NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: IKATAN YANG TAK TERLIHAT

BAB 21: IKATAN YANG TAK TERLIHAT

Pagi pertama di kediaman Vashishth setelah kedatangan Ibu Sujati terasa seperti berjalan di atas lapisan es yang sangat tipis. Di paviliun belakang, suasana jauh lebih hangat. Arlan sedang duduk di lantai, kepalanya bersandar di pangkuan Ibunya. Sujati membelai rambut putranya dengan tangan yang masih gemetar karena trauma penyekapan. Meski Arlan masih bertingkah seperti anak kecil, keberadaan Sujati memberinya ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun, bahkan oleh Vanya sekalipun.

Vanya masuk membawa nampan berisi sarapan. Ia tersenyum melihat pemandangan itu, namun hatinya perih. Ia teringat bagaimana dulu Arlan selalu menjadi sosok yang melindungi Ibunya dengan gagah berani, namun kini perannya terbalik total.

"Ibu Sujati, makanlah sedikit. Ibu harus kuat demi Arlan," ucap Vanya lembut.

Sujati menatap Vanya, lalu menatap sekeliling paviliun yang mewah itu. "Vanya, kenapa pria itu... Mayor Rayhan... begitu baik kepada kita? Dia anak Suman. Aku tahu betul betapa Suman membenciku. Kenapa anaknya justru mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanku?"

Vanya terdiam. Ia sendiri masih berusaha mencerna kemuliaan hati Rayhan. "Rayhan berbeda dengan ibunya, Bu. Dia adalah pria yang memegang teguh kehormatan. Dia bilang, selama kita di sini, kita adalah tanggung jawabnya."

Tiba-tiba, Arlan bangkit berdiri. Ia melihat sosok Rayhan yang sedang berjalan di taman melalui jendela. Wajah Arlan langsung cerah. "Tuan Tentara! Ibu, lihat! Itu Tuan Tentara yang hebat!"

Arlan berlari keluar paviliun, mengabaikan teriakan Vanya. Ia mengejar Rayhan yang sedang melakukan latihan fisik rutin di taman. Rayhan berhenti saat melihat Arlan berlari ke arahnya. Arlan dengan polosnya mencoba meniru gerakan push-up Rayhan, namun ia justru terjatuh dan tertawa terpingkal-pingkal di atas rumput.

Rayhan membantu Arlan berdiri, menepuk-nepuk debu dari pakaian Arlan dengan perhatian yang sangat tulus. Dari kejauhan, Sujati memperhatikan interaksi itu. Matanya membelalak. Ia melihat bagaimana Rayhan tersenyum tipis pada Arlan—sebuah senyum yang sangat mirip dengan mendiang suaminya.

"Ya Tuhan..." bisik Sujati. "Mereka memiliki cara berdiri yang sama. Mereka memiliki garis rahang yang sama. Rayhan benar-benar tidak tahu bahwa pemuda yang ia panggil 'orang malang' itu adalah darah daging ayahnya sendiri."

Di sisi lain rumah, di balkon lantai atas, Suman memperhatikan interaksi Rayhan dan Arlan dengan amarah yang mendidih. Baginya, pemandangan itu adalah penghinaan. Ia segera turun dan menghampiri Rayhan di taman.

"Rayhan! Cukup!" teriak Suman. "Kau seorang Mayor! Kau punya tugas negara! Berhenti bermain-main dengan orang gila ini. Kau merusak wibawa seragammu!"

Arlan yang kaget mendengar suara melengking Suman, langsung bersembunyi di belakang punggung Rayhan. Ia mencengkeram kaos olahraga Rayhan dengan takut. "Tuan Tentara, wanita galak itu datang lagi! Usir dia! Dia punya mata seperti hantu!"

Suman tersentak, wajahnya merah padam. "Apa kau bilang?! Dasar anak tidak tahu diuntung!"

Rayhan berdiri tegak, melindungi Arlan di belakang tubuhnya. "Ibu, tolong jaga bicaramu. Arlan tidak mengerti apa-apa. Dan mengenai wibawaku... wibawa seorang prajurit diukur dari bagaimana dia melindungi yang lemah, bukan dari bagaimana dia menghina mereka."

"Kau berani membantah Ibu demi dia?!" Suman menunjuk Arlan dengan jari gemetar.

"Aku membantah ketidakadilan, Ibu," jawab Rayhan dingin. Ia kemudian menoleh pada Arlan. "Arlan, masuklah ke dalam bersama Vanya. Aku akan menyusul nanti."

Sore harinya, Vanya mencoba memicu ingatan Arlan dengan membawa sebuah benda dari masa lalu mereka: sebuah alat musik harmonika tua yang dulu sering dimainkan Arlan di Simla. Vanya duduk di samping Arlan di teras paviliun.

"Arlan, ingat ini? Kau pernah memainkan lagu untukku di tepi sungai dengan ini," Vanya mulai meniup harmonika itu, memainkan nada yang sangat akrab di telinga mereka.

Arlan terdiam. Matanya yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi sayu. Ia mengambil harmonika itu dari tangan Vanya. Tangannya bergerak secara otomatis, seolah otot-ototnya mengingat apa yang otaknya lupakan. Ia mulai meniup satu dua nada.

Vanya menahan napas. "Ya, Arlan... teruskan..."

Namun tiba-tiba, Arlan melemparkan harmonika itu ke lantai hingga pecah. Ia memegang kepalanya dan berteriak kesakitan. "SAKIT! Vanya... air... sungai... darah! Ada banyak darah!" Arlan mulai menangis histeris. Ia tidak memanggil "Kakak Cantik", ia memanggil nama "Vanya" dengan nada yang sangat menyayat, seolah jiwanya yang asli sedang mencoba mendobrak keluar.

Rayhan, yang sejak tadi mengamati dari balik pilar, segera berlari menghampiri. Namun kali ini, ia tidak langsung menenangkan Arlan. Ia justru menatap Vanya dengan tatapan yang sangat dalam.

"Dia memanggil namamu, Vanya. Bukan 'Kakak Cantik'. Dia mulai mengingatmu," ucap Rayhan pelan.

Vanya menatap Rayhan, air mata membanjiri wajahnya. "Tapi dia kesakitan, Rayhan. Aku tidak tega melihatnya menderita seperti ini hanya untuk mengingatku."

Rayhan mengambil potongan harmonika yang pecah itu. "Mungkin kebenaran memang selalu menyakitkan sebelum ia membebaskan kita. Vanya... aku ingin kau jujur padaku. Jika suatu saat ingatannya kembali sepenuhnya, dan dia memintamu kembali... apa yang akan kau lakukan padaku? Pada pernikahan kita?"

Vanya tertegun. Ia tidak menyangka Rayhan akan menanyakan hal itu sekarang. Di saat yang sama, Sujati muncul di pintu paviliun. Sujati menatap Rayhan dengan tatapan penuh simpati. Ia tahu Rayhan juga adalah korban di sini.

"Mayor Rayhan," panggil Sujati lembut. "Takdir tidak pernah bertanya pada kita sebelum ia menjerat kita dalam kerumitan. Kau adalah pria yang baik. Tapi kau harus tahu, ada rahasia di rumah ini yang jauh lebih besar daripada sekadar ingatan Arlan."

Rayhan mengernyitkan dahi. "Apa maksud Anda, Nyonya Sujati?"

Belum sempat Sujati menjawab, suara bel pintu depan berbunyi dengan sangat keras dan berkali-kali. Seorang pelayan berlari menghampiri Rayhan. "Mayor! Tuan Hendra Kashyap ada di depan! Dia membawa polisi dan surat perintah untuk mengambil Nona Vanya dan Arlan!"

Rayhan mengepalkan tangannya. Matanya berkilat penuh amarah militer. "Hendra Kashyap... dia berani datang ke markas Mayor Vashishth?"

Rayhan berjalan menuju gerbang depan dengan langkah mantap, sementara Vanya memeluk Arlan yang masih ketakutan.

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!