Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Antara Amarah dan Posesivitas Mutlak
Suara pintu ruang dosen yang tertutup dan terkunci otomatis itu terdengar seperti bunyi dentang lonceng kematian bagi Zea. Di dalam ruangan yang kedap suara itu, Dr. Antares Bagaskara tidak lagi terlihat seperti dosen yang terhormat. Ia melepaskan jasnya, menyampirkannya asal ke kursi, lalu berbalik menatap Zea dengan rahang yang mengeras dan mata yang berkilat tajam.
"Siapa dia?" tanya Antares singkat. Suaranya rendah, bergetar karena emosi yang tertahan.
Zea meremas ujung bajunya, keringat dingin mulai menetes. "Itu... Erlangga, Mas. Mantan aku yang kemarin mutusin aku lewat WA itu."
"Mantan?" Antares maju satu langkah, membuat Zea terpojok ke dinding di samping lemari buku. "Dan dia berani menyentuh tangan kamu? Di depan saya? Di tempat umum?"
"Dia yang maksa, Mas! Aku udah coba lepasin tapi dia kuat banget. Lagian Mas tadi kenapa sih pake dateng segala? Anak-anak studio makin curiga tau nggak!" Zea mencoba membela diri dengan sifat ceplas-ceplosnya.
"Kamu lebih peduli sama kecurigaan teman-teman kamu daripada keselamatan kamu sendiri?" Antares mengunci tubuh Zea dengan kedua tangannya di dinding. "Dengar, Zea. Saya tidak peduli seberapa banyak rahasia yang harus saya simpan, tapi saya tidak akan pernah membiarkan pria lain menyentuh apa yang sudah menjadi milik saya. Paham?"
Zea mendongak, menantang tatapan Antares. "Mas cemburu? Padahal dia cuma mantan yang nggak tahu diri!"
"Ya, saya cemburu! Dan saya marah karena kamu tidak langsung berteriak minta tolong!" Antares mencengkeram pinggang Zea, mengangkatnya dan mendudukkannya di atas meja kerjanya yang penuh berkas—persis seperti posisi mereka beberapa hari lalu. "Kamu tahu apa yang ingin saya lakukan pada pria itu sekarang? Saya ingin menghancurkan kariernya sebagaimana dia sudah berani menyakiti tangan istri saya."
Zea tertegun. Ia bisa melihat Antares mengambil ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat.
"Mas, kamu mau ngapain?"
"Saya baru saja mengirim pesan ke bagian kemahasiswaan. Erlangga akan dipanggil besok atas tuduhan pelecehan di lingkungan kampus. Dan melalui koneksi Ayah saya—yang selama ini saya benci—saya akan memastikan beasiswanya ditinjau ulang," ucap Antares dingin. "Dia tidak akan mengganggu kamu lagi."
"Mas! Itu jahat banget!" Zea kaget.
"Itu namanya perlindungan, Zea." Antares meletakkan ponselnya, lalu menatap bibir Zea yang sedikit terbuka. "Dan sebagai hukuman karena kamu sudah membuat saya kehilangan kendali di depan mahasiswa lain... kamu tidak boleh keluar dari apartemen besok kecuali bersama saya. Saya yang akan antar jemput kamu tepat di depan studio."
Zea mendesah pasrah. "Mas posesif banget sih! Nanti kalau orang makin curiga gimana?"
"Biar saja mereka curiga. Lebih baik mereka tahu kamu milik saya daripada mereka berpikir kamu tersedia untuk pria brengsek seperti dia," Antares menunduk, mencium leher Zea dengan intens, meninggalkan tanda baru yang jauh lebih gelap dari sebelumnya. "Tanda ini... biar kamu ingat siapa suamimu yang sebenarnya."
Zea hanya bisa melingkarkan tangannya di leher Antares, pasrah pada "badai" posesif suaminya. Di tengah amarah Antares, Zea tahu satu hal: pria ini mungkin menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris kaya raya, tapi dia tidak pernah bisa menyembunyikan betapa besarnya obsesinya pada Zea.
Zea keluar dari ruangan Antares dengan langkah gontai dan wajah yang masih panas. Ia terus membenarkan letak syalnya, berusaha memastikan tanda "hukuman" dari Antares tertutup rapat. Namun, baru dua langkah menjauh dari pintu kayu jati itu, sesosok bayangan tiba-tiba melompat dari balik pilar koridor.
"DOOORRR! Kena lu!" Sarah muncul dengan mata yang melotot lebar dan senyum penuh kemenangan.
"Anjrit! Sar! Lu mau bikin gue mati muda?!" Zea melompat mundur, jantungnya hampir copot untuk kesekian kalinya hari ini.
Sarah nggak peduli. Dia langsung menarik Zea ke arah taman belakang fakultas yang sepi, tempat biasanya anak-anak Arsitek mojok buat cari inspirasi atau sekadar nangisin maket yang hancur.
"Zea Anora, dengerin gue baik-baik," Sarah menunjuk hidung Zea dengan telunjuknya. "Tadi gue liat drama di studio. Pak Antares yang biasanya dingin kayak es kutub, tiba-tiba jadi superhero dan narik lu kayak di drakor. Terus sekarang lu keluar dari ruangan dia dengan bibir makin bengkak dan muka yang... ya Tuhan, lu abis ngapain?!"
Zea celingukan, memastikan nggak ada intel atau dosen lain yang lewat. "Sar, pelanin suara lu, plis..."
"Nggak akan! Kecuali lu jujur sekarang. Lu simpenan Pak Antares? Atau lu lagi kena peras?" Sarah makin mendesak.
Zea menghela napas panjang. Dia tahu Sarah itu tipe teman yang setia, tapi kalau rasa penasarannya nggak dipenuhi, dia bisa jadi detektif yang lebih bahaya dari polisi. Zea menarik Sarah duduk di bangku semen, lalu menatap temannya itu dengan serius.
"Sar, lu janji ya? Sumpah demi Tuhan, jangan sampai ada satu orang pun di kampus ini tahu. Kalau bocor, gue tamat. Karir Pak Antares juga tamat," bisik Zea lirih.
Sarah yang tadinya heboh mendadak tegang. "Buset, serius banget? Iya, gue janji. Demi maket gue yang belum kelar, gue tutup mulut."
Zea menarik napas dalam, lalu mengucapkan kalimat yang bikin Sarah hampir jatuh dari bangku.
"Gue... gue udah nikah sama dia, Sar. Pak Antares itu suami gue."
Hening.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
"HAHHH?! APA LU BILANG?!" Sarah teriak kencang banget sampai burung-burung di pohon beterbangan.
"Ssttt! Sarah! Lu mau gue mati ya?!" Zea langsung membekap mulut Sarah dengan tangannya.
Sarah melepaskan tangan Zea dengan paksa, matanya masih melotot nggak percaya. "Lu bercanda kan, Ze? Ini bukan April Mop! Gimana ceritanya mahasiswi manja kayak lu bisa jadi istrinya Dr. Antares yang jenius itu? Sejak kapan?!"
Akhirnya, dengan suara pelan dan sedikit curhat, Zea menceritakan semuanya. Mulai dari insiden malam itu di hotel, pernikahan siri yang mendadak karena Papanya, sampai kenyataan kalau mereka harus akting jadi orang asing di kampus. Zea sengaja nggak nyebutin soal harta Bagaskara, cuma bilang kalau Antares itu pria yang sangat bertanggung jawab.
"Gila... gila..." Sarah geleng-geleng kepala sambil mijit pelipisnya. "Pantesan dia bawain lu salad. Pantesan dia cemburu buta pas si Erlangga narik lu. Jadi selama ini gue nge-fans sama laki orang?"
"Maaf ya, Sar," Zea nyengir bersalah. "Tapi serius, jangan bocor ya. Mas Antar—maksud gue Pak Antares—itu posesif banget. Kalau dia tahu gue cerita ke lu, gue nggak tau lagi dia bakal hukum gue kayak gimana."
Sarah ngelihatin Zea dari atas ke bawah, lalu matanya terpaku ke leher Zea yang tertutup syal. "Hukuman? Oh... jadi bengkak-bengkak itu... gila ya, Pak Antares ternyata diam-diam menghanyutkan."
"Sarah! Stop!" Zea menutup mukanya yang makin merah.
"Oke, oke. Rahasia lu aman sama gue," Sarah merangkul bahu Zea. "Tapi lu harus janji satu hal. Kalau ada tugas Astronomi yang susah, lu harus minta bocoran ke 'suami' lu itu buat gue!"
Zea tertawa kecil, merasa bebannya sedikit berkurang setelah cerita. "Dasar lu! Ya udah, yuk balik ke studio. Maket gue masih nunggu nempel stik es krim nih."