NovelToon NovelToon
Sekertaris Tanpa Gaji

Sekertaris Tanpa Gaji

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Keluarga / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adik yang menyusahkan

Tiba-tiba saja HP Syren berdering keras, memecah keheningan ruangan CEO yang dingin itu. Di layarnya tertera nama Lea. Gadis itu adalah pacar Ardi.

Pasti ni bocah bikin ulah lagi! batin Syren geram. Tangannya gatal ingin menjitak kepala adiknya saat itu juga.

"Pak Bos, bentar ya saya angkat telepon dulu. Ini penting banget!" ucap Syren panik sambil menatap Julian.

"Hemm," sahut Julian singkat, matanya kembali fokus ke layar laptop tanpa ekspresi.

Syren segera menjauh sedikit dan mengangkat teleponnya. "Halo, Lea? Kenapa?"

"Halo Kak Ren... emmm, Ardi kena masalah lagi. Sekarang dia di ruang BK, dia berantem sama kakak kelas," lapor Lea dengan suara gemetar di seberang sana.

"Aduh, anak itu! Nyusahin banget!" Syren memijat pangkal hidungnya, pusing tujuh keliling. "Ya udah, tunggu ya, Kakak ke sana sekarang."

Syren mematikan telepon dan menatap Julian dengan wajah memohon paling melas sejagat raya. "Pak Bos, ijin dong! Saya dipanggil ke sekolahan adik saya sekarang. Boleh ya?"

Julian menutup laptopnya pelan. Dia berdiri dari kursi kebesarannya, merapikan kemeja hitamnya yang tampak sangat pas di tubuh atletisnya.

"Saya ikut," ucap Julian tegas sambil menyambar kunci mobilnya di meja.

Syren melotot kaget. "Hah?! Bapak mau ngapain ikut?!"

"Memastikan kamu tidak kabur dari hutang, dan saya mau lihat seperti apa adikmu yang berani bikin masalah saat kakaknya sedang jadi tahanan saya," jawab Julian dingin sambil melangkah menuju pintu.

Para karyawan yang berpapasan di lobi langsung mendelik, mereka berbisik-bisik melihat pemandangan langka itu. Sosok Julian yang biasanya sedingin es, kini berjalan keluar membuntuti gadis yang memakai blouse pink dengan wajah ditekuk.

"Tuh kan, bener dugaan gue. Kayaknya tuh cewek bakal jadi saingannya Bu Indri, deh," bisik salah satu admin di balik kubikelnya.

Syren tidak peduli dengan gosip itu. Pikirannya sudah penuh dengan bayangan Ardi yang babak belur atau malah dikeluarkan dari sekolah. Ia menyambar tasnya di meja Gaby dengan terburu-buru.

"By, gue keluar dulu ya! Oke!" teriak Syren tanpa menunggu jawaban sahabatnya.

Di depan pintu otomatis, Leo yang baru mau masuk langsung terpaku melihat bosnya sudah siap-siap pergi. "Mau ke mana, Pak?" tanya Leo bingung.

"Mau nemenin karyawan ngeselin saya ini. Tolong handle kantor dulu ya," jawab Julian santai sambil menekan tombol kunci mobil di sakunya.

Syren yang mendengar itu langsung menoleh dan mendengus. "Maksudnya ngeselin gimana ya Pak Bos? Huftt!"

Leo hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap punggung keduanya yang menjauh menuju parkiran VIP.

"Biasanya aja kalau sama perempuan Pak Bos selalu ngehindar, ini kok enggak? Mana mau ikut urusan keluarga lagi," batin Leo penuh tanda tanya besar.

Julian membukakan pintu mobil mewah miliknya untuk Syren. "Masuk. Jangan buang waktu

saya, Syren Fauzana."

"Makasih Pak Bos," ucap Syren singkat sembari masuk ke dalam mobil mewah Julian. Belum sempat ia memasang seatbelt, ponselnya kembali bergetar.

Ada pesan masuk dari Rendi, wali kelas Ardi. Syren mendesah pelan; Rendi memang sudah lama mencoba mendekatinya, tapi Syren selalu merasa tidak enak hati karena posisinya sebagai wali murid.

"Ren, cepat. Adik kamu sudah dimarahi habis-habisan sama orang tua kakak kelasnya," tulis Rendi dalam pesan singkat itu.

Syren dengan cepat membalas, "Iya, ini aku sudah di perjalanan. Tunggu aja."

Julian yang sedang menyetir melirik sekilas ke arah layar ponsel Syren yang masih menyala. Rahangnya sedikit mengeras saat melihat nama 'Rendi' dengan gaya bahasa yang cukup akrab.

"Siapa Rendi?" tanya Julian tiba-tiba, suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya sembari menginjak pedal gas lebih dalam.

"Hah? Oh, itu wali kelasnya Ardi, Pak. Teman lama juga sih," jawab Syren tanpa curiga. "Duh Pak, bisa agak cepetan nggak? Katanya Ardi lagi diomelin habis-habisan di sana."

Julian tidak menjawab, namun ia langsung memutar kemudi dengan lihai, menyalip beberapa kendaraan di depannya. Ada rasa tidak suka yang muncul saat tahu ada pria lain yang menghubungi "sekretaris kontrak"-nya itu dengan nada khawatir.

"Kita lihat seberapa hebat wali kelas itu menjaga adikmu sampai harus kamu yang turun tangan," gumam Julian sinis.

Mereka pun sampai di sekolah. Syren segera turun dari mobil dengan langkah terburu-buru menuju ruang BK. Di depan pintu, ia mendapati Lea sudah menunggu dengan wajah cemas.

Lea sempat terpaku sejenak saat melihat kakak pacarnya itu tidak datang sendiri, melainkan bersama seorang pria yang sungguh tampan dan berwibawa.

"Halo, Kak Syren," sapa Lea pelan.

"Mana itu pacar kamu, Lea?" tanya Syren tanpa basa-basi.

"Di dalam, Kak," jawab Lea sambil menunjuk pintu ruangan.

"Permisi," ucap Syren seraya melangkah masuk. Begitu melihat kakaknya datang, Ardi langsung menghampiri dengan wajah memelas. "Mbak, tolongin aku..."

"Syutt!" Syren memberi isyarat agar adiknya diam.

Seorang wanita paruh baya yang duduk di sana langsung berdiri dengan emosi yang meledak-ledak. "Oh, jadi kamu kakaknya bocah kurang ajar ini? Yang sudah berani mukulin anak saya?!" cerocos ibu itu sambil menunjuk ke arah anaknya yang memang terlihat babak belur.

Syren mencoba tetap tenang meski hatinya panas. "Sebentar Pak, Bu. Adik saya ini tipenya tidak mau melawan orang lain kalau memang orang itu tidak betul-betul jelas kesalahannya atau memang sangat keterlaluan," tegas Syren membela adiknya di hadapan semua orang di ruangan itu.

Julian akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan BK dengan langkah tenang namun sangat berwibawa. Rendi, yang dari tadi sudah tegang, langsung bertanya dengan nada bingung, "Anda siapa?"

"Saya bosnya Syren," jawab Julian singkat sambil menatap tajam ke arah Rendi.

Mendengar suara bariton itu, wanita paruh baya yang tadi mengomel langsung menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Julian, ekspresi marahnya seketika lenyap, berganti dengan raut wajah terkejut dan pucat pasi. Ia mengenali pria itu; Julian Aldrin adalah rekan bisnis paling berpengaruh bagi suaminya.

"Wah, ternyata Bu Siska ya yang di sini," ucap Julian dengan nada santai namun mengandung tekanan yang kuat.

"Pa... Pak Julian? Kok Bapak bisa ada di sini?" tanya Bu Siska dengan suara gemetar, nyalinya menciut dalam sekejap saat menyadari siapa pria yang berdiri membela Ardi dan Syren.

Ardi dan Syren saling berpandangan, bingung sekaligus kaget melihat bagaimana si "Bos Peot" bisa membuat ibu-ibu galak itu langsung kicep ha

nya dengan satu kalimat.

"Memangnya masalah kalian apa hingga kalian bertengkar?" sela Syren, berusaha mencari titik tengah di antara ketegangan itu.

Ardi menunjuk kakak kelasnya dengan emosi. "Dia ngejahilin Lea, Kak! Dia bahkan buat Lea jatuh tadi, dan aku nggak terima ketika dia ngelecehin Lea dengan kata-katanya!"

"Cihh, nggak usah bohong lo bocah!" bantah anak itu tak mau kalah, berusaha mencari pembelaan dari ibunya.

"Emm, iya. Mana mungkin anak saya seperti itu. Dia terkenal baik dan penurut lho," timpal Bu Siska membela anaknya, meski suaranya tak selantang tadi di depan Julian.

Julian melipat tangan di dada dengan tenang. "Kita lihat saja penjelasan dari Lea."

Lea pun melangkah maju. Dengan suara gemetar namun pasti, ia menjelaskan semua kronologinya dan menunjukkan bukti pesan serta foto lebam di lengannya akibat terjatuh. Ruangan itu mendadak hening. Bukti itu tidak bisa dibantah lagi.

"Nah, itu sudah terjawab," kata Julian dingin sambil menatap Bu Siska.

Menyadari posisinya terpojok dan takut hubungan bisnis suaminya terancam, Bu Siska segera menarik anaknya. Mereka pun akhirnya meminta maaf dengan terpaksa dan langsung pergi meninggalkan ruangan.

"Dasar ya lo, Di! Nyusahin banget!" Syren langsung menjewer telinga Ardi dengan gemas begitu pintu tertutup.

"Aduh, aduh! Udah Mbak, sakit tauk!" rintih Ardi sambil berusaha melepaskan diri. Ia kemudian menoleh ke arah Julian dengan cengiran lebar. "Halo Om. Om bosnya Kakak saya ya? Makasih Om udah baik hati sama princess ku."

Julian hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakak beradik yang sama-sama ajaib ini.

Rendi, yang merasa terabaikan sejak tadi, akhirnya memberanikan diri menghampiri Syren. "Syren, kamu nanti malam ada waktu nggak?"

Belum sempat Syren membuka mulut, Julian sudah lebih dulu memotong dengan nada bicara yang sangat datar tapi tegas. "Ada, Pak Rendi. Dia harus lembur bersama saya," sahut Julian ketus sambil menatap Rendi dengan pandangan mengintimidasi.

"Lea, jaga pacar kamu ya," kata Syren pada Lea dengan nada memperingatkan. "Kalau dia berani macem-macem lagi, awas ya, walaupun niatnya sebenarnya baik."

"Iya, makasih ya Kak Syren," jawab Lea lembut. Di sampingnya, Ardi tampak dengan percaya diri merangkul pundak pacarnya itu, seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah pelindung Lea.

Melihat tingkah adiknya, Syren mendengus geli sekaligus kesal. "Ardi! Lo itu masih sekolah, nggak usah gitu juga kali," tegur Syren pada adiknya.

"Ya elah, Mbak... iri ya karena nggak punya pacar?" ledek Ardi sambil nyengir tanpa rasa berdosa.

"Diemmm luuuu!" sahut Syren ketus, wajahnya memerah karena kesal sekaligus malu di depan bosnya.

Syren pun segera membuntuti Julian yang sudah berjalan lebih dulu menuju parkiran. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil mewah milik Julian. Suasana di dalam mobil sempat hening sejenak sebelum Syren membuka suara.

"Pak Bos, makasih ya sudah bantuin saya tadi," ucap Syren tulus. Ia menoleh ke arah Julian yang sedang bersiap menjalankan mobil. "Pak Bos mau imbalan apa sebagai tanda terima kasih?"

Julian menghentikan gerakannya sejenak. Ia memutar tubuhnya, menatap Syren dengan tatapan yang sangat dalam dan intens.

"Saya mau kamu!" ucap Julian dengan suara rendah namun sangat tegas.

1
Eneng Elsy
julian azalah.. klo gio kan ortu nya matre..
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui
Hennyy Handriani
syren aku padamu
Hennyy Handriani
wah suka alur nya nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!