NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Cara yang Salah untuk Jatuh Cinta

Malam itu, kantor Arkan masih terang meski jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Arkan duduk di kursi kerjanya, menatap kosong ke depan. Di tangannya, segelas whisky yang nyaris tidak tersentuh.

Pikirannya penuh. Penuh dengan wajah Yura. Penuh dengan senyum Yura yang diberikan pada pria lain. Penuh dengan kalimat Bagas yang terus berputar di kepalanya:

"Pak Arkan harus membuatnya jatuh cinta."

Arkan menarik napas panjang, lalu menekan tombol interkom.

"Bagas. Masuk."

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Bagas masuk dengan langkah hati-hati, membawa tablet seperti biasa.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Arkan menatapnya lama. Lalu, dengan nada yang jarang terdengar hampir… ragu ia bertanya:

"Kau bilang aku harus membuatnya jatuh cinta."

Bagas mengangguk. "Benar, Pak."

Arkan mengangkat alis. "Lalu… bagaimana caranya?"

Bagas terdiam.

Arkan menyipitkan mata. "Kau tidak tahu, kan?"

Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum canggung.

"Ehm… sejujurnya, Pak… saya juga… belum pernah… membuat seseorang jatuh cinta."

Arkan menatapnya datar. "Jadi kau memberi saran tanpa tahu caranya?"

"Bukan begitu, Pak!" Bagas cepat-cepat membela diri. "Maksud saya… saya tahu konsepnya. Tapi… eksekusinya… mungkin perlu sedikit… riset."

Arkan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Riset," gumamnya. "Kau serius?"

Bagas menegakkan punggung, berusaha terlihat profesional meski dalam hati ia panik.

"Baik, Pak. Kalau begitu… mari kita analisis bersama. Berdasarkan pengamatan saya terhadap film-film romantis dan buku-buku yang pernah saya baca...."

"Film romantis?" Arkan menatapnya tidak percaya.

"Iya, Pak. Kadang saya nonton kalau tidak bisa tidur." Bagas berdehem. "Oke, jadi… biasanya, untuk membuat seseorang jatuh cinta, ada beberapa langkah strategis."

Arkan menatapnya dengan ekspresi skeptis, tapi… ia mendengarkan.

Bagas mulai menghitung dengan jari.

"Pertama: Perhatian kecil yang tulus. Misalnya… mengirim bunga, memperhatikan hal-hal kecil yang dia suka, atau… memberikan sesuatu yang bermakna tanpa berlebihan."

Arkan mengangguk pelan. "Lanjutkan."

"Kedua: Kehadiran tanpa tekanan. Pak Arkan harus sering terlihat, tapi jangan memaksa. Biarkan Nona Yura merasa… nyaman dengan kehadiran Pak Arkan. Seperti… 'oh, dia ada lagi, tapi tidak mengganggu'."

Arkan mengerutkan dahi. "Jadi aku harus… sering muncul tapi diam saja?"

"Bukan diam total, Pak. Lebih ke… casual. Natural. Jangan seperti sedang interogasi bisnis."

Arkan terdiam. Ia mencoba membayangkan dirinya "casual". Gagal.

"Ketiga," lanjut Bagas, "Tunjukkan sisi lain dari diri Pak Arkan. Selama ini, Nona Yura hanya melihat Pak Arkan sebagai CEO yang menakutkan. Tapi… apa Pak Arkan punya hobi? Hal yang Pak Arkan suka? Sisi manusiawi yang bisa membuat Nona Yura berpikir, 'oh, ternyata dia juga bisa seperti orang biasa'?"

Arkan terdiam lama.

"Hobi?"

Ia bekerja. Itu hobinya.

Hal yang ia suka?

Mengatur perusahaan. Mengendalikan situasi.

Sisi manusiawi?

…ia tidak yakin ia punya.

Bagas melihat ekspresi Arkan yang blank, lalu cepat-cepat melanjutkan.

"Keempat: Dengarkan dia. Wanita suka didengarkan, Pak. Bukan cuma didengar, tapi benar-benar dipahami. Jadi kalau Nona Yura cerita sesuatu, jangan langsung kasih solusi atau kontrol. Cukup… dengarkan."

Arkan mengerutkan dahi. "Mendengarkan tanpa memberi solusi? Lalu untuk apa dia cerita?"

Bagas menghela napas dalam hati. Ya Tuhan, ini akan sulit.

"Karena kadang orang cuma butuh didengar, Pak. Bukan diperbaiki."

Arkan masih terlihat bingung, tapi ia mencatat mental.

"Kelima," Bagas melanjutkan dengan semangat, "Jangan posesif berlebihan. Ini yang paling penting, Pak. Wanita suka pria yang percaya diri, tapi tidak mengekang. Jadi… kalau ada pria lain yang dekati Nona Yura…"

Arkan langsung menatap tajam. "Apa?"

Bagas menelan ludah. "…Pak Arkan harus… tetap tenang. Jangan langsung ancam atau sabotase. Biarkan Nona Yura melihat kalau Pak Arkan… percaya padanya."

Arkan terdiam.

Lalu tertawa kecil pendek, pahit. "Kau tahu aku tidak bisa melakukan itu."

Bagas diam. Ia tahu.

Arkan berdiri, berjalan ke jendela besar, menatap kota di bawah.

"Aku tidak tahu cara jatuh cinta, Bagas," katanya pelan. "Aku hanya tahu cara… menginginkan sesuatu. Dan mendapatkannya."

Bagas menatap punggung bosnya dengan ekspresi prihatin. "Tapi Nona Yura bukan 'sesuatu', Pak. Dia… manusia."

Arkan diam lama.

Lalu ia mengangguk pelan hampir tidak terlihat. "Aku tahu."

Ia berbalik, menatap Bagas dengan tatapan serius. "Oke. Aku akan coba caramu. Tapi aku butuh bantuanmu."

Bagas menegakkan punggung. "Saya siap, Pak."

Arkan berjalan kembali ke mejanya, lalu duduk dengan ekspresi yang jarang terlihat bingung, tapi bertekad. "Pertama… aku harus tahu apa yang dia suka. Kue apa yang jadi favoritnya. Warna apa yang dia pakai paling sering. Kebiasaan kecilnya. Semuanya."

Bagas mengangguk cepat, mencatat di tablet.

"Kedua… aku harus… belajar bicara seperti orang normal." Lanjut Arkan

Bagas hampir tertawa, tapi ia tahan. "Saya… akan coba bantu, Pak."

Arkan menatap keluar jendela lagi, pikirannya sudah melayang ke Yura. "Dan ketiga…" Suaranya pelan, tapi penuh tekad. "Aku harus membuatnya melihatku… bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai… pilihan."

Bagas tersenyum kecil. "Itu… langkah yang bagus, Pak."

Arkan tidak tersenyum. Ia hanya menatap malam dengan tatapan gelap.

Tapi di dalam hatinya, satu hal tetap jelas: Ia akan melakukan apa pun untuk membuat Yura jatuh cinta. Bahkan jika itu artinya… ia harus belajar menjadi orang yang tidak ia kenal.

Keesokan Harinya Percobaan Pertama Arkan

Pagi itu, Yura sedang menata etalase seperti biasa.

Bel pintu berbunyi.

Ia menoleh dan terkejut.

Arkan berdiri di depan pintu.

Tapi kali ini… tidak ada aura mengancam. Tidak ada tatapan dingin.

Ia hanya… berdiri. Dengan satu kotak kecil di tangannya.

Yura langsung menegang. "Pak Arkan.."

"Aku tahu kau tidak ingin melihatku," potong Arkan cepat. Suaranya… lebih lembut. Lebih tenang. "Tapi… aku hanya ingin memberikan ini."

Ia meletakkan kotak kecil di meja kasir, lalu mundur beberapa langkah memberi jarak.

Yura menatap kotak itu dengan curiga. "Apa ini?"

"Bukan sesuatu yang mahal," jawab Arkan. "Hanya… sesuatu yang kupikir… mungkin kau suka."

Yura tidak menyentuhnya.

Arkan menarik napas. "Aku… tidak akan memaksamu bicara. Tidak akan memaksamu menerimaku. Aku hanya ingin kau tahu… aku menyesal."

Yura menatapnya bingung, waspada. "Menyesal… untuk apa?"

Arkan menatapnya lurus. "Untuk semua yang membuatmu takut."

Keheningan jatuh di antara mereka.

Yura tidak tahu harus bilang apa.

Arkan mengangguk pelan, lalu berbalik menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti.

"Aku akan datang lagi. Tapi… hanya kalau kau mengizinkan."

Lalu ia pergi.

Yura berdiri sendirian, menatap kotak kecil di meja kasir. Ia ragu. Tapi… penasaran.

Perlahan, ia membukanya.

Di dalam… ada satu Pie kecil yang di atas nya di balut dengan Selai blueberry dibungkus rapi dengan pita sederhana.

Dan secarik kertas kecil:

"Aku dengar ini favoritmu."

Yura menatap kue itu lama.

Lalu… ia tersenyum kecil bingung, tapi… sedikit tersentuh. Untuk pertama kalinya… Arkan melakukan sesuatu yang tidak menakutkan. Dan Yura… tidak tahu harus merasa apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!