Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deep Talk
Motor sport Anggika berhenti tepat di depan rumah. Ia turun tanpa banyak bicara, melepas helm dengan gerakan cepat lalu melangkah masuk.
“Gi, kalau masuk rumah itu salam dulu,” tegur Herry dari ruang tamu, masih duduk santai dengan secangkir kopi di tangan.
Anggika tersentak sedikit.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Kulsum dari dapur. “Gimana Mario? Udah baikan?”
“Udah,” jawab Anggika singkat. Ia meletakkan kunci dan helm di atas meja. “Kalau Mario ke sini, kasih aja ini.”
Kulsum memperhatikan wajah putrinya lebih saksama.
“Kok mata kamu merah? Kamu habis nangis?”
“Nggak, Mak. Tadi kelilipan pas naik motor,” jawab Anggika cepat, menghindari tatapan ibunya.
Herry menaruh cangkirnya pelan.
“Jujur sama Bapak, Gi. Wajah kamu kayak dua bulan lalu… waktu pulang dari Jakarta habis batal nikah sama Rafly.”
Anggika terdiam.
Kulsum ikut mendekat.
“Mario macam-macam sama kamu? Dia dua-in kamu?”
“Enggak, Pak, Mak. Mario nggak salah,” suara Anggika mulai bergetar. “Tapi… aku mau mengakhiri hubungan aku sama dia.”
Herry langsung berdiri.
“Maksud kamu apa? Beberapa hari lagi kamu menikah. Bapak sudah urus berkas ke KUA. Ini bukan hal kecil, Gi.”
“Aku nggak bercanda, Pak,” balas Anggika pelan. “Biar aja Mario nikah sama anak sahabat orang tuanya itu. Dia juga perhatian sampai mau merawat Mario di rumah sakit.”
Kulsum menghela napas berat.
“Jadi cuma karena perempuan itu kamu mundur? Mario jelas-jelas pilih kamu.”
“Gi, pikirkan baik-baik,” tambah Herry. “Kalau kamu gagal menikah dua kali, omongan orang desa bakal makin panjang.”
Anggika menunduk.
“Aku capek, Pak. Ngantuk. Mau tidur dulu.”
Ia berbalik masuk kamar, mengunci pintu dari dalam.
Bersandar di balik pintu, air matanya akhirnya jatuh.
“Maafin Anggi, Pak… Mak…” bisiknya lirih. “Lebih baik gagal sekarang daripada nanti saat sudah rumah tangga . Anggi nggak mau bikin Bapak sama Emak tambah malu.”
Ia merebahkan tubuh di atas ranjang, menatap kosong ke langit-langit kamar.
“Kenapa rasanya lebih sakit dari waktu Rafly ninggalin aku…” gumamnya. “Padahal aku sama Mario cuma pura-pura.”
Bayangan wajah Mario—senyum jahilnya, godaannya, cara dia melindungi Anggika—terus muncul di kepalanya.
Anggika menutup wajahnya dengan bantal.
“Anggi, kamu nggak suka sama dia,” katanya meyakinkan diri sendiri. “Lupakan. Ini cuma perasaan sesaat.”
Tapi semakin ia menyangkal, semakin sesak dadanya terasa.
Mobil Huda berhenti tepat di depan rumah Herry. Mesin dimatikan. Mereka semua turun satu per satu.
Mario menoleh tajam ke arah Tasya.
“Kamu jangan ngomong macam-macam di dalam. Paham?”
Tasya mengerucutkan bibir.
“Iya… nggak usah bentak juga kali.”
“Udah, Tasya. Diam aja,” potong Aisyah tegas.
“Iya, Tante…” jawab Tasya pelan.
“Ayo, masuk,” ujar Huda.
Mereka melangkah ke teras.
“Assalamu’alaikum,” ucap mereka hampir bersamaan.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Herry, sedikit terkejut melihat rombongan itu. “Eh, Pak Huda, Bu Aisyah… Mario juga…Ini..?”
Aisyah tersenyum tipis.
“Ini Tasya, Pak. Anak sahabat saya dari Jakarta. Lagi menginap di rumah.”
Kulsum yang berdiri tak jauh dari pintu langsung menatap Tasya tajam.
“Oh… jadi gara-gara kamu Anggika nangis?”
Mario spontan menoleh.
“Anggika nangis, Bu?”
Herry mendengus.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu kamu, Rio.
Anggika itu masih trauma diselingkuhi dan ditinggal nikah dua bulan lalu. Sekarang kamu mau bikin dia ngerasain hal yang sama?”
Kulsum ikut menyahut dengan nada kecewa.
“Emak percaya kamu bisa jaga hati Anggika. Tapi malah kamu yang bikin dia nangis.”
Mario menggeleng cepat.
“Saya nggak ada hubungan apa-apa sama Tasya, Pak, Bu. Demi apa pun.”
Herry menghela napas panjang.
“Jangan ngobrol di depan pintu. Nggak enak sama tetangga. Masuk dulu. Sum, bikin minum.”
“Iya, Mas, ” jawab Kulsum lalu masuk ke dapur.
Di ruang tamu, Mario menoleh ke Tasya dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram lengan Tasya pelan tapi tegas.
“Kamu ngomong apa sama Anggika di kantin tadi?”
“A-aku nggak ngomong apa-apa… cuma…” Tasya terlihat gemetar.
“Mario, sudah,” tegur Aisyah. “Nanti bahas di rumah. Jangan ribut di sini.”
Mereka akhirnya duduk.
Herry menatap Mario serius.
“Jawab jujur. Apa yang sebenarnya terjadi sampai Anggika bilang mau membatalkan pernikahan?”
Mario terkejut.
“Membatalkan? Pak, kami nggak pernah bicara soal itu. Kenapa sampai begitu?”
“Itu yang dia bilang sebelum masuk kamar,” jawab Herry tegas.
Mario menelan ludah.
“Pak… boleh saya bicara berdua dengan Anggika?”
Herry langsung mengernyit.
“Mau apa lagi kamu? Nyakitin dia lagi?”
Aisyah mencoba menenangkan suasana.
“Pak Herry, mungkin lebih baik mereka bicara sendiri. Dari hati ke hati. Kita sebagai orang tua cukup mendukung.”
Huda mengangguk pelan.
“Kadang anak-anak butuh ruang buat menyelesaikan masalahnya sendiri.”
Mario terdiam, pikirannya berputar.
Apa karena aku bahas soal anak tadi? Apa dia takut aku nggak bisa terima kalau dia nggak mau punya anak? batinnya gelisah.
Aku bisa kok… kalau memang itu maunya dia. Kenapa harus sampai mau batalin semuanya, Gi…
"Ini minumnya, silakan diminum dulu,” ujar Kulsum sambil meletakkan gelas di meja.
“Sum, tolong panggil Anggika,” kata Herry pelan tapi tegas.
“Iya, Mas.” Kulsum berjalan ke arah kamar Anggika lalu mengetuk pintu.
Tok… tok…
“Gi… keluar dulu, Nak. Ada Mario datang. Dia mau ngobrol sama kamu,” suara Kulsum lembut dari balik pintu.
“Suruh pulang aja, Mak. Aku nggak mau ketemu dia,” jawab Anggika dari dalam kamar, suaranya terdengar berat.
“Anggika, jangan begini. Kita selesaikan secara dewasa. Kalau kamu memang mau membatalkan pernikahan, kamu harus bicara baik-baik. Jangan menghindar seperti ini.”
Beberapa detik hening.
“Iya, Mak… bentar,” jawab Anggika lirih.
“Cepat ya. Jangan lama-lama.” Kulsum kembali ke ruang tamu. “Mas, Anggika sebentar lagi keluar.”
Di dalam kamar, Anggika berdiri di depan cermin. Ia mengusap sisa air mata di pipinya.
“Kenapa aku selemah ini…” gumamnya.
Ia mengganti pakaian, menyisir rambut dengan tangan gemetar, lalu ke kamar mandi mencuci wajahnya. Setelah menarik napas panjang, ia melangkah keluar menuju ruang tamu.
Begitu melihat Anggika, Aisyah langsung berbisik pada Tasya.
“Cepat, minta maaf sama Anggika.”
Tasya berdiri pelan. “Anggika… maafin aku ya. Gara-gara aku kamu jadi mau membatalkan pernikahan sama Mario. Aku nggak ada maksud apa-apa. Aku janji bakal jaga jarak. Aku tahu kamu cemburu…”
Anggika menatap Tasya datar.
“Kamu nggak salah. Ini bukan soal kamu. Aku sama Mario memang nggak cocok.”
Mario menegang. “Gi…”
Herry memandang mereka bergantian.
Mario lalu berkata, “Pak, Bu… saya izin ngajak Anggika ngobrol sebentar di taman. Biar nggak ramai.”
Herry menarik napas panjang. “Ya sudah. Selesaikan baik-baik.”
“Iya, silakan,” tambah Aisyah.
Mario menggandeng tangan Anggika. Refleks Anggika melepaskannya.
“Kamu ngapain sih? Lepasin,” ucap Anggika ketus.
“Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu jujur sama aku,” balas Mario, suaranya tertahan.
Mereka berjalan keluar rumah menuju taman dan duduk di gazebo. Angin malam berhembus pelan.
Mario menatap Anggika serius. “Sekarang jawab aku. Kenapa kamu mau membatalkan pernikahan kita?”
Anggika menunduk. “Aku sudah bilang. Kamu nikah aja sama yang lain.”
“Yang lain siapa? Tasya?” suara Mario meninggi sedikit. “Kamu pikir aku ada apa-apa sama dia?”
Anggika diam.
“Gi, lihat aku.” Mario memegang dagunya pelan agar menatapnya. “Apa karena soal anak? Karena aku pernah bilang aku pengen punya anak cepat? Kamu mau child free kan? Jadi kamu mundur?”
Dalam hati Anggika bergejolak.
“Kenapa dia pikir aku nggak mau punya anak? Dari mana dia dapat pikiran itu…”
“Aku nggak pernah bilang aku nggak mau punya anak,” ucap Anggika akhirnya, pelan tapi tegas.
“Lalu kenapa kamu menjauh? Kenapa kamu menyerah sebelum kita mulai?”
Anggika menggigit bibirnya. “Karena aku takut.”
“Takut apa?”
“Aku takut gagal lagi. Takut dikhianati lagi. Takut ditinggal lagi. Aku nggak mau ngerasain sakit yang sama untuk kedua kalinya… apalagi bikin orang tua aku malu.”
Mario terdiam beberapa detik.
“Gi… aku bukan Rafly.”
“Semua juga awalnya nggak kelihatan akan jadi jahat,” jawab Anggika lirih.
Mario mendekat sedikit. “Kamu pikir aku main-main? Kamu pikir aku pura-pura selama ini?”
Anggika menahan air mata. “Bukannya dari awal hubungan kita cuma pura-pura?”
“Kalau buat kamu pura-pura… buat aku nggak,” suara Mario melembut.
Anggika terdiam, dadanya terasa sesak.
“Jawab satu hal aja,” lanjut Mario pelan. “Kamu masih mau berjuang sama aku… atau kamu memang nggak pernah punya rasa?”
Angin malam terasa semakin dingin. Anggika menunduk, hatinya semakin bimbang.