"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 14
BAB 14 — Kecemburuan Naufal
Seminggu berlalu sejak insiden di Ruang Arsip.
Rutinitas Mayang berubah drastis. Dulu, jam istirahatnya dihabiskan dengan duduk di perpustakaan sendirian atau memakan bekal roti tawarnya di taman belakang. Sekarang, begitu bel istirahat berbunyi, Mayang akan menghilang.
Tujuannya satu: Lantai 3 Gedung C. Markas Besar OSIS.
Desas-desus mulai menyebar seperti api di ladang kering.
"Lo liat Mayang? Dia sekarang jadi asisten pribadinya Vino." "Bukan asisten, itu mah babu elit. Gue liat dia bawa-bawa tumpukan map tebel banget." "Kasihan ya, demi beasiswa rela disuruh-suruh."
Di kantin, Naufal duduk sendirian di meja bundar. Di hadapannya ada dua mangkuk bakso. Satu untuknya, satu lagi—yang masih utuh dan uapnya mulai hilang—untuk Mayang.
Naufal sudah menunggu dua puluh menit.
Dia melihat jam tangannya yang berharga jutaan rupiah. Detik demi detik berlalu.
"Sial," umpat Naufal pelan. Dia mengaduk kuah baksonya dengan kasar.
Ini sudah hari ketiga Mayang membatalkan janji makan siang. Alasannya selalu sama: "Ada tugas tambahan dari Vino."
Naufal meremas sendok di tangannya. Dia tidak marah pada Mayang. Dia marah pada situasi. Dan lebih spesifik lagi, dia marah pada Vino.
Bagi Naufal, Vino adalah tiran. Cowok jenius yang arogan, yang melihat orang lain hanya sebagai alat. Naufal tidak terima Mayang—gadis polos yang tulus—dimanfaatkan tenaganya untuk ambisi politik Vino di sekolah.
"Fal, lo ngapain bengong?"
Suara cempreng Jerry memecahkan lamunan Naufal. Jerry duduk sambil membawa es teh.
"Nunggu Mayang," jawab Naufal singkat.
Jerry tertawa mengejek. "Yaelah, Bro. Masih aja ngarep. Mayang tuh sekarang udah jadi property-nya OSIS. Tadi gue liat dia lari-lari bawa kardus fotokopian di koridor. Keringetan parah."
Rahang Naufal mengeras. "Dia bawa kardus? Sendirian?"
"Iya. Berat kayaknya. Si Vino mah enak-enakan jalan di depannya sambil nelpon. Bener-bener kayak Ratu dan Pengawal, tapi kebalik."
Naufal membanting sendoknya. Prang!
Bunyi itu membuat beberapa siswa menoleh.
"Gue cabut," kata Naufal berdiri. Wajahnya gelap.
"Baksonya belum dimakan, Fal!" teriak Jerry.
"Buat lo aja."
Naufal berjalan keluar kantin dengan langkah lebar. Tujuannya jelas: Dia akan menjemput Mayang. Dia akan menyelamatkan gadis itu dari perbudakan modern berkedok organisasi.
Sementara itu, di koridor menuju Ruang OSIS.
Mayang memang sedang membawa tumpukan map. Tapi itu bukan sembarang map. Itu adalah Draft Laporan Pertanggungjawaban yang sudah dia revisi semalaman.
Vino berjalan di sampingnya (bukan di depan seperti kata Jerry). Vino sedang memegang tablet, membacakan poin-poin koreksi.
"Bab tiga masih terlalu deskriptif, May. Gue butuh grafik. Ubah narasi 'penggunaan dana meningkat' jadi grafik batang komparasi year-on-year," instruksi Vino tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Siap. Nanti aku kerjain di lab komputer pas pulang sekolah," jawab Mayang. Napasnya sedikit terengah karena berat beban di tangannya, tapi matanya berbinar antusias.
Dia lelah, ya. Tapi dia merasa hidup.
Bersama Vino, otaknya dipaksa bekerja maksimal. Dia belajar cara membuat laporan keuangan, cara analisis data, cara bernegosiasi dengan vendor lewat surat resmi. Ilmu yang tidak akan dia dapatkan di kelas Sosiologi atau Sejarah.
"Beban lo berat?" tanya Vino tiba-tiba, melirik tumpukan map di tangan Mayang.
"Lumayan. Lima kilo ada kali."
"Bagus. Latihan fisik gratis. Biar tangan lo kuat ngaduk bubur besok pagi."
Mayang tertawa kecil. "Dasar kapitalis."
"Realistis, Partner. Realistis."
Mereka sampai di depan pintu Ruang OSIS. Mayang hendak membuka pintu dengan sikunya karena tangannya penuh.
Tiba-tiba, tangan seseorang menahan pintu itu agar tetap tertutup.
Mayang mendongak.
Naufal berdiri di sana. Wajahnya merah padam, napasnya memburu. Matanya menatap tajam ke arah Vino, lalu beralih ke Mayang dengan tatapan terluka.
"Fal?" Mayang kaget. "Kamu ngapain di sini?"
Naufal tidak menjawab Mayang. Dia menatap Vino.
"Lo punya tangan kan, Vin?" tanya Naufal dingin.
Vino menurunkan tabletnya. Dia menatap Naufal dengan ekspresi bosan. "Punya. Dua. Kenapa? Lo butuh donasi tangan?"
"Kalau punya tangan, kenapa lo biarin cewek bawa beban segitu banyak sementara lo cuma mainan iPad?" bentak Naufal.
Suaranya keras. Beberapa pengurus OSIS yang ada di dalam ruangan mengintip keluar.
"Naufal, udah," sela Mayang. "Aku nggak apa-apa kok. Ini tugasku."
"Tugas apa?! Tugas jadi kuli?" Naufal meraih tumpukan map dari tangan Mayang. Dia mengambil alih beban itu dengan kasar, lalu meletakkannya—atau lebih tepatnya membantingnya—ke lantai koridor. Brak!
"Naufal!" seru Mayang. "Itu dokumen penting!"
"Persetan sama dokumen!" Naufal mencengkeram pergelangan tangan Mayang. "Ayo pulang, May. Kita makan. Bakso lo udah dingin di kantin."
Mayang mencoba melepaskan tangannya. "Fal, sakit. Lepas. Aku masih ada kerjaan."
"Kerjaan ini nggak layak buat lo! Lo itu dimanfaatin, sadar nggak sih?!"
"Lepaskan dia."
Suara Vino terdengar rendah, tapi memiliki otoritas yang mematikan.
Vino melangkah maju satu langkah. Dia tidak terlihat marah meledak-ledak seperti Naufal. Dia terlihat tenang, seperti air danau yang menyembunyikan monster di dalamnya.
"Lo melanggar dua aturan, Naufal," kata Vino. "Satu, membuat keributan di area eksekutif. Dua, menyentuh staf gue tanpa izin."
"Staf lo?" Naufal tertawa sinis. "Sejak kapan dia staf lo? Dia temen sekelas gue! Dia manusia, bukan aset perusahaan bapak lo yang bisa lo suruh-suruh!"
Naufal menunjuk wajah Vino.
"Gue tahu taktik lo, Vin. Lo males ngerjain tugas OSIS yang numpuk, jadi lo cari anak beasiswa yang polos, yang takut nolak, buat ngerjain kotoran lo. Lo itu parasit sebenernya."
Tuduhan itu berat. Mayang melihat rahang Vino mengeras. Urat di lehernya menonjol.
Tapi sebelum Vino sempat membalas, Mayang sudah bergerak.
Mayang berdiri di antara mereka berdua. Dia menatap Naufal.
"Cukup, Fal," kata Mayang tegas.
"May, gue belain lo!"
"Aku nggak minta dibelain," suara Mayang meninggi. "Dan asal kamu tahu, Vino nggak pernah maksa aku. Aku yang minta kerjaan ini."
Naufal ternganga. "Lo... minta? Minta disuruh-suruh?"
"Ini bukan disuruh-suruh, Fal. Ini belajar. Vino ngajarin aku cara audit. Cara manajemen. Cara berpikir strategis. Hal-hal yang nggak kamu ngerti."
Kalimat terakhir itu meluncur tanpa rem.
Hal-hal yang nggak kamu ngerti.
Naufal mundur selangkah seolah ditampar. Wajahnya pucat. Rasa sakit terpancar jelas di matanya. Harga dirinya sebagai laki-laki yang ingin menjadi pelindung hancur seketika.
"Oh..." suara Naufal bergetar. "Jadi gitu? Gue bodoh, gitu maksud lo? Gue nggak selevel sama kalian berdua yang jenius?"
Mayang sadar dia salah bicara. "Bukan gitu maksudku, Fal. Cuma... prioritas kita beda."
"Iya. Beda banget," Naufal tertawa getir. Matanya berkaca-kaca.
Dia menatap Mayang dengan pandangan asing. Seolah gadis sederhana yang dia kenal di warung bubur sudah hilang, digantikan oleh sosok ambisius yang asing.
"Gue cuma mau ngajak lo makan bakso, May. Gue cuma mau lo istirahat. Gue nggak mau lo sakit."
"Aku tahu, Fal. Makasih. Tapi aku nggak butuh istirahat sekarang. Aku butuh lari," jawab Mayang pelan tapi pasti.
Naufal mengangguk pelan. Dia menatap Vino sekilas dengan tatapan kalah.
"Oke. Silakan lari. Kejar dunia lo sama dia. Semoga lo nggak jatuh."
Naufal berbalik. Bahunya merosot. Dia berjalan pergi menyusuri koridor panjang itu sendirian. Langkahnya berat, tidak seenerjik biasanya.
Mayang menatap punggung Naufal yang menjauh. Ada rasa sesak di dadanya. Dia baru saja menyakiti satu-satunya orang yang tulus peduli padanya sejak hari pertama.
Vino berdiri di belakang Mayang. Dia memungut map-map yang berserakan di lantai dengan tenang.
"Dia bener," kata Vino tiba-tiba.
Mayang menoleh, menghapus sudut matanya yang basah. "Bener apanya?"
"Gue manfaatin lo," Vino menyerahkan kembali tumpukan map itu ke tangan Mayang. "Dalam bisnis, itu namanya leverage. Menggunakan sumber daya orang lain untuk mencapai tujuan."
"Kakak jahat," bisik Mayang.
"Mungkin. Tapi coba lo pikir," Vino menatap mata Mayang. "Sejam yang lalu, lo belajar tentang Pivot Table Excel. Minggu lalu lo belajar deteksi fraud. Apa Naufal bisa ngasih itu ke lo?"
Mayang terdiam.
"Naufal nawarin lo kenyamanan, May. Bakso hangat. Tumpangan motor. Perlindungan. Itu manis. Sangat romantis."
Vino mendekatkan wajahnya sedikit.
"Tapi kenyamanan itu racun buat orang miskin kayak lo. Kenyamanan bikin lo terlena. Dan saat lo terlena, lo bakal tetep di tempat lo sekarang: Jualan bubur sampai tua."
Kata-kata itu kejam. Brutal. Tapi benar.
"Gue nawarin lo rasa sakit," lanjut Vino. "Kerja keras. Capek. Pusing. Tapi rasa sakit itu yang bakal bikin lo naik kelas. Lo pilih mana? Bakso gratis atau ilmu mahal?"
Mayang menatap mata cokelat gelap Vino. Di sana tidak ada kelembutan. Yang ada hanya tantangan. Tantangan untuk menjadi lebih dari sekadar "Upik Abu".
Mayang mengeratkan pegangannya pada tumpukan map.
"Ilmu mahal," jawab Mayang mantap.
Vino tersenyum miring. Senyum bangga yang disembunyikan.
"Bagus. Kalau gitu berhenti mewek. Kita masih punya dua bab lagi buat direvisi. Masuk."
Vino membuka pintu Ruang OSIS, membiarkan Mayang masuk lebih dulu.
Mayang melangkah masuk. Dia meninggalkan drama percintaan remaja di koridor, dan melangkah masuk ke dunia orang dewasa yang dingin dan penuh kalkulasi.
Di dalam hati, dia meminta maaf pada Naufal. Maaf, Fal. Aku nggak bisa jadi putri yang kamu selamatkan. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.
Sore harinya. Hujan deras mengguyur Jakarta.
Mayang masih di ruang OSIS. Jam dinding menunjukkan pukul 17.30. Sekolah sudah sepi.
Vino duduk di meja kerjanya, mengetik di laptop. Mayang duduk di sofa tamu, memangku laptop pinjaman sekolah.
"Bab empat selesai," lapor Mayang. Dia meregangkan punggungnya yang pegal. Tulang belakangnya berbunyi krak.
"Kirim ke email gue. Gue cek nanti malem," sahut Vino tanpa melihat.
"Vino," panggil Mayang. Sekarang dia sudah terbiasa memanggil nama itu saat berdua.
"Hm?"
"Soal Naufal tadi..."
Vino berhenti mengetik. Dia bersandar di kursinya, memutar pulpen mahal di jarinya.
"Kenapa? Nyesel?"
"Nggak. Cuma kasihan. Dia orang baik."
"Orang baik biasanya finish terakhir dalam balapan," komentar Vino sinis. "Naufal itu tipe Guardian. Penjaga. Dia butuh seseorang yang lemah buat dilindungi supaya dia merasa berguna. Masalahnya, lo makin hari makin nggak lemah. Makanya dia panik. Egonya terancam."
Analisis psiko-sosial ala Vino. Dingin tapi akurat.
"Terus kamu tipe apa?" tanya Mayang berani. "Kalau dia Guardian, kamu apa?"
Vino terdiam sejenak. Dia menatap langit-langit ruangan.
"Gue Architect," jawab Vino. "Gue nggak mau ngelindungin lo dari hujan. Gue mau ngajarin lo cara bikin payung. Atau lebih bagus lagi, cara bikin pawang hujan."
Mayang tertawa renyah. "Sombong."
"Fakta."
Vino berdiri. Dia mengambil jas almamaternya yang tersampir di kursi.
"Udah malem. Pak Ujang udah nunggu di lobi. Gue anter lo pulang."
"Nggak usah. Aku naik angkot aja."
"Hujan deres. Banjir di depan. Angkot mogok. Lo mau berenang?"
"Bisa neduh dulu."
"Berisik. Waktu adalah uang. Nunggu ujan reda itu buang duit. Ayo."
Vino mematikan lampu ruangan. Ruangan menjadi gelap, hanya diterangi cahaya kilat dari jendela.
"May," suara Vino terdengar dalam kegelapan.
"Ya?"
"Lo nggak salah pilih jalan. Inget itu."
Mayang tersenyum dalam gelap.
"Aku tahu."
Mereka berjalan keluar menuju lobi.
Di parkiran, mobil Naufal sudah tidak ada. Tempat parkir Vespa kuningnya kosong.
Mayang merasa ada bagian hatinya yang kosong juga. Dia kehilangan seorang teman hari ini. Tapi dia mendapatkan sesuatu yang lain: Keyakinan diri.
Saat mobil mewah Vino membelah hujan Jakarta, Mayang melihat pantulan wajahnya di kaca jendela. Wajah itu lelah, ada lingkaran hitam di bawah mata. Tapi tatapannya tajam.
Dia bukan lagi gadis desa yang bingung di hari pertama sekolah. Dia adalah Partner dari seorang jenius. Dan harga untuk posisi itu adalah kehilangan kenyamanan masa remaja.
Sebuah harga yang, menurut Mayang, pantas dibayar lunas.
Bersambung......