NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

“Jadi, selama enam tahun ini aku membenci pria yang salah, sementara iblis yang sebenarnya sedang menyesap teh di balkon rumahmu?”

Suara Alisha bergetar hebat menahan badai amarah yang meluap. Ia bersandar pada dinding marmer yang dingin untuk menyangga kakinya yang goyah. Tablet di tangannya masih menampilkan sisa gambar rekaman CCTV enam tahun lalu. Nafasnya memburu hingga menciptakan uap tipis di udara koridor yang terlalu dingin. Di kejauhan, dentum musik pesta di lantai bawah terdengar seperti detak jantung yang sedang sekarat.

“Alisha? Apa yang kau lakukan di sini?”

Langkah kaki yang berat dan terburu-buru mendekat dari arah lift. Damian Sagara muncul dari balik belokan koridor dengan wajah pucat. Jas hitamnya sudah tidak rapi lagi. Keringat dingin membasahi pelipis dan dahi lebarnya. Ia berhenti lima langkah di depan Alisha. Matanya memancarkan kecemasan yang murni dan dalam.

“Jangan mendekat, Damian,” gertak Alisha sambil mengangkat tablet itu tinggi-tinggi.

“Pesta di bawah sedang kacau. Arka membantumu, tapi Clarissa mengamuk. Kita harus pergi sekarang juga sebelum media mengepung jalur ini.”

“Pergi ke mana? Kembali ke rumah ibumu yang megah itu?” Alisha tertawa pahit.

“Apa maksudmu? Kita tidak punya banyak waktu untuk berdebat.” Damian mengerutkan kening.

Alisha menekan tombol putar ulang pada layar sentuh tersebut. Ia menyodorkan layar tablet ke arah wajah Damian dengan tangan gemetar. Gambar hitam putih lorong hotel Jakarta enam tahun lalu kembali terputar. Sosok Nyonya Raina Sagara terlihat berdiri dengan angkuh di depan pintu kamar 404. Ia mengenakan pakaian mahal yang sangat kontras dengan situasi malam itu.

Raina memberikan isyarat pada penjaga berbadan besar untuk mengunci pintu dari luar.

“Lihat baik-baik, Damian,” bisik Alisha dengan nada mematikan.

Damian mengambil tablet itu dengan jemari yang bergetar hebat. Ia menonton video itu dalam diam yang mencekam. Matanya melebar saat mendengar suara ibunya memerintahkan skandal itu untuk menjerat Alisha. Video itu berakhir pada adegan Raina sedang menghubungi media besar. Ia sedang mengatur agar berita penggerebekan itu meledak keesokan paginya.

“Ibu?” Damian bergumam pelan seolah tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

“Dia yang merencanakannya. Dia tahu kau sedang mabuk berat malam itu. Dia tahu aku sedang terjepit masalah besar dengan atasanku.”

“Aku pikir aku yang tidak sengaja melakukan kesalahan malam itu.” Damian mundur satu langkah.

“Kesalahanmu adalah menjadi putranya. Dia butuh alasan kuat untuk mengusir Clarissa Aditama dari hidupmu. Dan dia butuh alasan menjadikanku kambing hitam bisnisnya.”

Damian menjatuhkan tablet itu ke lantai marmer yang keras. Suara benturan perangkat elektronik itu bergema nyaring di lorong yang kosong. Layar tablet itu retak seribu namun gambarnya masih menyala redup. Wajah Damian memucat hingga menyerupai kertas putih. Seluruh hidupnya selama enam tahun terakhir terasa seperti panggung sandiwara. Ia menyadari naskah hidupnya ditulis oleh ibunya sendiri dengan sangat rapi.

“Jadi, aku hanya bidak untuk menyingkirkan pengaruh Clarissa?” Damian menatap kedua tangannya sendiri.

“Kita berdua adalah bidaknya, Damian. Bedanya, kau bidak yang disayang untuk dilindungi. Aku adalah bidak yang dibuang setelah digunakan.”

Tiba-tiba, suara tawa yang melengking pecah dari arah belakang mereka. Clarissa Aditama muncul dengan gaun merah yang robek di bagian bawah. Rambutnya yang tadinya tersanggul rapi kini berantakan menutupi wajah. Riasan wajahnya luntur oleh air mata amarah yang menghitam. Ia memegang botol sampanye yang sudah kosong dan mengayunkannya dengan gila.

“Luar biasa! Benar-benar pertunjukan yang sangat luar biasa!” teriak Clarissa dengan tawa getir.

“Clarissa, hentikan ini sekarang juga,” ujar Damian dengan suara parau.

“Hentikan apa? Alisha sudah menghancurkan hidupku di depan semua orang penting!” Clarissa menunjuk wajah Alisha dengan jari yang gemetar.

“Bukan aku yang menghancurkanmu, Clarissa. Nyonya Raina yang melakukannya sejak awal.” Alisha membalas dengan tatapan sangat dingin.

“Kau jalang kecil! Kau masuk ke tempat tidur Damian dan merampas posisiku sebagai nyonya Sagara!”

Clarissa berlari ke arah Alisha dengan tangan terangkat siap menyerang. Namun sebelum telapak tangan Clarissa menyentuh kulit wajah Alisha, sebuah tangan besar menangkap pergelangan tangannya. Damian mencengkeram tangan Clarissa dengan kekuatan yang sanggup mematahkan tulang lengan. Clarissa meringis kesakitan namun amarahnya belum juga padam.

“Lepaskan aku, Damian! Dia harus mati agar semuanya kembali normal!” jerit Clarissa.

“Cukup, Clarissa! Kau dan ibuku ternyata sama saja!” bentak Damian dengan suara menggelegar.

Damian mendorong Clarissa hingga wanita itu tersungkur ke lantai hotel.

Clarissa menatap Damian dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Air mata hitam mengalir deras di pipinya yang memerah. Damian berdiri di depan Alisha seolah menjadi dinding pelindung yang kokoh.

“Kalian berdua menganggap manusia hanya sebagai angka dan bidak catur,” lanjut Damian. “Kalian merusak hidup seorang gadis jujur hanya demi persaingan bisnis yang konyol.”

“Aku mencintaimu, Damian! Ibumu tahu benar tentang perasaan itu!” Clarissa terisak di lantai.

“Cinta tidak mengunci pintu kamar orang lain secara paksa. Cinta tidak membayar staf lab DNA untuk memalsukan hasil tes anakku.”

Damian berbalik ke arah Alisha dengan gerakan perlahan. Ia mencoba meraih tangan Alisha namun wanita itu menghindar dengan sangat cepat. Alisha menatap Damian dengan tatapan yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan Clarissa. Ia merasakan dadanya sesak oleh kenyataan baru yang mulai terhubung di kepalanya.

Alisha baru saja menyadari sesuatu yang lebih gelap di balik rekaman video itu.

“Damian, jika ibumu yang mengatur malam itu, berarti dia tahu segalanya,” ujar Alisha pelan.

“Apa maksudmu? Apa yang sedang kau pikirkan?” Damian bertanya dengan nada bingung.

“Dia tahu aku hamil tak lama setelah malam terkutuk itu. Dia memantauku di hotel itu setiap detik, bukan?”

Damian terdiam seribu bahasa di tempatnya berdiri. Otaknya mulai merangkai fakta-fakta yang selama ini ia abaikan secara sengaja. Jika Raina Sagara yang memegang kendali kamera pengintai, maka segalanya menjadi masuk akal.

Raina pasti melihat Alisha membeli alat tes kehamilan sebulan setelah malam di hotel itu.

“Dia membiarkanku menderita di desa nelayan itu selama enam tahun,” suara Alisha mulai meninggi.

“Alisha, mungkin dia tidak tahu keberadaanmu sejauh itu.” Damian mencoba memberi pembelaan yang sangat lemah.

“Jangan bodoh, Damian! Dia tahu aku tidak punya uang untuk membeli susu formula Arka! Dia tahu Arka sakit keras saat umur dua tahun!”

Alisha memukul dada Damian dengan kepalan tangannya yang kecil namun bertenaga. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. Kemarahan ini bukan lagi soal pengkhianatan cinta atau perselingkuhan. Raina sengaja melakukan itu hanya untuk memberikan pelajaran moral yang kejam.

“Dia membiarkanku membusuk di pesisir agar saat dia menjemputku, aku akan bersujud di kakinya.”

“Aku akan menghadapinya secara langsung, Alisha. Aku janji padamu.” Damian berujar dengan nada penuh dendam.

“Menghadapinya tidak akan mengembalikan enam tahun umur Arka yang hilang dalam kekurangan!”

Clarissa yang masih terduduk di lantai tertawa getir mendengar percakapan penuh luka tersebut. Ia mengusap wajahnya yang kotor dengan punggung tangan yang gemetar. Matanya menatap tajam ke arah dua orang di depannya dengan rasa puas yang aneh.

“Raina Sagara tidak akan pernah bisa kalah, Damian. Kalian berdua akan selalu menjadi miliknya selamanya.”

“Tidak lagi mulai malam ini,” jawab Damian dengan nada tegas dan dingin.

Damian merangkul pundak Alisha dengan gerakan protektif yang kuat. Alisha tidak menolak kali ini karena tenaganya sudah benar-benar terkuras habis. Tubuhnya terasa terlalu lemas untuk sekadar berdiri tegak tanpa bantuan orang lain. Ia merasa seolah-olah seluruh oksigen di hotel ini telah dihisap keluar oleh nama besar Sagara.

“Di mana Arka sekarang?” tanya Alisha dengan nada cemas.

“Dia bersama Jimmy di lobi belakang hotel. Kita harus segera membawanya keluar dari gedung ini sekarang juga.”

Mereka berjalan cepat meninggalkan Clarissa yang masih terisak sendirian di lorong yang sunyi. Alisha menoleh sekali lagi ke arah tablet yang tergeletak mengenaskan di lantai. Ia menyadari bahwa pertempuran besar melawan Sagara belum benar-benar berakhir. Raina Sagara masih memegang kunci terakhir dari rahasia keluarga mereka yang paling gelap.

Mereka menuruni tangga darurat untuk menghindari kejaran wartawan di lift utama. Damian terus menggenggam tangan Alisha seolah takut wanita itu akan menghilang. Pikiran Damian berkecamuk membayangkan wajah ibunya yang selama ini ia hormati. Ia merasa seperti orang bodoh yang digerakkan oleh benang-benang tipis selama bertahun-tahun.

Di lobi belakang, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap sudah menunggu dengan mesin menyala. Jimmy berdiri di samping pintu mobil dengan wajah tegang yang tidak bisa disembunyikan. Arka duduk di kursi belakang sambil memeluk laptopnya erat-erat. Bocah itu menatap ibunya dengan tatapan dewasa yang menenangkan.

“Ibu, kita akan pergi ke tempat yang aman sekarang?” tanya Arka saat Alisha masuk ke mobil.

Alisha hanya bisa mengangguk sambil memeluk putranya dengan sangat erat. Air matanya kembali jatuh saat merasakan detak jantung Arka yang tenang. Damian masuk ke kursi depan dan memerintahkan Jimmy untuk segera memacu kendaraan tersebut.

“Tuan, Nyonya Besar baru saja menghubungi saya,” ujar Jimmy dengan suara rendah.

“Jangan angkat teleponnya. Putuskan semua akses komunikasi dengan mansion utama malam ini.”

Damian menjawab tanpa ragu.

Mobil itu melesat membelah jalanan Jakarta yang basah oleh sisa hujan. Alisha menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang mulai menjauh. Ia tahu bahwa mulai besok, ia tidak akan lagi menjadi Alisha yang lemah dan mudah ditindas. Ia akan menghancurkan sistem yang dibuat oleh Raina Sagara, meskipun ia harus menghancurkan dirinya sendiri dalam prosesnya.

Raina Sagara telah merampas enam tahun masa kecil Arka hanya untuk sebuah ego kekuasaan. Alisha bersumpah dalam hati bahwa ia akan membalas setiap tetes air mata dan rasa lapar yang pernah Arka rasakan di desa nelayan. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai dari dalam kabin mobil yang gelap itu.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
Lianty Itha Olivia: ya bgtu baguslah Thor keluar dari zona yg semakin rumit dan bikin pusing 💪💪
total 2 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!