Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01 - Ruang yang Terkunci
..."Ruang yang terkunci bukan selalu untuk terlupakan. Kadang, ia hanya menunggu seseorang mengetuknya dengan cara yang tak terduga."...
Happy Reading!
...----------------...
Seorang gadis berdiri di area parkiran sekolah sambil menunduk menatap layar ponselnya. Rambut hitamnya jatuh lembut melewati bahu, sesekali tertiup angin pagi yang masih dingin. Seragamnya rapi seperti biasa, tapi caranya menggenggam ponsel menunjukkan kegelisahan kecil yang ia sembunyikan.
Jarinya bergerak pelan, sekadar mengusir rasa bosan, sementara pandangannya sesekali terangkat ke arah gerbang masuk, seolah memastikan seseorang yang ditunggunya benar-benar akan datang.
Hari itu sekolah masih memberlakukan pembelajaran daring. Pandemi belum sepenuhnya usai. Namun entah mengapa, selalu ada satu-dua guru yang tetap meminta muridnya datang langsung hanya untuk mengumpulkan tugas. Dan Shaira adalah salah satunya.
Hampir tujuh menit berlalu sebelum akhirnya sosok yang ditunggu muncul di balik gerbang, mengendarai motor hitam yang tampak begitu terawat.
"Shaira! Maaf yaa," teriak gadis itu sambil melambai. "Tadi Bleky harus dikasih makan dulu. Kalau nggak, dia nggak mau nganter gue sampai sekolah."
Shaira menghela napas pelan. Lagi-lagi soal itu.
Bleky.
Nama motor kesayangan sahabatnya.
"Hah? Kok dikasih makan?" tanya Shaira sambil mengernyit.
"Ih, isi bensin maksudnya," jawab Nara santai. "Kan itu makanannya Bleky."
Berteman dengan Nara memang butuh kesabaran ekstra. Tingkahnya sering random, ucapannya kerap terdengar aneh, dan imajinasinya... terlalu hidup. Tapi entah kenapa, Shaira selalu merasa nyaman bersamanya. Ada sesuatu dari Nara yang membuat semua kekacauan kecil terasa ringan.
"Oh." Shaira mengangguk kecil. "Yaudah, ayo cepetan ke kantor guru."
Tanpa menunggu jawaban, Shaira menarik tangan Nara dan berjalan lebih dulu.
"Ih sabar!" protes Nara sambil menepuk-nepuk motornya. "Bleky tunggu di sini ya, jangan nakal."
Nara lalu berlari kecil menyusul Shaira yang sudah melangkah jauh di depannya.
Mereka berjalan berdampingan, mengobrol ringan tentang tugas dan hal-hal sepele-hal yang biasanya Shaira abaikan. Tapi hari itu, setiap kata dari Nara terasa seperti musik pengiring langkahnya. Sampai tiba-tiba langkah Nara melambat.
"Eh," bisiknya sambil menepuk tangan Shaira pelan. "Itu... Raven."
Shaira refleks mengikuti arah pandang Nara.
Raven—pemuda itu—sedang menyalakan motornya di area parkir khusus dekat lobi sekolah. Posturnya tegap, dengan gerakan yang selalu terlihat tenang dan terukur. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, memberi kesan santai yang kontras dengan tatapannya yang sering sulit ditebak.
"Mentang-mentang anak guru," gumam Nara pelan, "enak banget parkirnya nggak jauh-jauh."
Shaira tidak menanggapi. Pandangannya cepat dialihkan ke arah lain, seolah Raven hanyalah bagian dari latar yang tidak perlu diperhatikan.
"Udah ah, ayo cepet," ucap Shaira lirih. "Ntar kelihatan sama dia."
Belum sempat mereka melangkah jauh, motor Raven justru melaju mendekat, melewati mereka.
"Halo, Ravennn," sapa Nara ceria.
Raven hanya mengangguk singkat sebagai balasan.
Sementara Shaira sibuk menunduk menatap ponselnya, berpura-pura tidak melihat apa pun-seolah detik itu tidak berarti apa-apa.
Padahal detik itu terlalu berarti.
Terlalu singkat untuk disapa,
namun terlalu lama untuk diabaikan.
Ada jeda kecil di dada—bukan rindu yang berani disebut, bukan pula marah—hanya sisa perasaan yang pernah tinggal lama,
karena seseorang yang dulu begitu dekat, kini terasa seperti orang asing yang kebetulan lewat, dengan sedikit rindu yang tak sempat disapa.
Begitu Raven menjauh, Shaira langsung memukul pelan tangan Nara.
"Ngapain sih disapa segala?"
"Ya kenapa?" Nara nyengir. "Lama nggak ketemu gara-gara sekolah online. Kita kan sekelas."
Shaira mendecih kesal, sementara Nara malah tersenyum puas.
"Tau nggak?" Nara kembali membuka suara.
"Gak," jawab Shaira ketus.
"Tadi dia liatin lo," ujar Nara penuh arti. "Kayaknya mimpi lo semalam tuh pertanda deh."
"Dih, apaan sih."
"Hati-hati ya," Nara menggoda, "gagal move on gara-gara mimpi jadi kenyataan."
"Gagal move on apaan," bantah Shaira sambil mendorong bahu Nara pelan. "Pacaran aja nggak pernah."
"Makanya," Nara terkekeh, "deketin lagi. Siapa tau kali ini pacaran."
"Ogah," jawab Shaira singkat.
Tapi ada satu hal yang tidak Nara tahu-dan Shaira sendiri tidak ingin akui.
Nama Raven selalu punya caranya sendiri untuk kembali mengetuk ruang yang seharusnya sudah lama terkunci. Ruang yang Shaira pikir sudah aman dari siapa pun.
Setiap kali ia muncul, seolah ada alarm kecil yang berbunyi di hatinya. Bukan alarm bahaya, tapi alarm yang menandai bahwa sesuatu yang lama-yang pernah begitu hangat-sedang kembali menyapa.
Dan meskipun Shaira mencoba menepisnya, ada bagian kecil di dirinya yang diam-diam berharap detik-detik singkat itu bisa bertahan lebih lama.
Mereka berjalan menyisiri koridor menuju kantor guru, tapi Shaira terus merasa seolah langkahnya berat. Tidak karena jarak, tapi karena kesadaran bahwa ia harus mengakui: beberapa orang tidak pergi begitu saja. Beberapa hanya menunggu momen yang tepat untuk kembali mengetuk pintu hati.
...----------------...
Visual Shaira Aluna Maheswari yang mungkin bisa kalian bayangkan sepanjang cerita ini.
Dan, beginilah visual Raven Adhikara Pratama—seseorang yang datang tanpa banyak suara, meninggalkan jejak yang perlahan tumbuh dan menetap dalam cerita Shaira.
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/