Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Kesehatan Naura Memburuk
Hari ketiga Naura dikurung di mansion, tiga hari tanpa keluar kamar kecuali ke kamar mandi. Tiga hari makan cuma karena Bi Ijah yang memaksa, duduk di tepi tempat tidur, suapin Naura seperti anak kecil yang sedang sakit.
Naura gak mau makan, gak mau ngapa-ngapain.
Dia cuma tiduran, menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Menghitung retakan kecil di sudut plafon, yang hampir gak keliatan, karena itu satu-satunya yang bisa bikin otaknya berhenti mikir hal yang menyakitkan.
Tapi tetap aja gagal, pikirannya selalu balik ke Nathan. Kata-kata Nathan yang bilang dia kotor, tatapan jijik Nathan pada perutnya.
Foto-foto yang disebarkan seseorang, yang masih belum Naura tau siapa orangnya. Naura gak tau hari apa sekarang, kayaknya selasa atau Rabu.
Dia udah gak peduli, yang dia tau, perutnya mulai terasa aneh sejak kemarin sore. Kram kecil di bagian bawah perut, datang pergi, ga terlalu sakit tapi bikin Naura khawatir.
Dia coba abaikan, coba pikir itu cuma karena kurang makan, kurang gerak, kurang tidur.
Tapi pagi ini waktu Naura ke kamar mandi, dia liat sesuatu di celananya yang bikin semua darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir.
Flek.
Merah kecoklatan, ga banyak, tapi cukup untuk bikin Naura panik.
"Bi Ijah!" Naura berteriak dengan suara yang aneh, antara mau menangis dan mau pingsan. "Bi Ijah!"
Bi Ijah langsung masuk sambil lari kecil, muka nya panik liat Naura yang berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan muka pucat seperti kertas. "Nyonya, kenapa?!"
"Ini, ada.. ada flek Bi," Naura nunjukin dengan tangan gemetar.
Muka Bi Ijah langsung berubah. "Ya Allah Nyonya, Nyonya harus ke dokter sekarang, saya telepon dokter Arman!"
"Tapi Nathan bilang aku ga boleh."
"BIAR SAYA YANG URUSI!" Bi Ijah potong dengan nada yang Naura ga pernah dengar sebelumnya dari perempuan lembut itu, nada yang penuh amarah tapi juga penuh rasa takut. "Nyonya masuk kamar, tiduran dulu, jangan gerak, saya telepon dokter sekarang!"
Naura nurut, dia berbaring di tempat tidur dengan tangan gemetar di atas perut. Jantungnya berdegup ga beraturan.
"Sayang, kamu baik baik aja kan." Naura berbisik ke perutnya. "Kamu masih di sini kan, kamu gak kemana-mana kan."
Dua puluh menit kemudian Dr. Arman datang dengan tas medisnya.
Dokter keluarga Erlangga yang sudah setia selama puluhan tahun, pria paruh baya dengan rambut beruban dan mata yang hangat, satu satunya orang dewasa di lingkaran Erlangga yang selalu memperlakukan Naura dengan hormat.
"Naura," Dr. Arman duduk di pinggir tempat tidur dengan nada tenang yang langsung bikin Naura sedikit lebih bisa napas. "Ceritakan semua yang kamu rasakan dari awal."
Naura cerita pelan pelan, kram, flek, ga bisa tidur, ga bisa makan, nangis terus berhari hari.
Dr. Arman mendengarkan dengan seksama sambil periksa tekanan darah, detak jantung, periksa perut Naura dengan alat portable kecilnya.
Ketika selesai, ekspresi dokter itu berubah serius. Bukan panik, tapi jenis serius yang justru lebih menakutkan dari panik.
"Naura," Dr. Arman menaruh alatnya pelan. "Kondisi kamu mengkhawatirkan, flek ini tanda ancaman keguguran, badanmu kelelahan karena kurang tidur dan kurang nutrisi, tekanan darah kamu rendah banget, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah." Dia berhenti sebentar, "Kondisi mental kamu sangat berpengaruh pada kehamilan ini."
Naura menggigit bibirnya, "Seberapa serius, Dok?"
"Kalau kamu terus dalam kondisi seperti ini." Dr. Arman menatap Naura langsung. "Bayinya terancam, Naura, ini bukan lebay, ini medis, stres ekstrem bisa menyebabkan kontraksi prematur, bisa memperburuk flek ini jadi sesuatu yang lebih serius."
Naura menutup matanya, tangisnya jatuh diam diam ke bantal.
"Saya harus bicara dengan Nathan." Dr. Arman berdiri dengan nada yang sekarang jelas, tidak minta, tapi menyatakan.
"Dia ga akan mau dengar," Naura berbisik.
"Itu urusan saya," Dr. Arman bilang singkat terus keluar.
Naura denger suara langkah Dr. Arman menuruni tangga, denger suaranya yang terdengar jauh di bawah sana memanggil Nathan lewat telepon dengan nada yang serius dan tidak bisa diabaikan.
Sepuluh menit kemudian Nathan masuk ke kamar, pertama kalinya dia masuk kamar Naura sejak beberapa hari terakhir.
Tapi Naura gak menoleh, dia terus menatap langit langit, tangan di atas perut.
Nathan berdiri di ambang pintu dengan tangan dimasukkan ke saku celana. "Kata Dr. Arman kamu harus bed rest."
"Iya." Naura jawab pendek.
Hening, Naura berharap Nathan bilang sesuatu lebih dari itu.
Berharap Nathan duduk di pinggir tempat tidur, berharap ada sedikit kepedulian di mata pria itu, berharap ada satu kalimat yang menunjukkan dia masih manusia.
Tapi Nathan cuma bilang. "Bi Ijah akan jagain kamu, kalau butuh apa apa suruh dia yang beli."
Terus Nathan berbalik mau keluar.
"Nathan."
Nathan berhenti tapi ga balik badan.
Naura ngelap air matanya dengan punggung tangan sebelum meneruskan. "Dokter bilang kondisi mental aku yang bikin ini parah."
Hening lagi.
"Aku tau," Naura napas pelan. "Aku gak minta banyak, aku cuma minta kamu percaya aku satu kali, cuma satu kali Nathan, aku ga selingkuh, aku ga pernah."
"Naura."
"Bayi ini anak kamu," Naura lanjutin walau suaranya pecah. "Aku gak pernah sama pria lain, aku ga pernah khianati kamu, foto itu disalah artikan, tolong percaya aku."
Nathan diam cukup lama, Naura hampir berharap.
"Istirahat yang baik," Nathan bilang datar terus keluar dan nutup pintu.
Naura menutup mulutnya dengan tangan, tapi tetap aja percuma, Air matanya jatuh lagi
Diluar pagar mansion, di antara semak semak dan bayangan pohon yang memanjang di sore hari, Layvin berdiri dengan tangan di saku.
Dia udah di sana sejak dua jam lalu.
Sejak Bi Ijah diam diam kirim pesan ke ponsel yang masih Bi Ijah simpankan dari Naura sebelum Nathan minta semua alat komunikasi dibatasi.
"Nyonya sakit Pak Layvin, dokter dipanggil, kondisinya mengkhawatirkan."
Itu pesan yang bikin Layvin langsung tinggalin semua yang dia kerjain dan pergi ke mansion.
Tapi dia ga bisa masuk, Nathan udah minta security mansion untuk menolak Layvin kalau datang.
Jadi Layvin berdiri di luar pagar, melihat cahaya di jendela kamar Naura di lantai dua.
Ngeliat bayangan Naura yang sesekali bergerak di balik tirai. Tangan Layvin mengepalkan pagar besi di depannya sampe buku jarinya memutih.
"Kenapa aku ga bisa ada di sana," Layvin bergumam dengan suara yang hampir ga keluar. "Kenapa aku biarkan ini terjadi."
Dia tau jawabannya, karena dia cuma asisten. Nathan yang punya kuasa, karena perasaannya untuk Naura ga punya tempat di cerita ini.
Layvin berdiri di sana sampai langit berubah jingga, sampai lampu lampu mansion menyala satu persatu.
Sampai cahaya di kamar Naura akhirnya padam pertanda Naura sudah tidur atau setidaknya sudah berbaring dengan mata terpejam.
Baru kemudian Layvin pergi dengan langkah berat, dengan hati yang lebih berat lagi.
Di dalam kamar yang gelap, Naura berbaring dengan posisi miring, kedua tangan memeluk perutnya yang hangat.
Flek sudah reda sedikit setelah Dr. Arman kasih obat penguat kandungan.
Tapi rasa sakit di hati ga ikut reda, Naura ngerasa bayinya bergerak lagi, gerakan kecil seperti gelembung yang meletus pelan, gerakan yang seharusnya bikin Naura senyum tapi justru bikin air matanya jatuh lagi ke bantal.
"Sayang," Naura berbisik di kegelapan kamar. "Mama minta maaf ya, mama minta maaf, karena gak bisa kasih kamu lingkungan yang aman."
Bayi itu bergerak lagi, seperti menjawab.
"Kamu tau gak," Naura mengelus perutnya pelan berulang ulang. "Papa kamu gak percaya kamu itu anaknya, papa kamu gak mau tau mama hampir keguguran tadi, papa kamu milih pergi daripada duduk sebentar di samping mama."
Naura berhenti, tenggorokannya tercekat.
"Tapi mama gak nyalahin kamu, itu bukan salah kamu, itu bukan salah siapapun kecuali mama yang ga pintar pilih jalan hidup."
Di luar, angin malam menderu pelan, menggoyangkan tirai jendela yang setengah terbuka.
"Tapi kamu harus bertahan ya sayang." Naura melanjutkan dengan suara yang sekarang hampir jadi bisikan. "Bertahanlah, mama tau mama minta banyak, tapi ini satu satunya yang mama minta ke kamu, bertahan."
Diam sejenak, hanya napas Naura yang kedengaran di kamar gelap itu.
"Karena mama ga punya siapa siapa lagi di dunia ini selain kamu."
Kata-kata itu jatuh ke kegelapan, jatuh ke udara malam yang dingin. Jatuh ke tempat di mana ga ada yang mendengar kecuali bayi kecil di dalam rahimnya.
Dan Naura terus menangis dalam gelap sambil terus mengelus perutnya, sambil terus berbisik kata kata yang ga ada yang dengar, sambil terus bertahan dengan cara satu-satunya yang dia tau.
Bertahan meski itu menyakitkan, dan melelahkan. Hanya demi satu alasan yang tersisa, bayi kecil yang belum punya nama. Yang belum pernah melihat dunia, tapi sudah lebih kuat dari semua orang dewasa di hidupnya.
ada laki2 lain yg perhatian dn menjaga,kenapa gk sm laki2 itu
lagian nathan jg selingkuh lbh baik naura pergi menjauh dari nathan.
daripd sakit hati tiap hari.
suami yg blm lepas dr masa lalunya gk akn percaya sm omongan istri sah nya.
buat apa tetap cinta dn bertahan.
pergi,cari kebahagiaanmu bersama anakmu sj