Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.
Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.
Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.
Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: GEMA DALAM KEHAMPAAN
BAB 13: GEMA DALAM KEHAMPAAN
Pagi pertama tanpa kehadiran Arlan di Kota Simla terasa seperti pagi yang mati bagi Vanya. Dunia di luar jendela kamarnya yang kini berterali besi tampak seperti sebuah film bisu yang hitam putih. Tidak ada lagi suara deru motor tua yang ia tunggu-tunggu, tidak ada lagi aroma susu segar yang terbawa angin pagi. Hanya ada kesunyian yang mencekam, seolah-olah seluruh kota sedang berkonspirasi untuk menyembunyikan keberadaan pria yang ia cintai.
Vanya duduk di meja riasnya, namun ia tidak menatap pantulan wajahnya di cermin. Matanya tertuju pada sekotak kecil yang ia sembunyikan di bawah tumpukan kain sari—kotak berisi surat terakhir dari Arlan. Ia telah membaca surat itu ratusan kali sampai ia menghafal setiap lekuk hurufnya.
"Kau berjanji akan kembali, Arlan," bisik Vanya, suaranya nyaris hilang ditelan udara dingin Simla. "Tapi kenapa setiap detik tanpamu terasa seperti satu abad penyiksaan?"
Pintu kamarnya terbuka perlahan. Santi, ibunya, masuk membawa segelas susu hangat dan sepotong roti. Wajah Santi tampak sangat kuyu; ia terjepit di antara rasa takut pada suaminya dan rasa iba pada putrinya.
"Makanlah sedikit, Vanya. Ayahmu sedang bersiap untuk acara peletakan batu pertama hotel barunya hari ini. Dia ingin kau ikut hadir," ucap Santi pelan sambil mengelus rambut Vanya.
Vanya membuang muka. "Aku tidak akan pergi ke tempat yang dibangun di atas penderitaan orang lain, Ibu. Hotel itu berdiri di atas puing-puing rumah Arlan. Menghadirinya sama saja dengan mengkhianati hatiku sendiri."
"Vanya, tolong... jangan buat Ayahmu marah lagi. Dia sudah mengancam akan mengirimmu ke asrama di luar kota jika kau terus membangkang," Santi memohon dengan air mata yang mulai menggenang.
Vanya menatap ibunya, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan amarah yang dingin di mata gadis itu. "Biarkan saja dia mengirimku pergi, Ibu. Setidaknya di luar sana, aku tidak perlu melihat wajah seorang pria yang tega menghancurkan hidup orang lain demi egonya sendiri."
Di ruang tamu, Hendra sedang memeriksa detail rancangan hotelnya dengan penuh kebanggaan. Baginya, kepergian Arlan adalah kemenangan mutlak. Ia merasa telah berhasil membersihkan "kuman" yang mencoba mencemari kemurnian keluarganya.
"Gani, pastikan semua wartawan di Simla datang hari ini," perintah Hendra pada putranya. "Aku ingin dunia tahu bahwa keluarga Kashyap adalah penguasa tunggal di lembah ini. Dan pastikan tidak ada lagi nama 'penjual susu' itu disebut-sebut di pasar atau di jalanan."
Gani tersenyum puas. "Jangan khawatir, Ayah. Arlan sudah hilang ditelan bumi. Tidak ada yang akan ingat padanya dalam satu bulan ke depan."
Namun, di tengah kesombongan mereka, Rayhan datang berkunjung. Kali ini ia tidak mengenakan seragam dinasnya, hanya pakaian kasual yang rapi namun tetap menunjukkan wibawanya. Rayhan membawa sebuah buket bunga lili putih, bunga kegemaran Vanya yang tidak pernah diketahui oleh Hendra.
"Selamat pagi, Tuan Hendra," sapa Rayhan sopan.
"Ah, Rayhan! Selamat datang! Kau datang tepat waktu. Kami akan berangkat ke lokasi proyek. Vanya akan segera turun," jawab Hendra penuh semangat.
Rayhan hanya tersenyum tipis. Matanya melirik ke arah jendela lantai atas yang dipasangi besi. "Tuan Hendra, apakah memasang besi di jendela adalah tren baru di Simla? Atau Anda sedang memelihara burung langka yang takut terbang?"
Hendra tertegun sejenak, wajahnya sedikit kaku. "Ah, itu... hanya untuk keamanan tambahan. Simla sedang marak pencurian belakangan ini."
Rayhan tidak bertanya lebih lanjut, namun ia tahu Hendra sedang berbohong. Baginya, Hendra bukan sekadar calon mertua, melainkan sebuah teka-teki yang penuh dengan kegelapan.
Acara peletakan batu pertama dilakukan di sebuah lahan luas yang dulunya adalah peternakan kecil milik keluarga Arlan. Tanah itu kini sudah rata dengan tanah, hanya menyisakan debu dan kenangan. Vanya dipaksa berdiri di samping Rayhan di bawah terik matahari, dikelilingi oleh kilatan kamera wartawan.
Hendra memberikan pidato yang sangat agung tentang kemajuan dan kesejahteraan Simla. Namun, bagi Vanya, setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya terdengar seperti suara gagak yang mengumumkan kematian.
Tiba-tiba, seorang pria tua yang merupakan mantan pekerja Arlan muncul di antara kerumunan. Ia berteriak dengan suara serak. "Tuan Hendra! Anda boleh membangun gedung di sini, tapi Anda tidak bisa menghapus berkah dari tanah ini! Sapi-sapi Arlan adalah nyawa bagi kami, dan Anda telah membunuh nyawa itu!"
Penjaga keamanan segera menyeret pria tua itu menjauh. Hendra hanya tersenyum tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Vanya tidak bisa menahan diri lagi. Ia melepaskan genggaman tangan Hendra dan berlari menghampiri pria tua itu.
"Bapak! Bapak tidak apa-apa?" tanya Vanya cemas sambil membantu pria itu berdiri.
"Nona Vanya... tolong katakan pada Arlan jika dia kembali... kami merindukannya," ucap pria itu dengan mata berkaca-kaca sebelum akhirnya dibawa pergi oleh pengawal.
Vanya berdiri di tengah kerumunan, menatap ayahnya dengan tatapan yang sangat tajam. "Kau lihat, Ayah? Kau bisa membeli tanah ini, tapi kau tidak bisa membeli rasa hormat dari orang-orang. Mereka mencintai Arlan, dan mereka membencimu."
Hendra terdiam, wajahnya merah padam karena dipermalukan di depan umum. Ia segera memberi isyarat pada wartawan untuk berhenti mengambil gambar. "Bawa Vanya pulang sekarang!" perintahnya pada Gani.
Malam harinya, Hendra masuk ke kamar Vanya. Ia tidak lagi marah dengan cara meledak-ledak. Ia membawa sebuah proyektor kecil dan memasang sebuah video di dinding kamar Vanya.
"Kau pikir Arlan mencintaimu, Vanya?" tanya Hendra dengan nada yang sangat licik. "Lihatlah ini."
Video itu memperlihatkan Arlan di stasiun kereta api (hasil rekaman mata-mata Hendra). Di video itu, Arlan tampak menerima sebuah tas kecil berisi uang tambahan dari Gani sebelum naik ke kereta. Video itu telah diedit sedemikian rupa sehingga Arlan tampak tertawa dan menjabat tangan Gani dengan akrab.
"Dia mengambil uang terakhir dariku, Vanya. Dia setuju untuk tidak pernah menghubungimu lagi demi modal usahanya di Delhi. Pria yang kau puja itu... dia baru saja menjual cintamu untuk tiket keberuntungannya sendiri," bohong Hendra dengan wajah tanpa dosa.
Vanya menatap video itu dengan tubuh gemetar. "Tidak... itu tidak mungkin. Arlan tidak akan melakukannya."
"Uang bisa mengubah siapa saja, Nak. Apalagi pria yang selama hidupnya tidak pernah melihat warna uang sebanyak itu. Tidurlah, Vanya. Sadarlah bahwa hanya keluargamu yang benar-benar menyayangimu."
Hendra keluar dan mengunci pintu. Di dalam kegelapan, Vanya jatuh terduduk. Video itu terus berputar di kepalanya. Logikanya berkata itu adalah jebakan, namun hatinya yang sedang rapuh mulai diserang oleh keraguan.
"Arlan... tolong katakan padaku itu tidak benar," isak Vanya sambil memeluk lututnya.
Di kejauhan, di sebuah sudut kumuh Kota Delhi, Arlan sedang tidur di emperan toko, menggunakan tas ranselnya sebagai bantal. Ia kedinginan, ia lapar, namun ia memegang sebuah kalung kecil milik Vanya. Ia tidak tahu bahwa di Simla, cintanya sedang dihancurkan oleh fitnah yang keji.