Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Luna berjalan cepat masuk ke kamar mertua, suara langkah sepatunya yang runcing terdengar keras di atas lantai marmer, menunjukkan kekecewaan
"Mama, apa maksudnya semua ini?" tanya Luna langsung pada intinya, suaranya melengking namun tetap menahan marah karena rasa hormat yang dipaksakan.
"Ada apa lagi Luna? Kamu mau marah sama Mama lagi, karena tidak bisa mengurus Arka, begitu?" Tanya nyonya Pratiwi menyindir.
"Kenapa ada perawat asing tinggal di rumah ini? Dan Arka... dia terlihat lebih dekat dengan perempuan itu daripada denganku!"
Ibu Pratiwi yang sedang membaca buku di kursi jengki dekat jendela, perlahan menurunkan kacamatanya. Ia menatap menantunya itu dengan tenang, kontras dengan emosi Luna yang meledak-ledak.
"Apa kata kamu Luna? Arka lebih dekat dengan perawat daripada kamu? Apa Mama tidak salah dengar?" Nyonya Pratiwi tersenyum miring. Selama ini Luna sibuk dengan dirinya sendiri, tapi begitu anaknya lebih dekat dengan orang lain mendadak protes. "Jika kamu mau protes seharusnya dari dulu, selama ini Arka diurus Rini sejak bayi, memang Rini bukan orang asing? Jika yang kamu maksud Sekar, dia perawat yang menjaga Arka saat kamu sibuk syuting di luar negeri. Arka pulih lebih cepat karena dia juga yang mendonorkan darahnya untuk Arka. Terus, baru juga datang bisa-bisanya kamu protes," jawab Ibu Pratiwi dengan segudang emosi.
Luna mengangkat kepala cepat menatap nyonya Pratiwi, ia kaget mendengar Sekar yang mendonorkan darah untuk Arka. "Tapi aku sudah pulang sekarang, Ma! Aku yang akan merawat Arka sendiri, bukan perawat rumah sakit yang bekerja 'sambilan."
Ibu Pratiwi menutup bukunya lalu berdiri. "Masalahnya, Arka mau tidak kamu rawat sendiri Luna?" Nyonya Pratiwi memelankan suara. "Karena selama ini kamu sudah mengabaikannya hingga Arka asing dengan kamu ibunya sendiri. Jika kamu bisa mengusir Sekar lakukan sendiri, tapi saya pastikan Arka tidak mau makan dan terus menangis tanpa Sekar. Selama kamu mengejar kariermu di luar negeri, siapa yang ada di sampingnya? Saat dia kesakitan di rumah sakit? Itu Sekar, Luna. Bukan kamu."
Wajah Luna memerah. Kalimat mertuanya seolah menampar kenyataan bahwa ia memang jarang ada untuk Arka. "Ibu menyindirku? Aku bekerja juga untuk masa depan Arka!"
"Ibu tidak menyindir, Ibu hanya bicara fakta. Sekar di sini atas izin Mama dan juga seizin dokter spesialisnya, Dokter Rayyan. Dia hanya di sini setelah jam kerjanya selesai. Jadi, jangan buat keributan. Kalau kamu memang merasa sebagai ibunya, buktikan, buat Arka nyaman bersamamu, bukan dengan mengusir orang yang sudah menolongnya."
Luna mengepalkan tangannya, merasa kalah telak. Ia tidak berani membantah mertuanya lebih jauh karena secara finansial dan posisi di keluarga, Ibu Pratiwi memegang kendali penuh. Namun, di dalam hatinya, ia menyimpan amarah pada Sekar.
.
Sementara itu di ruang tengah, Sekar bisa mendengar samar-samar suara pertengkaran itu. Ia menatap Arka yang tertidur pulas di sofa sambil memegang ujung jarinya. Sekar tahu, kehadirannya di rumah ini tidak hanya akan menguras fisik karena harus berbagi waktu dengan rumah sakit, tapi juga akan menguras batinnya karena kebencian Luna.
Semakin lama, perdebatan dari dalam semakin terdengar memanas. Bahkan Ibu Pratiwi berteriak, hati Sekar terasa mencelos. Ia tidak pernah ingin menjadi penyebab keributan dalam keluarga orang lain, apalagi ia hanyalah seorang perawat yang niat awalnya murni untuk membantu kesembuhan Arka.
"Sebaiknya aku pergi saja. Maafkan Suster, Arka" batin Sekar. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, ia melepaskan genggaman tangan Arka yang sudah terlelap. Ia menyelimuti bocah itu dengan kain lembut, lalu beranjak menuju dapur untuk menemui Rini yang sedang memasak khusus untuk Arka.
"Mbak Rini," lirih Sekar.
Rini yang tengah menganduk sayur sup ayam untuk Arka menoleh. "Ada apa Suster Sekar?"
"Saya pamit pulang sekarang, Mbak. Tolong sampaikan permohonan maaf saya kepada Ibu Pratiwi. Saya tidak ingin kehadiran saya di sini justru merusak suasana kepulangan Ibu Luna."
Rini terkejut, "Lho, Suster Sekar? Kalau Suster pergi sekarang, nanti Den Arka bangun dan mencari Suster bagaimana?" Rini bingung, padahal ia pun berencana untuk keluar dari rumah ini karena sudah tidak bisa lagi menaklukkan hati Arka.
Sekar menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca namun tetap berusaha tegar. "Saya akan kembali ke rumah sakit, nanti saya ada shift malam, Mbak. Lebih baik Arka bersama ibunya. Ibu Luna seharusnya tempat yang paling nyaman untuk Arka bermanja. Tolong jelaskan pada Ibu Pratiwi kalau saya tetap akan memantau perkembangan Arka dari rumah sakit sesuai izin Dokter Rayyan."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Sekar segera mengambil tasnya. Ia berjalan keluar melalui pintu samping agar tidak berpapasan dengan Luna atau Ibu Pratiwi. Panas udara di luar kontras dengan dinginnya AC di dalam rumah Arka. Matahari sudah berada di tengah-tengah menyambutnya saat Sekar melangkah keluar dari gerbang megah itu.
Sekar berdiri di pinggir jalan yang sepi, menunggu ojek daring dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega bisa keluar dari tekanan batin di rumah mewah itu. Namun, di sisi lain, bayangan wajah sedih Arka saat bangun nanti terus menghantuinya. Selain itu, ia juga bingung bagaimana harus menjelaskan hal ini kepada nyonya Pratiwi. Ia tahu, tindakannya meninggalkan rumah sebelum tugasnya benar-benar stabil bisa dianggap tidak profesional oleh nyonya Pratiwi, atau bahkan dianggap melarikan diri dari tanggung jawab. Tetapi Sekar tidak ada pilihan lain.
Sesampainya di kost-an kecilnya yang sederhana, Sekar terduduk lemas, mengecek ponsel. Panggilan masuk dari nyonya Pratiwi hingga tiga kali tidak terjawab, Sekar tidak mendengar panggilan itu karena sedang naik ojek. Sekar hendak telepon balik, tapi ponselnya lebih dulu bergetar, ada sebuah telepon masuk. Ia mengira itu dari Ibu Pratiwi, namun ternyata dari nomor yang sangat ia segani. Dokter Rayyan.
"Sekar, Nyonya Pratiwi baru saja telepon, kamu pergi tidak memberi tahu mereka. Saat ini, Arka menangis terus."
"Tapi ibunya Arka sudah kembali, Dok," Sekar tidak mau menceritakan apa alasannya pergi dari rumah Pratiwi secara blak-blakkan.
"Kamu siap-siap, Sekar. Aku jemput sepuluh menit lagi, kita sama-sama menemui Arka."
Sekar merasa berat sekali, kenapa di saat hidupnya sedikit lebih tenang, datang masalah baru yang semakin rumit.
Tok tok tok.
Sekar bangkit dari duduknya, melangkah lambat, ketika mendengar pintu kost ada yang mengetuk.
...~Bersambung~...
Yang ingin tahu siapa ayah Arka, Buna otw jemput dulu ya 🤣
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....