NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menulis di atas luka

Malam itu, meja makan kayu nenekku yang biasanya hanya dialasi piring sisa makan malam, berubah menjadi medan perang. Aku mengeluarkan laptop yang selama berminggu-minggu terkunci di dalam koper. Di sampingnya, aku menjajajarkan foto-foto hasil kurasi Biru seperti kepingan puzzle yang menuntut untuk disatukan.

Selama ini, aku menulis sebagai mekanisme pertahanan. Aku menulis untuk menyembunyikan diri di balik diksi yang rumit dan struktur yang kaku. Namun, menatap foto-foto Biru—terutama fotoku sendiri yang ia ambil di saat aku paling rapuh—membuatku sadar satu hal: Biru tidak ingin aku menulis tentang keindahan. Dia ingin aku menulis tentang kejujuran.

Aku meletakkan jemariku di atas keyboard. Dingin plastiknya merambat ke ujung sarafku, memicu detak jantung yang sudah lama tidak kurasakan.

Ketik.

"Kesalahan terbesar fajar adalah ketika ia berpikir bahwa kegelapan adalah musuhnya. Padahal, kegelapan hanyalah ruang tunggu yang luas, tempat di mana cahaya belajar untuk lebih menghargai keberadaannya sendiri."

Kalimat demi kalimat mulai mengalir. Awalnya seperti tetesan air dari keran yang tersumbat, lalu perlahan berubah menjadi arus sungai yang deras. Aku menulis tentang nelayan yang wajahnya dipotret Biru—tentang bagaimana kerutan di dahi mereka bukan sekadar tanda penuaan, melainkan peta dari setiap badai yang berhasil mereka lalui.

Aku menulis tentang laut yang dipotret Biru saat pasang—tentang bagaimana air tidak pernah memilih untuk menjadi ombak yang menghancurkan atau riak yang menenangkan; ia hanya merespons apa yang diberikan oleh langit.

Dan akhirnya, aku menulis tentang Biru. Bukan tentang namanya, tapi tentang "warna" yang ia bawa ke dalam hidupku yang putih pucat.

Tanpa sadar, cahaya lampu di teras rumah mulai berkedip-kedip. Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan deburan ombak. Aku tidak berhenti sampai fajar yang asli benar-benar mengintip dari balik cakrawala.

Namun, di tengah gelora kreativitas itu, rasa cemas mulai merayap. Aku menatap foto Biru yang kutinggalkan paling bawah. Jika dia sekarang tinggal di kos-kosan sempit tanpa apa-apa, bagaimana dia makan? Apakah dia masih memegang kameranya, ataukah jemarinya sekarang sibuk dengan hal lain demi menyambung hidup?

Pagi itu, aku tidak pergi ke tempat pelelangan ikan. Aku berjalan ke kantor pos desa yang merangkap sebagai warung telepon. Aku ingin memastikan sesuatu, tapi bukan melalui Biru.

Aku menelepon Siska, rekan kerjaku di kantor pusat.

"Halo, Siska? Ini Aruna."

"Aruna?! Ya Tuhan, kamu di mana? Kantor sedang geger! Pak Hendra mencarimu, dan... dan proyek 'Wajah-Wajah Tersembunyi' terancam dibatalkan karena vendornya bermasalah!"

"Bermasalah bagaimana?" jantungku mencelos.

"Keluarga Laksmana menarik semua pendanaan proyek itu, Na. Mereka bilang Biru bukan lagi representatif perusahaan. Bahkan, kudengar semua hasil foto Biru diminta untuk dimusnahkan karena dianggap milik perusahaan, bukan milik pribadi."

Aku menggenggam gagang telepon itu hingga jariku memutih. "Mereka tidak bisa melakukan itu. Foto-foto itu adalah karya seni, bukan aset properti!"

"Masalahnya, Aruna, Biru sudah tidak punya kuasa apa-apa. Sekarang Abhinara yang memegang kendali penuh atas semua proyek kreatif keluarga Laksmana. Dia bilang, jika kamu ingin proyek ini jalan, kamu harus menemuinya. Sendirian."

Aku menutup telepon dengan perasaan muak yang luar biasa. Abhinara tidak sedang mencoba mendapatkan cintaku kembali; dia sedang mencoba mematikan cahaya terakhir yang aku dan Biru miliki. Dia ingin menghapus bukti bahwa Biru pernah melakukan sesuatu yang benar tanpa bantuan nama besarnya.

Aku kembali ke rumah dengan langkah berat. Di atas meja, naskah yang baru setengah jadi itu tampak seperti janji yang belum terpenuhi.

Jika aku tetap di sini, aku aman. Tapi Biru akan kehilangan segalanya—termasuk satu-satunya hal yang ia pertahankan: martabat karyanya.

Tiba-tiba, dari arah jalan setapak depan rumah, aku melihat seorang anak kecil berlari ke arahku. "Mbak Na! Mbak Na! Ada orang asing di pasar cari Mbak. Dia tanya-tanya rumah Mbak ke orang-orang pelelangan!"

"Siapa?" tanyaku waspada.

"Laki-laki, Mbak. Pakai mobil hitam besar. Dia kasih uang ke teman-teman kalau mau kasih tahu rumah Mbak."

Darahku mendidih. Itu bukan Biru. Biru sudah tidak punya mobil hitam besar. Itu pasti orang-orang suruhan Tuan Laksmana—atau lebih buruk lagi, Abhinara sendiri.

Pelarianku sudah berakhir. Badai tidak lagi menungguku di kota; dia sudah sampai di depan pintu rumahku.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!