Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Tinggal Bersama
Jam anak-anak pulang sekolah sudah tiba. Tisha mengantar Alia dan teman-temannya keluar ke tempat tunggu dekat pintu gerbang.
Willie melihat putrinya jalan mendekat kearahnya, "Ayo pulang," katanya pada Alia. Namun Alia enggan untuk segera pulang.
"Pa, boleh tidak Alia bermain sebentar lagi dengan teman-teman." rengeknya. Dan tentu saja Willie tak bisa menolak permintaan itu.
Alia pun lanjut bermain lagi. Willie tak sengaja menoleh ke arah Tisha. Gadis itu sedang membungkuk sambil membantu seorang anak menutup tas kecilnya.
Entah kenapa, pandangan Willie tertahan lama ke arahnya. Tisha menyadari tatapan itu. Lalu ia menunduk sopan. Willie sedikit kikuk, tapi ia membalas senyumnya tipis. Ada jeda hening yang aneh di antara mereka. Tak ada yang bicara.
Beberapa saat kemudian, Alia berlari ke arah ayahnya. “Pa, ayo pulang,” katanya riang.
Willie mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih pada Tisha. “Terima kasih sudah menjaga Alia, Bu Tisha.”
Tisha hanya tersenyum kecil. “Sama-sama, Pak.”
Alia melirik sekilas ke arah Tisha.
“Bu Tisha tidak ikut kami pulang?” tanya Alia dengan nada yang benar-benar berharap.
Tisha sedikit kaget, bahkan sempat menatap Willie sekilas sebelum kembali menunduk.
“Bu Tisha hari ini ada jadwal ke kampus, sayang,” ucapnya lembut sambil mengelus kepala Alia. “Kalau urusannya cepat selesai , nanti Bu Tisha mampir ya.”
Alia tampak sedikit kecewa, tapi kemudian ia mengangguk pelan.
“Janji ya, Bu?” katanya dengan nada manja.
Tisha tersenyum, lalu menautkan kelingking kecil Alia. “Janji.”
Adegan itu membuat Willie tanpa sadar ikut tersenyum. Ada kehangatan yang lama tak ia rasakan sejak kepergian Vira.
Willie menawarkan dengan nada ramah, “Bu Tisha mau ke kampus? Ayo bareng saja.”
Tisha buru-buru menggeleng pelan. “Tidak usah Pak, kebetulan saya bawa motor. Tapi terima kasih banyak sebelumnya.”
Willie mengangguk, meski sempat tampak sedikit kecewa. “Baiklah kalau begitu."
Alia dan Willie kemudian berjalan menuju mobil. “Kami pamit ya Bu,” ucap Willie singkat.
Tisha hanya tersenyum sambil membalas lambaian Alia. “Sampai jumpa lagi, sayang.”
Tisha kemudian melangkah menuju parkiran motor, tapi entah mengapa, dadanya terasa hangat mendengar sedikit perhatian dalam suara Willie tadi.
Di perjalanan pulang, pikiran Willie mulai melayang entah ke mana. Ia mulai paham alasan kedua orang tuanya menyinggung nama Tisha.
Gadis itu memang baik. Caranya berbicara lembut, sikapnya pada anak-anak begitu tulus. Ia tampak seperti seseorang yang benar-benar mencintai dunia kecil mereka.
Namun Willie terdiam sejenak. Tapi, apa itu cukup dijadikan alasan untuk menikah lagi, batinnya.
Ia tersenyum miris, tanpa sadar ia bergumam, "Ya, wajar saja dia begitu. Toh dia guru TK. Lembut dan ramah sudah jadi bagian dari pekerjaannya."
"Papa ngomong apa?" tanya Alia yang membuat Willie tersentak.
"Ah, maaf, Nak. Papa cuma sedang mikirin sesuatu." Ia menggaruk tengkuknya, berusaha tampak santai.
Alia masih menatap curiga "Mikirin Bu Tisha ya?" tanyanya polos.
Willie cepat-cepat menggeleng, lalu berdehem canggung. "Ah, tidak kok."
Ia cepat-cepat mengalihkan suasana.
"Alia mau es krim?"
Anak kecil itu langsung berseru riang. "Mau! Aku mau yang rasa stroberi sama vanilla ya, Pa!"
"Siap, Tuan Putri." seru Willie yang disusul dengan tawa kecil Alia.
***
Malam itu, Willie duduk di tepi ranjang putrinya. Buku dongeng sudah terbuka di tangannya.
“Baiklah, malam ini kita baca kisah Putri dan Kelinci Ajaib, ya?” kata Willie sambil tersenyum.
Alia mengangguk semangat, ia menyelimutkan tubuhnya sampai sebatas dada.
Willie mulai membaca dengan suara beratnya yang khas. Belum sampai dua paragraf, Alia sudah mengangkat tangan.
“Pa, bacanya pelan dong…” protesnya.
Willie berhenti sejenak, lalu terkekeh kecil. “Oh iya, Papa coba lagi ya.”
Ia mengulang dari awal, kali ini dengan tempo lebih pelan. Namun, Alia masih menatapnya dengan sorot mata tidak puas.
“Pa, suaranya lebih lembut lagi dong. Ini dongeng, bukan cerita horor.” katanya dengan wajah serius.
Willie menahan tawa. Ia tahu suaranya memang berat kadang malah terdengar menyeramkan.
“Baiklah,” katanya sambil berdehem
Willie memulai lagi, kali ini ia mencoba meniru suara perempuan. Alia malah tertawa terbahak. “Suara Papa seperti penyihir!” katanya sambil menutupi mulut.
“Oh, benarkah?” Willie menaikkan alisnya pura-pura marah. “Kalau begitu, bersiaplah! Aku akan mengubahmu jadi kelinci kalau mengejek Papa lagi!”
Ia segera menyerang dengan jari-jarinya, menggelitik Alia tanpa ampun.
“Aw! Papa, hentikan! Hahaha geli!” Alia menjerit di antara tawa.
Setelah lelah tertawa, Alia akhirnya rebah di pelukan ayahnya.
Matanya mulai berat, tapi bibir mungilnya masih sempat berucap lirih, “Pa…”
Willie menunduk sedikit, menatap wajah putrinya.
“Hmm?”
“Jadi, kapan Bu Tisha akan tinggal bersama kita?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu membuat Willie terdiam sejenak. Ia menatap langit-langit kamar, mencari jawaban yang aman.
“Entahlah,” jawabnya singkat.
Alia mengerjap, lalu menatap ayahnya dengan rasa ingin tahu. “Kenapa? Apa Papa belum mengajaknya?”
Willie tersenyum kecut. “Nak, itu tidak mudah. Bu Tisha tentu tidak bisa tinggal di sini begitu saja. Orang-orang bisa salah paham, dan itu tidak baik.”
“Lalu… gimana caranya supaya Bu Tisha bisa tinggal bersama kita?” tanya Alia polos seperti anak yang tengah menyusun rencana kecil.
Willie menarik napas panjang.
“Papa harus menikah dengan Bu Tisha dulu, baru bisa begitu,” katanya pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Alia terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah ayahnya. “Kalau gitu, menikah saja, Pa,” ucapnya ringan, seakan semua urusan dunia bisa selesai sesederhana itu.
Willie hanya tersenyum lemah. “Tidak semudah itu, sayang,” sahutnya lirih.
Alia lalu bangun sedikit dan meraih bingkai foto keluarga di meja samping tempat tidurnya.
Ia menatap lama pada foto itu. Gambar dirinya, ayahnya, dan ibunya yang tersenyum lembut di masa lalu.
“Nanti Bu Tisha bisa berdiri di sini,” katanya sambil menunjuk sisi foto di dekat mendiang mamanya. “Di sebelah Mama.”
Willie terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia hanya mengusap rambut putrinya, dan dalam hati berbisik, "Andai semuanya sesederhana itu, Nak."
***
Willie sudah bersiap-siap untuk berangkat keluar kota lagi. Di ruang tamu, Alia mendekatinya dengan wajah penuh harap.
“Pa, sebelum papa pergi, boleh anterin Alia ke rumah Bu Tisha?” pintanya lembut.
Seperti biasa Alia memang selalu tinggal bersama Tisha saat Willie keluar kota. Willie menatap anaknya, "Bisa tidak kali ini Alia tinggal bersama Bi Ratih saja?"
Alia langsung cemberut, "Tidak mau, Bi Ratih tidak seru dan tidak bisa bermain." keluhnya.
Bi Ratih dirumah itu memang dari dulu lebih apik dalam mengurus rumah. Namun agak kaku kalau berhadapan dengan anak kecil.
Willie sempat terdiam sejenak, lalu mengiyakan permintaan Alia. Sebelum berangkat, ia terlebih dulu menghubungi Tisha.
Tentu saja Tisha dengan senang hati bersedia menjaga Alia. Dalam perjalanan, Willie sempat berhenti di sebuah toko kue.
Ia membeli beberapa roti dan sekotak kue tart, lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah Tisha. Namun pikirannya sama sekali tak tenang.