Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Amukan Pusaka Mabuk
Guncangan kapal Sang Penakluk Ombak semakin hebat saat tentakel raksasa sebesar pilar kuil mulai meremukkan pagar dek.
Air laut muncrat ke mana-mana, bercampur dengan teriakan histeris para awak kapal.
Namun, fokus Jian Yi terbagi dua: antara monster yang ingin menenggelamkan mereka, dan Ling'er yang sedang mengalami gangguan akibat racun pelumpuh yang bereaksi dengan energi Kristal Api.
"Jian Yiii... kenapa kau malah melihat gurita itu?" bisik Ling'er di depan wajah Jian Yi.
Matanya yang merah berkabut menatap Jian Yi dengan tatapan lapar.
Ia menarik-narik kerah jubah Jian Yi hingga robek di bagian bahu. "Lihat aku! Aku jauh lebih menarik dari tentakel berlendir itu!"
"Bakpao! Sadarlah! Kita sedang diserang!" seru Jian Yi. Ia mencoba melakukan langkah seribu untuk menghindari tentakel yang menyambar, sambil tetap mendekap tubuh Ling'er yang terus bergerak liar di pelukannya.
DUAR!
Satu tentakel Kraken menghantam dek tepat di samping mereka, menghancurkan meja makan mewah dan botol-botol arak.
Lu Feng sudah mencabut pedang lebarnya di ujung kapal, menebas ujung tentakel yang mencoba melilit kakinya.
"Yi! Selesaikan urusan 'rumah tanggamu' nanti! Bantulah aku sebelum kapal ini jadi kayu bakar!" teriak Lu Feng sambil menyeka air laut dari wajahnya.
"Aku mencoba, Lu Feng! Tapi dia tidak mau lepas!" balas Jian Yi frustrasi.
Ling'er yang merasa diabaikan tiba-tiba berhenti meronta.
Tubuhnya mendadak menjadi sangat panas, hingga uap air mulai keluar dari kulitnya yang seputih pualam.
Racun di dalam darahnya justru memicu sirkulasi energi Kristal Api Langit ke tingkat yang berbahaya.
"Kau mengabaikanku... kau lebih memilih cumi-cumi itu..." Ling'er bergumam, suaranya kini berubah drastis.
Bukan lagi suara anak kecil yang imut, melainkan suara wanita dewasa yang dalam dan penuh otoritas.
Cahaya merah keemasan meledak dari tubuh Ling'er. Jian Yi terlempar mundur beberapa langkah karena tekanan energi yang luar biasa.
Di hadapannya, sosok Ling'er mulai bertransformasi. Rambut peraknya memanjang hingga ke pinggang, dan tubuhnya yang tadinya mungil tumbuh menjadi raga wanita dewasa yang sempurna—tinggi, anggun, dengan lekukan tubuh yang sangat mematikan bagi kewarasan pria manapun.
Ini adalah wujud dewasa sementaranya, yang dipicu oleh paksaan energi racun.
"Bagus sekali... berani sekali kau mengganggu waktuku dengan tuanku." ucap Ling'er dewasa sambil menatap Kraken dengan dingin.
Ling'er melayang ke udara. Ia tidak lagi membutuhkan Jian Yi untuk memegangnya. Ia mengulurkan tangannya, dan sebilah pedang cahaya terbentuk dari energi murni.
SREEEEET!
Tanpa aba-aba, Ling'er melesat seperti meteor perak. Ia membelah tentakel-tentakel Kraken seolah itu hanya benang tipis.
Setiap tebasannya melepaskan gelombang api putih yang membakar air laut. Kraken itu meraung kesakitan, mencoba menarik diri kembali ke kedalaman, namun Ling'er tidak memberinya ampun.
"Kau ingin air? Akan kuberikan api!" Ling'er menghujamkan pedang cahayanya tepat ke pusat pusaran air tempat kepala Kraken berada.
BOOOOOOOM!
Ledakan uap raksasa membubung tinggi ke langit, menutupi seluruh kapal dengan kabut putih yang tebal.
Kraken itu hancur berkeping-keping, meninggalkan permukaan laut yang penuh dengan potongan tentakel yang terpanggang.
Suasana mendadak sunyi. Kabap uap perlahan menipis. Ling'er mendarat kembali di dek kapal, namun energinya yang meluap-luap mulai mereda.
Tubuhnya kembali mengecil, menyusut kembali ke bentuk tubuh yang mungil, dan ia jatuh pingsan karena kelelahan luar biasa.
Jian Yi dengan sigap menangkapnya sebelum kepalanya menghantam kayu dek.
Ia menatap wajah Ling'er yang sekarang tampak sangat damai, meski pipinya masih sedikit merona karena sisa-sisa racun.
Lu Feng berjalan mendekat sambil menyarungkan pedangnya, tampak terengah-engah. "Gila... jadi itu wujud aslinya? Yi, kau benar-benar beruntung sekaligus sial. Kalau dia dewasa terus, kau mungkin tidak akan selamat dari omelannya—atau pelukannya."
Jian Yi tidak menjawab. Ia menggendong Ling'er dengan gaya bridal style, membungkus tubuh mungil itu dengan jubahnya yang tersisa.
Ia menatap ke arah laut yang tenang, lalu menatap kapal yang kini sudah setengah hancur.
"Kita butuh kapal baru." ucap Jian Yi pendek.
"Dan kita butuh penjaga pintu kamar yang lebih kuat untukmu, Yi," goda Lu Feng sambil menyalakan rokok barunya. "Karena saat dia bangun nanti, aku yakin dia akan menuntut 'tanggung jawab' yang tertunda karena interupsi cumi-cumi tadi."
Jian Yi hanya menghela napas panjang. Pelabuhan Laut Abadi sudah terlihat di cakrawala, dan ia tahu, tantangan berikutnya tidak hanya datang dari dasar laut, tapi juga dari gadis kecil yang ada di pelukannya ini.