NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : Nifty dan Aki.

Hujan malam tadi di kota Gigri mulai reda, meninggalkan udara lembap yang menempel di jendela laboratorium Aki. Lampu neon di langit-langit berkelap-kelip lemah, memantul di lantai keramik yang basah. Aki duduk di kursi besar, rambut birunya yang baru mengering dari hujan menempel di keningnya, matanya merah karena menangis. Chika duduk di sampingnya, menatap Aki dengan mata yang sama-sama memerah, menahan napas yang tersendat-sendat.

“Aki… kamu harus kuat… jangan larut lagi dalam kesedihan ini,” kata Chika, suaranya lembut tapi tegas, tangan menepuk perlahan punggung Aki. Tubuhnya sedikit bergetar, tapi ia mencoba menjadi penopang di tengah kegelapan hati Aki.

Aki menggeleng perlahan, suara tangisannya pecah, napas tersedu-sedu. “Chika… semua perjuanganku… sia-sia… Cila tetap mati… aku tidak bisa menyelamatkan hidupnya…” Tangisnya berubah menjadi suara berat, suara yang memecah hening malam, seolah setiap kata adalah luka yang terbuka. Ia menekankan wajahnya ke kedua tangannya, kepala hampir menempel di meja laboratorium yang dingin.

Tiba-tiba, pintu laboratorium terbuka dengan suara creek… yang panjang. Nifty masuk, rambut kuningnya yang pendek menempel di wajah karena kelembapan, matanya melebar sejenak melihat kondisi Aki. “Loh… sudah kembali kalian? Gimana? Berhasil nggak buat mantan pacarmu di dunia lama hidup?” Suaranya ringan, tapi penuh perhatian.

Namun tatapannya segera berubah saat melihat wajah Aki yang sembab dan pucat. Nifty berjalan cepat, langkahnya beradu dengan lantai keramik yang basah, suara tap… tap… tap… menandai keseriusannya. Ia menunduk, menempatkan tangan di bahu Aki, menatap matanya. “Aki… kamu gagal ya… Aku turut berdukacita…”

Aki menunduk lebih dalam, suara tangisannya menjadi lirih, “Maaf… aku telah menyakiti hatimu kemarin…”

Nifty menggeleng, tersenyum lembut di sela air mata yang menetes deras. “Ehh… kamu sering minta maaf walaupun nggak salah… sudah nggak apa-apa. Sekarang… tenangkan dirimu dulu…” Suaranya menenangkan, tapi tetap ada nada sedih yang terselip, mata yang basah menandakan kepedulian mendalam.

Chika menatap dari samping, alisnya terangkat, tubuh sedikit condong ke depan, siap mendengar percakapan yang tiba-tiba berubah serius.

Nifty menatap Aki dalam-dalam, suaranya berubah pelan, berat. “Jadi… siapa nama mantan pacarmu yang mati-matian mau kau selamatkan?”

Aki menelan ludah, napasnya tertahan sejenak. “Nama…nya… Cila Mulyanti…” Suara itu pecah, hampir berbisik, namun tegas.

Tubuh Nifty terkejut, kedua tangannya mengepal erat di depan dada, tubuhnya bergetar kecil, napasnya tersengal. Air mata mulai menetes deras. “A… Aki… nama itu…”

Aki menatap tajam, matanya melebar. “Ada apa?”

Nifty menutup mulutnya dengan keras, terdengar suara smack… sebelum ia menghembuskan napas panjang, lalu suaranya pecah di sela tangis. “Jadi… selama kau sudah masuk Isekai… kau… masih… mengingatku?”

Aki terkejut, alis berkerut, langkahnya mundur satu, kedua tangannya sedikit terangkat. “Apa maksudmu, Nifty?! Aku memikirkannya!! Bukan kamu!!”

Nifty menatapnya dengan mata basah yang berkilat di bawah cahaya lampu laboratorium. “Nama kamu… Aki Biaca, kan… di dunia lamamu?”

Chika menelan ludah, menatap Aki dengan mata membesar. “A… Aki… itu nama kamu di dunia lamamu?”

Aki merasakan dadanya sesak. Ia berdiri, kedua tangannya mencengkeram pundak Nifty, suaranya bergetar tapi keras. “Dari mana kau tahu?! Aku tak pernah memberitahumu di dunia ini!!”

Nifty tertawa kecil, di sela isak tangis, senyumnya getir tapi lembut. “Ternyata… kamu nggak bisa move on ya… Yaudah… kita dulu bertemu di taman sekolah Al-Islah, Bukittinggi… awalnya kita bermusuhan… sampai kita ketemu lagi di kelas 7… dan kau… menembakku di Ngarai Maharam tanggal 25 Februari 2020…”

Aki mundur selangkah, napasnya memburu, alisnya berkerut. Ia hampir tak percaya, bulu kuduknya berdiri. Kenangan yang ia simpan rapat-rapat di dunia lama tiba-tiba diungkap Nifty.

Nifty menatap tajam, air matanya terus mengalir deras, suaranya lirih tapi penuh kepastian. “Kita… pacaran selama empat tahun… dan sebelumnya… kamu nggak pernah bilang detail ini ke siapa pun… Tapi aku tahu… semua…”

Aki membeku, kedua tangannya mengepal, dada terasa sesak. “Dari mana kau tahu?! Jangan mengaku-ngaku… kau bukan Cila…”

Nifty menatapnya tajam, suaranya meninggi, menyeramkan tapi tetap menahan kesedihan: “Karena yang berdiri di sini… adalah Cila Mulyanti-mu, Aki!! Aku… juga direinkarnasi di dunia ini… setelah aku mati!!”

Chika menatap Nifty, matanya melebar, napas tertahan. Ia bergumam lirih, “Ada benarnya… Cila sangat mirip sikapnya dengan Nifty…”

Aki terpaku, seluruh tubuhnya tegang, napasnya tersengal, kedua tangannya masih memegang pundak Nifty/Cila. Jantungnya berdetak cepat, suara thump… thump… terasa di telinga, seolah menandai ketegangan yang memuncak. Hujan masih terdengar di luar, tapi laboratorium terasa sepi, hanya ada suara napas mereka yang berat dan dentuman air hujan di atap.

Chika menarik napas panjang, berjongkok sedikit, tangan mengepal di lutut, mencoba menenangkan dirinya sendiri, tapi matanya tak lepas dari interaksi itu, menyadari bahwa dunia lama dan dunia baru kini bertemu, menciptakan momen yang menegangkan dan menyedihkan sekaligus absurd.

...----------------...

Hujan masih menetes di jendela laboratorium, suara drip… drip… drip… menambah kesunyian yang terasa penuh beban. Lampu neon bergetar pelan, memantulkan cahaya redup ke lantai keramik yang basah. Aki berdiri kaku, menatap Nifty/Cila, napasnya tersengal, dada berdebar. Chika duduk di dekatnya, tangan menggenggam erat hero sword yang kini redup, matanya berkaca-kaca menyaksikan momen yang tak terduga ini.

Nifty menunduk, tubuh gemetar, air mata menetes deras membasahi pipinya. “Aki… aku… aku benar-benar… direinkarnasi di dunia ini…” suaranya serak, napasnya tersendat, tangan menekuk di depan dada.

Aki menatapnya, perlahan menyadari. Alisnya terangkat, mata birunya melebar, ada campuran takjub dan lega di sana. “Jadi… kau… benar-benar… Cila?” Suaranya hampir berbisik, tapi setiap kata bergetar karena emosi yang membuncah.

Nifty mengangguk, bibirnya bergetar, air mata terus menetes. “Aku… aku Cila… Aki… walaupun kita berbeda dunia… kau tetap… selalu mengingatku…” Suaranya pecah, tubuhnya sedikit condong maju, bahunya bergetar menahan kesedihan dan rindu yang telah lama terkubur.

Aki tanpa pikir panjang, melangkah maju, kedua tangannya memeluk Cila/Nifty erat. Tubuhnya bergetar karena menahan emosi, pipinya menempel di bahu Cila. “Cila… akhirnya… akhirnya kau ada di sini…” Tangisnya meledak, suara pecah, dada berguncang hebat.

Cila/Nifty membalas pelukan itu dengan erat, menempelkan kepala ke dada Aki, tangannya mencengkeram punggung Aki sekuat tenaga. Suara tangisnya bergema, lembut tapi penuh kelegaan: “Aki… aku… aku takut… takut kau melupakan aku… tapi ternyata… kau tetap ingat… walau berbeda dunia…”

Aki menarik napas panjang, memeluknya lebih erat, menekankan kepalanya ke kepala Cila. “Cila… kenapa sebelumnya kau tidak bilang ini padaku?” Suaranya berat, menahan getaran.

Cila/Nifty menunduk sedikit, rambutnya menempel di wajah karena kelembapan, air mata terus menetes. “Karena… kau selalu menutupinya dariku… Kau selalu menyimpan semuanya sendiri… Aku tidak ingin memaksamu…”

Aki menatap matanya, alis berkerut, bibir sedikit gemetar. “Tapi… kita bisa tetap bersama sekarang… bukan?”

Cila/Nifty mengangguk, senyum lembut tapi hangat menembus kesedihan. “Iya… sekarang… kita bisa memulai lagi…”

Aki perlahan melepaskan pelukan sebentar, menatapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu berbisik, “Kalau begitu… kita tetap memakai nama kita… Aku tetap Aki… dan kau… tetap Cila.”

Cila/Nifty tersenyum, air mata menetes di pipinya, menepuk lembut dada Aki. “Ya… aku tetap Cila… seperti dulu…”

Chika menunduk sedikit, tangan menutup mulutnya, mata berkaca-kaca. Ia menghela napas pelan, dada bergetar. “Wah… susah payah kita melindungi orang ini sampai ke dunia lamanya Aki… eh… ternyata… orangnya juga ikut direinkarnasi di sini…” pikirnya, hati terasa hangat tapi tetap ada rasa kagum dan terharu.

Aki memeluk Cila lagi, kali ini lebih tenang, meski napas masih berat. Kedua tubuh mereka menempel, saling menenangkan satu sama lain, di tengah laboratorium yang basah dan remang, hujan di luar menciptakan ritme lembut, drip… drip… drip… seakan ikut menandai titik awal baru mereka.

Cila menatap Aki dengan mata lembut tapi tegas. “Aki… kita… akan saling menjaga… walau dunia ini aneh… walau kita direinkarnasi… kita tetap bersama…”

Aki tersenyum tipis, air mata masih menetes di pipinya. “Iya… Cila… aku janji… aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi… tidak peduli dunia ini seaneh apa pun…”

Chika menunduk, senyum tipis muncul di wajahnya. “Huh… akhirnya… mereka bisa bertemu lagi… susah payah melawan takdir… eh… malah semuanya beres di dunia baru… wkwk… tapi lihat, aku jadi ikut lega juga…”

Hujan masih menetes di luar, laboratorium remang, tapi di sudut itu, tiga sahabat itu duduk bersama, Aki dan Cila berpelukan hangat, Chika di samping mereka menenangkan diri, hati mereka masing-masing akhirnya sedikit tenang setelah perjalanan panjang yang penuh penderitaan dan horor.

 

Hujan ringan di luar laboratorium telah berhenti, tetapi udara masih lembap dan wangi ozon dari alat-alat teknologi mengisi ruangan. Lampu holografik dari layar Hero Sword Chika berkedip biru lembut, memantul di dinding laboratorium yang dipenuhi rak-rak penuh dengan blueprint, ponsel prototipe, dan miniatur robot.

Tiba-tiba, tubuh Aki bersinar dengan cahaya kristal biru yang lembut namun menyilaukan. Kristal itu berputar di sekeliling tubuhnya seperti aura hidup, sebelum akhirnya menyerap masuk ke Hero Sword Chika yang tergantung di punggungnya. Suara zing… ding… terdengar lembut, seperti notasi musik futuristik, menandakan sistem Hero ke-enam telah aktif.

Chika, dengan mata berbinar dan senyum lebarnya, melompat sedikit, menepuk punggung pedangnya. “Yahh… selamat, Aki! Kamu resmi jadi Hero ke-6 sekarang! Gimana rasanya? Ada kekuatan baru nih, hihihi!”

Aki tersenyum tipis, menatap Cila, dan mengusap rambutnya dengan lembut. “Baiklah… dunia lamaku dan kau, Cila… sudah kita tinggalkan. Sekarang… kita fokus di dunia ini. Invader, keturunan masalah lama… semuanya akan kita atasi. Bersama-sama denganmu, dan Chika, serta… princes kecil itu.”

Cila mencondongkan tubuh ke depan, mata lembutnya menatap Aki, bibir tersenyum tipis tapi tegas. “Oh iya… sebelum kita bergerak lebih jauh, kamu berjanji ya… jangan lupa sama nenek baru kita.”

Aki tertawa kecil, matanya berbinar. “Nenek baru ya… hihi… iya, tenang. Aku ingat.”

Cila berkas sambil mencubit kuping Aki dengan lembut. “Kan dunia kita yang lama sudah kita tinggalkan! Sekarang aku ada di sini, punya keluarga baru yang harus aku jaga… dan nenekku salah satu Knight Gurial Tempest… aku yakin dia masih hidup di suatu tempat.”

Chika menepuk bahu Aki dan melompat-lompat kecil. “Yaudah! Ayok kita ke pulau Havenload!!”

Aki mencondongkan badan ke depan, ekspresinya serius tapi sedikit bercanda. “Tapi sebelum itu… ada hadiah buatmu, Chika, karena sudah membantu aku… walaupun hasilnya agak lucu… yang aku cari ternyata juga ikut direinkarnasi di dunia ini.”

Chika melompat-lompat kegirangan, tangan menepuk-nepuk dadanya. “Oke!! Aku mau semua gedung teknologi di kota Gigri ini… dan semua teknologi di pulau Havenload!! Hihihi!!”

Cila menggeleng sambil tersenyum, tangan menekuk di pinggang. “Eh, agak berat ya… bangunnya butuh banyak orang…”

Chika menepuk pundak Cila dengan santai. “Tenang, di Havenload ada robot MK yang akan membantu pembangunan! Tapi… jangan minta tolong ke MK.99 ya…”

Di Havenload, MK.99 yang sedang tidur malas di samping princes kecil tiba-tiba bersin keras—achoo!—membuat princes terbang ke samping. Mata princes terbuka lebar. “MK.99?! Kamu kok bersin? Kamu kan robot?!”

MK.99 mengerutkan ‘bibir’ digitalnya, suara mekaniknya terdengar datar tapi tegas. “Sistem mendeteksi ada yang membicarakan saya…” lalu ia duduk tegap, mengibas-ngibaskan tangan robotiknya.

Kembali di laboratorium, Aki menatap kotak ponsel seri terbaru yang telah ia siapkan. “Ya baiklah… ini demi princes juga… oh ya… kotak ini, apakah untuk princes?”

Chika mengangguk penuh semangat, tangannya membuka kotak ponsel yang berkilau holografik. “Iya! Aku berjanji, setelah menemukan Hero ke-6, aku akan bawain oleh-oleh spesial!”

Cila menepuk kotak itu dengan jari telunjuknya, ekspresi serius tapi lembut. “Eh… hadiah ini penuh radiasi ya… di dunia lama aku dan Aki, anak kecil dilarang main ponsel lama-lama karena cahaya radiasinya kuat.”

Chika mengangkat bahu, senyum nakal di wajahnya. “Yahh… berarti oleh-oleh ini bisa bikin mata princes rabun ya… hihihi!”

Aki menatap mereka, bibir tersenyum tipis, mata berbinar. “Tenang… selama dia pakai soflen anti-radiasi, aman kok. Tetap bisa main ponsel tanpa masalah.”

Chika menghela napas lega, tangan menepuk dadanya. “Fiuh… syukur deh… soal itu. Soalnya semua hasil petualanganku sebelumnya udah aku gunakan buat beli ini… hahaha!”

Aki dan Cila tertawa ringan, lampu laboratorium memantulkan kilau senyum mereka. Suasana hangat bercampur absurd, teknologi futuristik bercampur tawa anak-anak muda yang baru saja menaklukkan tantangan luar biasa, menciptakan momen yang penuh hidup, tawa, dan sedikit kekonyolan.

...----------------...

 

Siang itu, matahari menyorot tajam di atas pulau Havenload, memantul di permukaan laut biru cerah yang mengelilingi pulau. Angin hangat berdesir, membawa aroma garam laut dan kayu segar dari gedung-gedung yang baru dibangun. Dari atas balkon kayu penginapan, Aki dan Cila berdiri berdampingan, saling bersandar sambil menatap aktivitas di pulau. Gedung-gedung modular dengan desain futuristik perlahan terangkat, dikerjakan oleh robot MK dan para pekerja yang datang dari berbagai wilayah.

Di bawah, Chika duduk di rumput hijau, bersandar ke batang pohon rindang, ponselnya tergenggam erat. Princes kecil duduk di sampingnya, mata berbinar, jari-jari lincah menekan layar.

“Hihihi… Chika… kamu terlalu payah… mati 12 kali lagi sih!” kata Princes sambil tertawa, menepuk pundak Chika. Matanya menyorot dengan ekspresi campur frustrasi dan geli.

Chika mendengus, wajah merah karena malu. “Aku salah pilih karakter… kenapa skill dua-nya malah mengeluarkan kabel yang langsung terbang ke atas?! Aku kan cuma mau nge-push tower, bukan… flying!”

Aki menoleh ke arah Cila, senyum lembut terukir di wajahnya, matanya berkilau melihat Chika yang masih ceroboh tapi lucu. “Cila… lihat itu. Chika main Fanny… hero yang dulu paling kamu kuasai di dunia lama kita…”

Cila tersenyum tipis, pipinya sedikit memerah. “Hehe… iya, tapi lihat dia masih sama aja ya… ceroboh tapi semangatnya nggak hilang.” Ia mencondongkan tubuh, menepuk bahu Aki dengan lembut.

Di dekat mereka, Selena berdiri dengan payung merahnya, menatap layar ponsel Marvin. Vampir itu sedikit melindungi matanya dari cahaya layar yang menyilaukan. “Marvin… jempolmu menutupi setengah layar loh… bagaimana mau main?”

Marvin, setengah orge dengan tangan besar dan kekar, mengangkat bahu sambil merenung. “Hmmm… ternyata masalah ukuran, ya… Hei, Hero ke-enam… bisa nggak kamu bikin versi ponsel yang lebih besar untuk manusia setengah orge kayak aku?”

Aki mencondongkan tubuh ke depan, senyum tipis menari di bibirnya. “Tentu, Hero ke-empat. Aku bisa buat versi khusus buat kamu. Jangan khawatir, Marvin.”

Di samping mereka, Marianne dan Beatrix sedang mencoba menenangkan Xiaouman, yang lagi-lagi mengemut ponsel seolah itu bambu. Beatrix, dengan mata terbelalak, menepuk tangan Xiaouman. “OI GADIS PANDA!! Itu ponsel, bukan bambu!!”

Marianne menunduk, menarik tubuh Xiaouman yang tak bisa diam. “Kenapa sih setelah melawan Orochi dia selalu tidur di Havenload?! Dan OI! Jangan kunyah ponselnya! Itu BUKAN BAMBU!!”

Vivi, kapten Emila, dan MK.99 memperhatikan semua kekacauan itu dari balkon penginapan kayu. Angin menyibakkan rambut mereka, sementara MK.99 dengan matanya yang menyala biru, menatap dengan ekspresi datar. “Sistem mendeteksi tingkat kekacauan tinggi setelah Chika muncul.”

Emila menepuk dagu, tersenyum tipis. “Hahh… Chika… sebagai kapten, aku bangga… sekaligus… trauma melihat kekacauan kecilmu ini.”

Vivi mencondongkan tubuh ke depan, senyumannya menutupi matanya. “Ya… tidak… benar-benar tak berubah ya… dia masih sama, Chika.”

Chika menatap sekeliling, tersenyum nakal sambil mengangkat jari tengah… eh maksudnya jari telunjuk. “Hahaha… aku cuma mencoba hibur semua orang aja… kan lucu liat Marvin pusing sama ukuran ponselnya?”

Aki dan Cila saling menatap, tersenyum lembut. Aki menggenggam tangan Cila, tarikan nafasnya tenang namun bahunya masih sedikit tegang karena membayangkan perjalanan panjang mereka. Cila menepuk tangan Aki, tertawa kecil. “Dunia lama kita mungkin berat… tapi lihat… di sini, semuanya bisa kita jalani dengan lebih ringan. Lucu, absurd, tapi hidup.”

Dari kejauhan, suara deru mesin robot terdengar, diikuti suara tawa princes yang terdengar riang. Bunyi clank, beep, vroom… dari MK-robot menambah kesan absurd tapi menyenangkan. Chika tertawa lepas, ponselnya masih di tangan, sementara Aki dan Cila berdiri berdampingan, melihat pulau yang mulai hidup penuh warna, robot, manusia, dan absurditas yang tak habis-habisnya.

Pulau Havenload kini bukan sekadar tempat baru. Ia menjadi simbol rumah baru mereka, tempat di mana tragedi dunia lama tidak bisa lagi mengganggu. Tempat di mana hero ke-enam resmi muncul, dan tempat absurd yang penuh tawa, kekacauan, dan teknologi bersatu.

...----------------...

CHAPTER 6: DUNIA LAIN

^^^END^^^

...Hero yang terkumpul : Selena, Marianne, Beatrix, Marvin, Xiaouman, Aki......

10 Hero tersisa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!