Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MUARA PENANTIAN.
Kabut tipis masih menyelimuti permukaan sungai saat cahaya keemasan mulai menembus rimbunnya dedaunan hutan. Ariya dan tim kecilnya memutuskan untuk mengawali hari dengan mencari tenaga tambahan dari alam. Mereka berhasil menangkap beberapa ekor ikan sungai yang cukup besar. Meski ransel mereka dipenuhi mie instan dan roti, aroma ikan bakar di atas bara api pagi itu memberikan semangat yang berbeda.
"Makan yang banyak, Pak Dokter. Perjalanan kita hari ini mungkin akan lebih jauh," ujar salah satu anggota tim SAR sambil menyodorkan sepotong ikan.
Ariya tersenyum tipis, meski pikirannya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok Arumi. Setelah sarapan, mereka harus berpisah dengan dua rekan lainnya yang bertugas mengevakuasi korban yang mereka temukan kemarin menuju posko utama. Kini, tim mereka hanya tersisa enam orang.
Mereka mulai menyisir kembali tepian sungai yang semakin landai. Saat melangkah di atas bebatuan licin, tiba-tiba dada Ariya berdesir hebat. Jantungnya berdegup dengan irama yang tak beraturan, seolah memberikan sinyal bahwa pencariannya akan segera berakhir.
Ya Allah, jika desiran ini adalah pertanda darimu, maka pertemukanlah hamba dengan istri hamba, batin Ariya dalam sujud hatinya.
Tak jauh dari belokan sungai di depan sana, tampak dua sosok wanita sedang berjongkok di atas batu datar di pinggiran air. Yang satu terlihat sudah sepuh dengan kain sarung melilit kepala, sementara yang satunya lagi masih muda dengan postur tubuh yang sangat ia kenali. Jantung Ariya seakan ingin melompat keluar. Postur punggung itu, gerakan tangannya saat memeras kain, semuanya begitu identik dengan wanita yang selama ini menghantui mimpinya.
"Arumi!" teriak Ariya dengan suara yang pecah oleh kerinduan.
Kedua wanita itu menoleh secara serentak. Begitu melihat wajah wanita muda itu, air mata Ariya jatuh tanpa bisa dibendung lagi. Itu benar-benar Arumi. Wajah yang selama ini ia lukai dengan kata-kata dan tamparan, kini menatapnya dengan pandangan bingung namun tetap cantik alami tanpa riasan.
"Arumi! Ini aku!" teriaknya sekali lagi.
Karena tidak sabar dan didorong oleh gejolak emosi yang meluap, Ariya langsung meloncat ke dalam aliran sungai untuk menyeberang. Tim SAR berteriak memperingatkan, begitu pula sang nenek di pinggir sungai yang ikut panik.
"Jangan ke sana, Nak! Di situ airnya sangat dalam dan arusnya kuat!" teriak nenek itu histeris.
Ariya tidak mempedulikan peringatan itu. Ia berenang sekuat tenaga, mengabaikan fakta bahwa kakinya baru saja pulih dari operasi besar. Namun, malapetaka kecil terjadi di tengah sungai. Kaki kanan Ariya tiba-tiba mengalami kram hebat. Ia mulai kesulitan bernapas dan tubuhnya terseret arus hingga hampir tenggelam.
Beruntung, tim SAR bergerak dengan kecepatan kilat. Mereka segera menarik Ariya dan membawanya ke tepian dengan selamat. Arumi, yang masih memegang cucian, menghampiri kerumunan itu dengan wajah cemas yang polos. Begitu kaki Ariya menyentuh daratan, ia langsung bangkit dan memeluk Arumi dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi menjadi buih sungai.
"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih," bisik Ariya berkali-kali di bahu Arumi.
"Kek! Kakek! Cepat ke sini! Ada orang jahat yang mau mengganggu Ayu!" teriak nenek memanggil suaminya.
Seorang kakek berlari keluar dari gubuk dengan membawa parang di tangan, wajahnya penuh kewaspadaan. Namun, tim SAR segera merentangkan tangan untuk mencegah keributan lebih lanjut.
"Tunggu, Kek! Tolong tenang! Saya bukan orang jahat. Wanita ini adalah istri saya," ujar Ariya sambil melepaskan pelukannya perlahan.
Kakek dan nenek saling berpandangan dengan ragu. Sementara itu, Arumi menatap Ariya dengan dahi berkerut. "Istri? Maaf, tapi saya benar-benar tidak mengenal Anda."
Ariya tersenyum pedih mendengar kalimat itu, namun ia sudah menyiapkan segalanya. Ia memberi isyarat kepada tim SAR untuk mengambil tas ranselnya. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sebuah amplop plastik berisi buku nikah dan beberapa lembar foto pernikahan mereka.
"Lihat ini, Kek, Nek. Ini bukti bahwa kami adalah suami istri yang sah. Nama aslinya adalah Arumi, dia seorang dokter dari Jakarta yang hanyut saat bertugas membantu korban bencana di hulu sana," jelas Ariya sambil memperlihatkan foto-foto itu.
Melihat bukti yang tak terbantahkan, sang nenek akhirnya luluh. Ia menyuruh mereka semua masuk ke dalam gubuk sederhana itu. Di sana, Ariya menceritakan segalanya, termasuk penyesalannya dan kondisi kakinya yang sempat lumpuh sehingga ia terlambat datang menjemput.
"Maafkan aku, Arumi. Aku terlambat mencarimu," ujar Ariya sambil menatap mata istrinya. Arumi hanya membalas dengan anggukan kaku karena ingatannya masih tertutup kabut tebal.
Kakek yang awalnya curiga kini mulai melunak. Ia mengajak Ariya duduk di teras bambu sambil memandangi aliran sungai yang tenang. "Jadi, Nak Ariya ini seorang dokter juga? Syukurlah Ayu ditemukan oleh orang yang tepat."
"Iya, Kek. Terima kasih sudah menjaga istri saya dengan sangat baik," jawab Ariya tulus.
Kakek tersenyum bijak. Ia mulai bercerita bahwa ia dan nenek sebenarnya berasal dari Jawa. Mereka kawin lari puluhan tahun lalu karena cinta mereka tidak direstui keluarga sang nenek, hingga akhirnya mereka terdampar dan menetap di hutan ini.
"Kami tidak punya anak, tapi kami bahagia karena kami memiliki satu sama lain," tutur kakek. "Melihat Nak Ariya berjuang sejauh ini demi cinta, saya jadi teringat masa muda kami. Walaupun sekarang istrimu belum ingat, percayalah, cinta yang murni akan menemukan jalannya kembali."
Nenek ikut menimpali sambil membawa suguhan teh hangat. "Benar kata kakek. Kunci kebahagiaan itu sederhana, Nak. Saling mengerti, saling menjaga, dan saling menghormati. Kalau ada masalah, selesaikan berdua. Jangan dipendam di hati, karena diam itu bisa menjadi racun yang menghancurkan rumah tangga."
"Dan yang paling penting," sambung kakek dengan nada serius namun lembut, "lakukanlah segala sesuatu karena Allah. Jika kalian mencintai karena Allah, maka cinta itu tidak akan pernah habis meskipun fisik telah menua atau ingatan telah hilang."
Nenek tersenyum manis menatap suaminya. "Sering-seringlah ucapkan kata cinta. Tapi utarakan dengan asma-Nya. Seperti Kakek yang selalu bilang bahwa ia mencintai Nenek karena Allah."
Mendengar itu, sang kakek tanpa ragu mengecup dahi istrinya dengan penuh kasih. Sebuah pemandangan romantis yang begitu sederhana namun sangat dalam maknanya. Arumi yang melihat kemesraan kedua orang tua itu tersenyum kecil, sementara Ariya merasa seperti mendapat pelajaran hidup yang jauh lebih berharga daripada buku kedokteran mana pun.
Ariya diminta untuk menginap semalam lagi di sana. Nenek ingin sekali lagi merasakan tidur di samping "Ayu" sebelum wanita itu dibawa kembali ke dunianya yang asli. Ariya pun meminta tim SAR untuk berkemah di sekitar gubuk.
Malam itu, di bawah temaram lampu minyak, Ariya menatap Arumi yang sedang membantu nenek menyiapkan alas tidur. Ada rasa damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia sadar bahwa perjalanannya untuk memulihkan ingatan Arumi mungkin akan panjang, namun dengan nasihat dari kakek dan nenek, ia kini memiliki bekal yang cukup.
Aku akan mencintaimu karena Allah, Arumi. Hingga kau mengingatku kembali, atau bahkan jika kau tidak pernah ingat sekalipun, aku akan tetap di sisimu. Janji Ariya dalam hati sambil menatap bintang-bintang dari balik jendela gubuk.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra