NovelToon NovelToon
Kinan

Kinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Lain / Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.

Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.

Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laras

Laras datang tanpa diundang Sabtu pagi, saat Raka masih berbaring di sofa dengan selimut Kinan—masih ia simpan, masih bau bel berbunyi.

Ia membuka pintu melihat gadis itu berdiri di teras dengan kue brownies di tangan memakai pakaian kasual—kaos putih, jeans, rambut tergerai, tidak seperti Laras dulu...dulu sebelum segalanya rumit.

"Lo nggak jawab pesan," ucapnya. "Gue khawatir."

Raka mengusap mata masih setengah tidur, setengah mimpi.

"Gue baik-baik aja."

"Gue nggak bilang lo nggak baik." Ia menyelip masuk, melewati Raka masih membeku di ambang pintu. "Gue bilang gue khawatir, itu beda."

---

Di dapur, Laras membuat teh seakan rumah ini miliknya. Seolah ia tahu di mana cangkir-cangkir disimpan—tahu, karena Raka pernah cerita, dulu, saat mereka masih pacaran. "Cangkir favorit gue yang biru, ada retaknya. Kinan bilang retak itu membuat unik."

Laras mengambil cangkir biru menuangkan teh panas.

"Minum, Ra" perintahnya, meletakkan di atas meja didepannya.

Raka duduk tidak berani menolak atau menerima sepenuhnya.

"Brownies buatanku sendiri," katanya duduk di seberang terlalu dekat, kaki mereka hampir bersentuhan di bawah meja. "Resep baru gue coba semalam."

"Semalam?"

"Gue nggak bisa tidur." Ia tersenyum getir. "Setelah ngomong sama lo, setelah... setelah ngomong sama Maya."

Raka menatapnya bingung. "Lo bilang apa ke Maya?"

"Yang sebenarnya." Laras mengambil brownies, memotong, menawarkan "Ra, boleh gue berterus terang sama lo?"

"Apa itu ?"

" Cinta gue gak pernah pudar sejak dulu, dan gue nggak akan mundur. "

Laki laki itu tersendat, bibir nya gemetar, " Itu cerita lama, Ras, jangan Lo ungkit lagi."

Laras berpindah duduk disampingnya, " Gue... gue bersedia jadi yang kedua, kalau itu harus, asalkan ada."

Kue brownies tanpa sadar terjatuh dari tangan Raka, jantungnya berdegup kencang menatap benar-benar menatap—mencari kebohongan disana, tapi tidak ia temukan.

"Lo nggak bisa jadi yang kedua," ucapnya bergetar. "Nggak adil buat lo."

"Lo yang nentuin adil atau nggak." Laras meletakkan kue tidak jadi ia makan menatap lurus. "Gue yang nentuin mau atau nggak."

---

Pintu terbuka

Maya berdiri kaku dengan kunci dan sapu di tangan, rutinitas yang ia pikir masih miliknya.

Tiga orang di ruangan diam, tegang, dan ledakan yang ditahan terlalu lama.

"Gue... gue mesti pergi," katanya dengan tubuh gemetar, tapi kakinya tidak bergerak.

"Nggak usah," kata Laras tenang, terlalu tenang. "Gue yang pergi, Ini rumah lo, kan? Gue yang tamu."

"Bukan rumah gue tapi rumah Raka. Dan lo... lo juga bukan tamu tapi orang yang diundang."

Laras tersenyum tipis profesional. "Gue diundang dengan brownies."

Maya menatap meja, sekotak kue brownies, cangkir biru dan dua orang di dapur seperti pasangan lama, dadanya retak sebelumnya—pecah. "Gue cuma mau bersihin." Suaranya hancur setengah. "Gue pergi sebentar saja rumah berantakan begini dan Gue khawatir tanaman—"

"Tanaman sudah mati," kata Raka pelan. "Semuanya, gue nggak bisa rawat."

Maya menatap ke teras, benar adanya, krisan putih gosong, lidah buaya layu, mawar kering, Lavender tinggal batang, semua yang Kinan tanam—semua yang Maya rawat—mati.

"Gue bisa tanam lagi," kata Maya. "Gue bisa—"

"Nggak usah, May, percuma... gue nggak bisa jaga."

Laras berdiri menghampiri, berdiri terlalu dekat, seolah menantang, melindungi—siapa yang dilindungi, tidak jelas."May," katanya lembut simpatik. "Lo baik-baik aja? Lo kelihatan... lelah."

"Jangan," Ia melangkah satu dua menjauh, " Jangan pura-pura peduli, Lo nggak peduli, cuma mau menang."

"Gue cuma mau Raka bahagia, gue, lo, siapa pun bahagia. Itu aja."

"Dan kalau bahagianya sama lo?"

Laras terdiam sesaat berkata, "Gue akan disini, menjaga."

"Kalau begitu, gue mundur. Tapi... tapi lo yakin dia bahagia sama lo?"

Perempuan berambut panjang itu berkata pelan," Gue akan berusaha."

Maya menatap laki laki yang duduk diam tidak membela tidak juga memilih. "Gue nggak yakin apa-apa lagi," ucapnya rintih "Tapi, lo nggak akan buat dia bahagia. Lo akan buat dia lupa, bukan bahagia."

Sapunya terjatuh di lantai diantara debu dan kenangan. Ia pergi cepat sebelum air matanya menggenang, dan sebelum Raka melihatnya

---

Raka berdiri ingin mengejar berteriak, tapi tubuhnya terasa berat"Gue harus—"

"Biarkan," kata Laras menahan lengannya kuat. "Dia perlu waktu. Lo juga."

"Tapi dia—"

"Dia yang pergi, Ra." Laras menatapnya hening. "Bukan lo yang usir. Dia yang memilih pergi, dan lagi."

Raka menatap tangan Laras di lengannya, hangat, nyata tidak seperti bayangan yang selalu ia kejar."Kenapa lo masih disini "Kenapa lo nggak pergi?"

Laras tersenyum untuk pertama kali, senyuman tulus—tanpa perhitungan, tanpa strategi, hanya... ada. "Karena gue masih cinta, dan cinta itu... terlihat bodoh, egois dan bertahan, gue nggak bisa jelasin lebih baik."

Raka menatapnya lamat, terlalu lelah untuk mencari dusta atau keinginan lebih.

"Gue nggak bisa janji apa-apa."

"Gue nggak minta janji." Ia meraih tangannya, kali ini, Raka tidak menarik. "Gue cuma minta lo biarkan gue ada, sementara, sampai lo bisa melihat gue benar-benar ada."

---

Mereka duduk di teras. Brownies tidak disentuh. Teh sudah dingin. Tapi mereka duduk berdampingan melihat tanaman mati.

"Gue bisa bantu tanam lagi," kata Laras memecah keheningan, "Kalau lo ijinkan."

"Kenapa?" tanya Raka. "Tanaman itu... itu milik Kinan, punya Maya. Bukan—"

"Bukan milik gue?" Laras mengangguk. "Gue tahu. Tapi kalau gue mau jadi bagian hidup lo, gue harus terima bagian masa lalu, termasuk tanaman, kenangan, dan... Kinan"

Raka menatapnya sungguh-sungguh. "Lo bisa? Terima dia? Terima bahwa dia masih di sini, di rumah ini, di... di dalam dada gue?"

Angin bertiup, membawa daun kering dari tanaman yang mati.

"Gue akan coba," ucapnya akhir. "Itu yang bisa gue janji, coba. Dan kalau gue gagal... gue akan pergi, nggak perlu lo usir."

Raka mengangguk perlahan seolah itu sudah cukup semua yang berikan.

---

Malam setelah Laras pergi, Brownies ditinggal di meja. Cangkir biru dicuci rapi, diletakkan di rak seolah ia pernah di sini akan kembali.

Raka duduk di teras sendirian dengan tanaman mati dan kenangan hidup.

Ponselnya bergetar sayup, wajahnya berubah senang

Maya: "Gue ambil sapu besok. Kalau Lo nggak keberatan."

Raka menatap laya mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Raka: "Lo nggak perlu ambil sapu. Lo bisa datang kapan aja. Ini rumah lo juga."

Lama tidak ada jawaban.

Lalu:

Maya: "Bukan rumah gue, Ra. Cuma tempat gue pernah berharap untuk Kinan "

Raka menatap layar sampai mati. Ia tidak menyalakannya lagi.

Di Ruang Tunggu, Kinan melihat dengan tubuh transparan degan energi tinggal secuil.

"Dia memilih," bisiknya. "Mas Raka memilih mencoba dengan yang hidup."

"Dan kamu? Apa yang akan kamu pilih?"

Kinan menatap jendela. Raka di teras, sendirian, tapi tidak sepenuhnya sendirian, Ada brownies di meja, janji baru, hidup berjalan, dengan atau tanpa ia kehendaki.

"Aku pilih dia," ucapnya tanpa ragu "Selalu dia, Meski dia memilih yang lain."

"Cinta sejati, memang menyakitkan."

"Tapi layak, setiap detiknya layak."

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
buset antara kisah romantis dan horor ....kadang2 serem ya 🤭
Ddie: ya terkadang cinta bisa membuat romantis dan horor, horor kalau kena tolak, horor dia kawin dengan orang lain, horor cinta tak terbalas ..😄
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kok AQ serem sih baca nya 😌
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: aq gak berbakat nulis ..enak baca aja 🤣
total 4 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
Raka yang terpuruk dan Maya yang simpati karena ada maksud 🤭...
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: idih 🤣🤣
total 2 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seperti nya maya mencintai Raka ...dan yang dia lakukan untuk mencari simpati ke Raka ...aah kebanyakan sahabat seperti itu sih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: nama pasaran malah wkwk
total 6 replies
Soraya
mampir thor
Ddie: terimakasih banyak ya dk
total 1 replies
falea sezi
nyesek bgt baru jg baca/Shame/
Ddie: cinta sejati itu selalu ada dimana pun dk ..walau hidup dalam dimensi lain, kematian
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
aku masih di sini dekap hampa di hati....
mampir 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔: yups betul sekali 🤣
total 2 replies
Ddie
mengapa engkau pergi membawa cinta jika membuatku kehilangan? Kematian bukanlah takdir tapi mimpi panjang menghadap Tuhan. Disini aku melihatmu tanpa bisa menyentuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!