NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

awal baru

Setahun telah berlalu sejak operasi jantung yang hampir merenggut nyawanya. Jika dulu Reza Aditya mengukur hidupnya dengan sisa saldo di rekening atau panjangnya tali jemuran, kini ia mengukur hidup dengan detak jam di ruang tamu yang tenang dan tawa Fajar yang mulai belajar mengeja kata "Papa".

Pagi di Bogor selalu diawali dengan kabut tipis yang menyelimuti puncak Gunung Salak. Reza berdiri di balkon rumahnya, menyeruput kopi hitam tanpa gula saran dokter yang kini dipatuhinya dengan disiplin seorang prajurit. Di tangannya bukan lagi laporan kerugian, melainkan sebuah proposal pembangunan "Pusat Pelatihan Kurir Indonesia".

Koperasi Kurir Jujur (K.KJ) telah bertransformasi. Ia bukan lagi sekadar entitas bisnis logistik. K.KJ telah menjadi sebuah gerakan sosial. Di bawah kepemimpinan kolektif Budi, Aris, dan dewan kurir, K.KJ kini memiliki lebih dari lima puluh ribu anggota yang tersebar di seluruh nusantara. Namun, bagi Reza, tantangan terbesar bukan lagi pada ekspansi, melainkan pada bagaimana menjaga "ruh" kejujuran itu agar tidak mati ditelan skala perusahaan yang semakin raksasa.

"Mas, kamu melamun lagi," suara Anya memecah kesunyian. Istrinya itu datang membawa sepiring singkong rebus, hasil kebun mereka sendiri. Anya kini tampak jauh lebih bersinar; beban masa lalunya sebagai istri direktur yang terkungkung telah luruh, digantikan oleh kemandirian seorang wanita yang memiliki tujuan hidupnya sendiri.

"Aku hanya berpikir, Anya. Bagaimana jika suatu saat aku benar-benar tidak ada? Apakah semua ini akan tetap berjalan? Ataukah kejujuran ini hanya bertahan selama aku masih bernapas?" Reza menatap istrinya dengan pandangan yang dalam.

Anya duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu Reza yang kini terasa lebih kokoh, meski tidak sekuat dulu. "Kamu sudah membangun fondasinya di atas batu karang, Za. Bukan di atas pasir. Fondasi itu bukan uangmu, tapi kepercayaan yang kamu berikan pada orang-orang seperti Sandi, Aris, dan Budi. Kepercayaan itu menular. Ia tidak akan mati hanya karena satu orang pergi."

Hari itu, Reza dijadwalkan untuk memberikan pidato pembukaan di peresmian gedung pusat K.KJ yang baru. Namun, gedung itu tidak mewah. Terletak di pinggiran Bogor, gedung itu dibangun dari material ramah lingkungan dan lebih mirip sebuah balai pertemuan rakyat daripada kantor korporasi.

Sesampainya di sana, Reza disambut oleh barisan kurir yang membentuk pagar betis. Tidak ada sorak-sorai yang berlebihan, hanya anggukan hormat dan senyum tulus. Di barisan paling depan, Budi berdiri dengan seragam kurir yang masih ia banggakan, meski ia kini menjabat sebagai direktur operasional.

"Siap, Bos?" tanya Budi sambil memberikan helm kebanggaan Reza yang sudah dicat ulang.

"Siap, Bud. Tapi hari ini, biarkan aku bicara sebagai kurir, bukan sebagai bos," jawab Reza.

Reza melangkah ke panggung kecil yang terbuat dari kayu palet bekas pengiriman. Di depannya, ribuan pasang mata menatap dengan penuh harap. Ada kurir-kurir muda yang baru bergabung, ada juga wajah-wajah lama yang sudah bersamanya sejak masa-masa sulit di gudang pengap dulu.

"Tiga tahun lalu," Reza memulai bicaranya, suaranya tenang namun bergema lewat pengeras suara yang sederhana. "Saya berdiri di atas sebuah kursi plastik biru di sebuah apartemen yang gelap. Saya merasa dunia sudah kiamat karena saya kehilangan semua harta benda saya. Saya merasa tidak punya nilai jika tidak punya uang."

Seluruh hadirin terdiam. Banyak kurir baru yang baru pertama kali mendengar pengakuan jujur ini langsung dari mulut pendiri mereka.

"Tapi rencana mati itu gagal," lanjut Reza sambil tersenyum tipis. "Gagal karena sepotong ayam geprek. Gagal karena seorang kurir yang tidak mau berhenti mengetuk pintu saya. Sejak hari itu, saya belajar bahwa tugas seorang kurir bukan hanya mengantar barang dari titik A ke titik B. Tugas kita adalah menyambung napas orang lain. Kita adalah pembawa pesan, pembawa obat, pembawa kejutan ulang tahun, dan kadang, kita adalah pembawa harapan bagi mereka yang sedang merasa sendirian di balik pintu yang tertutup."

Reza mengangkat sebuah kotak kecil. Di dalamnya bukan emas, melainkan potongan tali jemuran kuning yang dulu hampir membunuhnya tali yang kini sudah dibingkai dalam kaca kecil.

"Tali ini adalah pengingat bagi saya, dan bagi kalian semua. Bahwa tidak ada jalan buntu yang tidak bisa dibuka. Jika suatu saat kalian merasa lelah, merasa dihina di jalanan, atau merasa hidup ini tidak adil... ingatlah bahwa kalian adalah bagian dari keluarga yang akan selalu mengetuk pintu kalian saat kalian ingin menyerah."

Pidato itu ditutup dengan pengumuman besar: Reza secara resmi mengalihkan 40% saham kepemilikannya di K.KJ untuk dijadikan dana abadi kesejahteraan kurir, yang akan dikelola sepenuhnya oleh anggota. Ia memilih untuk melepaskan kekuasaan absolutnya demi memastikan bahwa koperasi ini akan selalu menjadi milik mereka yang berkeringat di aspal.

Selesai acara, Reza mengajak Budi dan Aris untuk makan di warung pinggir jalan, tempat favorit mereka. Di sana, mereka bercengkrama layaknya tiga orang sahabat yang baru saja memenangkan pertempuran besar.

"Mas Reza," Aris berujar sambil mengunyah mendoan. "Gery mengirim surat dari penjara minggu lalu. Dia minta maaf. Dia bilang, dia ingin mendonasikan sisa aset pribadinya yang tidak disita negara untuk panti asuhan lewat K.KJ."

Reza terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Terima kasih sudah memberitahu, Ris. Terima kasih juga sudah menjaganya agar tetap manusiawi, meski dia pernah menjadi iblis bagi kita."

Malam harinya, saat kembali ke rumah, Reza mendapati Fajar sudah tertidur lelap. Ia masuk ke kamar anaknya, mencium keningnya, dan membisikkan doa. Ia membayangkan masa depan Fajar masa depan di mana nama "Aditya" bukan lagi diasosiasikan dengan skandal bisnis atau kebangkrutan, melainkan dengan integritas dan kemanusiaan.

Reza kemudian duduk di ruang kerjanya yang kecil, membuka sebuah buku catatan lama. Ia menuliskan kalimat terakhir untuk menutup catatan perjalanannya:

"Hidup tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi hidup memberikan apa yang kita butuhkan untuk tumbuh. Saya ingin mati sebagai pemenang yang sombong, tapi hidup memaksa saya gagal agar saya bisa bangkit sebagai manusia yang berguna. Dan ternyata, gagal mati adalah keberhasilan terbesar dalam hidup saya."

Ia menutup buku itu. Di luar, hujan Bogor mulai turun, membasahi bumi dengan irama yang menenangkan. Reza mematikan lampu, berjalan menuju kamar di mana Anya sudah menunggunya.

Tidak ada lagi bayangan kursi biru. Tidak ada lagi hantu masa lalu. Hanya ada hari esok yang menanti untuk dijalani.

Reza Aditya, sang kurir takdir, akhirnya sampai di alamat tujuannya yang sesungguhnya: Kedamaian

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!