih dekat, jemarinya sedikit bergetar saat memegang bolpoin untuk menandatangani berkas administrasi.

Wali hakim dan para saksi—yang terdiri dari Dekan Fakultas Teknik dan seorang Kyai sepuh—sudah siap di posisi mereka.

Pak Baskoro menjabat tangan Alkan. Genggamannya kuat, mencerminkan tanggung jawab yang akan berpindah tangan.

"Ananda Alkan Malik Al-Azhar bin Ahmad Al-Azhar," suara Pak Baskoro menggema, berat dan penuh emosi. "Saya nikahkan dan saya kawinkan Ananda dengan putri kandung saya, Sasya Kirana binti Baskoro, dengan maskawin berupa seperangkat alat salat dan uang sebesar 3 miliar tunai."

Alkan menarik napas panjang. Seluruh memori tentang bimbingan skripsi, debat logika, hingga doa di sepertiga malam berkelebat dalam satu detik.

"Saya terima nikah dan kawinnya Sasya Kirana binti Baskoro dengan maskawin tersebut, tunai!"

Suara Alkan mantap. Tanpa jeda. Tanpa kesalahan .

"Saksi? Sah?" "SAH!"

"Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir..."

Doa mulai dipanjatkan. Di ruang transit, Sasya menangis sesenggukan. Bukan tangis sedih, tapi tangis syukur. Koneksi yang selama ini hanya terenkripsi dalam doa, kini telah open access dan permanen di hadapan Allah dan manusia.

Sasya dituntun keluar menuju ruang utama masjid. Saat ia melangkah masuk, Alkan berdiri menantinya. Untuk pertama kalinya, Alkan menatap Sasya bukan sebagai mahasiswa bimbingan, bukan sebagai variabel luar, melainkan sebagai istrinya.

Sasya mendekat, lalu dengan perlahan ia meraih tangan Alkan untuk mencium punggung tangannya. Saat itulah, Alkan meletakkan telapak tangan kanannya di atas kepala Sasya, memejamkan mata, dan membacakan doa yang membuat Sasya merinding:

"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi..."

Setelah doa selesai, Alkan berbisik sangat pelan, hanya untuk telinga Sasya, "Mulai hari ini, semua revisi hidup kamu, adalah tanggung jawab saya. Kita kerjakan bareng-bareng ya, Sayang?"

Wajah Sasya merah padam. Dipanggil 'Sayang' oleh dosen paling killer se-fakultas itu rasanya seperti terkena serangan malware yang paling manis.

Resepsi di halaman kampus berlangsung meriah namun tetap khidmat. Seperti rencana awal, katering yang dikelola para alumni sukses besar. Aroma sate dan soto memenuhi taman kampus. Para dosen yang tadinya skeptis, kini tampak menikmati suasana yang begitu hangat.

Tiba-tiba, seorang tamu tak terduga datang. Prof. Handoko. Beliau datang tanpa Sarah.

Alkan menyambutnya dengan hormat. "Prof, terima kasih sudah hadir."

Prof. Handoko menatap Alkan dan Sasya bergantian. Beliau menghela napas panjang. "Alkan, saya minta maaf atas intervensi saya dan putri saya sebelumnya. Kamu benar. Jabatan bisa dicari, tapi integritas dan pendamping yang tulus seperti istrimu ini... itu langka. Selamat untuk kalian berdua."

Prof. Handoko menyerahkan sebuah amplop besar. "Ini bukan uang. Ini surat rekomendasi beasiswa penuh untuk Sasya lanjut S2 di luar negeri. Anggap saja ini hadiah permintaan maaf saya."

Sasya dan Alkan saling berpandangan. Jalur langit benar-benar memberikan bonus yang tidak terduga.

Malam harinya, setelah semua acara selesai, mereka kembali ke rumah baru mereka—sebuah rumah kecil namun asri dekat kampus. Alkan membantu Sasya membukakan pintu.

"Capek?" tanya Alkan sambil melepaskan blangkonnya.

"Lumayan, Mas. Tapi rasanya lega banget. Kayak habis submit skripsi dan langsung di-ACC tanpa revisi sama sekali," jawab Sasya sambil melepas sepatu hak tingginya.

Alkan duduk di sofa, lalu menarik Sasya untuk duduk di sampingnya. Ia membuka laptopnya—kebiasaan yang tidak bisa hilang.

"Lho, malam pengantin kok buka laptop, Mas?" protes Sasya.

"Bentar. Saya cuma mau ganti status di sistem informasi kepegawaian kampus," ujar Alkan sambil mengetik sesuatu.

Sasya mengintip layar. Status Marital: Menikah dengan Sasya Kirana. Status Hati: Occupied Permanently.

"Dah," Alkan menutup laptopnya. "Sekarang, nggak ada lagi urusan akademik. Cuma ada urusan kita. Siap mulai bimbingan hidup sesi pertama?"

Sasya tertawa dan menyandarkan kepalanya di bahu Alkan. "Siap, Mas Dosen Idaman."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!