NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Gus Azkar tertawa rendah melihat reaksi istrinya yang mulai kelabakan. Ia semakin merapatkan posisi tubuhnya, membiarkan Rina merasakan aura kehadirannya yang dominan di atas tempat tidur itu.

"Kenapa diam, Sayang?" bisik Gus Azkar lagi, matanya mengunci mata Rina yang bergetar.

​Rina mengerucutkan bibirnya, mencoba melawan rasa gugupnya. "Ya dingin Mas... masa aku disuruh pakai baju kek gituan terus nanti di rumah baru. Ih, Mas Azkar pikir aku nggak kedinginan apa?"

​Gus Azkar tersenyum miring, jemarinya kini mengusap dagu Rina dengan lembut. "Kayaknya nggak bakal kedinginan, soalnya ada Mas yang akan menghangatkan kamu setiap saat," jawabnya dengan nada yang sangat yakin.

​Pandangan Gus Azkar sedikit berubah menjadi lebih menyelidik, namun tetap penuh godaan. "Tapi Mas penasaran... Mas merasa kalau kamu itu orangnya memang suka berpakaian seperti itu kalau tidur. Mana mungkin kan, waktu malam itu kamu ngira itu cuma mimpi, lalu tiba-tiba kamu kepikiran pakai 'baju dinas' yang kekurangan bahan itu? Mana AC hidup lagi."

​Gus Azkar menjeda kalimatnya, senyumnya semakin lebar. "Pasti kamu itu orangnya aslinya memang suka seperti itu kalau di kamar, kan? Meskipun udara dingin, kamu lebih nyaman terbuka. Jujur saja, Sayang... sejak kapan kamu hobi mengoleksi baju yang membuat suamimu ini hampir lupa daratan?"

​Rina langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa benar-benar tertangkap basah. "Mas... itu kan... aku cuma pengen ngerasa bebas aja kalau di kamar sendiri. Aku nggak tahu kalau bakal ketahuan Mas secepat ini!"

​Gus Azkar terkekeh, ia menarik tangan Rina dari wajahnya lalu mengecup telapak tangan itu satu per satu. "Tidak apa-apa. Justru Mas bersyukur kamu punya hobi itu. Itu artinya, Mas adalah satu-satunya laki-laki beruntung yang bisa melihat sisi 'bebas' kamu yang selama ini tertutup cadar dan gamis longgar."

​Ia kemudian membisikkan sesuatu yang membuat jantung Rina hampir melompat keluar. "Nanti di rumah pojok sawah, Mas tidak akan menyalakan AC. Mas akan membiarkan udara sawah yang masuk, dan kalau kamu merasa dingin karena baju dinasmu itu... Mas sudah siap menjadi selimut hidup untukmu sepanjang malam."

​Rina hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gus Azkar, merasakan otot-otot suaminya yang keras. "Mas Azkar beneran udah berubah ya... ustadz galak aku sekarang jadi ustadz mesum!"

​"Hanya mesum pada istri sendiri itu pahala, Rina," jawab Gus Azkar santai sambil memeluk erat tubuh istrinya yang sangat pas dalam dekapannya itu.

Gus Azkar tertawa renyah, suara tawanya yang bariton menggema di sudut kamar yang tenang itu. Ia merasa sangat terhibur melihat tingkah laku istrinya yang sangat kontras—berani dalam ucapan sesaat, namun langsung menciut saat digoda balik.

"Ih, aku malu Mas!" rengek Rina sambil menekan wajahnya lebih dalam ke dada Gus Azkar. Tangannya meremas kain koko marun yang dikenakan suaminya, berusaha menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar hingga ke leher.

Gus Azkar mengelus punggung Rina dengan gerakan menenangkan, namun bibirnya tak berhenti tersenyum jahil. "Mas baru tahu ada orang malu tapi langsung jujur, Sayang," goda Gus Azkar.

"Biasanya kalau orang malu itu diam atau mengelak, tapi kamu malah mengakui kalau kamu 'tobrut' dan suka pakai baju tipis. Itu namanya jujur yang sangat berani," lanjutnya sambil mengecup puncak kepala Rina yang terbalut kerudung.

Rina mendongak sedikit, matanya yang bulat menatap Gus Azkar dengan kesal. "Ya habisnya Mas Azkar sih, pakai dibahas segala! Kan itu rahasia pribadi aku sebelum nikah. Aku mana tahu kalau bakal punya suami yang telitinya kayak detektif begini."

Gus Azkar merapikan helaian rambut Rina yang sedikit menyembul dari balik kerudungnya. "Mas bukan teliti, Rina. Mas hanya memperhatikan setiap detail kecil tentang milik Mas. Karena apa pun yang ada pada dirimu, sekarang adalah duniaku."

Ia kembali menatap mata Rina dengan serius, menghilangkan nada bercandanya sejenak. "Jadi, jangan pernah merasa malu di depan Mas. Mau kamu pakai baju dinas yang paling tipis sekalipun, atau saat kamu hanya memakai mukena setelah salat... bagi Mas, kamu tetap wanita yang paling Mas muliakan."

Rina tertegun. Kata-kata Gus Azkar selalu punya cara untuk membuatnya merasa sangat berharga, mengubur semua hinaan masa lalunya tentang bentuk tubuhnya.

"Tapi Mas..." Rina menjeda, suaranya mengecil. "Nanti kalau di rumah pojok sawah, Mas beneran nggak bakal keganggu sama aku? Maksudnya... aku kan orangnya pecicilan, suka dengerin lagu Bang Toyib, suka dandan yang aneh-aneh kalau di kamar..."

Gus Azkar mencubit hidung Rina dengan gemas. "Justru itu yang Mas tunggu. Mas ingin melihat Rina yang asli, bukan Rina yang pendiam karena takut dihukum ustadznya. Mas ingin kamu bebas berekspresi di rumah kita nanti. Mau joget Bang Toyib sampai pagi pun, Mas akan jadi penonton setiamu. Tapi ingat..."

Gus Azkar memberikan tatapan peringatan yang nakal. "...setelah jogetnya selesai, penontonnya berhak meminta imbalan."

Rina langsung memukul lengan Gus Azkar. "Mas Azkar! Ujung-ujungnya ke sana terus!"

"Tentu saja. Karena Mas adalah suami yang paling bahagia mendapatkan 'fakta' luar biasa seperti kamu," bisik Gus Azkar sebelum ia kembali menarik Rina ke dalam pelukan yang lebih erat, menikmati momen tenang sebelum mereka benar-benar memulai hidup baru di rumah pojok sawah esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!