NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Steve memandang anak itu lagi, lalu mengangguk perlahan. “Aku senang mendengarnya. Sungguh. Dan… aku juga lega. Kupikir kau benar-benar menghilang dari dunia ini.”

Elena terdiam. Senyum di bibirnya rapuh, tapi matanya teguh.

Steve menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata pelan, “Mungkin… sekarang belum terlambat.”

Elena tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, lalu mengajak Leon berdiri. “Maaf, Steve. Kami harus pulang. Senang bertemu denganmu.”

Steve mengangguk, matanya mengikuti mereka hingga langkah Elena dan Leon menghilang di balik pintu kaca.

Dan saat mereka melangkah keluar restoran, Leon menatap Elena dengan bingung. “Siapa itu, Ma?”

Elena tersenyum, menggenggam tangannya erat. “Teman lama, Sayang.”

Ia menoleh sekali ke belakang, memastikan Steve tidak mengikuti.

Karena sebesar apa pun kenangan masa lalu…

Elena hanya ingin satu hal.

Melindungi Leon. Apa pun risikonya.

Elena menuruni tiga anak tangga restoran dengan langkah tergesa, Leon masih menggenggam tangannya erat. Malam itu terasa lebih dingin dari sebelumnya, bukan karena cuaca, melainkan karena detakan jantungnya yang tak menentu. Napasnya memburu, pikirannya berkecamuk. Pertemuan dengan Steve barusan mengguncang kestabilan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Ia menoleh sekali ke belakang. Tidak ada tanda-tanda Steve mengejar. Tapi itu tidak cukup membuatnya tenang.

Dan justru saat ia memalingkan pandangan kembali ke depan.

Bruk.

Tubuhnya menabrak seseorang dengan cukup keras.

Leon terhuyung sedikit, tapi tangan Elena sigap menopangnya.

“Astaga, maaf saya tidak…”

Kata-katanya terhenti.

Sosok pria yang berdiri di depannya terlihat jelas dalam cahaya lampu jalan yang hangat. Tubuh tinggi berbalut mantel gelap, sorot mata tajam yang sangat ia kenali… dan wajah itu.

Alexander.

Elena membeku seketika. Napasnya tercekat. Dunia terasa berhenti berputar. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa pria yang selama ini ia hindari… kini berdiri hanya beberapa langkah darinya. Terlalu dekat.

Alexander memicingkan mata. “Elena?”

Suara itu. Nada yang dalam, tegas, dan dingin seperti biasa. Tapi kali ini, ada nada bingung di dalamnya. Pandangannya turun perlahan, lalu berhenti pada Leon.

Dan detik itu juga, Elena merasakan seluruh tubuhnya menegang.

Ia mundur setengah langkah, hampir secara refleks berdiri sedikit di depan Leon, seolah tubuhnya sendiri adalah perisai.

Alexander menatap bocah kecil itu dengan mata yang mulai menyipit. “Siapa dia?”

Elena menelan ludah. “Anak saya.”

Alexander tidak menjawab langsung. Pandangannya berpindah dari wajah Elena, ke Leon, lalu kembali lagi. Diam. Menganalisis. Menilai.

Dan Elena tahu… Alexander bukan tipe pria yang melewatkan detail sekecil apa pun.

“Apa kau… sudah menikah?” tanyanya perlahan.

Elena memaksakan senyum. “Sudah. Tapi sudah berpisah. Sudah lama.”

“Dan dia anakmu dari pernikahan itu?”

“Ya.”

Kebohongan itu terasa seperti batu tajam di tenggorokannya.

Alexander diam sejenak. Lalu, matanya kembali menatap Leon. “Namanya siapa?”

“Leon,” jawab Elena cepat, mencoba terdengar santai. “Dia baru enam tahun.”

Leon menatap pria itu. Ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan ayah biologisnya, tapi tidak berkata apa-apa. Seperti biasa, ia bersikap biasa. Wajahnya polos, tak menunjukkan kecerdasan tersembunyinya yang luar biasa.

Alexander mengangguk pelan, ekspresinya sulit dibaca. “Kupikir kau tidak punya anak. Karena tidak ada dalam datamu di perusahaan. Kuharap anakmu tidak mempengaruhimu dalam pekerjaan,” ucap Alex datar.

Elena menghela napas, menatapnya dengan mata yang nyaris memohon. “Saya akan pastikan itu, Tuan. Lagipula putraku anak yang pintar.”

Alexander mengangguk sekali lagi, kemudian merapikan kerah mantelnya.

"Paman tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menggangu pekerjaan Mama," ucap Leon di buat sepolos mungkin.

Entah mengapa, ada perasaan aneh ketika Alex menatap Leon. Mendengar ucapannya, Leon hanya mengangguk.

Leon menarik pelan ujung mantel ibunya. “Ma… aku ngantuk.”

Elena langsung membungkuk, mengusap kepala anak itu. “Iya, Sayang. Kita pulang sekarang," ucapnya lembut.

Ia kemudian menatap Alexander untuk terakhir kalinya malam itu. “Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Sampai jumpa besok di kantor.”

Alexander hanya membalas dengan anggukan. “Hati-hati di jalan.”

Tanpa berkata lagi, Elena menarik Leon menjauh. Langkahnya cepat. Nafasnya masih tersengal saat mereka memasuki mobil, dan baru benar-benar bicara setelah mobil Elena menjauh dari pusat kota.

Leon menyender ke bahunya di dalam gerbong yang sepi. “Itu siapa, Ma?”

Elena menatap jendela, melihat pantulan wajahnya yang tampak lebih pucat dari biasanya. “Bos Mama.”

'Dan dia juga papaku,' batin Leon tersenyum.

***

Pagi itu, langit London dibalut kabut tipis. Udara masih membawa sisa embun malam, dingin dan tajam menyusup ke sela-sela mantel. Di luar gedung Thorne Corporation yang menjulang seperti monumen kekuasaan modern, lalu lintas manusia bergerak cepat, namun teratur. Suara langkah sepatu, pintu otomatis yang terbuka-tutup, dan percakapan singkat menjadi latar irama pagi para pekerja.

Elena menapakkan kaki di lantai lobi dengan kepala sedikit tertunduk, matanya tersembunyi di balik kaca mata bening. Rambutnya dikuncir rendah rapi, mengenakan setelan kerja biru muda yang membingkai tubuhnya dengan profesionalisme sederhana. Ia terlihat tenang, namun ada guncangan kecil yang belum benar-benar mengendap sejak semalam.

“Selamat pagi, Nona Elena,” sapa resepsionis dengan senyum sopan.

“Pagi, Matilda,” jawab Elena singkat, mengangguk sopan sebelum menuju lift eksekutif.

Sesampainya di lantai dua puluh lima, tempat ruang kerja Alexander Thorne berada, Elena langsung masuk ke ruangannya sendiri, sebuah ruang sekretaris yang terhubung langsung ke kantor utama CEO. Ia menyalakan komputer, mengecek jadwal hari itu, menyiapkan berkas rapat, serta memeriksa ulang segala permintaan logistik pribadi Alexander.

Pintu kaca besar yang menghubungkan ke kantor utama terbuka otomatis.

Sosok Alexander Thorne melangkah masuk dengan postur sempurna. Jas arang yang membalut tubuhnya tampak dibuat khusus, kemeja putih yang kontras dengan dasi perak pucat menambah kesan tak tersentuh. Pria itu membawa aura yang memerintah tanpa perlu bicara.

“Pagi, Tuan Thorne,” ucap Elena tanpa mengangkat wajah.

Alexander hanya mengangguk, berjalan melewatinya dan masuk ke ruang kerjanya. Tapi sebelum pintu menutup, suara beratnya terdengar. “Kopi. Seperti biasa.”

“Segera, Tuan.”

Elena segera beranjak menyiapkan kopi hitam dengan dua sendok krim tanpa gula, seperti kebiasaannya. Ia membawa nampan ke dalam, menaruhnya di meja marmer dekat jendela besar yang menghadap kota. Tapi saat matanya secara tak sengaja menangkap sosok pria itu yang tengah membuka jasnya dan duduk di kursi kerjanya…

...dadanya berdegup tak menentu.

Kenangan malam itu, malam saat Alexander datang ke apartemennya dalam keadaan separuh sadar karena efek obat, datang seperti kilasan sinematik yang terlalu jelas.

Napas berat pria itu, sentuhan yang penuh desakan namun tak kasar, bagaimana tubuh mereka saling menyatu tanpa banyak kata… Elena masih ingat betul. Bahkan aroma kulit pria itu pun belum benar-benar hilang dari ingatannya.

Ia menggeleng cepat. “Astaga, Elena. Fokus.”

“Apakah ada yang salah dengan kopi saya?” tanya suara berat itu, mengoyak lamunannya.

Elena tersentak. “Tidak, Tuan. Sudah saya letakkan di samping jendela.”

Alexander memandangnya sejenak. Lama. Tatapan itu menusuk, membuatnya bertanya-tanya, Apakah dia mengingat sesuatu? Atau setidaknya, merasakan sesuatu yang janggal?

Tapi pria itu hanya mengangguk kecil. “Baik. Hari ini kita punya tiga pertemuan. Pastikan saya tidak melewati waktu makan siang.”

“Saya sudah menyusunnya dalam agenda, Tuan.”

Elena berbalik, namun sebelum pintu tertutup, Alexander kembali bicara.

“Elena.”

Ia menoleh cepat. “Ya, Tuan?”

Alexander menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya tajam, tapi tidak mengancam. “Anakmu… Dia cerdas.”

Nada suaranya datar. Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya yang membuat Elena berhati-hati.

Elena mengangguk perlahan. “Dia memang suka membaca dan belajar sendiri sejak kecil.”

Alexander tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela.

Tapi bagi Elena, cukup satu kalimat itu saja untuk menegaskan sesuatu. Alexander memperhatikan. Dan ia mulai ketakutan.

Segera setelah pintu tertutup, Elena meremas ujung roknya. Wajahnya tetap tenang, tapi hatinya bergolak.

Ia tidak boleh lengah.

Karena satu celah saja… dan Alexander akan tahu semuanya.

Dan lebih dari itu, bahwa ia adalah anak dari pria yang kini duduk di ruangan itu, hanya beberapa meter darinya.

Dan jika hari itu tiba…

Elena tahu ia harus memilih antara bertahan, atau kehilangan segalanya.

Alexander Thorne benar-benar pria yang berbahaya.

1
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!