"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 2
"Papa nggak mau tahu, pokoknya besok kamu harus menikah dengan putra Tuan He." Dengan tegas Papa Guan berucap pada putrinya seolah tak ingin ada penolakan apapun dari sang putri.
"Aku tidak mau Pa, jangan paksa aku! Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki lumpuh itu," tolak Lian menatap nyalang Papanya.
"Aku ini cantik, pintar dan cewek berkelas nggak level lah nikah sama lelaki lumpuh seperti dia. Gimana dengan masa depanku nanti?" Lanjutnya yang bersikeras menolak keinginan sang Papa.
"Benar Pa. Mama setuju dengan Lian, biarkan saja Yiyue yang kita nikahkan dengan putra keluarga He. Apalagi dia kan baru saja lulus SMA, udah cukup umur lah kalau buat nikah." Mama Suzhen menyahut dengan ketus berusaha membela Lian mati-matian.
Wanita paruh baya itu tak ingin jika putrinya yang cantik itu memiliki masa depan tidak cerah. Mengingat lelaki lumpuh lah yang akan dijodohkan dengan putrinya, tentu saja Mama Suzhen tidak terima.
DEG!
Jantung Yiyue seolah berhenti berdetak, tak menyangka jika Ibu dan kakaknya bicara seperti itu. Terlebih tega menumbalkan dirinya sebagai penebus hutang Ayahnya. Padahal selama ini dia tak pernah sedikitpun menikmati seluruh aset milik keluarganya itu. Berbeda jauh dengan sang kakak yang begitu dimanja bahkan tak segan untuk mereka memberikan yang terbaik untuk kakaknya.
"Tapi Ma, Yiyue masih mau kuliah. Yiyue mau kejar cita-cita Yiyue," tolak Yiyue.
"DIAM KAMU! Pokoknya besok kamu harus menikah dengan Tuan Muda dari keluarga He. Dengan begitu perusahaan akan selamat dan kita semua tidak akan jadi gelandangan, mengerti kamu!" pekik Mama Suzhen sambil mendelikkan mata pada Yiyue.
Yiyue beralih menatap wajah sang Papa yang masih mematung di tempatnya, berharap sang Papa dapat membantunya.
"Pa ... Yiyue mohon, tolong biarkan Yiyue untuk kuliah. Bukankah Papa pernah berjanji untuk mencarikan Yiyue kuliah setelah lulus nanti." Tampak sorot mata Yiyue memerah, menahan cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk mata. Perempuan cantik itu kembali mengingatkan janji Papa Guan yang pernah Papanya ucapkan padanya.
Papa Guan hanya terdiam mematung, seolah menimang ucapan istri dan anaknya. Sorot matanya menoleh sekilas ke arah Yiyue yang saat ini sedang menatapnya. Terlihat jelas tatapan itu begitu sendu, mewakili perasaannya yang tengah rapuh. Sungguh Papa Guan begitu dilema, dihadapkan oleh sebuah opsi yang membuatnya tak dapat mengambil keputusan.
Bagi Papa Guan, baik Yiyue atau Lian mereka semua sangat pentingnya. Terlebih dia sendiri telah berjanji mencarikan kuliah yang cocok untuk putrinya itu. Tapi kali ini, rasanya hal itu begitu mustahil karena faktanya perusahaan sedang dalam masalah. Apalagi seluruh aset pun tak ada yang tersisa sama sekali. Seketika penawaran Tuan He terngiang di pikirannya. Namun di sisi lain Papa Guan berpikir jika putrinya baru berusia 19 tahun. Tentu saja masih sangat muda untuk menghadapi dunia pernikahan yang kejam. Tapi faktanya semua seolah menghimpit Papa Guan.
Darimana untuk mengembalikan uang Tuan He? Darimana juga untuk kuliah Yiyue? Meskipun dirinya telah berjanji, tetap saja semua itu tidak bisa. Tidak ada. Papa Guan bingung.
"Pa ...," lirih Yiyue memanggil sang Papa. Tanpa permisi air mata pun menetes membasahi wajah cantiknya itu.
"Halaaah ... udahlah kagak usah nangis lagi. Lagian kamu itu mau menikah sama Tuan Muda dari keluarga konglomerat, jadi kamu nggak usah pakai drama lagi. Harusnya kamu itu senang, berterimakasih sama Mama dan Papa yang udah mencarikan jodoh orang kaya untuk kamu. Bukan malah nangis kek gini, dasar anak tidak tahu diuntung. Masih mending kamu dapat Tuan Muda dari keluarga konglomerat, ya meskipun dia lumpuh sih." Mama Suzhen menyahut dengan ketus sambil memutar malas bola matanya, diiringi ejekan di akhir kalimat.
"Kalau memang benar seperti itu, kenapa tidak Kak Lian saja yang menikah? Bukankah dari awal Papa sudah menjodohkan Kak Lian dengan Tuan Muda itu? Kenapa sekarang harus Yiyue yang jadi korban? Ini tidak adil Ma," protes Yiyue berusaha kuat di hadapan Mamanya. Dia tak ingin jika terlihat lemah dan hal itu membuat dirinya semakin ditindas seperti sebelumnya.
Tidak, hal itu tidak akan terjadi. Cukup sudah selama beberapa tahun ini dia hanya diam, mengalah bahkan tak jarang dia selalu menuruti keinginan Mama dan kakaknya. Pernah terbesit di pikirannya, apa benar dia ini anak kandung dari Mama dan Papanya atau bukan? Karena faktanya perlakuan orangtuanya terbilang sangatlah tidak adil mengingat semua keinginan Lian selalu menjadi prioritas orangtuanya. Sedangkan dirinya selalu dinomor duakan dengan alasan, Lian lebih membutuhkan daripada dirinya. Padahal, kenyataannya dia juga sama-sama membutuhkan. Tapi, orangtuanya berusaha menutup mata soal itu.
"Dasar anak kurang ajar! Sudah berani kamu ya menentang Mama, hah!" Mama Suzhen langsung beranjak dari tempatnya, hendak menghampiri Yiyue yang masih duduk di hadapannya. Namun, baru beberapa langkah terdengar suara bariton menghentikan langkah Mama Suzhen.
"Cukup Ma. Tolong jangan perkeruh suasana lagi, Papa ini lagi bingung. Jadi, jangan tambah beban Papa lagi." Secepat kilat Papa Guan beranjak dengan sorot mata elangnya menatap pada sang istri.
Mama Suzhen tersentak kaget, tak percaya jika suaminya membentak dirinya hanya karena anak perempuan yang sangat dibencinya. Dadanya bergemuruh hebat menahan amarah yang membuncah di dalam sana. Segera mungkin Mama Suzhen melengoskan wajahnya ke arah lain, enggan menatap wajah sang suami yang telah membela Yiyue. Sungguh dia begitu kesal dengan sikap suaminya itu membuatnya malu di hadapan semua orang dimana para asisten rumah tangga diam-diam memperhatikannya.
"Apa kalian lihat-lihat, hah? Bulan depan saya pastikan gaji kalian dipotong," pekik Mama Suzhen menatap tajam pada beberapa asisten rumah tangganya.
"Yiyue, Papa mohon sama kamu. Tolong bantu Papa sekali ini saja, hanya kamu harapan Papa satu-satunya yang bisa Papa andalkan," pinta Papa Guan dengan tatapan penuh harap. Besar harapannya Yiyue bersedia menggantikan Lian untuk menikah dengan Tuan Muda dari keluarga He.
Sementara Yiyue yang ditatap hanya diam dengan sorot mata yang menatap sendu pada Papanya. Jujur, dia tak tega melihat Papanya yang seperti ini. Terlihat jelas gurat kesedihan di raut wajah yang mulai keriput itu.
Jauh dalam lubuk hatinya, ingin sekali dia menolak keinginan Papanya dengan meminta untuk tetap menguliahkan dirinya. Namun di sisi lain, dia tak kuasa melihat Papanya yang terlilit hutang dan berakhir membuat Papanya kehilangan semuanya. Tentu saja Yiyue tak ingin jika hal itu terjadi, mengingat selama ini dia telah dibesarkan oleh orangtuanya meskipun perlakuan mereka sangatlah berbeda kepadanya.
Dengan sekali tarikan napas, Yiyue mengatakan keputusannya. Sebuah keputusan yang begitu berarti untuk Papa dan juga keberlangsungan perusahaan. Namun, begitu menyakitkan bagai sembilu yang menyayat hatinya.
"Baiklah Pa, Yiyue bersedia menggantikan Kak Lian menikah dengan Tuan Muda dari keluarga He." Akhirnya Yiyue membuka suara setelah memikirkan matang-matang dan membuat keputusan yang tepat menurutnya. Meskipun keputusan itu begitu menyakitkan baginya, tetap saja dia rela melakukan itu semua demi Papanya.
"Terimakasih Nak. Terimakasih, kamu sudah menolong Papa." Papa Guan tersenyum lega mendengar jawaban putri bungsunya itu. Rasanya begitu bahagia penuh haru, akhirnya lelaki paruh baya itu tidak akan kehilangan perusahaan yang sudah lama dia pimpin.
Mama Suzhen mendengus kesal melihat reaksi suaminya yang begitu bahagia atas jawaban Yiyue. "Biasa aja kali Pa, kagak usah berlebihan kek gitu. Sudah tugas Yiyue melakukan itu semua, anggap saja itu balas budi dia kepada kita yang telah membesarkan dan merawatnya sampai sekarang."
"Tau tuh, baru aja berkorban sebentar udah dapat pujian. Caper banget jadi orang," sahut Lian sinis.
"Diam kalian! Kamu Lian, sudah beruntung Yiyue mau menggantikan kamu tapi apa balasan kamu? Kamu hanya bisa mencaci maki dia tanpa berucap apapun padanya. Sekarang, cepat kamu berterimakasih padanya," seru Papa Guan dengan tatapan elangnya pada putri sulungnya.
Lian melengoskan wajahnya ke arah lain. "Tidak! Sampai kapanpun aku tidak sudi berterimakasih padanya." Selesai mengatakan itu, Lian pun melenggang pergi meninggalkan ruangan mewah itu diikuti oleh Mama Suzhen yang mengekor di belakangnya.
'Tuhan, jika ini adalah takdirku maka kuatkan lah hatiku. Untuk apa juga aku terus menangis? Aku akan membuktikan kepada semua orang termasuk Mama Papa dan kakak jika aku baik-baik saja. Walaupun aku harus menikah dengan lelaki lumpuh sekalipun!'
.
.
.
🥕Bersambung🥕