NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

—Inspired by a true story. Some feelings never really leave, they just become stories.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32 - Cap Ijazah dan Jejak Asing

..."Senyum bisa tertangkap kamera, tapi tidak bisa menangkap rindu yang diam-diam tersimpan."...

Happy Reading!

...----------------...

Sekolah itu masih berdiri di tempat yang sama, tapi rasanya seperti aku datang ke tempat yang sudah tidak lagi mengenal namaku.

Cat temboknya masih sama. Bau khas lorong yang bercampur debu dan pendingin ruangan masih terasa. Tapi ada sesuatu yang hilang—sesuatu yang dulu membuat tempat ini terasa hidup.

Aku dan Nara tiba agak siang. Motor berhenti di parkiran yang sekarang terasa terlalu luas. Ban motorku berderit pelan saat menyentuh aspal panas.

Tidak ada deretan motor siswa yang biasanya berdesakan. Tidak ada suara bel istirahat yang memecah siang. Hanya gema langkah kami sendiri yang terdengar saat turun dari motor. Panas siang yang menggantung dan bangunan sekolah yang berdiri diam, seperti tahu-kami datang hanya untuk berpamitan.

"Masih aneh," kata Nara sambil mengunci stang. "Datang ke sekolah tapi nggak pake seragam."

Aku mengangguk. "Kayak numpang lewat."

Kami berjalan masuk. Langkahku melambat tanpa sadar. Lorong itu masih sama. Dindingnya. Jendelanya. Tapi rasanya berbeda-seolah aku hanya tamu yang singgah sebentar di tempat yang dulu kusebut rumah.

Di depan ruang tata usaha, beberapa siswa sudah duduk menunggu. Wajah-wajah familiar, tapi tidak ada yang benar-benar berbincang lama. Semua seperlunya. Semua seperti sedang menjaga jarak dengan kenangan.

Aku duduk di samping Nara, memeluk tas di pangkuan, jemariku tanpa sadar meremas resletingnya pelan-kebiasaan lama setiap kali aku gugup.

"Cap tiga jari doang," bisiknya. "Tapi rasanya kayak cap perpisahan."

Aku tersenyum kecil. "Iya. Sekali cap, selesai."

Belum sempat aku menenangkan diri, suara yang terlalu kukenal terdengar dari belakang.

"Wih," kata Arkan. "Bareng ya hari ini."

Aku menoleh. Arkan berdiri dengan map cokelat di tangan, rambutnya sedikit berantakan seperti biasa.

"Lo juga ngurus hari ini?" tanya Nara.

"Iya," jawabnya. Lalu menatapku, senyumnya menggantung sebentar. "Shaira."

Aku membalas senyum tipis. "Arkan."

Kami duduk bertiga. Sunyi beberapa detik.

Arkan mengedarkan pandangannya ke sekitar, lalu nyeletuk tanpa pikir panjang,

"Raven nggak bareng lo?"

Nara refleks menoleh ke aku. Aku menggeleng pelan.

"Oh," kata Arkan. Nada suaranya langsung turun. "Iya." Seketika dirinya lupa situasi.

Tidak ada lanjutan. Tidak ada tanya. Hanya satu kata pendek yang mengerti terlalu banyak.

Namaku dipanggil.

Aku berdiri, meninggalkan Nara dan Arkan di bangku tunggu. Di meja, seorang staf TU memeriksa berkas, lalu menyerahkan bantalan tinta.

"Ditekan ya."

Aku menuruti instruksi. Telunjuk, tengah, manis. Tiga cap hitam tertinggal di kertas-jejak kecil yang menutup tiga tahun yang terasa jauh lebih besar dari itu.

"Sebentar," kata bapak itu sambil menahan kertas. "Oiya, hari ini cuman cap aja ya. Ijazahnya nanti akan dikabari kapan bisa diambil."

Aku mengangguk paham. Ternyata masih harus kembali ke sekolah ini beberapa hari ke depan. Sebuah senyum tipis muncul di wajahku-campur lega dan sedih, karena meski momen cap tiga jari sederhana, rasanya begitu penuh makna.

Tak lama, mataku menangkap sosok seseorang yang muncul dari ruang belakang.

Seorang bapak berkacamata melangkah keluar. Wajahnya serius tapi dengan pembawaan santai-seolah tahu semua rahasia kecil di sekolah ini. Sosok yang sudah tidak asing lagi: Wakil Kepala Sekolah.

Aku mengenalinya. Ia memang satu geng dengan Pak Damar, guru fisika yang dulu hobi menggodaku dan Raven setiap kali di kelas. Cara dia menatap membuatku tersenyum kecil, teringat masa-masa ketika Pak Damar sering membahas "SIM"—Surat Izin Menikah-dengan tawa nakal di kelas.

Wakil kepala sekolah itu membaca nama di mapnya sebentar, lalu menatapku dengan senyum tipis yang penuh arti.

"Oh," katanya sambil membaca nama di map. "Shaira."

"Iya, Pak," jawabku singkat.

Ia tersenyum kecil, matanya menatapku penuh arti. "Ini... pacarnya Raven ya?"

Aku menahan napas sepersekian detik sebelum menjawab. Sudut bibirku tetap terangkat, tapi rahangku terasa sedikit menegang.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi terasa seperti membuka lembar lama yang belum benar-benar kututup.

"Iya, Pak," jawabku akhirnya, memilih aman.

Wakil kepala sekolah mengangguk, tersenyum tipis. "Raven nggak ikut sekalian urus?" tanyanya lagi, tetap dengan nada santai.

Aku menggeleng. "Nggak, Pak."

"Oh, ya sudah," katanya santai. "Mungkin lain waktu. Semoga urusannya lancar."

Aku mengangguk, tersenyum kecil. "Makasih, Pak."

Dan saat aku melangkah keluar, di kepala terlintas ingatan kecil itu lagi-tentang Pak Damar, tentang Raven, dan tawa kami yang dulu... terasa hangat, meski sekarang hanya tersisa di memori.

Aku kembali ke bangku tunggu. Nara menatapku penuh tanya.

"Kenapa?" bisiknya.

Aku duduk, menghembuskan napas pelan. "Masih dikira pacaran."

Nara mendesah. "Pantes."

Tak lama kemudian, Bu Maya muncul dari arah kantor. Wali kelas kami. Senyumnya hangat seperti biasa.

"Shaira?" panggilnya.

"Iya, Bu," jawabku sambil tersenyum kecil.

Ia melangkah mendekat, menatapku dan Nara bergantian, seolah ingin memastikan kami baik-baik saja.

"Raven nggak kelihatan hari ini," katanya ringan.

Aku menggeleng. "Nggak, Bu."

"Biasanya kan kalian selalu bareng, kemana-mana bareng. Sekarang?" ia menatapku penasaran.

Tiba-tiba, Arkan nyeletuk dari belakang, setengah bercanda, setengah serius, "Udah putus, Bu."

Aku dan Nara tercekat sebentar, tapi tidak bisa menahan senyum.

Bu Maya mengangguk pelan, tidak bertanya lebih jauh. Tatapannya terlalu dewasa untuk tidak paham, tapi tetap terlalu lembut untuk memaksa.

"Kalian ini," Bu Maya menepuk bahuku ringan. Telapak tangannya hangat-hangat yang anehnya terasa seperti izin untuk tidak harus terlihat kuat sepanjang waktu, "dari dulu memang kelihatan tenang. Jadi apa pun yang terjadi, ibu harap kalian baik-baik."

Aku tersenyum kecil. "Iya, Bu."

Ia menatapku lama sebentar, lalu menambahkan, "Kalau jodoh, nggak akan kemana. Tapi kalau bukan... pasti diganti dengan yang lebih baik."

Dadaku terasa hangat dan sesak bersamaan. Aku mengangguk pelan. "Makasih, Bu."

Dan saat Bu Maya melangkah pergi, aku menoleh ke Nara. Ia tersenyum tipis, tapi matanya berbicara-bahwa kadang, perpisahan tidak selalu berarti kehilangan sepenuhnya.

Urusan selesai. Aku, Nara, dan Arkan keluar bersama melewati lorong.

Kami berpisah di parkiran. Arkan melambaikan tangan, lalu pergi lebih dulu.

Hari itu terasa seperti penutup kecil-tanpa seremoni, tanpa perayaan. Hanya cap tinta di kertas, dan kenangan yang diam-diam ikut menempel di hati.

...----------------...

Beberapa hari kemudian, kami kembali lagi ke sekolah. Langit pagi hari itu lebih cerah dari biasanya, tapi justru membuat halaman sekolah terlihat terlalu terang untuk kenangan yang terasa redup. Kali ini kami datang untuk mengambil ijazah. Dan entah kenapa, langkahku terasa lebih berat dari sebelumnya.

Hari itu berbeda dari cap tiga jari sebelumnya. Sekarang teman-teman lain hadir-Keno, Fadly, Arkan, Nafiz, bahkan Raven. Semua mengenakan pakaian rapi, senyum di wajah mereka sedikit canggung tapi hangat, seolah sadar hari ini bukan sekadar urusan administratif, tapi momen terakhir yang nyata.

Aku berdiri di barisan bersama Nara. Sinar matahari siang menerpa halaman sekolah, membuat bayangan gedung dan pohon-pohon di sekitarnya terlihat tajam. Suasana lebih ramai, lebih hidup, tapi tetap ada jarak yang terasa-antara kami dan teman-teman, antara aku dan Raven.

Sambil menunggu giliran, aku dan Nara berbincang pelan.

"Masih aneh ya," bisiknya, menatap ke arah Raven yang duduk beberapa meter di depanku. "Lihat dia... tapi kalian... gitu aja."

Aku menghela napas. "Iya... kadang capek lihat tapi nggak bisa apa-apa. Tapi anehnya, nggak benci. Gue masih... ya, masih peduli."

Nara menepuk pundakku pelan. "Itu tanda lo dewasa, Sha. Bisa tetap sayang tapi nggak memaksakan."

Beberapa saat kemudian, Pak Damar lewat di dekat kami. Guru fisika yang dulu selalu hobi menggodaku dan Raven. Senyumnya nakal, seperti masih menyimpan rahasia kecil tentang kami.

"Eh, ada Shaira di sini," katanya sambil melirikku sekilas, nada suaranya ringan tapi penuh godaan.

Aku tersenyum pahit, ingatan itu tiba-tiba menyeruak—flashback ke kelas dulu. Saat Pak Damar lagi-lagi menggodaku dan Raven soal "SIM"—Surat Izin Menikah—wajah kami merah padam, teman-teman di sekeliling tertawa terbahak-bahak, sementara kami hanya bisa menunduk malu, tak berani berkata apa-apa.

Sekarang, bertemu Pak Damar lagi di hari pengambilan ijazah, rasanya aneh. Memori itu manis sekaligus getir, mengingatkan betapa dekat dan lucunya masa-masa itu-dan betapa semua hal itu sekarang tinggal kenangan.

Raven duduk diam tak jauh dari kami. Tangannya menggenggam map ijazahnya erat, ibu jarinya menggesek sudut map berulang-kebiasaan kecil yang dulu sering kulihat saat ia menunggu sesuatu. Raven sesekali berbicara dengan Keno, senyumnya tetap tenang seperti biasa-senyum yang dulu sering membuatku merasa aman.

Sekarang, senyum itu tetap sama. Hanya saja, bukan lagi tempatku pulang.

Tidak ada sapaan untukku, tidak ada tatapan yang menyinggung masa lalu. Aku menatapnya sebentar, lalu menoleh ke Nara, mencoba menenangkan hati sendiri.

Foto bersama wali kelas dimulai.

Semua berpose, tertawa. Aku merapikan lipatan bajuku pelan, menarik napas, lalu berdiri lebih tegak-seolah berusaha terlihat utuh di dalam satu frame yang mungkin akan kusimpan selamanya.

Rasanya aneh, karena aku dan Raven berada dalam frame yang sama-tetap terlihat dekat, tapi tanpa komunikasi. Ada jarak yang nyata, meski tidak terlihat oleh orang lain.

Keno menepuk bahuku ringan. "Santai aja, Sha. Foto ini buat kenangan, bukan buat nyakitin hati."

Fadly menimpali sambil tertawa, "Iya, kita semua udah dewasa. Santai aja."

Arkan dan Nafiz sibuk mengarahkan kamera dan mengambil beberapa foto tambahan, sesekali menyorot ke arah aku dan Raven. Nafiz menatapku sebentar, lalu menunduk, seolah mengerti situasi tapi memilih diam.

Aku tersenyum kecil pada Nara, mencoba menarik napas pelan. "Gue nggak nyangka bakal bisa berdiri di sini, lihat dia, tapi tetap... bisa ikhlas."

Nara menggenggam tanganku sebentar. "Itu hebat, Sha. Lo kuat."

Foto selesai. Teman-teman bubar. Mereka berbaur, bercakap-cakap, tapi aku masih berdiri sebentar, menatap Raven yang melangkah pergi. Jantungku berat, tapi aku menahan air mata, mencoba menerima kenyataan.

Aku tahu, meski hari ini kami terlihat dekat di foto, kenyataan kami sudah berjalan di arah yang berbeda. Dan itu tidak membuat cinta itu hilang. Cinta itu tetap ada-tetapi kini tersimpan rapi, bukan untuk dimiliki, tapi untuk dikenang.

Aku menghela napas lagi, menatap langit siang yang cerah di atas halaman sekolah. Setiap langkah Raven menjauh terasa berat, tapi di saat yang sama, aku merasa lega. Lega karena aku bisa berdiri sendiri. Karena aku belajar, bahwa mencintai seseorang kadang bukan soal memiliki, tapi tentang merelakan.

Dan meski hari ini terasa berat, aku tersenyum pelan, menatap teman-teman yang masih bercanda di halaman sekolah, dan aku tahu: perpisahan ini bukan akhir dari segalanya. Hanya babak baru, di mana setiap orang harus berjalan di jalannya sendiri-tanpa saling menyeret, tapi tetap membawa kenangan yang indah.

Angin siang berhembus pelan melewati halaman sekolah, menggerakkan daun-daun kering di bawah pohon tempat kami dulu sering berkumpul. Beberapa daun terseret melingkar di dekat kakiku, lalu berhenti, seolah lelah berjalan sendiri.

Aku menatapnya sebentar, lalu berbalik.

Karena untuk pertama kalinya, aku sadar—kenangan tidak harus ditinggalkan.

Kadang, kenangan hanya perlu ditempatkan di bagian hati yang tidak lagi ingin pulang.

...----------------...

Shaira - Kami pernah berada di waktu yang sama. Kini hanya kenangannya yang tetap tinggal.

1
SarSari_
ini kyaknya diem2 suka, tapi gengsi buat ngakuin...

hai kak aku mampir lagi...🤗
Lilyyanaa
aw lucu sih…🤭
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Berasa dunia milik kalian berdua😭

Senyum" sndiri ak baca nya🙏😍
Dilo: emg gemeshh mereka
total 1 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Alden ga memaksa Shaira buat 'jalanin' bareng dengannya..

iya ga si..?

Ngerti brrti ya🙏😍

Cm.. ini masih awal, masih blm kenal lama, Shaira wajar kn bilng takut..🙏

Aku sndiri aja takut🙏😌

Raven?..
masih bingung plih yg mna😭
Dilo: HAHAHAH bener buangett, kecepatan kl mau milih soalnya alden... hehe/Chuckle/
total 1 replies
Lilyyanaa
eh bagus loh cwo bgnii… ga bkin risih👍
Lilyyanaa
modusnyaa keliatan bgt
Lilyyanaa
haloo aldenn
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Benar.. 😌

Dari awal Alden komunikasi sm Shaira, spertinya tipe cwok soft spoken?🙏❤


Btw, Cieee doi akhirnya muncull😌
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧: Wkwkw/Curse/
total 2 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Terdengar singkat..
tapi sangat cukup nyesek buatku,
serius.. bener" nyesek in dada..?
kenapa ya😭
huaa sakit ini dada😭
serius sumpah😭
ak nangis.. hha.. nyesek😭

Ngebayangin shaira pegang fto nya, trus bilng gitu..🙏😭
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧: Truee/Sob/
total 2 replies
Lilyyanaa
asikk, ga sabar bab selanjutnya🤭 gimana kira-kira doi barunya
Dilo: hihi ketemu besok yah/Slight/
total 1 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Hmm...
Doi baru shaira masih mistery/Slight/
Dilo: /Chuckle//Chuckle/ oke si doinya ntar
total 1 replies
Lilyyanaa
fotonyaa pas yaa pake baju abu haha lucuu cantik bgt shaira
Dilo: /Joyful//Kiss/iyakan cantikk..
total 1 replies
Lilyyanaa
sempat”nya ngelucuu
Lilyyanaa
sedih bacanya🥲🥲🥲
Lilyyanaa
tumben jujur, kmren” bilangnya gatau
Dilo: denial kak...😭
total 1 replies
Lilyyanaa
lucu bgt lg wkwkkwkw😭🤣
Lilyyanaa
dikit banget atau dikit banyak?
Lilyyanaa
resiko satu circle ya gini, dapat terus infonya😭
Dilo: bener bangett ihh.. tanpa nanya jg dapat info😔😭
total 1 replies
Lilyyanaa
ishh sakit huhu
Lilyyanaa
bener, mau gmn sedihnya gabisa ngubah keadaan jg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!