Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat yang panas dan sikap posesif sang bos
"Ohh baik, Pak," jawab Leo patuh sebelum melangkah keluar dari ruangan sang CEO.
Leo pun pergi menghampiri meja kerja Syren. "Nona Syren," sapa Leo dengan gaya formalnya yang sedikit kaku.
"Iya Pak Leo, ada apa?" tanya Syren sambil menghentikan aktivitas mengetiknya.
"Emm, hari ini Anda diminta Pak Julian untuk menemaninya meeting," ucap Leo menyampaikan perintah.
"Hahh? Harus saya, Pak?" Syren melongo, matanya mengerjap tidak percaya.
"Iya, karena Anda sekretarisnya," jawab Leo singkat seolah itu adalah jawaban mutlak.
"Ya elah... baru juga mau shopping," gumam Syren sangat pelan, namun raut wajahnya langsung berubah menjadi lesu.
"Maaf, ini sudah perintah," tambah Leo lagi, tidak memberi ruang untuk protes.
Melihat sahabatnya mendadak lemas, Gaby pun berdiri dan berjalan ke arah Leo dengan wajah menantang. "Nyusahin aja!" ucap Gaby ketus. Tanpa aba-aba, ia langsung menginjak kaki Leo dengan sepatu hak tingginya.
"Aduh duh duh! Dasar Gaby!" ringis Leo sambil mengangkat kakinya yang kesakitan, sementara wajahnya memerah menahan emosi.
Gaby tidak peduli dan langsung menggandeng tangan Syren menjauh dari sana menuju pantry. "Ayo Ren, kita ke pantry dulu biar muka lo nggak sepet-sepet amat sebelum ketemu Bos Peot," ajak Gaby meninggalkan Leo yang masih sibuk mengusap kakinya.
"Ya elah, kalau gitu nanti malem aja deh By," keluh Syren sambil menyandarkan punggungnya di kursi pantry.
"Oke Ren, nggak apa-apa," sahut Gaby santai.
"Sekalian aja By, gue mau ajak Ardi sama Lea. Terus kita main permainan nanti, biar seru daripada liat si bos!" seru Syren dengan mata berbinar-binar.
Syren sudah membayangkan betapa serunya malam ini. Dengan uang 15 juta di rekeningnya, dia merasa bebas mengajak adiknya dan Lea untuk bersenang-senang. Dibandingkan harus terjebak dengan tatapan dingin Julian, bermain bersama Ardi dan teman-temannya jauh lebih menyenangkan.
"Ide bagus tuh! Kita main Truth or Dare atau apa gitu yang bikin heboh," tambah Gaby yang ikut bersemangat.
Namun, obrolan mereka terhenti saat Leo kembali muncul di depan pintu pantry sambil menahan sakit di kakinya. "Nona Syren, Pak Julian sudah menunggu di lobi. Tolong segera turun," ucap Leo dengan nada ketus akibat injakan Gaby tadi.
"Sana pergi, Bos Peot sudah menunggu!" goda Gaby sambil mendorong bahu Syren.
Syren menarik napas panjang, merapikan cardigannya, dan berjalan menuju lobi. Di sana, Julian sudah berdiri di samping mobil mewahnya, menatap jam tangan dengan wajah tidak sabar. Saat melihat Syren mendekat dengan rambut yang masih tergerai indah, Julian terdiam sejenak.
Rencana malam ini sudah matang! Tapi sebelum itu, Syren harus bertahan di meeting kafe bersama Julian.
"Siang Pak Bos tampan!" sapa Syren dengan nada riang yang dibuat-buat, berusaha mencairkan suasana hatinya yang sebenarnya masih kesal karena rencana belanjanya tertunda.
Julian hanya meliriknya sekilas dari balik kacamata hitam. "Ayo masuk Syren. Jangan buang-buang waktu saya," perintahnya dingin sembari membukakan pintu mobil—meskipun nadanya ketus, tindakannya tetap terasa seperti seorang gentleman.
"Iya, iya Pak Bos..." gumam Syren sembari mendudukkan diri di kursi penumpang yang empuk. Saat mobil mulai melaju, rasa penasaran Syren kumat lagi. "Pak Bos, kliennya ganteng nggak?"
Julian mempererat pegangannya pada kemudi, rahangnya sedikit mengeras. "Tua. Kamu mau?" jawabnya singkat dan sarkas.
"Eh, eh... nggak Pak! Kan saya cuma tanya, sensi amat sih," sahut Syren sembari mengerucutkan bibirnya.
"Yaudah diem. Jangan banyak bicara," potong Julian telak, membuat Syren akhirnya benar-benar bungkam dan memilih menatap jalanan dari balik jendela.
Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah kafe estetik yang cukup populer untuk kalangan pebisnis. Julian turun dan diikuti Syren yang membawa iPad serta buku catatan di pelukannya. Begitu masuk ke dalam, aroma kopi yang kuat menyambut mereka.
Julian mengedarkan pandangan dan menemukan pria paruh baya yang tampak berwibawa melambaikan tangan dari meja sudut. "Itu Pak Beni. Ingat, jaga sikap kamu, Syren," bisik Julian tepat di telinga Syren sebelum mereka menghampiri meja tersebut.
"Selamat siang Pak Beni," sapa Julian dengan sopan, ia menjabat tangan pria paruh baya itu dengan mantap.
Syren yang berdiri di samping Julian segera mengikuti langkah bosnya. Ia menyunggingkan senyum ramahnya yang paling manis. "Selamat siang, Pak," ucapnya sembari ikut berjabat tangan.
"Selamat siang Tuan Julian. Terima kasih banyak telah menyempatkan hadir di sela kesibukan Anda," balas Pak Beni dengan nada suara yang berwibawa namun tetap hangat.
"Sama-sama, Pak. Sudah menjadi kewajiban saya," sahut Julian tenang.
Pak Beni kemudian mengalihkan pandangannya kepada sosok gadis di sebelah Julian. "Oh ya, ini sekretaris baru Anda kah? Sepertinya saya baru melihatnya."
"Iya Pak, kenalin nama saya Syren Fauzana. Senang sekali bisa bertemu dengan Anda," ucap Syren memperkenalkan diri dengan luwes. Rambutnya yang tergerai indah pagi ini benar-benar menambah kesan elegan pada penampilannya.
Pak Beni tampak tertegun sejenak melihat paras Syren. "Wah, cantik sekali," puji Pak Beni secara spontan. "Tuan Julian, Anda sangat pintar memilih asisten. Selain kompeten, parasnya juga menyejukkan suasana rapat."
Mendengar pujian itu, Julian hanya berdehem singkat sambil melirik Syren dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya saat melihat pria lain—meskipun itu rekan bisnisnya—memuji kecantikan Syren begitu terang-terangan.
"Mari silakan duduk, Pak. Kita langsung saja ke poin utamanya," potong Julian halus, berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum Pak Beni memberikan pujian lebih jauh lagi.
Julian mulai posesif lagi! Dia sepertinya tidak suka kecantikan Syren hari ini jadi pusat perhatian orang lain.
"Dasar kakek-kakek!" batin Syren geli melihat tingkah Pak Beni yang tampak genit di usianya yang sudah tidak muda lagi. Namun, demi profesionalitas (dan uang 15 juta di rekening), ia tetap memasang wajah manis.
"Wahh, terima kasih Pak. Saya sangat tersanjung," balas Syren dengan nada yang dibuat selembut mungkin, membuat Pak Beni semakin melebarkan senyumnya.
Melihat interaksi itu, rahang Julian mengeras. Ia tidak suka melihat sekretarisnya menebar pesona—meskipun itu hanya bagian dari keramahan—di depan rekan bisnisnya.
"Mari Pak Beni, kita bahas bisnis kita ini," sela Julian dengan nada bicara yang lebih berat dari biasanya. Ia sengaja memajukan duduknya, menghalangi pandangan Pak Beni yang terlalu fokus pada Syren.
Pak Beni tersadar dan berdehem canggung. "Ah, iya, benar. Maaf Tuan Julian. Mari kita lihat draf impor untuk kuartal kedua ini."
Julian segera membuka tabletnya dan mulai menjelaskan angka-angka dengan sangat teknis. Syren pun dengan sigap mengeluarkan iPad-nya dan mulai mencatat poin-poin penting. Suasana santai di kafe itu mendadak berubah menjadi serius di bawah kendali Julian yang tampak ingin segera mengakhiri pertemuan ini.
Selama rapat berlangsung, Julian sesekali memberikan instruksi pada Syren dengan cara yang sangat dekat, seolah ingin menunjukkan pada Pak Beni siapa "pemilik" sah dari sekretaris cantik di sampingnya itu.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui