NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Asap tipis mulai membumbung di sudut balkon kamar Jenny. Di dalam sebuah wadah kaleng bekas, api perlahan melahap tumpukan foto polaroid yang dulunya adalah harta paling berharga bagi Jenny. Foto-foto itu menampilkan senyum lebar Jonathan, rangkulan hangat Claudia, dan tawa mereka bertiga saat merayakan ulang tahun Jenny tahun lalu.

Kini, wajah-wajah di foto itu melepuh, menghitam, dan menjadi abu.

Jenny duduk meringkuk di lantai balkon yang dingin. Ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua kaki yang ditekuk, membiarkan tubuhnya terguncang oleh tangisan yang pecah tanpa kendali. Isak tangisnya terdengar menyayat hati di tengah sunyinya malam.

"Kenapa kalian jahat banget sama gue? Kenapa?" bisiknya di sela tangis, suaranya parau dan hampir habis. "Salah gue apa selama ini? Gue selalu ada buat lo, Clau. Gue selalu dukung lo, Jo. Gue anggap kalian rumah, tempat gue pulang... tapi kalian cuma anggap gue tameng?"

Jenny mengangkat wajahnya yang sembab. Matanya yang merah menatap nanar pada sebuah gelang emas putih pemberian Jonathan yang kini mulai terpanggang api. Hadiah-hadiah mewah itu tidak lagi terlihat indah di matanya. Barang-barang itu hanya terasa seperti suap untuk menutupi busuknya pengkhianatan mereka.

"Kalian berdua ngalahin iblis, tau nggak," desisnya pedih. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan kembali korek gas, membakar surat-surat cinta Jonathan yang isinya kini terasa seperti omong kosong paling menjijikkan di dunia.

Di tengah kepulauan asap dan sisa tangisnya, ponsel Jenny yang tergeletak di lantai bergetar berulang kali. Layarnya menyala, menampilkan dua nama yang belakangan ini mengisi hari-harinya yang kacau.

Chat dari Angga (12 IPA 1):

"Jen, gue baru aja nyampe rumah. Tadi gue liat mata lo masih agak sembab pas gue anter balik. Gue harap lo nggak nangis lagi malam ini. Inget kata gue tadi, lo nggak sendirian. Kalau butuh temen ngobrol jam berapa pun, telepon gue ya. Gue sayang sama lo, Jen. Sleep tight."

Jenny menatap pesan itu. Kata-kata Angga hangat, sangat manis, dan terasa seperti pelukan yang ia butuhkan. Namun, ada bagian dari dirinya yang masih terasa mati rasa, takut untuk percaya pada kata "sayang" lagi.

Lalu, matanya beralih ke pesan di bawahnya.

Chat dari Romeo (12 IPA 3):

"Woi, Little Miss Sunshine. Gue tau lo lagi bakar-bakar sampah kenangan sekarang. Jangan sampe kamar lo kebakaran, ntar gue repot harus nolongin lo. Keluar balkon deh, hirup udara seger. Pengkhianat nggak pantes dapet air mata lo setetes pun. Besok gue jemput, jangan telat."

Jenny tertegun. Bagaimana Romeo bisa tahu apa yang sedang ia lakukan? Ia segera menengok ke arah bawah balkon, dan benar saja, di seberang jalan rumahnya, sebuah motor besar hitam terparkir di kegelapan. Sosok cowok dengan jaket kulit sedang bersandar di motornya sambil menghisap sebatang rokok, matanya menatap ke arah balkon kamar Jenny.

Romeo ada di sana. Menjaganya dari kejauhan dengan cara kasarnya yang unik.

Jenny menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, mengambil jaket tebal, lalu turun ke bawah tanpa memedulikan sisa api yang sudah padam di dalam kaleng. Begitu ia membuka gerbang rumahnya, Romeo hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Gue bilang hirup udara seger, bukan nyamperin gue," cetus Romeo saat Jenny berjalan mendekat.

"Gue butuh keluar dari rumah itu, Rom. Baunya... bau pengkhianatan," jawab Jenny dengan suara serak.

Tanpa banyak bicara, Romeo menyodorkan helmnya. "Naik. Gue bawa lo ke tempat yang nggak ada bau Jonathan atau si ular itu."

Jenny naik ke boncengan Romeo. Kali ini, ia tidak ragu untuk memeluk pinggang cowok itu, menyandarkan kepalanya di punggung tegap Romeo. Ia merasa aman. Di balik sikap dingin dan "red flag" Romeo, cowok ini adalah satu-satunya yang tidak pernah membohonginya sejak awal.

Mereka sampai di sebuah jembatan layang yang sepi. Angin malam berhembus kencang, menerbangkan rambut Jenny.

"Gue nolak Jonathan tadi siang," ucap Jenny memecah keheningan. "Dan Angga... dia nembak gue di depan semua orang."

Romeo menyandarkan sikunya di pagar jembatan, menatap lampu-lampu kota. "Gue liat. Angga anak baik. Dia jujur. Nggak kayak si robot itu."

"Tapi gue takut, Rom," suara Jenny melemah. "Gue takut kalau semuanya cuma bakal berakhir sama. Gue takut kalau rumah yang gue bangun bakal roboh lagi."

Romeo menoleh, menatap Jenny dengan intensitas yang membuat jantung Jenny berdebar aneh. "Rumah itu nggak bakal roboh kalau lo nggak bangun di atas tanah orang lain, Jen. Dan rumah itu nggak harus berupa orang. Rumah itu bisa berupa diri lo sendiri."

Ia mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah cokelat batangan murah. "Ini bukan kalung berlian atau barang branded. Tapi ini cokelat yang gue beli pas gue liat lo nangis di koridor kemarin. Gue nggak jago ngomong manis kayak Angga, tapi gue bakal pastiin nggak ada satu orang pun yang berani nyakitin lo lagi selama ada gue."

Jenny menerima cokelat itu, merasakan sedikit kehangatan menyusup ke hatinya. Di tengah kehancuran dunianya, ia menyadari satu hal: pengkhianatan Jonathan dan Claudia memang menghancurkannya, tapi itu juga yang membukakan matanya bahwa pahlawan tidak selalu datang dengan setelan jas rapi dan kata-kata logis. Terkadang, pahlawan datang dengan motor berisik, jaket kulit yang bau aspal, dan kejujuran yang pahit.

"Makasih, Rom," bisik Jenny tulus.

Malam itu, di bawah taburan bintang, Jenny memutuskan untuk benar-benar melepaskan masa lalunya. Ia tidak akan lagi menjadi tameng bagi siapa pun. Ia akan menjadi ratu bagi dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!