Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28: Janji di Tepi Mata Air
Kembalinya Li Wei dan Tie Shan ke Lembah Abu disambut dengan keheningan yang hormat, bukan sorakan.
Para pengungsi melihat kondisi kedua pelindung mereka jubah hangus, kulit melepuh, dan aroma asap yang menyengat. Mereka tahu, kemenangan itu dibayar mahal.
Tanpa membuang waktu, Tie Shan yang matanya kini terbakar oleh obsesi suci langsung berjalan menuju tempat daruratnya di tepi sungai. Ia tidak mempedulikan luka di punggungnya yang masih merembeskan darah.
"Jangan ganggu aku," geram Tie Shan pada murid-murid Puncak Besi yang mencoba memapahnya. "Kristal Api Guntur ini tidak bisa menunggu. Apinya sedang memanggil."
Sesaat kemudian, suara DANG... DANG... DANG... palu beradu dengan logam mulai terdengar. Iramanya berat dan stabil, seperti detak jantung baru bagi lembah itu.
Li Wei, di sisi lain, berjalan tertatih menuju gubuknya. Ia menolak bantuan siapapun. Namun, begitu ia sampai di tepi Mata Air Vena Naga tempat Qi paling murni berkumpul lututnya lemas. Ia duduk bersandar pada batu besar, membiarkan uap spiritual membasuh kelelahannya.
Malam semakin larut. Langit di atas berwarna ungu kelam, tercemar oleh aura darah dari Sekte Utama di kejauhan.
"Kau bodoh."
Suara lembut namun tegas memecah lamunan Li Wei.
Xiao Lan berdiri di sana, memegang nampan berisi mangkuk air hangat, kain bersih, dan pasta herbal hijau pekat.
Li Wei tersenyum tipis, tidak membantah. "Mungkin."
Xiao Lan berlutut di sampingnya. Tanpa meminta izin, ia menyingsingkan sisa lengan baju Li Wei yang hangus, memperlihatkan kulit perunggu yang melepuh parah akibat panas ledakan tungku.
"Tubuh Lima Elemenmu memang keras," kata Xiao Lan, suaranya sedikit bergetar saat mengoleskan pasta dingin ke luka itu. "Tapi kau bukan artefak, Li Wei. Kau manusia. Rasa sakit tetaplah rasa sakit."
Li Wei mendesis pelan saat obat itu menyentuh kulitnya, lalu menghela napas lega saat sensasi dingin meresap ke tulang.
"Rasa sakit mengingatkanku bahwa aku masih hidup," jawab Li Wei pelan. Ia menatap wajah Xiao Lan yang diterangi cahaya bulan. Ada lingkaran hitam di bawah mata gadis itu. Sebagai satu-satunya penyembuh tingkat tinggi, beban kerjanya tidak kalah berat dari Li Wei.
"Bagaimana persediaan pil?" Li Wei mengalihkan pembicaraan.
"Cukup untuk tiga hari pertempuran intensif," jawab Xiao Lan, tetap fokus membalut luka Li Wei. "Tapi kita kehabisan Rumput Roh Penenang Jiwa. Jika perang berlanjut, banyak murid yang akan gila karena tekanan mental sebelum mati karena pedang."
Hening sejenak. Hanya suara palu Tie Shan di kejauhan dan gemericik air yang terdengar.
"Li Wei," Xiao Lan berhenti bekerja. Ia menatap mata pemuda itu dalam-dalam. "Apakah kita akan mati di sini?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi beratnya seperti gunung.
Li Wei menatap pantulan bulan di permukaan air.
"Mungkin," jawabnya jujur. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu. "Musuh kita adalah Jenderal Iblis dan pengkhianat yang kuat. Kita hanya sekumpulan murid buangan di lembah terpencil."
Tangan Xiao Lan gemetar.
Namun kemudian, Li Wei meraih tangan gadis itu. Telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan menggenggam jari-jari Xiao Lan yang halus namun penuh noda obat.
"Tapi," lanjut Li Wei, matanya menajam. "Aku tidak pernah percaya pada takdir yang ditulis oleh langit. Jika langit ingin kita mati, aku akan menusuk langit itu."
"Aku berjanji satu hal padamu, Xiao Lan."
Li Wei menunjuk ke arah pintu keluar lembah.
"Saat ini semua berakhir... saat asap hitam itu hilang... aku akan membawamu melihat dunia luar. Dunia di luar sekte ini. Kita akan mencari tempat di mana tidak ada sekte darah, tidak ada politik, hanya hamparan kebun obat yang luas."
Mata Xiao Lan berkaca-kaca. Di tengah keputusasaan perang, janji sederhana tentang masa depan adalah hal yang paling mewah.
"Itu janji?" bisik Xiao Lan.
"Itu Sumpah Dao ku," kata Li Wei serius.
Xiao Lan tersenyum. Senyum yang tulus, yang seolah mencerahkan seluruh lembah yang suram. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Li Wei sejenak, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka.
Untuk sesaat, mereka bukan Jenderal Perang dan Kepala Tabib. Mereka hanyalah dua remaja yang mencoba mencari kehangatan di tengah musim dingin yang kejam.
Giok Dao Abadi di dada Li Wei berkedip dengan cahaya hangat yang lembut, seolah merestui momen kedamaian ini. Giok itu tidak mendeteksi bahaya, hanya harmoni.
DANG!
Suara palu terakhir dari bengkel Tie Shan berbunyi sangat keras, diikuti oleh suara mendesis panjang.
Lalu hening.
Pintu bengkel terbuka. Tie Shan melangkah keluar, tubuhnya bermandi keringat, wajahnya pucat karena kehabisan tenaga, tapi matanya menyala liar.
Li Wei dan Xiao Lan segera bangkit dan menghampirinya.
Di belakang Tie Shan, di tengah ruangan bengkel, sebuah benda mengerikan duduk di atas penyangga kayu.
Itu adalah tabung logam hitam sepanjang tiga meter. Permukaannya diukir dengan motif sisik naga yang rumit. Di bagian pangkalnya, Kristal Api Guntur tertanam, berdenyut dengan cahaya ungu yang tidak stabil.
Senjata itu memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terdistorsi.
Meriam Auman Naga (Dragon Roar Cannon). Tingkat Artefak Setara Puncak Foundation Establishment.
"Selesai..." Tie Shan terengah-engah, lalu ambruk duduk di tanah.
Li Wei mengelus permukaan dingin meriam itu. Ia bisa merasakan getaran destruktif di dalamnya. Ini bukan alat pertahanan. Ini alat pemusnah massal.
"Kerja bagus, Saudara Tie," kata Li Wei.
Tiba-tiba, tanah bergetar.
Bukan getaran palu. Bukan getaran meriam.
Itu adalah getaran derap langkah. Ribuan langkah.
Dari arah pintu masuk lembah, di luar kabut ilusi, suara terompet tanduk terdengar melengking. Suara yang membuat darah setiap kultivator membeku.
TUUUUUUUT!
Suara itu diikuti oleh teriakan ribuan suara yang menggema: "SERAHKAN LI WEI! ATAU KAMI RATAKAN LEMBAH INI!"
Momen kedamaian telah berakhir.
Li Wei menatap Xiao Lan dan Tie Shan. Tatapan lembutnya hilang, digantikan oleh tatapan dingin seorang panglima perang.
"Mereka datang," kata Li Wei, mengangkat Tongkat Penembus Langit nya.
"Siapkan formasi. Siapkan racun. Dan Tie Shan..." Li Wei menepuk meriam hitam itu. "...Siapkan naga ini untuk sarapan."
Li Wei berjalan menuju garis depan, jubahnya berkibar ditiup angin pagi yang membawa bau darah.