Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang Menagih Janji
Aira baru saja sampai di depan pintu kamar Kara dengan tas pakaian ganti. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan hati. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka dari dalam.
Ibu Kara berdiri di sana. Matanya sembab, tapi begitu melihat Aira, sorot matanya berubah menjadi dingin dan tajam—seperti pedang yang siap menghujam.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" bisik Ibu Kara, suaranya ditekan agar tidak terdengar ke dalam, namun penuh dengan racun kebencian.
Aira menunduk, menyodorkan tas pakaian. "Saya... saya membawakan pakaian ganti untuk Kara, Tante. Sesuai pesan Eyang."
Ibu Kara merebut tas itu dengan kasar dan meletakkannya begitu saja di lantai koridor. "Dengar, Aira. Operasinya sudah selesai. Tapi anak saya... dia tidak bisa melihat apa-apa. Dokter bilang ini karena tekanan saraf yang terlalu lama. Dan siapa yang membuatnya tertekan belakangan ini? Kamu."
Dunia Aira seolah berhenti berdetak. "Kara... buta?"
"Pergi, Aira. Sebelum saya panggil satpam," ancam Ibu Kara. "Kamu sudah mengambil cukup banyak dari hidupnya. Jangan ambil masa depannya juga."
Aira mundur perlahan. Namun, dari dalam kamar, ia mendengar suara Kara yang parau dan panik.
"Ibu? Siapa di luar? Aira? Aira, itu kamu?" suara Kara terdengar sangat rapuh. Aira mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Ia melihat Kara duduk di ranjang, tangannya meraba-raba udara dengan liar, matanya terbuka tapi kosong—tidak fokus pada apa pun.
"Aira! Gelap sekali... Ibu, tolong nyalakan lampunya! Aira, kamu di mana?"
Aira menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Melihat Kara yang begitu berdaya karena "kehadirannya", Aira merasa dadanya hancur berkeping-keping. Ia tidak bisa masuk. Ia tidak sanggup melihat Matahari-nya meraba kegelapan.
Tanpa sepatah kata pun, Aira berbalik dan lari. Aira terus berlari melewati lorong rumah sakit yang seolah memanjang tanpa ujung. Suara panggilan Kara yang panik tadi masih terngiang, mencabik-cabik sisa keberanian yang ia miliki. Setiap langkahnya terasa berat, seolah bayangan gelap dari rumah nomor 13 ikut mengejarnya, membisikkan bahwa dialah penyebab sepasang mata cemerlang itu kini kehilangan fungsinya.
Ia berhenti di taman depan rumah sakit, paru-parunya terasa terbakar. Di bawah pohon kamboja yang bunganya berguguran, Aira jatuh terduduk. Ia merogoh ponselnya, melihat wallpaper foto siluet mereka berdua saat di kolam teratai.
"Maafkan aku, Kara..." isaknya pecah. "Aku pikir aku bisa menjadi tempat berteduh untukmu, tapi aku justru menjadi badai yang mematikan cahayamu."
Ia teringat pesan dari Ibu Kara semalam. Pesan itu benar. Cinta Aira adalah racun bagi matahari sekokoh Kara. Semakin besar rasa sayang yang ia berikan, semakin kuat pula 'Ain' atau kutukan itu bekerja untuk merenggut kebahagiaan dari orang yang ia cintai.
Dengan tangan gemetar, Aira mengetik sebuah pesan terakhir untuk Kara. Ia tahu Kara mungkin tidak bisa membacanya sekarang, tapi ia berharap suatu saat nanti, saat ada orang lain yang membacakannya, Kara akan mengerti.
Aira: "Matahari tidak boleh berada di dasar samudera, Kara. Kamu akan padam jika terus bersamaku. Aku pergi bukan karena aku berhenti mencintaimu, tapi karena aku ingin kamu melihat cahaya lagi, meskipun bukan aku yang ada di dalamnya. Maafkan aku karena telah menjadi kegelapanmu."
Setelah menekan tombol kirim, Aira mematikan ponselnya. Ia mencabut kartu SIM-nya dan mematahkannya menjadi dua, seolah-olah dengan itu ia juga mematahkan seluruh harapannya untuk kembali.
Ia bangkit berdiri, menyeka air matanya dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak pulang ke rumah. Ia tidak sanggup menghadapi warga yang akan semakin menghakiminya jika tahu kondisi Kara. Ia melangkah menuju terminal bus antar kota dengan pandangan kosong.
Di dalam bus yang mulai bergerak meninggalkan kota, Aira menatap jendela. Ia melihat bayangannya sendiri di kaca—seorang gadis yang kembali menjadi asing, kembali menjadi Lawana yang tertutup kabut.
Di saat yang sama, di kamar 304, Kara masih meraba-raba sprei kasurnya dengan napas memburu. Perawat datang mencoba menenangkannya, namun Kara terus memanggil nama yang sama.
"Aira... aku tahu kamu tadi di sana. Jangan pergi..." lirih Kara. Tangannya yang gemetar menyentuh sisi ranjang yang kosong, tempat yang seharusnya diduduki Aira.
Kara tidak tahu bahwa di saat ia berjuang mengenali dunianya yang baru, "samudera"-nya telah memilih untuk mengeringkan diri, menghilang ke tempat yang tak terjangkau demi membiarkan sang Matahari setidaknya punya kesempatan untuk tidak tenggelam lebih dalam.
Malam itu, Aira sampai di sebuah kota kecil yang asing. Ia berdiri di depan sebuah gerbang kayu bertuliskan "Panti Jompo Kasih Abadi". Di tempat ini, di mana waktu seolah berhenti dan kematian adalah tamu yang dinanti, Aira merasa ia akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk kesialannya.
...***...
...😭😭😭😭...
...Siapa yang sedih?...
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰