Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 09.15 pagi.
Reno terbangun dengan rambut acak-acakan, mata setengah fokus, dan otak masih loading. Tangannya refleks meraba sisi ranjang.
Kosong.
Dia berhenti sebentar.
Mikir.
Meraba lagi.
Kosong.
“…Lah?”
Dalam satu detik, Reno langsung melek full HD.
“LAH?!”
Dia bangkit tergesa, buka pintu kamar hampir nyenggol tembok, lalu ngebut ke kamar Naya. Pintu dibuka tanpa sopan santun.
Sepi.
Ranjang rapi.
Naya nihil.
“ANJ—”
Belum sempat panik total, Reno langsung muter balik dan lari turun tangga kayak adegan film kejar-kejaran.
Di ruang makan, Mommy berdiri santai pegang cangkir, Pappi duduk tenang baca koran—vibe damai banget, kontras sama Reno yang hampir konslet.
“Yaa ampun,” Mommy melirik sekilas.
“Tuan muda baru bangun.”
“KENZO KEMANA?!” Reno setengah teriak, napas ngos-ngosan.
Pappi nurunin korannya dikit, masih super kalem.
“Yang ditanyain langsung Kenzo. Pacar siapa, yang panik siapa, yang ribut siapa.”
“Iih serius, Ppi!” Reno frustasi, rambutnya makin kayak sarang burung.
Mommy nyeruput minumannya.
“Kenzo ke GBK sama Naya.”
Reno freeze.
Otaknya nge-buffer.
“…Hah?”
“Berdua?” suaranya naik satu oktaf.
“Iya, Kak,” sahut Pappi datar.
Tenang banget, kayak ngomongin cuaca.
“KENAPA NGGAK BANGUNIN GUE?!” Reno protes sambil banting tangan ke meja (pelan, takut dimarahin).
Mommy menatap Reno lama. Datar. Tajam.
“Emang kamu bakal bangun?”
Reno terdiam.
Mikir.
“…ya nggak juga sih.”
“Yaudah,” Pappi melipat koran.
“Sana mandi. Ini udah jam berapa.”
Reno ngelus muka frustasi.
Kalah. Lagi. Lagi.
Dia muter balik ke tangga sambil ngedumel pelan.
“Brengsek banget si Kenzo… kesempatan dia berduaan sama adek gue.”
Mommy nyeletuk dari belakang, santai tapi nusuk.
“Sebelum pacaran yang strict Mommy, setelah pacaran yang ngawasin Pappi. Sekarang yang paling strict malah kamu.”
Reno berhenti sebentar.
“Nggak adil…”
Di kepalanya cuma satu kalimat muter kayak lagu stuck:
‘Gue kalah start sama Kenzo.’ 😭
Reno berbalik menuju kamarnya sambil mengepalkan tangan, wajahnya masam.
“Brengsek banget si Kenzo,” gerutunya. “Kesempatan dalam kesempitan…”
Mommy yang mendengar dari ruang tengah langsung nyeletuk tanpa dosa,
“Sebelum pacaran yang strict Mommy. Setelah pacaran yang ngawasin Pappi. Sekarang yang paling strict malah kamu.”
Mommy menunjuk Reno sambil geleng-geleng kepala.
Reno mendengus.
“Ini namanya tanggung jawab!”
Setelah mandi dan bersiap, Reno turun ke lantai bawah menuju meja makan. Baru setengah jalan menuruni tangga—
Pintu depan terbuka.
Naya masuk dengan wajah sumringah, tawanya ringan dan lepas. Kenzo di belakangnya, mendorong kursi roda dengan santai, sesekali ikut tertawa.
Pemandangan itu bikin Reno berhenti di anak tangga.
“Ohhh,” katanya sinis. “Bagus yaa… berduaan terus.”
Sekejap, Naya langsung melotot.
“Apa lo?!”
“Nay, udah,” Kenzo cepat menenangkan, masih sambil senyum.
“Kenapa lo nggak bangunin gue?” Reno langsung nyerocos.
“Udah gue bangunin,” jawab Kenzo santai. “Lo-nya nggak bangun.”
“Ahh masa! Nggak mungkin banget,” bantah Reno. “Gue tau lo sengaja pengen berduaan sama adek gue!”
Kenzo cuma menggeleng pelan, senyumnya tipis tapi sabar.
“Gue jagain adek lo. Tenang aja.”
Reno menunjuk Kenzo.
“Awas aja lo macam-macam.”
“Nggak bakal,” balas Kenzo enteng. “Gue satu macem doang paling.”
Reno: “…?”
Sementara itu Mommy dan Pappi yang menyaksikan adu mulut ringan itu cuma saling pandang, lalu tertawa kecil.
Rumah pagi itu ribut,
tapi hangat.
“Yaudah, Mom. Reno mau izin dulu bentar ya,” kata Reno sambil meraih kunci mobil, bunyinya sengaja dikletekin biar kedengeran satu rumah.
“Kemana kamu?” tanya Pappi sambil melipat koran, kacamata masih bertengger di hidung.
“Ada janji sama Citra,” jawab Reno santai, nada suaranya kayak lagi mau ke minimarket.
Naya yang dari tadi duduk manis di kursi roda langsung nyeletuk, ekspresinya nggak terima.
“Gue aja di-strict kayak tahanan rumah. Lo sendiri bebas keluyuran sama Citra. Nyebelin banget lo.”
Reno berhenti sebentar, melirik Naya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Gue tau batas, Nay.”
“Kenzo juga tau batas,” balas Naya cepat, nadanya naik setengah oktaf. “Bahkan tau jadwal.”
Kenzo yang lagi berdiri di belakang kursi roda refleks batuk kecil.
“Eh… makasih?”
“EH, EH, EH—udah,” Pappi langsung angkat tangan, ekspresinya capek tapi geli.
“Pagi-pagi jangan debat kayak sidang skripsi. Kakak sana berangkat. Ingat—jangan pulang sore!”
Reno nyengir lebar.
“Siap, Pappi. Paling sore dikit doang.”
“Ren!” Mommy memanggil dari dapur, suaranya tajam walau belum kelihatan orangnya.
“Iya, Mom?” Reno langsung menoleh, refleks anak yang udah hafal nada bahaya.
Mommy muncul sambil nyender di pintu dapur, tatapannya lurus ke Reno.
“Awas kamu macem-macem sama anak orang.”
Reno langsung berdiri tegap, dadanya dibusungkan lebay.
“Siap, Mommy. Jaga nama baik keluarga. Sumpah.”
Naya mendengus pelan.
“Drama banget.”
Kenzo cuma senyum tipis, tangannya santai di sandaran kursi roda Naya. Dalam hati dia mikir satu hal:
rumah ini ribut, rame, absurd—tapi entah kenapa… hangat.
Dan Reno?
Pergi sambil geleng-geleng kepala, merasa dunia ini nggak adil sejak Kenzo resmi masuk keluarga. 😌
“Mau ke kamar apa di sini?” tanya Kenzo sambil melirik ke arah tangga.
“Di sini aja deh,” jawab Naya cepat. “Capek naik-naik.”
Kenzo senyum kecil, baru aja mau duduk, ponselnya bergetar di saku celana. Ia mengeluarkannya—nama Papa muncul di layar.
Kenzo langsung angkat.
“Halo, Pah.”
“Di mana, Ken?” suara papanya terdengar tenang tapi khas orang sibuk.
“Di rumah Reno, Pah. Lagi sama Naya.”
“Oh.” Jeda sebentar. “Tolong kirim file yang kemarin kita bahas.”
Kenzo melirik ke arah Naya.
“Oke, Pah.”
Telepon ditutup.
“Aku ambil laptop dulu di mobil ya, bentar,” kata Kenzo.
Naya mengangguk pelan, matanya ngikutin Kenzo sampai ke pintu.
Begitu Kenzo keluar, Mommy langsung nyeletuk, nada sok santai tapi nusuk.
“Kenzo lagi ada kerjaan kali, Nay.”
“Kan bisa kerja di sini,” Naya cemberut, tangannya nyilang di dada.
Mommy memutar bola matanya, benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran Naya.
“Pappi kamu juga kalau kerja ke kantor,” balas Mommy.
“Bodo amat, Kenzo juga nggak papa kok,” Naya makin ngambek.
Mommy menghela napas.
“Kemakan cinta.”
“Biarin,” Naya jutek.
Pappi yang baru datang dari arah dapur mendekat sambil senyum.
“Debat terus yaa dari tadi.”
“Gini nih pacaran,” Mommy geleng-geleng kepala. “Lupa segala-galanya.”
“Nggak gitu juga,” Pappi membela sambil elus kepala Naya.
“Kan sayang?”
Naya langsung nangkep kesempatan.
“Pappi percaya Kenzo kan?”
“Iya,” jawab Pappi tanpa mikir lama. “Pappi percaya.”
Naya nyengir kecil, menang.
Tak lama kemudian Kenzo balik, menenteng laptop. Ia duduk di sofa dekat Naya, membuka laptop, jari-jarinya cekatan mengetik. Beberapa detik kemudian, file terkirim.
“Done,,” gumam Kenzo pelan sambil nutup laptop.
“Gimana bisnis kamu, Ken?” tanya Pappi, nada serius tapi santai.
“Lancar, Om,” jawab Kenzo jujur. “Bahkan lebih dari yang Kenzo duga.”
Pappi mengangguk puas.
“Kapan-kapan ajari Reno. Ajak juga lihat produksi lapangan, biar dia cepet paham.”
“Oke, Om,” jawab Kenzo mantap.
Mommy lalu menyela, nadanya kritis khas ibu-ibu visioner.
“Kamu lulus SMA jadinya kuliah di mana?”
“Antara di sini sama Singapura, Tante,” jawab Kenzo tenang.
“Harvard juga… kalau memungkinkan.”
Naya langsung melotot.
“HAH?”
Mommy malah keliatan makin tertarik.
“Bagus. Tante butuh orang yang bisa bimbing Naya.”
Naya makin panik.
“Jauh dong?”
Kenzo menoleh ke Naya, senyum tipis.
“Jaman udah canggih Princess.”
Naya manyun.
“Yaudah deh…” suaranya kecil, jelas kecewa walau berusaha ikhlas.
“Harvard ya,” gumam Pappi.
“Buat kamu, masuk Harvard nggak sulit, Ken.”
“Mudah-mudahan, Om,” jawab Kenzo rendah hati.
Naya melirik Kenzo lama.
Serius. Dewasa. Ambisius.
Dan tiba-tiba kepikiran satu hal yang bikin dadanya agak nyesek—
Pacarnya ini… bukan cuma milik dia.
😔😞🥲🙂↕️🫠
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...