NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Bayangan di Balik Asap

Asap putih tebal seketika menelan mobil SUV hitam yang ditumpangi Alana dan Arkan. Suasana menjadi kacau; suara klakson kendaraan lain yang terganggu kemacetan bersahutan dengan deru mesin motor besar yang mengepung mereka. Di dalam kabin, Alana terbatuk-batuk, matanya perih, namun otaknya masih terkunci pada sosok wanita yang baru saja ia lihat.

"Mas... Mas lihat tadi? Itu... itu Ibu?" suara Alana bergetar, separuh sesak karena asap, separuh lagi karena syok yang menghantam jantungnya.

Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menarik tubuh Alana agar merunduk di bawah jok mobil. "Lana, jangan lihat ke luar! Tutup hidungmu!" Arkan merogoh laci dasbor, mengeluarkan masker oksigen kecil darurat dan memasangkannya ke wajah Alana.

"Tapi Mas, dia mirip banget sama aku!" Alana meronta, tangannya masih memegang tas astronot Mochi yang ikut panik di dalamnya.

"Asap ini mengandung zat penenang, Lana! Diam!" Arkan menekan tombol interkom ke arah sopir di depan. "Bram! Terobos! Jangan berhenti!"

Bram, sopir sekaligus pengawal Arkan, menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil mewah itu menghantam beberapa sepeda motor yang menghalangi jalan. Suara benturan logam terdengar nyaring, disusul teriakan-teriakan dalam bahasa yang tidak Alana mengerti. Namun, mobil mereka tidak bisa melaju jauh. Kemacetan Bali di sore hari adalah jebakan yang lebih mematikan daripada peluru.

Tiba-tiba, kaca jendela di samping Alana pecah berantakan. Byarr!

Sebuah tangan dengan sarung tinju taktis merogoh ke dalam, mencoba membuka kunci pintu. Arkan dengan sigap menghantam tangan itu menggunakan gagang senjatanya. Pintu berhasil tetap terkunci, namun dari arah luar, sebuah suara wanita terdengar di tengah kebisingan.

"Alana! Kalau kamu mau tahu kenapa ibumu harus 'mati' dua puluh tahun lalu, ikuti motor merah itu! Jangan bawa suamimu kalau kamu ingin dia tetap bernapas!"

Setelah kalimat itu berakhir, suara motor-motor besar itu perlahan menjauh, menghilang di sela-sela kemacetan yang mulai terurai karena kepanikan warga. Asap mulai menipis, menyisakan Alana yang terengah-engah dengan masker oksigen yang masih menempel di wajahnya.

Sepuluh menit kemudian, mobil mereka menepi di sebuah area parkir pura yang sunyi. Arkan memeriksa setiap sudut mobil, sementara tim pengawalnya sudah menyebar untuk memastikan tidak ada penguntit.

"Mas... kita harus ikutin mereka," ucap Alana sambil keluar dari mobil. Kaki-kakinya masih lemas, tapi tekadnya sudah bulat.

Arkan berbalik, wajahnya yang tadi penuh amarah kini berubah menjadi penuh kecemasan. "Lana, itu jebakan. Kamu dengar sendiri kan? Mereka mau memisahkan kita. Wanita itu... dia bisa saja hasil operasi plastik atau umpan untuk memancingmu."

"Tapi gimana kalau itu beneran Ibu, Mas?" Alana menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca. "Ayah bilang Ibu meninggal, Kakek bilang Ibu meninggal. Tapi selama ini rahasia keluarga Mas selalu terbukti bohong semua! Gimana kalau selama ini Ibu sengaja disembunyikan di Bali?"

Alana merogoh saku hoodie-nya, mengeluarkan kunci kuno yang tadi diberikan orang misterius di bandara. "Kunci ini... dan wanita tadi. Semuanya mengarah ke satu tempat di peta ini. Desa Trunyan."

Arkan mengambil peta tua itu. "Trunyan? Desa pemakaman di pinggir Danau Batur? Itu tempat yang sangat tertutup bagi orang luar, Lana. Tradisi mereka unik, dan lokasinya terisolasi."

"Justru itu tempat persembunyian yang paling sempurna, kan?" Alana mengambil Mochi dari tasnya, memeluk kucing itu untuk mencari ketenangan. "Mas, aku nggak bisa duduk diam di hotel bintang lima sementara ada kemungkinan Ibu aku masih hidup. Aku bakal pergi ke sana. Dengan atau tanpa Mas."

Arkan menghela napas panjang, ia tahu jika Alana sudah mengeluarkan mode "keras kepala", tidak ada miliarder atau tentara bayaran mana pun yang bisa menghentikannya. "Oke. Kita pergi bersama. Tapi Bram dan tim akan ikut dari jarak jauh. Dan kalau aku merasa ada yang bahaya, kita langsung balik kanan. Setuju?"

"Setuju! Dan satu lagi... Mas jangan kaku-kaku amat mukanya. Kita ini mau cari Ibu, bukan mau nagih utang!" celetuk Alana, mencoba mengembalikan sisa-sisa sisi "julid"-nya agar suasana tidak terlalu mencekam.

Perjalanan menuju Danau Batur memakan waktu berjam-jam. Semakin ke utara, jalanan semakin sempit dan berkelok. Kabut mulai turun menyelimuti kaldera gunung berapi, menciptakan suasana mistis yang membuat bulu kuduk Alana berdiri.

Mereka harus menyeberangi danau menggunakan perahu kayu kecil untuk mencapai desa tersebut. Suara air danau yang tenang di malam hari terasa sangat dingin. Mochi pun hanya bisa meringkuk di dalam jaket Alana, seolah tahu ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini.

Sesampainya di dermaga Desa Trunyan, mereka disambut oleh aroma kemenyan yang kuat dan suara burung malam. Seorang pria tua dengan pakaian putih bersih sudah menunggu di bawah pohon besar yang akar-akarnya menjuntai ke tanah.

"Nyonya Alana... Tuan Arkan... Kami sudah menunggu," ucap pria itu dengan suara serak namun berwibawa.

"Menunggu kami?" tanya Arkan curiga, tangannya tetap siaga di balik saku jaketnya.

"Menunggu jawaban atas rahasia yang terkubur di bawah pohon Taru Menyan ini," pria itu menunjuk ke arah pohon raksasa yang konon bisa menghilangkan bau jenazah di sekitarnya. "Ibumu... dia meninggalkan sesuatu di sini dua puluh tahun lalu. Bukan hanya dokumen, tapi janji darah."

Pria itu menuntun mereka ke sebuah area pemakaman terbuka, di mana jenazah-jenazah hanya diletakkan begitu saja di bawah anyaman bambu tanpa dikubur. Di salah satu sudut yang paling tersembunyi, terdapat sebuah makam yang tidak memiliki nama, hanya ada ukiran bunga lily yang sama persis dengan yang ada di liontin Arkan.

"Buka makam ini, Nyonya Alana," perintah si orang tua.

Alana menelan ludah. "Buka? Mas, ini beneran kita mau bongkar makam malam-malam begini? Aku takut isinya bukan rahasia, tapi malah zombi yang lagi bad mood!"

"Cepat, Lana. Sebelum bulan tertutup awan," Arkan membantu Alana mendekati anyaman bambu tersebut.

Dengan tangan gemetar, Alana memasukkan kunci kuno karatan itu ke sebuah lubang kecil di bawah batu nisan yang tersembunyi. Klik.

Sebuah kotak besi keluar dari bawah tanah. Alana membukanya. Isinya bukan lagi chip atau dokumen perusahaan, melainkan sebuah buku harian dengan sampul kulit berwarna merah marun dan sebuah foto pernikahan... tapi pria di foto itu bukan Malik, ayah Alana.

Pria di foto itu... adalah Kakek Arkan waktu muda.

Alana dan Arkan saling pandang. Dunia seolah berhenti berputar.

"Apa?! Ibu aku... sama Kakek?!" teriak Alana histeris sampai suaranya menggema di seluruh danau. "Mas! Ini plot twist-nya makin nggak masuk akal! Jadi aku ini sebenernya apa?! Anak Kakek?! Berarti aku ini Tante kamu, Mas?!"

Arkan memegang dahinya, ia merasa dunianya baru saja meledak untuk kesekian kalinya. "Lana, tenang dulu... kita baca bukunya."

Baru saja Arkan hendak mengambil buku itu, sebuah laser merah tiba-tiba menempel tepat di dahi Arkan.

"Jangan bergerak," suara wanita dari balik kegelapan hutan bambu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat. "Atau kepala suamimu akan hancur sebelum kamu tahu kebenarannya."

Wanita misterius itu melangkah keluar dari kegelapan. Ia benar-benar mirip dengan Alana, namun matanya memancarkan kesedihan yang sangat dalam. Di tangannya, ia memegang senapan jarak jauh. "Alana, Kakek Arkan tidak membunuhku karena dokumen. Dia mencoba membunuhku karena aku mengandung anak yang bisa menghancurkan seluruh silsilah Arkananta. Dan anak itu bukan kamu, Alana. Tapi seseorang yang selama ini ada di dekatmu."

Alana menoleh ke arah Mochi yang tiba-tiba melompat dari pelukannya dan berlari ke arah wanita itu. "Lho, Mochi! Kok kamu malah ke sana?! Jangan bilang Mochi itu sebenernya siluman?!"

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!