NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Bernama

“Shen Yi, dengar itu. Kabut ini… seperti bernyanyi.”

Lian'er berbisik di haluan kapal, tangannya menggenggam lengan Shen Yi erat. Angin laut malam membawa suara samar—bukan angin biasa, bukan ombak, tapi seperti ribuan suara pelan yang bernyanyi dalam bahasa kuno, naik-turun seperti lagu pengantar tidur yang dingin. Kabut abadi di sekitar kapal semakin tebal, sampai-sampai cahaya lentera di dek hanya menembus beberapa langkah.

Shen Yi mengangguk pelan, tapi matanya tak lepas dari noda hitam di bahunya yang kini sudah sebesar telur puyuh. Garis-garis hitam tipis mulai merambat ke arah leher dan dada seperti urat pohon kering. Setiap denyutnya terasa lebih keras sejak kapal memasuki kabut tiga jam lalu.

“Suara itu bukan dari luar,” gumam Shen Yi. “Itu dari dalam. Noda ini ikut bernyanyi.”

Xiao Feng, yang berdiri di sisi kapal dengan pedang terhunus, menoleh.

“Serius? Aku cuma dengar angin dan ombak. Kau baik-baik saja, bro?”

Shi Jun mendekat dari belakang, matanya menyipit ke kabut.

“Ini bukan kabut biasa. Ini kabut pelindung pulau yang berevolusi setelah ritual Xue Han. Dia mungkin sudah merasakan kedatangan kita. Suara itu mungkin jebakan untuk melemahkan pikiran.”

Kapten tua di kemudi menggenggam kemudi lebih erat. “Gerbang Tersembunyi tinggal sejam lagi kalau kabut ini tak berubah arah. Tapi kalau suara itu makin keras… banyak kapal yang hilang karena awaknya gila sebelum sampai.”

Lian'er memegang tangan Shen Yi lebih erat. “Shen Yi… kalau terlalu berat, bilang ya. Aku bisa pakai teratai untuk buat perisai suara.”

Shen Yi menggeleng pelan. “Belum perlu. Aku masih tahan. Tapi… dia bilang sesuatu tadi.”

Semua menoleh.

“Dia bilang… ‘Selamat datang, telah pulang dirimu wahai reinkarnasi. Pulau ini sudah menunggumu sejak ribuan tahun lalu. Tapi kau tak akan masuk sebagai pahlawan. Kau akan masuk sebagai monster.’”

Xiao Feng mengumpat pelan. “Noda itu semakin lancang. Aku pengen tusuk pake pedangku.”

Shi Jun menggeleng. “Jangan. Kalau kau lukai tubuh Shen Yi, noda itu bisa makin dalam. Kita harus sampai pulau dulu. Air Teratai Murni di sana satu-satunya yang bisa bersihkan inti es hitam.”

Tiba-tiba, suara bernyanyi itu berubah menjadi lebih jelas, lebih dekat, seperti seseorang bernyanyi tepat di telinga mereka.

Liriknya samar tapi bisa dipahami:

“Kelopak jatuh ke dunia fana…

Darah emas lahir dari cahaya…

Tapi kegelapan tak pernah pergi…

Ia menunggu di dalam jiwa…”

Shen Yi menutup telinga, tapi suara itu tetap masuk—langsung ke pikiran. Noda hitam di bahunya menyala gelap, garis hitam merambat lebih cepat, mencapai bahu kanan.

“Shen Yi!” Lian'er memeluknya dari belakang, energi teratai putih mulai mengalir dari tangannya ke tubuh Shen Yi. Cahaya putih bertabrakan dengan garis hitam. Ada suara retak kecil, noda mundur sedikit, tapi tak hilang.

Shen Yi tersengal. “Dia semakin kuat di sini. Pulau ini seperti rumahnya juga.”

Kapten tua berteriak dari kemudi. “Gerbang Tersembunyi sudah terlihat! Tapi ada kapal lain di depan. Tapi itu bukan kapal nelayan!”

Semua menoleh ke depan. Di tengah kabut, sebuah kapal hitam panjang muncul—lambungnya berlapis es hitam, layarnya gelap seperti malam tanpa bintang. Di haluan kapal itu berdiri sosok baru: wanita muda berjubah abu-abu pucat, rambut putih panjang berkibar, matanya merah seperti darah. Di dadanya ada simbol teratai hitam kecil—mirip tato yang hidup, berdenyut pelan.

Xiao Feng mengenalinya. “Itu Lan Xue! Adik perempuan Xue Han! Katanya dia mati sepuluh tahun lalu setelah eksperimen es hitam gagal. Tapi kalau dia hidup berarti Xue Han sudah rencanakan ini lama sekali.”

Lan Xue melompat dari kapalnya ke udara. Tubuhnya ditopang angin es hitam, mendarat di dek kapal mereka dengan ringan. Matanya tertuju langsung pada Shen Yi.

“Kau yang membunuh kakakku,” katanya dingin. Suaranya seperti angin musim dingin yang menusuk tulang. “Tapi kau juga yang membawa inti es hitamnya. Terima kasih. Kau sudah bawa rumah baru untuk kakakku.”

Shi Jun maju dengan pedang terhunus. “Lan Xue, kau seharusnya mati. Apa kau juga bagian dari ritual?”

Lan Xue tersenyum tipis. “Kakakku tak pernah mati sepenuhnya. Dia hanya pindah. Dan sekarang, dia ada di dalam tubuh itu.” Dia menunjuk Shen Yi. “Aku datang untuk ambil kembali apa yang seharusnya jadi milik kami. Serahkan tubuh itu atau aku ambil paksa.”

Lian'er maju, kelopak teratai mulai berputar di sekitarnya. “Kau nggak akan sentuh dia.”

Lan Xue tertawa pelan. “Dewi teratai yang jatuh cinta pada manusia. Lucu sekali. Kau pikir kau bisa lindungi dia dari kakakku? Dia sudah jadi bagian dari tubuh itu. Setiap hari, kakakku semakin kuat. Tak lama lagi Shen Yi akan jadi Xue Han yang baru.”

Shen Yi merasakan noda hitam di tubuhnya berdenyut sangat kuat—seperti jantung kedua yang bangun. Garis hitam merambat lebih cepat, mencapai lehernya. Matanya mulai berkabut sejenak, suara Xue Han bergema di kepalanya.

“Serahkan saja… aku akan buat kau kuat. Kau bisa lindungi semua orang… dengan kekuatanku.”

Shen Yi mengepalkan tangan. Cahaya emas muncul dari meridiannya, menekan garis hitam itu mundur lagi. Tapi kali ini lebih sulit.

Xiao Feng melompat maju, pedangnya menyala. “Cukup bicara! Kalau mau ambil Shen Yi, lewati aku dulu!”

Pertarungan meledak di dek kapal.

Lan Xue bergerak cepat—gerakannya seperti bayangan es, tangannya membentuk pisau es hitam yang tajam. Xiao Feng menangkis, tapi setiap benturan membuat pedangnya bergetar dingin.

Shi Jun bergabung, pedang teratai birunya bertabrakan dengan pisau es Lan Xue. “Kau nggak akan ambil saudaraku!”

Lian'er melepaskan lingkaran kelopak teratai. Seperti perisai hidup yang melindungi Shen Yi. Tapi Lan Xue tertawa.

“Kau tak tahu, kakakku sudah lihat masa depan. Dia tahu kau akan datang. Dan dia tahu Shen Yi akan jadi miliknya sebelum kalian sampai pulau.”

Shen Yi tiba-tiba jatuh berlutut. Noda hitam di lehernya menyala gelap. Matanya berubah sejenak—pupilnya melebar, ada kilau merah samar di dalamnya.

“Shen Yi!” Lian'er berlari ke arahnya.

Shen Yi mengangkat tangan—bukan untuk menyerang, tapi untuk menghentikan Lian'er.

“Jangan dekat. aku sedang tahan dia.”

Suara Xue Han terdengar lagi—kali ini keluar dari mulut Shen Yi sendiri, meski bibirnya tak bergerak.

“Terlambat. Tubuh ini sudah mulai jadi milikku. Pulau itu akan jadi tempat kelahiranku kembali.”

Lian'er menangis. “Shen Yi, lawan dia! Kau Shen Yi-ku! Bukan dia!”

Cahaya emas dari meridian Shen Yi meledak pelan. Noda hitam mundur lagi ke bahu, suara Xue Han melemah dan hilang.

Shen Yi tersengal. “Aku… masih bisa kendalikan. Tapi… dia benar. Semakin dekat pulau, semakin kuat dia.”

Lan Xue tersenyum dingin. “Kalian tak akan sampai. Aku akan tahan kalian di sini sampai bulan purnama penuh. Saat itu… kakakku akan bangkit sepenuhnya dari tubuh itu.”

Xiao Feng dan Shi Jun menyerang lagi. Lan Xue bertarung sengit—kekuatannya hampir setara Xue Han dulu, tapi dia lebih cepat, lebih licin.

Kapten tua berteriak dari kemudi. “Gerbang Tersembunyi sudah terlihat! Kalau kita bisa lewati dia, kita masuk!”

Lian'er memutuskan. Dia melepaskan badai teratai terbesar. seperti tsunami kelopak putih yang menyapu dek. Lan Xue terdorong mundur, tapi tak jatuh ke laut.

“Pergi!” teriak Lian'er. “Aku tahan dia! Shen Yi, masuk ke gerbang!”

Shen Yi ragu. “Aku nggak mau tinggalkan kau!”

Lian'er menatapnya tegas. “Kau harus masuk dulu. Bersihkan noda itu. Aku akan ikut setelah ini. Percaya padaku.”

Xiao Feng menarik Shen Yi. “Ayo, bro! Kita nggak bisa kalah sekarang!”

Shi Jun mengangguk. “Aku bantu Lian'er. Pergi!”

Shen Yi menatap Lian'er lama. Lalu dia berlari ke haluan kapal, menuju titik cahaya samar di kabut—Gerbang Tersembunyi.

Saat dia melompat dari kapal ke platform batu kecil yang muncul di kabut, darahnya menetes ke batu. Gerbang terbuka. Cahaya teratai emas menyambutnya.

Di belakang, Lian'er bertarung sengit dengan Lan Xue. Kelopak teratai bertabrakan dengan es hitam.

Shen Yi berbalik sekali lagi, melihat Lian'er tersenyum padanya meski terluka.

“Pergi! Aku menyusul!”

Shen Yi masuk ke gerbang. Cahaya menelannya.

Di dalam kabut pulau, dia sendirian—tapi noda hitam di tubuhnya berdenyut sangat kuat, seperti jantung yang bangun sepenuhnya.

Suara Xue Han tertawa di kepalanya.

“Selamat datang kembali, tuan rumah baru.”

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!