NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Lin Yun

Fajar baru saja menyingkap tirai malam, ketika cahaya keemasan mentari menembus sela-sela awan dan menyinari hamparan bumi yang luas. Di dalam Kediaman Klan Lin, suasana yang semula hening seketika berubah menjadi lautan kegembiraan dan hiruk-pikuk. Angin pagi yang berembus lembut seolah membawa gema harapan, menyelimuti seluruh halaman besar keluarga itu dengan aura semarak yang membuncah.

Hari ini adalah hari besar.

Hari perbandingan klan—perhelatan tahunan yang bukan sekadar ajang unjuk kemampuan, tetapi juga medan penentuan masa depan generasi muda. Siapa yang bersinar, namanya akan terukir dalam ingatan para tetua; siapa yang terjatuh, akan kembali berlatih dalam sunyi demi membalas malu.

Di bawah tatapan puluhan pasang mata dari kalangan tamu dan anggota keluarga, Tetua Agung Klan Lin, Lin Zhentian, berdiri perlahan dari kursinya. Posturnya tegap meski usia telah menorehkan jejak pada wajahnya. Ia menggenggam kedua tangan dan memberi hormat ke arah bangku kehormatan, lalu tertawa lantang.

“Hari ini adalah hari perbandingan Klan Lin kami. Terima kasih atas kehadiran kalian semua untuk memeriahkan acara ini. Yang hadir di sini sebagian besar adalah wajah-wajah lama, sahabat dan kenalan. Maka orang tua ini tidak akan bertele-tele. Kita langsung saja memasuki pokok acara.”

Suara Lin Zhentian bergema mantap, penuh wibawa.

Setelah kata-kata itu terucap, pandangannya beralih kepada Lin Ken yang berdiri di sampingnya. Lin Ken tersenyum tipis dan mengangguk, lalu melangkah ke tengah aula latihan yang luas. Dari dalam lengan bajunya, ia mengeluarkan sebuah tabung bambu, di dalamnya tertancap banyak batang undian.

“Seperti biasa, lawan ditentukan melalui undian. Semua yang akan mengikuti perbandingan klan, silakan maju untuk mengambil undian.”

Begitu suara itu terdengar, puluhan pemuda dan remaja melangkah maju satu per satu. Ada yang wajahnya tegang, ada pula yang memancarkan kepercayaan diri. Mereka mengulurkan tangan, mengambil satu batang bambu, lalu mundur ke tempat masing-masing.

Di antara mereka, sosok Lin Zhantian berdiri tenang.

Tatapannya dalam, napasnya teratur. Setelah melewati berbagai cobaan dan latihan keras, terutama setelah menembus tingkat keempat Penempaan Tubuh dan mempelajari teknik-teknik yang bukan milik pemuda biasa, ia tidak lagi memiliki keraguan seperti dulu. Namun ia juga tidak lengah—karena di medan ini, satu kelengahan kecil bisa menjadi awal kehancuran.

Setelah semua undian diambil, Lin Ken berkata, “Di sini ada lima arena. Yang mendapatkan nomor satu hingga lima, silakan naik lebih dulu.”

Lin Zhantian melirik batang bambu di tangannya. Dengan kapur putih tertulis angka “Empat”.

Tanpa ragu, ia melangkah menuju arena batu nomor empat. Permukaan arena itu keras dan dingin, memantulkan cahaya matahari pagi.

Namun belum lama ia berdiri di sana, terdengar suara langkah berat dan terengah-engah. Sesosok tubuh bulat, hampir seperti bola daging yang berjalan, memanjat ke atas arena.

Lin Zhantian memutar bola matanya pelan.

“Lin Changqiang… bagaimana bisa kau?” ujarnya dengan nada tak berdaya.

Lin Changqiang—pemuda bertubuh tambun dengan wajah polos—menarik napas panjang. “Aku juga tidak ingin, tapi undian sudah menentukan…”

Sejak Lin Zhantian mengalahkan Lin Shan beberapa waktu lalu, Lin Changqiang sadar bahwa kekuatan Lin Zhantian telah berubah drastis. Jika bertarung sungguhan, peluangnya untuk menang sangat tipis. Namun mundur bukan pilihan; ayahnya tidak akan membiarkan ia pulang tanpa bertanding.

Lin Zhantian menggeleng ringan, dengan sedikit simpati. “Tenang saja. Aku akan menahan diri.”

Lin Changqiang terdiam, tatapannya dipenuhi keluhan tanpa suara.

Tak lama kemudian, suara Lin Ken menggema, “Perbandingan dimulai!”

Seperti bara yang disiram minyak, suasana aula latihan langsung meledak. Sorak-sorai, teriakan, dan suara benturan mulai terdengar dari lima arena sekaligus. Sosok-sosok muda saling menerjang, memperlihatkan hasil latihan berbulan-bulan.

Di arena empat, Lin Changqiang menarik napas panjang, lalu tertawa kecil. “Dua bulan lalu aku sudah menembus tingkat keempat Penempaan Tubuh. Kau harus berhati-hati, Lin Zhantian!”

Tubuhnya bergetar. Lemak yang semula bergelombang kini tampak mengeras, seperti lapisan pelindung alami. Dengan satu hentakan kaki, ia melesat maju, tubuhnya menyerupai peluru daging yang meluncur ganas.

Melihat pemandangan itu, Lin Zhantian hampir tertawa. Namun sebelum senyum itu sempat melebar, Lin Changqiang telah mendekat. Tubuhnya berhenti mendadak, dan kaki kanannya yang tebal menyapu dengan kecepatan tinggi.

“Teknik tingkat satu—Kaki Pemecah Batu?” gumam Lin Zhantian dalam hati.

Angin dari sapuan kaki itu cukup kuat, membuktikan bahwa teknik tersebut telah dilatih dengan sungguh-sungguh. Namun di mata Lin Zhantian yang telah ditempa pengalaman dan pemahaman mendalam tentang aliran tenaga, serangan itu masih menyimpan celah.

Dengan gerakan ringan, ia menggeser tubuhnya sedikit. Tangannya terulur luwes, memutar melewati lintasan kaki lawan, lalu menepuk bagian paha dengan sudut miring yang tepat.

Plak!

Suara benturan tidak keras, namun efeknya nyata.

“Ahhh!”

Lin Changqiang menjerit. Titik yang ditepuk Lin Zhantian adalah pusat penyebaran tenaga, tempat kekuatan paling terpecah. Sekali ditekan, keseimbangannya hancur. Tubuhnya limbung, lalu jatuh terduduk dengan keras di atas arena.

Lin Zhantian mengangkat tangannya lagi, seolah hendak menurunkan pukulan pamungkas.

“Aku menyerah! Menyerah!” teriak Lin Changqiang sambil menutup kepala.

Tawa kecil terdengar dari penonton.

“Lin Zhantian menang,” umum Lin Ken sambil tersenyum tipis.

Namun di balik senyumnya, terdapat secercah keterkejutan. Lin Changqiang bukanlah yang terbaik di klan, tetapi ia sudah mencapai tingkat keempat Penempaan Tubuh. Tepukan Lin Zhantian tadi tampak sederhana, namun sangat presisi—tepat di titik di mana tenaga paling lemah. Jika itu bukan kebetulan, maka penglihatan dan pemahaman Lin Zhantian terhadap teknik bertarung jauh melampaui usianya.

Beberapa pasang mata mulai memperhatikan Lin Zhantian.

Namun bagi kebanyakan orang, kemenangan atas Lin Changqiang belum cukup untuk mengguncang hati mereka.

Lin Zhantian turun dari arena dengan tenang, tatapannya beralih ke arena lain. Di sana, seorang pemuda berpakaian putih berdiri dengan sikap santai. Hanya dengan satu telapak tangan, ia menghantam lawannya hingga terlempar keluar arena.

Lin Hong.

Pemuda itu bahkan tidak terlihat berkeringat.

Setelah menjatuhkan lawannya, Lin Hong mengangkat kepala dan merasakan tatapan Lin Zhantian. Pandangan mereka bertemu di udara.

Di sudut bibir Lin Hong, terukir senyum dingin.

Senyum itu bukan sekadar ejekan—melainkan deklarasi tanpa suara.

Di antara generasi muda Klan Lin, Lin Hong adalah salah satu yang paling bersinar. Ia telah melangkah lebih jauh, menembus batas yang belum dicapai banyak orang. Di matanya, Lin Zhantian mungkin telah berubah, namun tetap belum cukup.

Sementara itu, di bangku kehormatan, beberapa tetua mulai berbicara pelan.

“Anak itu… kemajuannya pesat.”

“Namun lawan sebenarnya belum muncul.”

Angin pagi berembus melewati arena, mengangkat debu tipis yang berkilau di bawah cahaya matahari. Perbandingan klan baru saja dimulai, namun arus bawah yang tak kasatmata telah mulai bergejolak.

Di tengah keramaian, Lin Zhantian berdiri dengan wajah tenang.

Ia tahu—pertarungan sesungguhnya belum tiba.

Hari ini bukan hanya tentang kemenangan di atas arena batu.

Hari ini adalah awal dari langkahnya menuju langit yang lebih tinggi.

Dan di balik senyum dingin Lin Hong, serta bisikan para tetua, takdir perlahan mulai menenun benang-benang baru yang kelak akan mengguncang seluruh Klan Lin.

Di kejauhan, awan bergerak perlahan.

Seolah surga sendiri tengah menyaksikan kebangkitan seorang pemuda bernama Lin Zhantian.

Lin Zhantian melirik sekilas ke arah Lin Hong yang tersenyum dingin itu, namun tidak menanggapinya. Tatapannya tenang, setenang permukaan danau yang tak terusik angin. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik Lin Changqiang berdiri, menepuk debu di bahunya, lalu melangkah turun dari arena batu.

Sorak-sorai masih menggema di aula latihan, namun bagi Lin Zhantian, kemenangan itu hanyalah langkah kecil—bahkan terlalu kecil untuk disebut sebagai ujian.

 

Putaran pertama tidak mempertemukannya dengan lawan yang benar-benar menyulitkan. Setelah mengalahkan Lin Changqiang, ia kembali bertarung sekali lagi. Lawannya kali ini juga hanya berada di tingkat keempat Penempaan Tubuh, dengan fondasi yang bahkan lebih rapuh. Pertarungan itu berakhir dalam beberapa jurus singkat. Lin Zhantian tidak perlu memperlihatkan teknik yang terlalu mencolok; ia hanya menggunakan dasar-dasar pukulan dan langkah kaki yang stabil untuk meruntuhkan pertahanan lawannya.

Dengan demikian, ia melangkah masuk ke sepuluh besar dengan tenang—tanpa gemuruh, tanpa sensasi.

Karena dua pertarungan itu terbilang mudah, dan tidak ada jurus mencolok yang diperlihatkan, sebagian besar penonton beranggapan bahwa keberhasilan Lin Zhantian lebih banyak disebabkan oleh keberuntungan dalam undian.

“Anak itu beruntung saja.”

“Belum bertemu lawan yang benar-benar kuat.”

Bisikan-bisikan semacam itu mengalir di antara kerumunan.

Namun dibandingkan dengan ketenangan Lin Zhantian, dua nama lain benar-benar menjadi pusat perhatian aula latihan: Lin Hong dan Lin Xia.

Sejak awal hingga kini, keduanya hanya membutuhkan satu jurus untuk menjatuhkan setiap lawan yang mereka hadapi.

Satu jurus.

Tidak lebih.

Setiap kali mereka bergerak, bayangan tubuh mereka melintas seperti kilat. Telapak tangan atau kaki yang dilayangkan mengandung tenaga yang padat dan berat. Lawan-lawan mereka bahkan tidak sempat menunjukkan kemampuan penuh sebelum terpental keluar arena.

Kemenangan yang begitu dominan membuat semua orang memahami satu hal—

Kekuatan Lin Hong dan Lin Xia telah jauh melampaui mayoritas generasi muda Klan Lin.

Di bangku penonton, Lin Xiao—ayah Lin Zhantian—menyaksikan dua pertarungan Lin Hong dengan tatapan serius. Setelah melihat teknik yang digunakan, ia mengangguk perlahan.

“Lin Hong itu… kemungkinan besar benar-benar telah mencapai tingkat ketujuh Penempaan Tubuh,” ucapnya pelan.

Mendengar itu, wajah kecil Qing Tan di sampingnya langsung dipenuhi kecemasan. Ia masih mengingat dengan jelas ucapan Lin Hong beberapa waktu lalu—bahwa jika ia meraih hasil gemilang dalam perbandingan klan kali ini, ia akan menggunakan prestasi itu untuk meminta kakek menyetujui pernikahan.

Jika saat itu ayah menolak…

Qing Tan menggigit bibirnya.

Hubungan antara ayah dan kakek yang telah lama retak bisa saja kembali memburuk.

Melihat raut khawatir di wajahnya, Lin Zhantian tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangan dan menepuk ringan lengan Qing Tan.

“Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa.”

Suaranya tidak keras, namun mengandung keyakinan yang anehnya menenangkan hati.

Qing Tan mengangguk kecil. “Entah siapa lawan Kakak Zhantian berikutnya… Jika menang lagi, Kakak akan masuk lima besar.”

Lin Zhantian tersenyum tipis.

Di dalam hatinya, ia benar-benar tidak terlalu peduli siapa lawannya. Dengan kekuatan yang kini ia miliki—ditambah pengalaman bertarung dan pemahaman terhadap aliran tenaga—ia memiliki keyakinan untuk menghadapi siapa pun di antara generasi muda Klan Lin.

Matanya sedikit menyipit.

Justru ia berharap bertemu lawan yang benar-benar kuat.

Karena hanya dalam tekanan, baja sejati dapat ditempa.

Di tengah arena, Lin Ken mengangkat tangannya. “Putaran kedua dimulai. Lin Zhantian, bersiaplah.”

Kali ini, hanya satu arena yang digunakan—arena batu besar di tengah aula. Karena sudah memasuki seleksi sepuluh besar, setiap pertandingan akan lebih menarik dan layak disaksikan secara penuh.

Mendengar panggilan itu, Lin Zhantian menarik napas perlahan. Ia melangkah menuju arena pusat, langkahnya mantap tanpa ragu.

Di belakangnya, Qing Tan mengepalkan tangan kecilnya. “Kakak Zhantian, semangat!”

Banyak pasang mata mengikuti langkahnya.

Di antara generasi muda Klan Lin, nama Lin Zhantian memang belum seterang Lin Xia atau Lin Hong. Namun ia memiliki satu bayangan besar yang selalu menyertainya—

Ayahnya.

Dahulu, dalam perbandingan klan yang sama, Lin Xiao pernah menyapu semua lawan dengan mudah dan merebut posisi pertama tanpa cela. Bakatnya kala itu begitu memukau hingga dianggap sebagai harapan masa depan keluarga.

Kini, putranya berdiri di arena yang sama.

Pertanyaan diam-diam muncul di hati banyak orang—

Seberapa banyak warisan kejayaan itu yang mengalir dalam darah Lin Zhantian?

Di bangku kehormatan, Lin Zhentian dan para tetua lainnya memusatkan perhatian pada sosok pemuda itu. Rasa ingin tahu mereka pun terbangkitkan.

Di bawah sorotan tatapan yang tak terhitung jumlahnya, Lin Zhantian naik ke atas arena batu.

Pada saat itu, Lin Ken melirik daftar pertandingan di tangannya. Alisnya sedikit berkerut. Ia terdiam sesaat, seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya menyebutkan nama lawan.

“Lawan Lin Zhantian… Lin Yun.”

Begitu nama itu terdengar, suasana aula latihan seketika berdesir.

Beberapa pemuda bahkan menunjukkan ekspresi simpati ke arah Lin Zhantian.

Lin Zhantian sendiri sedikit tertegun.

Lin Yun.

Nama itu bukanlah nama sembarangan.

Di antara generasi muda Klan Lin, Lin Yun termasuk yang paling menonjol. Kedua orang tuanya adalah anggota klan, namun bertahun-tahun lalu tewas di tangan perampok. Sejak kecil, ia tumbuh dalam kesunyian dan jarang berbicara. Wajahnya sering kali datar tanpa ekspresi, namun bakatnya luar biasa.

Dua bulan lalu, beredar kabar bahwa ia telah berhasil memadatkan Benih Yuan di dalam tubuhnya—menjadi orang ketiga setelah Lin Xia dan Lin Hong yang melangkah ke tingkat keenam Penempaan Tubuh.

Tingkat keenam.

Itu bukan lagi sekadar jarak tipis.

Itu adalah jurang antara kekuatan biasa dan kekuatan yang mulai menyentuh esensi sejati energi.

Bahkan aura yang dipancarkan saja sudah berbeda.

“Lawan ini… benar-benar merepotkan,” gumam beberapa orang.

Namun di tengah riak kegelisahan yang mengalir di antara penonton, Lin Zhantian justru menjilat bibirnya pelan.

Tatapannya yang semula tenang kini berubah—menjadi membara.

Inilah yang ia tunggu.

Lawan yang cukup kuat untuk memaksanya mengerahkan seluruh kemampuan.

Lawan yang dapat menguji sejauh mana fondasi yang telah ia bangun.

Angin di aula latihan terasa sedikit lebih berat.

Dari sisi lain arena, seorang pemuda melangkah perlahan naik ke atas panggung batu. Wajahnya pucat dan tenang, mata hitamnya dalam seperti jurang tak berdasar. Tidak ada senyum, tidak ada emosi.

Hanya keheningan yang dingin.

Lin Yun berdiri berhadapan dengan Lin Zhantian.

Dua pemuda.

Dua aura.

Satu arena batu yang menjadi saksi.

Langit di atas aula latihan seolah menahan napasnya.

Pertempuran sesungguhnya—baru saja akan dimulai.

1
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!