Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: MENCEKIK
Alana merasakan paru-parunya seolah menyempit, menolak untuk menghirup udara di ruangan yang kini terasa seperti kuburan massal tersebut. Tangannya yang masih memegang pinggiran map merah itu gemetar begitu hebat hingga kertas-kertas di dalamnya berderik halus—suara yang terdengar sangat nyaring di tengah keheningan ruang kerja Dante yang kedap suara. Foto-foto kematian itu seolah menatapnya balik, menertawakan kepolosannya yang selama ini menganggap Dante hanyalah pria kaya yang kasar.
"Monster..." bisik Alana dengan bibir yang memucat. "Dia benar-benar monster."
Setiap detail yang ia lihat—luka-luka yang presisi, laporan eksekusi yang ditulis dengan nada sedingin es—membuat Alana menyadari bahwa pria yang memeluknya semalam adalah malaikat maut dalam wujud manusia. Ia baru saja akan mengembalikan map itu ke dalam laci dengan gerakan panik ketika suara ketukan di pintu besar itu mengejutkannya.
Tok! Tok! Tok!
Alana terlonjak, nyaris menjatuhkan map itu ke lantai. "Y-ya?" suaranya melengking tinggi, sarat akan ketakutan yang gagal ia sembunyikan.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Arthur yang berdiri dengan sikap formalnya yang biasa. Mata tua pria itu menyapu ruangan sebelum mendarat pada Alana yang berdiri kaku di balik meja besar Dante. Alana segera mendorong laci itu hingga tertutup rapat dengan pinggulnya, sementara tangannya menyembunyikan dokumen yang sempat ia pegang ke balik punggungnya.
"Nyonya Alana?" Arthur melangkah masuk, wajahnya datar namun sorot matanya yang berpengalaman menangkap keganjilan pada ekspresi gadis itu. "Wajah Anda sangat pucat. Apakah Anda merasa tidak enak badan?"
Alana menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa seperti tersumbat duri. Ia mencoba memaksakan sebuah senyuman, namun yang muncul hanyalah tarikan otot wajah yang menyedihkan. "A-aku... aku baik-baik saja, Arthur. Hanya sedikit pusing karena... mungkin karena debu di sini."
Arthur tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan meja. Alana bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, takut jika Arthur menyadari bahwa posisi berkas di atas meja sedikit bergeser dari tempat asalnya. Di rumah ini, segala sesuatu harus berada di tempat yang ditentukan oleh Dante, dan kesalahan sekecil apa pun bisa berarti bencana.
"Tuan Dante baru saja menghubungi lewat telepon kantor," ucap Arthur tenang, namun tatapannya seolah menembus pertahanan Alana. "Beliau berpesan agar Anda segera beristirahat setelah membersihkan ruangan ini. Beliau tidak ingin Anda kelelahan."
"I-iya, aku akan segera selesai," jawab Alana cepat. Ia berusaha bergerak menjauh dari meja tanpa melepaskan dokumen di balik punggungnya, namun ia sadar ia tidak bisa keluar dari ruangan ini sambil membawa bukti rahasia Dante.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Alana menjatuhkan dokumen itu ke kursi kerja Dante yang empuk, berharap Arthur tidak melihatnya karena terhalang oleh meja. Ia kemudian melangkah maju, menjauhi meja tersebut dengan tangan yang kini terkepal erat di depan perutnya.
"Arthur, bolehkah aku bertanya sesuatu?" ucap Alana, mencoba mengalihkan perhatian kepala pelayan itu.
"Tentu, Nyonya."
"Apakah... apakah Tuan Dante selalu sesibuk ini? Maksudku, urusan 'bisnisnya'..." Alana menjeda, matanya menatap lantai marmer. "Apakah dia sering melakukan hal-hal yang... berbahaya?"
Arthur terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa sangat berat bagi Alana. Akhirnya, pria tua itu mendesah pelan. "Dunia Tuan Dante bukanlah dunia yang bisa dipahami oleh orang-orang dengan hati semurni Anda, Nyonya. Ada hal-hal yang dilakukan demi menjaga kekuasaan, dan ada hal-hal yang dilakukan karena tidak ada pilihan lain. Saya sarankan, jangan terlalu dalam mencari tahu apa yang tersimpan di balik pintu-pintu di mansion ini. Terkadang, ketidaktahuan adalah berkah terbesar."
Jawaban Arthur sudah lebih dari cukup bagi Alana. Itu adalah konfirmasi bahwa semua orang di rumah ini tahu, namun mereka semua memilih untuk bisu dan buta demi keselamatan mereka sendiri.
"Aku mengerti," bisik Alana pahit.
"Mari, Nyonya. Saya akan mengantar Anda ke kamar. Pelayan sudah menyiapkan teh hangat untuk Anda," Arthur mempersilakan dengan gerakan tangan.
Alana melangkah keluar dengan kaki yang terasa lemas, meninggalkan ruang kerja itu dengan rahasia yang kini membebani pundaknya. Saat ia melewati ambang pintu, ia sempat melirik kembali ke arah meja Dante. Di sana, di tengah kemewahan kayu ek dan aroma cendana, tersimpan bukti-bukti kekejaman yang akan selalu menghantuinya setiap kali ia menatap wajah suaminya nanti.
Ia menyadari satu hal yang mengerikan: di mansion ini tidak ada kamera CCTV yang mengawasinya di dalam ruang kerja tersebut, yang berarti Dante mempercayainya untuk masuk ke sana. Dan Alana baru saja menghancurkan kepercayaan itu dengan melihat sisi iblis suaminya. Jika Dante tahu, mungkinkah namanya akan menjadi daftar berikutnya yang dicoret dengan tinta merah di dalam map itu?
Pikiran itu membuat Alana merinding hebat sepanjang jalan menuju kamarnya, menyadari bahwa ia baru saja membuka kotak Pandora yang tidak akan pernah bisa ia tutup kembali.
***
Sementara Alana gemetar di balik kemewahan dinding mansion yang dingin, ratusan kilometer jauhnya, di sebuah distrik pergudangan pelabuhan yang diselimuti kabut pekat, Dante Volkov sedang menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Di sini, tidak ada aroma mawar atau seprai sutra; yang ada hanya bau amis air laut, karat besi, dan aroma tajam mesiu yang membakar udara.
Dante berdiri di tengah sebuah hanggar luas yang remang-remang. Ia telah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan tato mawar hitam yang tampak hidup di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. Di depannya, sebuah transaksi tingkat tinggi sedang berlangsung—sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hutang judi paman Alana.
"Kau terlambat sepuluh menit, Moretti," suara Dante terdengar seperti gesekan logam di atas batu, dingin dan tanpa ampun.
Di hadapannya, seorang gembong penyelundup dari klan Italia tampak berkeringat dingin meskipun udara malam menusuk tulang. Di belakang Dante, Adam dan selusin pria bersenjata lengkap berdiri seperti patung kematian. Di tengah mereka, lusinan peti kayu besar yang baru saja diturunkan dari kapal kargo telah terbuka, memamerkan isinya: rangkaian senapan serbu mutakhir dan prototipe peluncur granat yang belum beredar di pasar gelap mana pun.
Ini adalah inti dari kekaisaran Volkov—perdagangan senjata ilegal yang menyuplai konflik-konflik di berbagai belahan dunia. Dante bukan sekadar anggota mafia; dia adalah sang Architect, orang yang mengatur sirkulasi kekuatan militer di bawah tanah.
"Ada masalah di bea cukai, Volkov. Kau tahu sendiri bagaimana mereka—"
TAK.
Dante meletakkan moncong pistol Custom 1911 miliknya tepat di kening Moretti sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Gerakan Dante begitu cepat, presisi, dan tenang, seolah ia hanya sedang menunjuk ke arah peta.
"Aku tidak membayar untuk mendengar alasan. Aku membayar untuk ketepatan waktu," desis Dante. Matanya yang sebiru es tidak berkedip, memancarkan aura kegelapan yang sanggup melumpuhkan detak jantung lawan bicaranya. "Satu kali lagi kau terlambat, maka kepalamu akan menjadi bagian dari kargo yang kukirim ke Napoli."
Setelah ketegangan yang mencekik itu, Dante menurunkan senjatanya dan memberikan isyarat pada Adam untuk memeriksa kualitas barang. Dengan mata elangnya, Dante mengawasi setiap detail. Ia bahkan mengambil salah satu senapan, membongkarnya dengan kecepatan luar biasa untuk memastikan komponennya tidak cacat. Inilah sisi Dante yang tidak pernah dilihat Alana—seorang perfeksionis yang merajut kekuasaannya melalui darah dan baja.
Namun, operasi malam itu belum berakhir. Di sudut hanggar, dua orang pria yang tangannya terikat rantai ke langit-langit sedang merintih kesakitan. Mereka adalah tikus-tikus kecil yang mencoba mencuri sebagian kecil dari kiriman ini untuk dijual kembali ke pasar gelap tanpa seizin Volkov.
Dante berjalan mendekati mereka. Langkah kakinya yang berat bergema di lantai beton. Ia mengambil sebuah pisau lipat taktis dari sakunya, membukanya dengan bunyi klik yang mematikan.
"Kalian tahu apa hukumannya bagi yang mencoba mencuri dari kantongku?" tanya Dante pelan, hampir menyerupai bisikan lembut yang justru lebih menakutkan daripada teriakan amarah.
Tanpa menunggu jawaban, Dante menggerakkan pisaunya dengan kecepatan yang tak terlihat mata. Jeritan melengking memecah kesunyian malam saat Dante menyayat lambang klan mereka tepat di dada pria itu, membatalkan loyalitas mereka dengan luka yang akan membekas selamanya—jika mereka dibiarkan hidup.
Dante menatap darah yang membasahi tangannya dengan ekspresi datar, seolah itu hanyalah noda tinta biasa. Pikirannya sejenak melayang pada Alana—gadis kecilnya yang mungkin sekarang sedang tertidur lelap dalam balutan piyama sutra. Sebuah kontras yang gila; tangannya yang baru saja menyiksa pria ini adalah tangan yang sama yang mengusap pipi lembut Alana semalam.
"Selesaikan mereka, Adam. Pastikan tidak ada jejak yang tersisa di pelabuhan ini sebelum matahari terbit," perintah Dante sambil menyeka darah di tangannya dengan sapu tangan sutra—sapu tangan yang sama yang diberikan Alana padanya sebelum ia pergi.
Dante melangkah keluar dari hanggar, menyalakan sebatang cerutu mahal sambil menatap laut yang gelap. Di balik kemegahan statusnya sebagai suami Alana, ia adalah sang predator yang menjaga perdamaian dunianya dengan cara yang paling brutal. Baginya, setiap tetes darah yang tumpah malam ini adalah jaminan bahwa Alana tetap bisa tidur dengan tenang di mansion mewahnya, meskipun ia tahu, jika mawar kecilnya itu melihat apa yang baru saja ia lakukan, Alana pasti akan melihatnya sebagai monster paling menjijikkan di muka bumi.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄