Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA PEMBERSIHAN
"Emm, kalau boleh aku mau satu ruangan khusus di samping gudang senjata itu untuk ruang pribadiku, aku butuh tempat untuk mengutak-atik mainan baruku," jawab Calista, merasa rindu dengan kegiatan seperti di dunia nya dulu waktu masih menjadi Yura.
"Apapun untukmu, sang Penyelamat Kerajaan," jawab Jayden dengan nada setengah bercanda namun tulus.
Owen yang melihat interaksi mereka berdua, hanya bisa menganga tidak percaya, dia melihat Tuan nya, yang biasanya selalu sinis pada perempuan, kini terlihat sangat akrab dan dekat yang tidak biasa.
"Sebentar lagi seperti nya dunia akan runtuh," batin Owen, menggeleng kan kepala nya.
Calista dan Jayden, mulai memacu kudanya, pergi meninggalkan Paviliun Isabella, dengan kemenangan yang mereka bawa.
.Sepanjang perjalanan pulang ke kediaman utama, suasana terasa sangat santai, tidak ada lagi ketegangan pengkhianatan atau bau asap kebakaran.
Calista sesekali memacu kudanya lebih cepat, menantang Jayden balapan, yang tentu saja diladeni oleh sang Grand Duke dengan senyum lebar, dan hal itu semakin membuat Owen ingin pingsan, melihat kelakuan dua malaikat maut berwajah rupawan itu.
Sesampainya di kediaman, Lorenzo ternyata sudah bangun dan sedang digendong oleh pelayan di teras.
Begitu melihat Calista, bayi kecil itu langsung merentangkan tangan mungilnya sambil mengoceh tidak jelas.
"Oh, Sayangku!" seru Calista langsung turun dari kuda dan menyambar Lorenzo ke pelukannya.
"Lihat, Pamanmu sudah memberikan kunci mainan untuk kita!" ucap Calista, memamerkan kunci gudang senjata.
Lorenzo hanya tertawa dan mencoba menggigit kunci perak yang dipegang Calista.
"Hei, jangan digigit! Itu kotor!" tegur Jayden sambil ikut mendekat, mengusap kepala Lorenzo dengan lembut.
Pemandangan itu terlihat sangat kontras, seorang Grand Duke yang perkasa, seorang wanita misterius yang pemberani, dan seorang bayi calon raja, berdiri bersama di bawah sinar matahari pagi.
Suasana santai itu tidak berlangsung lama, meski tawa Lorenzo terdengar menggemaskan, Calista tahu bahwa memotong kepala ular tidak akan berguna jika ekor dan bisanya masih tertinggal di dalam lubang.
Calista menurunkan Lorenzo ke gendongan pelayan dengan sangat lembut, lalu dia menoleh ke arah Jayden.
Senyum manisnya menghilang, digantikan oleh sorot mata tajam yang biasa ia gunakan saat sedang membidik target dari jarak satu kilometer.
"Jayden," panggil Calista, suaranya kini rendah dan serius.
"Isabella memang sudah di kita amankan, dan hanya tinggal menunggu jadwal eksekusi nya, tapi tikus-tikus yang membantunya selama ini, masih berkeliaran bebas," ucap Calista, dingin.
"Aku tahu. Baron Harry, Count Miller, dan beberapa menteri faksi Kuil, mereka masih berkeliaran di aula utama istana, mungkin sedang menyusun rencana untuk membebaskan ibuku," jawab Jayden mengangguk, ekspresinya kembali dingin.
"Membersihkan rumah itu tidak cukup hanya dengan membuang sampahnya, kau harus menyemprot hamanya juga agar tidak balik lagi," ucap Calista mengelus gagang belati emas di pinggangnya.
"Apa rencana mu?" tanya Jayden.
"Aku tidak bisa menangkap mereka tanpa bukti tambahan yang sah, atau rakyat akan menganggap ku sebagai tiran yang sedang melakukan pembersihan politik, agar aku bisa naik takhta, itu benar-benar sangat menjengkelkan," ucap Jayden, sama sekali tidak tertarik dengan takhta Florist.
"Bukti? Jayden, tikus-tikus itu sangat penakut, mereka hanya setia pada Isabella karena mereka pikir Isabella akan menang, sekarang ratu mereka jatuh, mereka pasti sedang panik dan mencoba menghilangkan jejak," ucap Calista tertawa sinis.
"Owen, kau bilang tadi ada daftar menteri yang sering berkunjung ke paviliun pengasingan secara rahasia?" tanya Calista berjalan mendekat ke arah Owen yang berdiri tak jauh dari sana.
"Ada, Nona. Saya punya catatannya," jawab Owen sigap.
"Bagus! Berikan padaku," ucap Calista, tersenyum miring.
"Kita tidak akan menangkap mereka satu per satu di rumah mereka, itu terlalu lama dan membosankan," ucap Calista, melihat ke arah Jayden.
"Lalu?" tanya Jayden mengerutkan kening nya.
"Kita akan mengadakan perjamuan syukuran sore ini," jawab Calista dengan seringai licik.
"Rayakan keselamatan Pangeran Lorenzo dari kebakaran, dan undang semua menteri, tanpa terkecuali. Terutama mereka yang ada di daftar Owen," lanjut Calista.
"Kau ingin mengumpulkan mereka dalam satu ruangan?" tanya Jayden mulai menangkap maksud Calista.
"Tepat! Di dalam ruangan itu, kita akan memainkan mental mereka, aku akan membawa orang tuaku yang sudah kau tahan di bawah tanah untuk memberikan pengakuan langsung di depan para menteri. Bayangkan wajah Count Miller saat melihat saksi kuncinya justru menunjuk wajahnya di depan umum," jelas Calista tertawa jahat, dengan mata berkilat tajam.
"Itu brilian, tapi berbahaya, jika mereka terpojok, mereka mungkin akan menyerang secara membabi buta,"ucap Jayden memperingatkan.
"Itulah gunanya gudang senjatamu, aku butuh Owen dan lima prajurit bayangan terbaik untuk membantuku menyiapkan kejutan di bawah meja perjamuan," jawab Calista menepuk pundak Jayden yang dilapisi zirah.
"Baiklah," ucap Jayden menghela napas, namun ia tidak bisa menahan rasa kagumnya.
"Owen, lakukan apa yang dia katakan! Siapkan aula besar untuk perjamuan sore ini, dan kirim undangan dengan stempel emas Grand Duke. Katakan kehadirannya wajib!" perintah Jayden, tegas.
"Baik, Yang Mulia!" jawab Owen dengan semangat.
Setelah Owen pergi dengan tergesa-gesa untuk menjalankan perintah, keheningan kembali menyelimuti teras kediaman utama.
Calista meregangkan otot-otot lehernya yang kaku, sementara Jayden masih berdiri di sana, memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kewaspadaan dan ketertarikan yang mendalam.
"Kau benar-benar berbahaya, ya?" gumam Jayden, akhirnya memecah keheningan.
Calista tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun menyimpan nada dingin yang tajam.
"Di duniaku yang dulu... yah, kau tidak akan bertahan hidup jika hanya mengandalkan keberuntungan, kau harus menjadi predator, atau kau akan berakhir sebagai mangsa di meja makan," ucap Calista sambil menatap ke arah taman yang luas.
"Duniaku yang dulu? Kau sering mengatakan itu seolah-olah kau berasal dari tempat yang sangat jauh," tanya Jayden menaikkan sebelah alisnya.
"Maksud ku tempat ku di desa yang sangat jauh itu," jawab Calista santai, lalu menoleh menatap mata gelap Jayden.
"Tapi serius, Jay. Kenapa kau tidak mau takhta itu? Kau punya kekuatan, kau punya loyalitas prajurit, dan kau punya otak. Kenapa membiarkannya kosong dan hanya menjaganya untuk Lorenzo, setidak nya kau bisa naik takhta sampai nanti Lorenzo sudah dewasa," tanya Calista, kembali bertanya perihal itu pada Jayden.
"Takhta itu adalah kursi yang berlumuran darah ibuku dan yang paling penting, tahta itu bukan milik ku! Aku lebih suka menjadi pedang yang melindungi kerajaan daripada menjadi mahkota yang membebaninya. Terlalu banyak protokol, terlalu banyak wajah palsu," jawab Jayden menghela napas panjang, ekspresi dinginnya sedikit mencair, memperlihatkan sisi manusiawi yang jarang di tunjukkan.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.