Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Penuh Tekad
Malam turun perlahan di atas Sekte Awan Giok, membawa udara dingin yang merayap di antara paviliun dan lorong batu.
Qiu Liong berdiri sendirian di tepi tebing belakang sekte, tempat para murid jarang datang. Di bawah sana, jurang gelap menganga, diselimuti kabut tipis yang tak pernah benar-benar menghilang, bahkan di siang hari.
Angin malam menerpa wajahnya.
Dingin.
Tajam.
Namun tidak setajam pikirannya sendiri.
Jejak kekuatan terlarang.
Murid yang pingsan.
Tatapan para tetua.
Semua berputar di kepalanya seperti lingkaran tanpa akhir.
Ia menutup mata.
“Jika aku terus seperti ini… aku akan menjadi ancaman,” gumamnya pelan.
Bukan hanya bagi sekte.
Namun bagi orang-orang yang mulai berdiri di sisinya.
Mei Lanyue.
Beberapa murid yang diam-diam mulai menghormatinya.
Bahkan Penatua Lin yang memberinya ruang.
Ia tidak bisa membiarkan kekuatan itu berjalan tanpa kendali.
Perlahan, ia duduk bersila di atas batu besar.
Napasnya ditarik dalam.
Kesadarannya tenggelam.
Kehampaan menyambutnya lagi.
Namun kali ini, ia tidak sekadar mengamati.
Ia memanggil inti itu.
Inti Kekosongan berputar di pusat ruang batinnya, seperti bintang gelap yang memancarkan gravitasi tak kasatmata.
“Aku tidak ingin hanya menjadi wadah,” katanya dalam hati. “Aku ingin menguasaimu.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak bersikap pasif.
Ia mengarahkan kehendaknya.
Menekan inti itu dengan kesadarannya sendiri.
Awalnya tidak terjadi apa-apa.
Lalu
denyutan keras mengguncang ruang batinnya.
Rasa sakit menusuk dadanya di dunia nyata.
Napasnya terputus.
Namun ia tidak membuka mata.
Ia bertahan.
“Aku bukan pecundang yang hanya menerima nasib,” bisiknya di antara deru tekanan.
Inti itu bergetar.
Seolah tidak menyukai perlawanan.
Gelombang energi gelap menyapu kesadarannya, mencoba menelannya seperti biasa.
Namun kali ini, Qiu Liong tidak membiarkan dirinya hanyut.
Ia membayangkan dirinya berdiri di tengah badai hitam.
Bukan sebagai korban
melainkan sebagai poros.
Angin boleh berputar.
Gelombang boleh menghantam.
Namun ia tetap berdiri.
Rasa sakit semakin tajam.
Keringat mengalir di pelipisnya.
Di luar, tubuhnya mulai gemetar.
Batu tempat ia duduk retak halus di bawah tekanan qi yang tak terlihat.
Namun perlahan
denyutan inti itu mulai berubah.
Tidak lagi liar.
Tidak lagi sepenuhnya mendominasi.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan batasnya.
Samar.
Namun ada.
Qiu Liong mengerahkan seluruh kehendaknya, menekan inti itu ke dalam lingkaran kecil yang ia bayangkan sebagai pusat kendali.
Detik terasa seperti jam.
Lalu
hening.
Ruang batinnya kembali sunyi.
Namun berbeda.
Inti itu masih ada.
Masih kuat.
Namun kini berputar dalam orbit yang lebih teratur.
Seolah-olah mengakui kehadirannya sebagai tuan, bukan sekadar wadah.
Qiu Liong membuka mata.
Langit malam tampak lebih dalam dari sebelumnya.
Napasnya berat.
Tubuhnya lelah.
Namun di dalam dadanya, ada perasaan yang telah lama ia lupakan
kendali.
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Qi mengalir di telapak tangannya.
Gelap, namun tidak lagi menyebar liar.
Terkumpul.
Terkendali.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Jika dunia menyebutmu terlarang,” katanya lirih, “maka aku akan menjadi orang yang menulis ulang maknanya.”
Namun di balik tekad itu, ada luka yang tetap terasa.
Ia tahu jalan ini akan membuatnya semakin terpisah.
Semakin berbeda.
Semakin sendirian.
Ia menatap jurang di bawah.
Dulu, ia berdiri di tepi seperti ini dengan perasaan putus asa.
Kini, ia berdiri dengan tekad.
Bukan untuk melompat.
Namun untuk menaklukkan kedalaman.
Angin malam berembus lebih kencang, membuat jubahnya berkibar seperti bayangan besar di tepi jurang.
Di kejauhan, lonceng malam sekte berbunyi pelan.
Qiu Liong berdiri.
Lelahnya nyata.
Rasa sakitnya nyata.
Namun tekadnya lebih nyata lagi.
Malam ini bukan tentang kekuatan.
Bukan tentang ketakutan.
Malam ini adalah tentang keputusan.
Ia tidak akan menjadi korban kekuatan itu.
Dan ia tidak akan membiarkan jejaknya melukai tanpa kendali.
Jika harus menanggung beban ini
ia akan menanggungnya sebagai pendekar.
Bukan sebagai pecundang.
Dan di bawah langit yang penuh bintang,
seorang pemuda yang dulu ditertawakan kini berdiri dengan janji sunyi
ia akan menguasai kegelapan,
atau hancur bersama dengannya.
jangan bikin kecewa ya🙏💪