Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reaksi Sang King & Queen
Matahari musim semi di Moskow memberikan kehangatan yang jarang terjadi, menyinari lorong-lorong batu universitas yang megah.
Di taman belakang kampus yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk mahasiswa lain, Sky dan Ozora duduk di bawah pohon ek besar yang daunnya mulai menghijau.
Sky duduk bersandar pada batang pohon, sementara Ozora duduk di antara kedua kaki pria itu, menyandarkan punggungnya pada dada bidang Sky. Sebuah buku hukum terbuka di pangkuan Ozora, namun sejak sepuluh menit yang lalu, tidak ada satu halaman pun yang dibalik.
Sky sedang sibuk memainkan helai rambut Ozora, melilitkannya di jari telunjuknya, lalu mencium aromanya yang menenangkan. "Kau tahu, Ozora... aku bisa duduk seperti ini selamanya," gumam Sky dengan suara rendah yang menggetarkan dada yang menempel di punggung Ozora.
Ozora mendongak sedikit, memberikan senyum tipis yang tampak sangat tulus. "Lalu bagaimana dengan kelas Profesor Dimitri? Dia tidak akan suka jika pewaris Remington bolos hanya untuk duduk di bawah pohon."
Sky terkekeh pelan, tawa yang jarang ia perlihatkan pada dunia luar. Ia merunduk, mengecup puncak kepala Ozora dengan lembut. "Biarkan saja. Lagipula, aku sudah menguasai materinya. Dan aku lebih suka mempelajari setiap inci dari dirimu daripada pasal-pasal membosankan itu."
Ozora meletakkan tangannya di atas tangan Sky yang melingkar di pinggangnya. Ia mengusap punggung tangan Sky dengan ibu jarinya, mengikuti alur urat-urat tangan pria itu dengan penuh perasaan.
"Sky..." panggil Ozora pelan.
"Hmm?"
"Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk kemarin... di depan orang tuamu," ucap Ozora sambil membalikkan tubuhnya sedikit agar bisa menatap mata biru es Sky yang kini tampak sangat hangat.
Sky menangkup wajah Ozora dengan satu tangan, ibu jarinya mengusap bibir bawah Ozora yang kemerahan. Tatapannya mendalam, seolah ia sedang mencoba membaca setiap pikiran di balik mata indah itu.
"Jangan berterima kasih untuk sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milikmu," balas Sky. Ia kemudian menarik Ozora mendekat, mencium keningnya lama sekali.
"Di dunia ini, banyak orang yang ingin memilikiku karena namaku. Tapi kau... kau melihatku saat aku bahkan tidak melihat diriku sendiri. Itu jauh lebih berharga dari apa pun."
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara siulan yang sangat dikenal. Phoenix berjalan melewati jalan setapak tak jauh dari mereka, melambaikan tangan dengan wajah jahil.
"Oi! Remington! Cari kamar kalau ingin berduaan! Ini institusi pendidikan, bukan lokasi syuting drama romantis!" teriak Phoenix sambil tertawa.
Sky hanya mengangkat tangan tengahnya tanpa mengalihkan pandangan dari Ozora, membuat Ozora tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang membuat jantung Sky berdegup kencang.
"Abaikan dia," ucap Sky sambil kembali merengkuh Ozora dalam pelukannya. "Dia hanya iri karena tidak punya bidadari yang bisa ia peluk di bawah pohon."
Ozora menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sky, menghirup aroma parfum maskulin yang sudah menjadi candunya. Di saat seperti ini, segala rencana dan manipulasi seolah memudar, menyisakan dua orang yang tampaknya benar-benar saling memuja.
"Aku menyukaimu, Sky. Sangat menyukaimu," bisik Ozora tulus.
"Aku tahu, Sayang. Aku tahu," sahut Sky dengan kilat mata yang sulit diartikan, sebuah campuran antara cinta yang dalam dan rasa memiliki yang absolut
Suasana romantis yang tenang itu berlanjut hingga mereka memutuskan untuk meninggalkan kampus dengan mobil sport mewah Sky. Sky mengemudi dengan santai, sementara tangan kirinya tidak lepas menggenggam jemari Ozora di atas konsol tengah.
Namun, drama selalu punya cara untuk muncul di tempat yang paling tidak terduga.
Saat mobil mereka berhenti di sebuah lampu merah yang cukup lama di pusat kota Moskow, sebuah mobil convertible merah menyala berhenti tepat di samping mereka.
Di dalamnya duduk tiga orang wanita yang tampak seperti mahasiswi dari universitas seni terdekat, dengan musik yang berdentum cukup keras.
Salah satu wanita yang duduk di kursi penumpang, seorang gadis dengan rambut pirang mencolok dan gaya yang sangat berani tiba-tiba menurunkan kacamata hitamnya. Matanya terbelalak saat melihat ke arah kursi pengemudi mobil Sky.
Tanpa mempedulikan keberadaan Ozora yang duduk tepat di samping Sky, gadis itu justru mencondongkan tubuhnya keluar jendela mobilnya.
"Ya Tuhan!" seru gadis itu dengan suara yang cukup keras hingga terdengar melewati kaca jendela Sky yang sedikit terbuka.
"Hey! Kamu yang menyetir! Kamu ganteng banget! Sumpah, aku belum pernah lihat pria sepertimu!"
Teman-temannya di dalam mobil itu mulai bersorak dan tertawa, ikut menggoda. "Ajak dia kenalan, Luna! Minta nomor teleponnya!"
Gadis bernama Luna itu tertawa genit, menatap Sky dengan binar kekaguman yang jujur, jatuh cinta pada pandangan pertama hanya karena profil samping wajah Sky yang tegas. "Hey, Ganteng! Mau tukar nomor telepon? Atau aku harus mengikutimu sampai rumah?"
Sky bahkan tidak menoleh. Ekspresinya tetap dingin, matanya lurus menatap lampu merah, seolah-olah suara gadis di sampingnya hanyalah angin lalu yang mengganggu.
Namun, cengkeraman tangannya pada jemari Ozora sedikit mengerat, sebuah tanda bahwa ia menyadari situasi ini dan ingin melihat bagaimana reaksi kekasih kecilnya.
Ozora, di sisi lain, perlahan menoleh ke arah mobil di samping mereka. Wajahnya tetap tenang, bahkan ia memberikan senyum tipis yang sangat sopan. Namun, di balik mata indahnya, ada badai yang mulai terbentuk.
"Berani sekali dia memujinya di depanku? Gadis malang. Dia tidak tahu bahwa pria ini sudah ditandai, jiwa dan raganya."
Lampu berubah hijau.
Sebelum Sky menginjak gas, Ozora tiba-tiba mendekat ke arah Sky, menarik kerah kemeja Sky dengan lembut namun pasti, dan mendaratkan sebuah ciuman yang sangat posesif di pipi Sky, tepat di hadapan gadis-gadis itu.
"Jalanlah, Sayang. Kasihan mereka, nanti mereka semakin telat ke tempat tujuan kalau terus memperhatikanku dan milikku," ucap Ozora dengan suara yang cukup keras agar terdengar ke sebelah, dibarengi dengan tatapan mata yang mendadak sangat dingin ke arah Luna.
Luna dan teman-temannya seketika terdiam. Senyum genit mereka hilang, digantikan oleh rasa kikuk saat melihat tatapan mematikan dari Ozora yang selama ini terlihat polos.
Sky hanya menyeringai tipis, sangat menikmati cara Ozora mengklaim dirinya. Ia menginjak gas dalam-dalam, meninggalkan mobil merah itu dalam kepulan asap tipis.
"Kau cemburu, hm?" tanya Sky sambil melirik Ozora dengan nada menggoda saat mobil melaju kencang.
"Aku tidak cemburu pada orang yang tidak punya peluang, Sky," jawab Ozora sambil kembali bersandar dengan tenang, seolah-olah baru saja mengusir seekor lalat pengganggu. "Aku hanya tidak suka milikku dikomentari sembarangan."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰