NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pandangan

Delapan belas tahun telah berlalu sejak tangis pertama Aydan memecah keheningan ruang persalinan. Kini, bayi mungil itu telah bertransformasi menjadi seorang remaja pria dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dalam, warisan murni dari Liam Al-Gazhi.

Namun, ada satu perbedaan mencolok: jika Liam adalah ketenangan yang merangkul, Aydan adalah ketenangan yang membekukan. Ia dikenal sebagai sosok yang dingin, irit bicara, dan seolah memiliki dinding tak kasat mata yang memisahkannya dari keriuhan dunia remaja.

Aydan tidak memilih jalur pesantren. Ia meyakinkan kedua orang tuanya untuk masuk ke sebuah SMA Umum (High School) ternama di Jakarta. Ia ingin menguji imannya di tengah arus dunia yang paling deras, persis seperti yang pernah dikatakan ayahnya tentang medan tempur yang sesungguhnya.

Pagi itu, kelas 12-IPA 1 tampak seperti pasar tumpah. Suara tawa, dentuman musik dari speaker bluetooth, dan obrolan tentang pesta akhir pekan memenuhi ruangan. Di barisan paling belakang, di pojok yang paling gelap, Aydan duduk sendirian. Ia tidak memegang ponsel. Tangannya sibuk memutar-mutar sebuah buku tebal tentang filsafat dengan gerakan jemari yang sangat stabil dan ritmis.

"Woi, Dan! Masih saja asyik dengan duniamu sendiri," Kay, satu-satunya teman yang cukup berani mendekati Aydan, menyikut lengannya.

Aydan hanya melirik sekilas tanpa menghentikan putaran bukunya. "Ada apa, Kay?"

"Kau dengar tidak? Hari ini ada siswi pindahan. Katanya pindahan dari sekolah internasional. Cantiknya nggak main-main, bro!" Kay berbisik dengan mata berbinar, mencoba memancing reaksi dari sahabatnya yang sedingin es itu.

Aydan kembali menatap bukunya. "Lalu? Apa hubungannya denganku?"

"Ck, kau ini manusia atau robot? Katanya dia muslimah, pakai kerudung juga. Nah, itu kan kriteriamu banget," goda Kay lagi.

Tiba-tiba, wali kelas mereka masuk diikuti oleh seorang gadis. Seketika, kelas yang tadinya riuh mendadak senyap. Semua mata pria di kelas itu terpaku pada sosok yang berdiri di depan papan tulis.

"Anak-anak, perkenalkan, ini teman baru kalian. Silakan perkenalkan dirimu, Nak," ujar sang guru.

Gadis itu tersenyum manis, sebuah senyuman yang bagi sebagian besar siswa laki-laki terasa seperti oase. "Halo semuanya, namaku Dayana. Salam kenal, ya. Semoga kita bisa berteman baik."

Dayana memang mengenakan kerudung, sebuah kain sifon berwarna pastel yang dililitkan dengan gaya modern dan modis. Namun, saat itulah gerakan tangan Aydan yang memutar buku mendadak berhenti.

Mata tajam Aydan menatap Dayana, bukan dengan tatapan kagum seperti siswa lainnya, melainkan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia memperhatikan gaya berpakaian Dayana. Meski kepalanya tertutup, kerudung itu hanya dililitkan seadanya di leher, memperlihatkan lekuk leher dan yang paling mengusik Aydan bagian dadanya tampak jelas karena kerudung itu tidak terjuntai menutupinya. Ditambah lagi, seragamnya yang tampak sengaja dikecilkan hingga membentuk lekuk tubuh.

"Tuh kan, apa kubilang? Cantik, kan?" bisik Kay menyenggol bahu Aydan. "Muslimah modis, Dan. Cocok lah kalau diajak kencan."

Aydan mendengus pelan, sebuah suara yang penuh dengan nada sinis. Ia menutup bukunya dengan dentuman kecil yang cukup terdengar oleh Kay.

"Apanya yang muslimah, Kay?" suara Aydan terdengar sangat dingin dan rendah.

Kay tertegun. "Lho, itu dia pakai kerudung, Dan. Kau lihat sendiri kan?"

Aydan melirik Dayana sekali lagi sebelum kembali menunduk, persis seperti cara ayahnya menundukkan pandangan, namun dengan alasan yang berbeda. Kali ini, Aydan menunduk karena rasa tidak suka yang mendalam.

"Dia hanya memakai kain di kepala, bukan menutup aurat," ucap Aydan tanpa ekspresi. "Percuma memakai kerudung kalau dadanya tetap menjadi tontonan publik. Itu bukan kerudung, itu hanya aksesoris untuk mencari perhatian. Ibuku tidak pernah mengajariku bahwa itu adalah cara wanita terhormat berpakaian."

Kay terdiam, tidak berani membantah. Ia tahu betapa prinsipilnya Aydan jika menyangkut masalah kehormatan wanita, sebuah nilai yang ditanamkan Liam dan Ameera sejak Aydan masih di dalam rahim.

Dayana, yang sedang mencari tempat duduk, tidak sengaja menangkap tatapan dingin Aydan sebelum pria itu menunduk. Ia terbiasa dipuja, terbiasa melihat mata pria yang lapar akan kecantikannya. Namun, untuk pertama kalinya, ia melihat seorang pria menatapnya dengan pandangan yang seolah sedang menghakiminya, lalu mengalihkan wajah seolah ia tidak berharga untuk dipandang.

Dayana berjalan menuju bangku kosong yang kebetulan berada di baris tengah, tepat di depan barisan Aydan. Saat melewati meja Aydan, ia sengaja menebarkan senyumnya, namun Aydan justru membuka kembali bukunya, membenamkan diri dalam aksara, seolah Dayana hanyalah hembusan angin yang lewat tanpa arti.

Di pojok kelas yang ramai itu, sebuah benang takdir baru mulai terikat. Aydan, sang putra singa yang menjaga kehormatan pandangannya, kini harus berhadapan dengan Dayana, gadis yang menganggap hijab hanyalah tren fashion.

Aydan membatin dalam hati, "Dunia ini memang keras, Ibu. Ternyata tantangan terbesarku bukan pada mereka yang tak beriman, tapi pada mereka yang mengaku beriman namun mempermainkan aturannya."

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!