Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Jenius Beladiri Gao Rui

Nama Gao Rui belum dikenal luas di dunia persilatan Kekaisaran Zhou. Ia bukan berasal dari keluarga besar, bukan keturunan pendekar legendaris, dan tidak pula membawa garis darah yang membuat orang-orang langsung menaruh hormat.

Pada usia tiga belas tahun, Gao Rui hanyalah seorang bocah kurus dengan tatapan mata yang terlalu tenang untuk seusianya. Di Sekte Bukit Bintang, ia bahkan pernah dicap sebagai murid lemah. Sebutan yang dengan mudah dilekatkan pada mereka yang tidak memiliki latar belakang, tidak memiliki pelindung, dan tidak menunjukkan bakat mencolok di usia dini.

Bagi banyak orang, Gao Rui hanyalah angka dalam daftar murid. Seorang anak yatim piatu yang keberadaannya nyaris tak berarti. Orang tuanya telah lama tiada, bahkan sebagian murid sekte tidak tahu bagaimana mereka meninggal, atau dari mana asal Gao Rui sebenarnya.

Ia datang ke sekte tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa siapa pun yang berdiri di belakangnya. Dunia persilatan sering kali kejam bukan karena pedangnya, melainkan karena cara ia memperlakukan yang lemah.

Ketika Gao Rui berusia delapan tahun, hidupnya berubah secara drastis. Saat itu, ia hanyalah bocah yang bertahan hidup dengan mengandalkan berjualan kue di sebuah kota kecil.

Dunia persilatan baginya hanyalah cerita yang didengar dari para pengelana. Kisah tentang terbang di udara, tentang pedang yang membelah bukit, tentang pendekar yang menentukan hidup dan mati dengan satu keputusan.

Namun takdir mempertemukannya dengan seorang Tetua Sekte Bukit Bintang bernama Ciang Mu. Ciang Mu bukanlah tetua paling terkenal, juga bukan tokoh yang sering dielu-elukan. Ia pendiam, lebih banyak mengamati daripada berbicara.

Namun pada suatu hari, di pinggiran kota, ia melihat kebaikan hati Gao Rui yang menolong seorang ibu dengan anak kecilnya. Di mata Ciang Mu, ada sesuatu yang jarang ditemukan, kebaikan tanpa pamrih.

Tanpa upacara besar, tanpa janji manis, Ciang Mu mengangkat Gao Rui sebagai murid dan membawanya ke Sekte Bukit Bintang.

Bagi Gao Rui kecil, sekte itu bagaikan dunia baru. Langitnya lebih luas, bangunannya megah, dan aura spiritualnya membuat napas terasa lebih berat. Ia berlatih dengan tekun, memanggil Ciang Mu dengan sebutan Guru dengan penuh hormat. Meski bakatnya biasa saja, ia tidak pernah malas. Setiap kali jatuh, ia bangkit. Setiap kali gagal, ia mencoba lagi.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiga tahun kemudian, ketika Gao Rui baru mulai memahami dasar-dasar dunia persilatan, Ciang Mu meninggal dalam sebuah misi sekte. Tidak ada jasad yang kembali. Hanya laporan singkat dan sebuah tanda peringatan sederhana.

Sejak hari itu, hidup Gao Rui di Sekte Bukit Bintang berubah drastis. Tanpa pelindung, tanpa guru, ia menjadi sasaran empuk. Murid-murid lain yang sebelumnya bersikap netral mulai meremehkannya. Beberapa tetua tidak lagi memperhatikannya. Jatah sumber daya berkurang, kesempatan pelatihan menyempit, dan ejekan menjadi makanan sehari-hari.

“Anak yatim tanpa bakat.”

“Murid sampah.”

“Beban sekte.”

Julukan-julukan itu menghujam hatinya. Namun ia tidak mengeluh, ia tetap bersikap baik kepada orang-orang.

Gao Rui tetap bertahan. Ia menelan hinaan itu dalam diam. Ia berlatih sendiri, memungut sisa-sisa kesempatan yang terlewat. Baginya, bertahan hidup sudah merupakan kemenangan kecil.

Sampai suatu hari, dunia yang sudah keras itu menunjukkan wajahnya yang paling kejam. Seorang kakak seperguruan, seseorang yang seharusnya berada di pihak yang sama, menaruh iri dan kebencian padanya. Dengan dalih latihan bersama, Gao Rui dibawa ke sebuah tempat terpencil. Tidak ada belas kasihan. Ia dipukul, diseret, lalu ditenggelamkan ke dalam sungai yang deras dan dingin.

Air masuk ke paru-parunya. Tubuhnya melemah. Dalam kesadarannya yang memudar, Gao Rui berpikir bahwa inilah akhir hidupnya. Mati tanpa nama, tanpa jejak, bahkan tanpa dendam yang sempat terbalas.

Namun takdir belum selesai bermain dengannya. Seseorang menolongnya. Pria itu tidak banyak bicara. Tatapannya dalam, auranya tenang namun mengandung kekuatan yang membuat dunia di sekitarnya seakan tunduk.

Gao Rui tidak tahu siapa dia saat itu. Ia hanya tahu bahwa pria itu menariknya dari kematian, menyembuhkan tubuhnya, dan yang paling mengejutkan menanyakan satu hal sederhana setelah mereka beberapa hari bersama.

“Kau ingin menjadi kuat, bukan? Bukan hanya cukup kuat untuk bertahan hidup… tapi cukup kuat melindungi apa yang kau yakini.”

Pria itu adalah Boqin Changing. Boqin Changing tidak hanya menyelamatkan nyawanya. Ia melihat potensi yang bahkan Gao Rui sendiri tidak sadari. Tanpa banyak penjelasan, Gao Rui diangkat menjadi muridnya.

Sejak hari itu, hidup Gao Rui memasuki fase yang benar-benar berbeda. Boqin Changing membawa Gao Rui ke sebuah dunia lain, sebuah tempat khusus di mana waktu mengalir tidak seimbang. Satu tahun di dalam dunia itu hanya setara satu hari di dunia luar.

Di sanalah Gao Rui ditempa. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada pujian. Setiap hari adalah rasa sakit. Tulangnya retak, ototnya robek, kesadarannya berulang kali berada di ambang kehancuran. Ia belajar teknik pernapasan, kendali energi, disiplin mental, dan yang terpenting cara bertahan saat tubuh dan jiwa ingin menyerah.

Boqin Changing tidak mengajarinya untuk menjadi kuat dengan cepat. Ia mengajarinya untuk tidak runtuh. Tahun demi tahun berlalu di dunia itu. Gao Rui berubah. Tatapannya menjadi tajam. Gerakannya efisien. Hatinya tenang.

Ketika ia kembali ke dunia nyata, hanya beberapa hari yang berlalu. Gao Rui lalu mengikuti kompetisi bela diri Sekte Bukit Bintang. Banyak yang menertawakannya. Banyak yang menganggapnya kebetulan semata. Namun satu per satu, lawannya tumbang dengan ketepatan dan ketenangan yang mengerikan. Ia akhirnya menjadi juara.

Hak itu membawanya menjadi wakil sekte dalam Pertarungan Pendekar Muda yang akan digelar di Sekte Pedang Langit, sebuah panggung yang jauh lebih besar dan lebih kejam.

Namun kemenangan itu tidak membawa kebahagiaan penuh. Pada hari yang sama, Boqin Changing berpamitan. Gurunya harus kembali ke Kekaisaran Qin. Gao Rui ditinggalkan sekali lagi untuk berjalan sendiri.

Namun kali ini berbeda. Ia tidak lagi anak yatim yang tak berdaya. Ia adalah murid pertama Boqin Changing. Ia kini adalah pendekar muda terbaik dari Sekte Bukit Bintang. Gurunya itu bahkan memberikan julukan kepadanya, Pendekar Naga Bintang. Julukan yang sepertinya disetujui oleh patriak dan tetua agung sektenya.

Gao Rui tahu, jalan di depannya baru saja dimulai. Tanpa guru di sisinya, tanpa perlindungan langsung, dunia persilatan akan kembali menunjukkan taringnya.

Namun kini, ia siap. Ia bertekad untuk menjadi kuat. Bukan untuk membalas dendam, bukan untuk membuktikan diri pada dunia, melainkan agar suatu hari nanti, ia bisa berdiri sejajar dengan gurunya, tanpa rasa rendah diri.

Inilah kisah Gao Rui. Ini… baru awal dari petualangan yang sesungguhnya.

...*******...

Hari beranjak satu hari setelah kepergian gurunya. Fajar menyingsing perlahan di Sekte Bukit Bintang. Cahaya matahari merambat turun dari balik puncak gunung, menyentuh atap-atap kayu dan halaman batu dengan warna keemasan yang lembut. Kabut pagi masih menggantung tipis, seolah enggan pergi, seperti hati seseorang yang belum siap menerima perpisahan.

Gao Rui sudah terbangun sejak lama. Ia duduk di tepi ranjang kayunya, punggung tegak namun bahunya tampak lebih berat dari biasanya. Tatapan matanya kosong, menatap ke arah jendela kecil tempat sinar matahari masuk dengan ragu-ragu. Biasanya, pada jam seperti ini, ia sudah bergerak cepat. Membawa air, menyalakan tungku, memotong sayuran sederhana, lalu memasak bubur atau nasi hangat untuk dua orang. Untuk gurunya. Namun pagi ini, dapur terasa terlalu sunyi.

Gao Rui tetap bangkit. Ia berjalan menuju dapur kecil di belakang rumah dengan langkah pelan. Tangannya bergerak otomatis menimba air, menyalakan api, menanak nasi. Semua ia lakukan dengan ketepatan yang sama seperti biasanya. Hanya satu hal yang berbeda. Porsinya satu.

Tidak ada lagi mangkuk kedua yang biasa ia letakkan di seberang meja kayu. Tidak ada suara langkah kaki yang tenang dari belakang. Tidak ada aura berat namun menenangkan yang selalu membuatnya merasa… aman.

Saat bubur matang, Gao Rui menuangkannya ke dalam satu mangkuk sederhana. Ia duduk, menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menyuap pelan. Rasanya sama. Namun entah mengapa, hambar.

Setelah selesai, ia membereskan dapur tanpa suara. Tidak ada desahan, tidak ada keluhan. Hanya gerakan tenang yang terasa seperti ritual terakhir dari kebiasaan lama.

Lalu, tanpa benar-benar berpikir, kakinya melangkah ke arah kamar gurunya. Langkah itu berhenti sesaat di depan pintu kayu yang tertutup. Gao Rui berdiri di sana cukup lama. Ia tahu kamar itu sudah kosong. Ia tahu gurunya telah pergi. Ia tahu tidak akan ada siapa pun di dalam sana.

Namun tetap saja… tangannya terangkat. Pintu itu dibuka perlahan.

Kamar itu bersih, rapi, dan sunyi. Meja kecil di sudut ruangan kosong. Tempat tidur kayu yang selalu terlihat keras itu kini terasa dingin.

Gao Rui melangkah masuk. Ia berdiri di tengah ruangan, membiarkan keheningan menelannya.. Di sinilah ia pernah mendengar suara gurunya berkata dengan nada datar namun pasti.

“Bangun. Jika kau bisa berdiri, berarti kau belum kalah.”

Tangannya mengepal pelan.

Dada Gao Rui terasa sesak, namun tidak ada air mata yang jatuh.

“Aku… tidak akan mengecewakanmu Guru,” gumamnya pelan, seolah memastikan pada ruangan kosong itu.

Ia menunduk hormat ke arah kamar tersebut. Bukan sekadar penghormatan seorang murid, melainkan janji seorang penerus.

Ketika ia keluar dan menutup pintu itu kembali, langkah kakinya terasa sedikit lebih mantap. Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang merasa kehilangan. Ia lalu memutuskan pergi keluar dari rumahnya.

Di halaman latihan utama, beberapa murid sudah mulai berkumpul. Bisik-bisik terdengar ketika mereka melihat Gao Rui berjalan melewati gerbang kecil. Tatapan-tatapan itu masih ada, iri, kagum, dan takut.

Pendekar Naga Bintang. Julukan itu kini melekat padanya seperti bayangan. Sebagian memujanya, sebagian menunggunya jatuh. Julukan itu resmi diberikan sekte ini oleh patriak sekte sebagai salah satu hadiah karena kemenangannya dalam kompetisi beladiri antar murid.

Gao Rui merasakannya semua, namun tidak bereaksi. Ia menuju suatu tempat yang biasa ia gunakan untuk berlatih sendiri sebelum kedatangan Boqin Changing.

Tidak ada sorak, tidak ada penonton. Ia menarik napas dalam, mengatur pernapasan seperti yang diajarkan gurunya. Setiap tarikan dan hembusan terasa berat, namun stabil.

Dalam benaknya, suara Boqin Changing terdengar jelas.

“Kekuatan bukan tentang siapa yang berdiri di sampingmu. Tapi apakah kau tetap berdiri saat tak ada siapa pun.”

Gao Rui membuka mata.

Kesedihan masih ada. Kehilangan itu nyata. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang mulai mengeras, tekad yang sunyi, dingin, dan tak tergoyahkan.

Ia akan berjalan sendiri lagi. Namun kali ini, ia tidak sendirian dalam arti yang sama. Ajaran gurunya telah tertanam dalam tulang dan jiwanya. Setiap langkah ke depan adalah bukti bahwa perpisahan ini bukan akhir, melainkan awal dari ujian yang lebih besar.

Matahari kini telah sepenuhnya terbit dan Gao Rui, bocah tiga belas tahun yang pernah dianggap murid lemah, kembali mengangkat pedangnya. Bukan dengan amarah, bukan dengan kesedihan, melainkan dengan ketenangan seorang pendekar yang tahu ke mana ia melangkah.

Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Terpopuler

Comments

Nanik S

Nanik S

Makasih Tor telah Up lagi seasen dia dengan awal kilasan yang bagus tentang Gao Rui 🙏

2026-01-05

3

Andi Heryadi

Andi Heryadi

semoga nanti othor menjadikan Gao Rui pengikutnya bersama Sha Nuo dlm satu cerita,membasmi musuh2nya.

2026-01-08

2

Mulan

Mulan

mantap ditunggu updatenya terus thorrr 👍

2026-01-04

4

lihat semua
Episodes
1 Jenius Beladiri Gao Rui
2 Berita Itu Menyebar
3 Permintaan Patriak
4 Ancaman Kelompok Aliran Hitam
5 Jalan yang Dipersiapkan Guru
6 Berlatih di Kediaman Tetua Bei
7 Menebak Kemungkinan Tentang Gao Rui
8 Aku Tidak Bisa Menerima Ini
9 Kedatangan Lan Suya
10 Membicarakan Gao Rui
11 Keputusan Diambil
12 Rumor Beredar
13 Teman Baru
14 Ke Luar Sekte
15 Mengenali Tetua Bei
16 Bocah Yang Tidak Normal
17 Sampai di Kota Yanjing
18 Sahabat Tetua Bei
19 Aku Mungkin Bisa Menyembuhkannya
20 Toko Harta Langit
21 Token Pengenal Harta Langit
22 Tuan Muda Gao Rui
23 Kenyataan Yang Diterima Tetua Bei
24 Membuat Pil
25 Menyembuhkan Nao Jiang
26 Kesembuhan Nao Jiang
27 Pedagang Yang Licik
28 Kedatangan Dua Pilar Sekte
29 Baru Kembali dari Hutan
30 Oleh Oleh dari Yanjing
31 Bukan Hanya Tentang Kekuatan
32 Berlatih Tanding
33 Menuju Sekte Pedang Langit
34 Sunyi yang Tidak Wajar
35 Kelompok Macan Hitam
36 Seseorang yang Berpaling dari Kegelapan
37 Gao Rui Diremehkan
38 Para Siluman Menyerang Desa
39 Melawan Siluman Seratus Tahun
40 Melanjutkan Perjalanan
41 Konflik di Gerbang Kota
42 Bertemu Kenalan Lama
43 Makan Malam Bersama
44 Usaha Gao Rui
45 Mengikuti Lelang
46 Batu Tombak
47 Bahaya Mengintai
48 Menargetkan Gao Rui
49 Pertarungan di Jalanan
50 Kenyataan yang Berbeda
51 Keributan Setelah Pertarungan
52 Pengakuan Ranah Beladiri Gao Rui
53 Bertemu Kelompok Bayangan Neraka
54 Bocah Haus Darah?
55 Prajurit Istana di Sebuah Desa
56 Kelompok Bayangan Neraka Kembali Menghadang
57 Medan Darah di Lereng Bukit
58 Pertempuran yang Nyata
59 Bocah yang Membakar Medan Perang
60 Gao Rui Menjadi Pusat Perhatian
61 Dua Pendekar Raja Terbunuh
62 Gao Rui Memutuskan Maju
63 Mulai Menekan
64 Mencapai Titik Klimaks
65 Tebasan Api dan Perisai Cahaya
66 Saat Seorang Bocah Boleh Lelah
67 Pagi yang Memberikan Tawaran Baru
68 Nama yang Dicatat dalam Laporan Istana
69 Belajar Bersama
70 Tuan Muda yang Sombong
71 Menggertak Tetua Bei
72 Memberi Pelajaran
73 Baru di Awal
74 Permainan Sudah Berjalan Saat Kompetisi Belum Dimulai
75 Kabar Burung Beredar Luas
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Jenius Beladiri Gao Rui
2
Berita Itu Menyebar
3
Permintaan Patriak
4
Ancaman Kelompok Aliran Hitam
5
Jalan yang Dipersiapkan Guru
6
Berlatih di Kediaman Tetua Bei
7
Menebak Kemungkinan Tentang Gao Rui
8
Aku Tidak Bisa Menerima Ini
9
Kedatangan Lan Suya
10
Membicarakan Gao Rui
11
Keputusan Diambil
12
Rumor Beredar
13
Teman Baru
14
Ke Luar Sekte
15
Mengenali Tetua Bei
16
Bocah Yang Tidak Normal
17
Sampai di Kota Yanjing
18
Sahabat Tetua Bei
19
Aku Mungkin Bisa Menyembuhkannya
20
Toko Harta Langit
21
Token Pengenal Harta Langit
22
Tuan Muda Gao Rui
23
Kenyataan Yang Diterima Tetua Bei
24
Membuat Pil
25
Menyembuhkan Nao Jiang
26
Kesembuhan Nao Jiang
27
Pedagang Yang Licik
28
Kedatangan Dua Pilar Sekte
29
Baru Kembali dari Hutan
30
Oleh Oleh dari Yanjing
31
Bukan Hanya Tentang Kekuatan
32
Berlatih Tanding
33
Menuju Sekte Pedang Langit
34
Sunyi yang Tidak Wajar
35
Kelompok Macan Hitam
36
Seseorang yang Berpaling dari Kegelapan
37
Gao Rui Diremehkan
38
Para Siluman Menyerang Desa
39
Melawan Siluman Seratus Tahun
40
Melanjutkan Perjalanan
41
Konflik di Gerbang Kota
42
Bertemu Kenalan Lama
43
Makan Malam Bersama
44
Usaha Gao Rui
45
Mengikuti Lelang
46
Batu Tombak
47
Bahaya Mengintai
48
Menargetkan Gao Rui
49
Pertarungan di Jalanan
50
Kenyataan yang Berbeda
51
Keributan Setelah Pertarungan
52
Pengakuan Ranah Beladiri Gao Rui
53
Bertemu Kelompok Bayangan Neraka
54
Bocah Haus Darah?
55
Prajurit Istana di Sebuah Desa
56
Kelompok Bayangan Neraka Kembali Menghadang
57
Medan Darah di Lereng Bukit
58
Pertempuran yang Nyata
59
Bocah yang Membakar Medan Perang
60
Gao Rui Menjadi Pusat Perhatian
61
Dua Pendekar Raja Terbunuh
62
Gao Rui Memutuskan Maju
63
Mulai Menekan
64
Mencapai Titik Klimaks
65
Tebasan Api dan Perisai Cahaya
66
Saat Seorang Bocah Boleh Lelah
67
Pagi yang Memberikan Tawaran Baru
68
Nama yang Dicatat dalam Laporan Istana
69
Belajar Bersama
70
Tuan Muda yang Sombong
71
Menggertak Tetua Bei
72
Memberi Pelajaran
73
Baru di Awal
74
Permainan Sudah Berjalan Saat Kompetisi Belum Dimulai
75
Kabar Burung Beredar Luas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!