Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5: racun yang memurnikan darah
Hening malam di pinggiran Seoul kali ini terasa lebih menusuk. Di sebuah bangunan komersial yang tampak kumuh dan setengah terbengkalai, sebuah klinik ilegal bernama 'Klinik Sejahtera' beroperasi jauh di bawah radar pihak berwenang. Di sinilah Rehan, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun, menghabiskan sisa-sisa hidupnya yang malang. Tubuhnya kurus kering, hampir menyerupai mumi hidup, terhubung pada sebuah mesin cuci darah tua yang berderit bising.
Rehan menderita gagal ginjal kronis akibat paparan racun monster Abyss tipe spora saat ia mencoba menyelamatkan adik perempuannya setahun lalu. Namun, bukannya mendapatkan perawatan medis yang layak, ia justru dijual oleh paman yang mengasuhnya kepada sindikat perdagangan organ. Darah Rehan, yang telah terkontaminasi oleh energi Abyss, dianggap sebagai bahan eksperimen yang sangat berharga di pasar gelap.
Arkan berdiri di lorong gelap gedung tersebut, jubah Sanguine-nya menyapu lantai dengan suara gesekan yang halus. Di belakangnya, sebuah bayangan kecil bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar—Hana, sang Phantom, mengikuti tuannya sebagai bagian dari pelatihan lapangan pertamanya.
"Darah yang kotor bukan berarti jiwa yang kotor, bukan begitu Hana?" bisik Arkan tanpa menoleh.
"Baunya sangat busuk, Tuan. Bau keputusasaan dan bahan kimia yang gagal," suara Hana terdengar datar, terpancar dari frekuensi sarafnya yang kini telah terkendali.
Arkan melangkah masuk ke ruangan tempat Rehan berada. Dua orang pria berjas laboratorium sedang sibuk mencatat data dari monitor yang menampilkan grafik fungsi organ Rehan yang terus menurun. Sebelum mereka sempat menyadari keberadaan Arkan, Hana sudah bergerak.
SRAK!!
Hanya dalam satu kedipan mata, kedua pria itu jatuh tersungkur. Hana tidak membunuh mereka, ia hanya memutus aliran darah ke saraf motorik mereka dengan tekanan udara, membuat mereka lumpuh total namun tetap sadar untuk menyaksikan apa yang terjadi. Itulah perintah Arkan: jangan biarkan mereka mati dengan mudah.
Arkan berjalan mendekati Rehan. Pemuda itu menatap Arkan dengan mata yang menguning dan cekung, namun ada sisa-sisa api kehidupan yang mencoba melawan maut di sana.
"Kau membenci darahmu yang menjadi racun bagi tubuhmu sendiri, Rehan?" tanya Arkan, tangannya menyentuh selang yang mengalirkan darah keruh Rehan kembali ke tubuhnya.
"Aku... ingin mati saja... tolong hentikan mesin ini..." rintih Rehan, suaranya parau karena tenggorokannya yang mengering.
"Kematian adalah hak bagi mereka yang sudah menyerah. Tapi kau... kau masih menahan napasmu karena kau ingin membalas dendam pada monster yang meracunimu, dan pada paman yang mengkhianatimu," Arkan meremas selang tersebut hingga pecah. Darah Rehan yang keruh tidak tumpah ke lantai, melainkan melayang di udara, membentuk pusaran kecil yang berputar cepat.
Arkan mengeluarkan esensi Sanguine-nya yang berwarna merah ungu pekat. "Aku tidak akan menyembuhkanmu, Rehan. Aku akan mengubah racunmu menjadi senjata. Aku akan memberimu kekuatan untuk membusukkan setiap inci daging musuhmu hanya dengan nafasmu. Kau akan menjadi 'Plague' yang menyucikan dunia ini dengan cara yang paling kejam."
Arkan menekan tangannya ke dada Rehan. Esensi Sanguine meresap masuk, memicu reaksi berantai di dalam ginjal dan hati Rehan yang sudah rusak. Rehan menjerit tanpa suara saat seluruh darahnya mendidih. Cairan keruh di dalam tubuhnya dimurnikan secara paksa oleh energi Sovereign, mengubah zat beracun tersebut menjadi substansi bio-energi yang mematikan.
Kulit Rehan yang kusam perlahan-lahan mulai berubah, garis-garis hitam keunguan muncul di sepanjang pembuluh darah leher dan tangannya, membentuk pola tato alami yang menyerupai sulur tanaman merambat. Transformasi ini sangat menyiksa, karena organ-organnya harus beradaptasi untuk menyimpan racun alih-alih membuangnya.
"Tahanlah, Rehan. Inilah harga dari sebuah kebangkitan," Arkan memberikan dukungannya melalui resonansi darah.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti selamanya, Rehan jatuh terduduk. Nafasnya yang keluar dari mulut kini berbentuk kabut tipis berwarna ungu yang membuat lantai beton di bawahnya berdesis karena korosi. Rehan menatap tangannya, ia merasa jauh lebih kuat, namun ia bisa merasakan maut yang kini bersemayam di dalam nafasnya sendiri.
"Terima kasih... Tuan," Rehan berlutut, kepalanya tertunduk dalam.
"Hana, bawa dia ke markas. Bastian akan membantunya menstabilkan energinya," perintah Arkan. "Aku akan membereskan tempat ini."
Arkan menjentikkan jarinya, dan seketika seluruh peralatan medis di ruangan itu hancur menjadi bubuk besi. Ia meninggalkan koin perak kuno di dahi salah satu peneliti yang lumpuh, sebuah peringatan terakhir bagi sindikat tersebut sebelum ia menghilang.
Keesokan Harinya – SMA Gwangyang, Seoul.
Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kelas 1-A, menerangi Arkan yang sedang duduk diam dengan kacamata tebalnya. Di sebelahnya, Liora tampak sedang sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Arkan, kamu lihat pulpenku yang warna biru nggak? Itu pulpen keberuntunganku buat ujian hari ini," tanya Liora dengan nada cemas.
Arkan merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebuah pulpen biru yang terjatuh di bawah meja tadi pagi. "Ini?"
"Ah! Syukurlah! Kamu bener-benar penyelamatku," Liora tersenyum lebar, membuat jantung Arkan berdetak sedikit lebih cepat dari ritme normalnya. Arkan segera menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik buku.
Tiba-tiba, suasana kelas menjadi sunyi saat Rian masuk dengan perban di kepalanya—hasil dari kejadian 'histeris' yang dialaminya kemarin setelah diteror oleh Hana. Rian tidak lagi berteriak sombong. Ia berjalan menunduk, dan saat matanya tidak sengaja bertemu dengan Arkan, ia segera berpaling dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Lho, ada apa dengan Rian? Biasanya dia langsung bikin ribut," bisik Liora bingung.
"Mungkin dia sedang tobat," jawab Arkan pendek.
Liora menatap Arkan dengan curiga. "Jangan-jangan... ini ada hubungannya dengan kamu? Aku dengar kemarin ada orang yang melihat bayangan kecil berkelebat di sekitar rumah Rian."
Arkan hanya mengangkat bahu, berpura-pura tidak tahu. Namun di dalam hatinya, ia merasa sedikit lelah. Menjaga tiga bawahan yang memiliki kepribadian kuat sambil berpura-pura menjadi murid teladan membutuhkan energi mental yang sangat besar.
Di jam istirahat, Arkan pergi ke atap sekolah untuk melakukan sinkronisasi Blood-Link. Melalui pikirannya, ia bisa melihat markas bawah tanahnya. Bastian sedang berlatih beban, Hana sedang mengasah pisaunya, dan Rehan sedang mencoba mengendalikan kabut racunnya di dalam ruang isolasi.
'Dengarkan kalian bertiga,' suara Arkan bergema di pikiran mereka.
'Tuan!' jawab mereka serempak, menghentikan aktivitas masing-masing.
'Bastian, jaga Rehan. Kekuatannya belum stabil, dia bisa meledak kapan saja. Hana, aku merasakah ada pergerakan dari Hunter Association yang mulai menyelidiki hilangnya Rehan. Pastikan semua jejak di klinik semalam sudah benar-benar musnah.'
'Siap, Tuan!' jawab Hana dengan penuh semangat.
Arkan mematikan koneksi tersebut dan menatap ke arah langit Seoul yang mulai dipenuhi oleh awan hitam. Di kejauhan, ia bisa merasakan sebuah retakan dimensi yang sangat besar akan segera terbuka. Bukan di pinggiran kota, tapi tepat di pusat keramaian.
'Waktuku untuk bermain sebagai murid biasa sepertinya akan segera berakhir,' pikir Arkan sambil membetulkan letak kacamatanya. Ia tahu, saat gerbang itu terbuka, ia tidak bisa hanya diam. Ia harus menunjukkan pada dunia, bahwa sang Sovereign telah kembali.
Liora tiba-tiba muncul di pintu atap. "Arkan! Ternyata kamu di sini. Ayo turun, Pak Kim sudah masuk kelas!"
Arkan tersenyum tipis pada Liora. "Iya, aku datang."
Arkan berjalan mengikuti Liora, namun matanya tetap tertuju pada titik di langit di mana kegelapan mulai berkumpul. Ia adalah ayah dari monster-monster pahlawan dunia, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kedamaian kecil yang baru saja ia rasakan bersama gadis di depannya ini.