NovelToon NovelToon
VELVET & GASOLINE

VELVET & GASOLINE

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.

Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.

Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Markas The Ravens

Jauh dari kesunyian apartemen Belgravia yang kaku, sebuah gudang tua di kawasan industri Shoreditch telah disulap menjadi markas elit yang hangat. Di atas pintu masuknya, lambang The Ravens seekor gagak hitam dengan mata perak bersinar redup di bawah lampu neon.

Di dalam, suasananya jauh dari kesan kriminal. Ada sofa kulit besar yang empuk, meja biliar, deretan konsol game terbaru, dan kulkas yang selalu penuh dengan camilan mahal.

William masuk ke markas dengan langkah santai, disambut oleh sorakan riuh dari ruang tengah. Di layar proyektor besar, pertandingan Premier League sedang berlangsung sengit.

"Yo, sang pemimpin akhirnya pulang!" seru Leo, si ahli mekanik geng yang bertubuh besar namun berhati lembut. Ia sedang duduk di lantai sambil mengunyah pizza.

Di atas sofa, Jax si jenius komputer yang selalu terlihat mengantuk hampir tertidur dengan headphone di lehernya. Sementara itu, Ethan, cowok berwajah model yang selalu membawa sisir di saku jaketnya, sedang sibuk memoles helmnya sampai mengilap.

"Bagaimana kencanmu dengan si Tuan Putri Porselen itu, Will?" goda Ethan sambil menyeringai nakal.

"Bukan kencan, Ethan. Itu misi edukasi tentang realita jalanan," jawab William sambil melemparkan kunci motornya ke meja kayu. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi malas di sudut ruangan.

"Edukasi atau obsesi?" celetuk Jax tanpa membuka matanya. "Aku melihatmu berdiri di bawah balkon apartemennya selama sepuluh menit lewat GPS motormu. Kau terlihat seperti penguntit profesional, kawan."

Seluruh ruangan meledak dalam tawa. Beberapa anggota junior yang sedang menggelar kasur lantai untuk menginap ikut terkekeh.

"Diam kau, Jax. Aku hanya memastikan dia tidak menangis sampai tenggelam di kamarnya sendiri," gerutu William, meski ada senyum tipis di sudut bibirnya.

Leo melempar sekaleng soda dingin ke arah William. "Tapi jujur, Will. Gadis itu beda, ya? Biasanya kalau kau gertak, mereka langsung lari. Dia malah menamparmu. Aku hampir ingin meminta tanda tangannya."

"Tangannya kecil, tapi tenaganya lumayan," William menyentuh pipinya, seolah masih bisa merasakan sisa panas tamparan Juliatte. "Dia hanya butuh sedikit guncangan. Hidupnya terlalu... teratur. Dia bahkan tidak tahu caranya tertawa tanpa izin ayahnya."

"Mungkin kau harus membawanya ke sini sekali-kali," usul Ethan sambil merapikan rambutnya yang sempurna. "Biar dia lihat kalau kita bukan monster. Kita cuma sekelompok pemuda kaya yang punya hobi berisik."

William terdiam sejenak. Ia melihat ke sekeliling markasnya.

Di sudut ruangan, ada foto mereka berempat saat pertama kali membangun The Ravens, saat mereka bersumpah untuk saling menjaga seperti keluarga, bebas dari ekspektasi orang tua mereka yang juga merupakan orang-orang berpengaruh di London.

"Dia belum siap untuk tempat ini," gumam William pelan. "Tapi aku akan pastikan, suatu saat nanti, dia yang akan memohon untuk duduk di boncengan motor hitamku."

"Gaya sekali!" teriak Leo sambil melempar bantal sofa ke arah William. "Sekarang diam, ini menit-menit terakhir pertandingan! Kalau Arsenal kalah, kau yang bayar tagihan bengkel bulan ini!"

William tertawa keras, suara yang hanya keluar saat ia berada di antara saudara-saudaranya. Di luar, London mungkin sedang membeku, tapi di dalam markas itu, api persaudaraan mereka membara lebih hangat dari apapun.

Suasana di markas The Ravens semakin cair. Pertandingan bola di layar proyektor baru saja usai dengan kemenangan dramatis, membuat Leo melompat kegirangan sementara Jax hanya mendengus, kembali membenamkan wajahnya di bantal sofa.

"Ngomong-ngomong soal Tuan Putri Fontaine," Ethan memulai lagi, kali ini sambil menyugar rambutnya di depan cermin kecil yang ia tempel di loker.

"Setidaknya dia punya harga diri. Tidak seperti anak kelas sebelah yang tadi siang menyelipkan surat cinta di knalpot motorku."

Leo tertawa terbahak-bahak sampai tersedak sisa pizanya. "Knalpot? Serius? Apa dia berharap suratnya terpanggang matang saat kau menyalakan mesin?"

"Lebih parah lagi," Ethan mendesah dramatis. "Surat itu disemprot parfum mawar yang sangat menyengat. Begitu mesin kupanaskan, bau mawar gosong mengikuti sepanjang jalan King. Aku merasa seperti mobil jenazah yang sedang balapan!"

William terkekeh, menyandarkan kepala di kursi malasnya. "Setidaknya kau hanya dapat bau mawar, Than. Ingat gadis dari sekolah putri sebelah bulan lalu? Yang mencoba memborgol tangannya sendiri ke setang motor Jax?"

Jax langsung duduk tegak, matanya yang tadi mengantuk kini terbuka lebar karena trauma. "Tolong, jangan diingatkan. Aku harus memanggil Leo untuk membawa pemotong besi! Dia menangis bilang kami adalah takdir karena warna helm kami sama. Padahal helmku hitam, dan helm semua orang di London ini hampir semuanya hitam!"

"Itu belum seberapa," Leo menimpali, suaranya naik satu oktav karena semangat.

"Minggu lalu, ada yang mengirimkan aku paket berisi... kalian tidak akan percaya... satu set pakaian bayi warna pink!"

Hening sejenak. Kemudian tawa William pecah, diikuti ledakan tawa dari seluruh penjuru markas.

"Pakaian bayi?!" William bertanya di sela tawanya. "Kau sudah jadi ayah diam-diam, Leo?"

"Sialan kau, Will! Di suratnya tertulis Untuk masa depan kita nanti, Papa Leo. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya! Aku ini mekanik, bukan pengasuh bayi!" Leo melempar kaleng soda kosong ke arah Ethan yang tertawa paling keras.

"Tapi yang paling legendaris tetap saja penggemar fanatik William," Ethan menyenggol bahu sang pemimpin.

"Ingat gadis yang memanjat pagar manor keluargamu hanya untuk meninggalkan bra di spion motormu?"

Wajah William berubah datar, meski matanya berkilat geli. "Mommy hampir pingsan karena mengira itu jemuran yang terbang ditiup angin. Daddy? Dia hanya tertawa dan bilang kalau selera penggemarku sangat berani."

"Gadis-gadis itu gila," gumam Jax, kembali merebahkan diri. "Mereka pikir kita ini karakter di novel romantis yang akan jatuh cinta hanya karena mereka melakukan aksi nekat."

William terdiam sejenak. Ia memutar-mutar kunci motornya di jari. Bayangan Juliatte yang menamparnya tadi pagi kembali muncul.

"Setidaknya," William bergumam pelan, hampir pada dirinya sendiri, "Fontaine tidak gila seperti itu. Dia membenciku dengan cara yang sangat jujur. Itu menyegarkan."

"Oh, dengar itu!" Ethan berseru, menunjuk ke arah William.

"Sang Kapten kita lebih suka dibenci dengan elegan daripada dicintai dengan gila. Kau memang luar biasa, Wilson!"

"Diam dan bereskan pizamu, Than," balas William sambil melempar bantal, tapi senyum miringnya tidak bisa disembunyikan.

Di markas itu, di antara candaan konyol tentang gadis-gadis yang mengejar mereka, William menyadari satu hal, dia lebih suka satu tatapan benci dari Juliatte Fontaine daripada seribu surat cinta di knalpot motornya.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear😍

1
Zoya Humaira
Akuu sukaaaa tthoor,,💪💪💪
Zoya Humaira
Kereeeen otoor ,,,tetap semangaat yaaa
Fbian Danish
wow... crazy up...... tingkyu otor,....😄😄
Fbian Danish
terima kasih update nya Thor.... ceritamu bagusss sekali sukakkkkkkkkkkkk❤️❤️❤️
Lisna
suka banget sama cerita yang inii😍😍
Lisna
thor ini udah jam 8 lebihh🤭🤭nungguin🤭🤭
Ros_10: Terharuuu😍😍😍
total 1 replies
Lisna
lanjutt kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!