NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Teknik Siongkino.

Di bawah penginapan Vivi, jauh di perut pulau Havenload, terdapat sebuah ruang mekanik raksasa yang dipenuhi rel bergerak, lengan robot, dan pipa-pipa bercahaya biru. Suara logam beradu dan mesin berdesis memenuhi udara.

CLANG—SSSHHH—KRRRT…

Di tengah ruangan itu, tubuh MK.99 terbujur di atas meja perbaikan, bagian dadanya terbuka, kabel-kabel keluar seperti urat nadi yang terburai. Percikan listrik kecil masih sesekali meloncat dari sirkuit yang hangus.

Beberapa unit MK lain bergerak cepat: ada yang memegang obor las, ada yang menahan rangka tubuhnya, ada pula yang memindai inti energinya dengan cahaya hologram.

Di atas balkon kecil yang menghadap ke ruang perbaikan, Vivi berdiri sambil menyilangkan tangan di belakang punggungnya. Senyum khasnya masih terpasang, mata hampir selalu tertutup seperti sedang tertawa—padahal suasana jelas tidak santai.

“Jadi…”

“Bagaimana kondisi MK.99?”

Di samping meja perbaikan, Marianne—dengan jas laboratorium yang ujungnya kotor oli—menghela napas panjang sambil menatap layar data.

“Semua komponen inti hangus karena overheat.”

“Unit ini memaksa diri bertarung di luar batas desainnya.”

“Memori tempurnya masih utuh, tapi motor penggerak dan inti energinya…”

“…butuh penggantian besar.”

Ia melirik ke arah Vivi.

“Kalau tidak ada kendala…”

“Dia bisa aktif lagi paling cepat besok malam.”

Vivi mengangguk pelan.

Senyumnya tak berubah, tapi bahunya turun sedikit—sebuah tanda lega yang hampir tak terlihat.

Saat itu…

DING—

Lift besi di sudut ruangan terbuka.

Selena melangkah keluar lebih dulu, jubah hitamnya berkibar pelan. Di belakangnya, Marvin menyusul sambil menggaruk kepala, ekspresinya tegang.

“Vivi,” kata Selena, suaranya dingin namun serius.

“Bagaimana?”

“Apakah kita harus membantu Chika dan calon Hero kelima itu?”

Vivi menoleh.

“Aku sudah melacak kejadian di kota Shen.”

“Kita semua akan ke sana.”

Ia melangkah mendekati pagar balkon, menatap MK.99 yang sedang diperbaiki.

“Terlebih…”

“Aku sudah mengawasi Chika dan Princes sejak awal.”

“Dan sekarang…”

“mereka bersama Hero kelima.”

Nada suaranya menjadi lebih berat.

“Dan muti Koko…”

“…akan mulai menyusun strategi untuk menghentikan Orochi yang telah bangkit.”

Langkah kaki cepat terdengar.

Beatrix muncul dari lorong samping, membawa sebuah kristal kuning bercahaya di tangannya.

Ia langsung mendekati tubuh MK.99.

“Aku akan menambahkan energi solar dari senjataku.”

“Ini akan meningkatkan daya tahannya saat aktif nanti.”

Ia menyerahkan kristal itu ke unit MK yang sedang membuka rongga dada MK.99.

CLIK—KRRRT—

Cahaya kuning menyatu dengan cahaya biru mesin.

Beatrix lalu berjalan ke arah Vivi.

“Oi, penjaga penginapan.”

“Kita harus menolong gorila itu.”

Vivi tertawa kecil.

“Dari tadi aku sudah bilang…”

“kita semua akan ke sana.”

Ia lalu melangkah turun dari balkon, berjalan perlahan di antara kabel dan mesin.

“Dengarkan aku baik-baik.”

“Aku hidup ribuan tahun.”

“Aku tahu siapa Orochi.”

Langkahnya berhenti.

“Dulu…”

“dia dikalahkan oleh penciptaku, Kaden…”

“…bersama Koko yang kini telah tiada.”

Ruangan terasa lebih dingin.

“Dan bahkan saat itu…”

“Orochi hampir menghancurkan satu kota.”

Marvin menelan ludah.

“Jadi…”

“kapan kita muncul?”

Vivi memutar badan.

“Terus terang…”

“Aku belum punya strategi sempurna.”

Ia mengangkat satu jari.

“Tapi menurutku…”

“biarkan mereka menghadapi klan naga terlebih dahulu.”

“Kita muncul setelah Orochi menampakkan dirinya.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Kita harus menyimpan tenaga.”

“Dia bukan musuh biasa.”

Beatrix mengepalkan tangan.

“T-tapi!”

“Kalau si gorila itu kalah bagaimana?!”

Vivi menatap Beatrix.

Senyumnya masih ada…

…tapi kali ini matanya terbuka sedikit.

Dan untuk pertama kalinya, ada keseriusan dingin di dalamnya.

“Jangan remehkan Chika.”

“Dia adalah penerus Kaden.”

Ia melangkah lebih dekat.

“Dan kemarin…”

“dia telah mengaktifkan berkah salah satu Hero.”

Selena terbelalak.

“Kekuatan… siapa?”

“Selena.”

Selena sendiri tersentak.

“Bagaimana bisa?”

Vivi menjawab tenang.

“Setiap Hero yang memberikan restu pada pemilik Hero Sword…”

“akan membuatnya bisa menggunakan kekuatan mereka.”

Ia mengangkat bahu.

“Masalahnya…”

“itu menguras energi luar biasa besar…”

“selama dia belum mendapatkan restu dari semua Hero.”

Marianne mengangguk.

“Jadi…”

“kekuatan itu masih setengah matang.”

Ia menatap MK.99.

“Tapi tetap saja…”

“itu sudah sangat kuat.”

Ia menghela napas.

“Aku setuju dengan rencanamu.”

“Biarkan Chika berlatih lebih dulu.”

“Hero Sword itu harus terbiasa dengan kekuatan barunya.”

Marvin mengangguk pelan.

“Aku juga setuju…”

Suara mesin kembali mendominasi ruangan.

SSSHHH—CLANG—KRRRT…

Di tengah cahaya biru dan kuning yang berdenyut dari tubuh MK.99, satu hal menjadi jelas:

Pertempuran di kota Shen…

belum benar-benar dimulai.

Dan di Havenload,

mereka semua sedang bersiap menghadapi sesuatu

yang bahkan para Hero masa lalu pun hampir tak bisa kalahkan.

...----------------...

Di kota Shen, di dalam perpustakaan Dojo klan panda, cahaya matahari siang menembus kisi-kisi jendela kayu, jatuh sebagai garis-garis tipis di lantai berdebu. Rak-rak penuh kitab tua berdiri seperti saksi bisu sejarah panjang klan itu. Bau kertas tua, tinta kering, dan bambu yang dilapisi minyak pelindung bercampur di udara.

Di sudut ruangan, sebuah peti kayu terbuka.

“HEEE!!”

Xiaouman tiba-tiba berteriak, suaranya menggema di antara rak buku.

“INI!! Ini gulungan yang kamu bilang itu, kan?!”

Ia mengangkat gulungan tua berlapis kain hijau pudar, tangannya sedikit gemetar.

Chika mendekat, helm knight-nya masih tergantung di pinggang.

“Iya… iya ya!”

“Terus… yang dibawa si kakek-kakek itu apa dong?”

Xiaouman memeluk gulungan itu ke dadanya, seolah takut menghilang.

“Aku juga nggak tahu!” katanya cepat, matanya berbinar untuk pertama kalinya sejak kemarin.

“Yang jelas… kita masih punya ini.”

“Gulungan peninggalan ayahku.”

“Penolong kita… untuk mengalahkan Orochi.”

Princes menghela napas lega, bahunya turun.

“Fiuh!”

“Untung banget…”

“Ayo buka, Xiaouman! Aku penasaran!”

Xiaouman mengangguk pelan.

“Baiklah…”

Ia berjalan ke tengah ruangan, berlutut, lalu menggelar gulungan itu di lantai kayu.

KRRRRT…

Suara kain tua bergesek terdengar saat gulungan dibuka perlahan.

Gambar-gambar kuno muncul: simbol yin dan yang berwarna hitam dan hijau giok, formasi tubuh, aliran energi yang digambar seperti sungai kecil mengitari sosok panda berdiri tegak.

Chika dan Princes jongkok di sampingnya.

Xiaouman membaca dengan suara bergetar.

“Di sini tertulis…”

“Teknik Siongkino…”

Ia menelan ludah.

“Teknik penghancur…”

“Yang pernah melukai Orochi di masa lalu.”

Jarinya mengikuti barisan huruf.

“Gerakannya… nggak boleh salah satu pun.”

“Kalau meleset… pengguna bisa hancur dari dalam.”

Princes menahan napas.

“Dan di sini…”

Xiaouman berhenti sebentar.

“Ada catatan tambahan.”

“Kalau teknik ini dipakai oleh seseorang yang punya kekuatan terlarang…”

“yang disegel di tubuhnya…”

“…daya hancurnya akan berlipat ganda.”

Ia menatap simbol yin dan yang itu.

“Bahkan…”

“bisa menghancurkan satu bukit besar.”

“YES!!” Princes melonjak kecil.

“Dan itu kamu, Xiaouman!”

“Kamu kunci kemenangan kita!”

Chika tersenyum, senyumnya hangat dan agak kikuk.

“Ayahmu… perhatian banget sama kamu.”

Xiaouman tertawa kecil, pahit.

“Iya…”

“Perhatian banget…”

“Sampai aku dijaga kayak harta karun paling langka di kota Shen.”

Ia menggulung gulungan itu kembali dengan hati-hati, lalu berdiri dan berjalan ke jendela. Tirai tipis berkibar tertiup angin. Di luar, halaman Dojo yang rusak masih terlihat, bambu-bambu patah berserakan.

Xiaouman menatap langit.

“Ayah…”

“Maafin aku…”

“Aku bilang aku benci kamu kemarin.”

Tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Aku marah…”

“karena aku pikir kamu menahanku.”

“Karena aku pikir kamu nggak percaya aku.”

Suaranya menurun.

“Tapi…”

“kalau aku tahu…”

“kalau itu hari terakhir kita bicara…”

“…aku nggak akan pernah bilang aku benci kamu.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku menyesal…”

“sungguh…”

Princes ingin mendekat, tapi Chika menahan pundaknya pelan, memberi isyarat agar Xiaouman bicara sampai selesai.

Xiaouman mengeluarkan kalung kecil dari balik bajunya—liontin bambu hijau giok yang sudah tergores di sana-sini.

“Ayah…”

“kamu kasih ini waktu aku umur empat tahun, kan…”

“kamu bilang…”

“selama aku pakai ini, aku nggak akan sendirian.”

Ia menekan kalung itu ke dadanya.

“Aku akan mengalahkan klan naga…”

“Tidak…”

“Aku akan menghapus mereka.”

“Yang dulu kamu nggak sempat sapu bersih.”

Suaranya bergetar antara marah dan sedih.

“Aku akan buat mereka…”

“nggak bisa lihat pagi lagi.”

“Aku akan tarik mereka ke malam…”

“selamanya.”

Kenangan datang seperti ombak.

Ia melihat ayahnya mengajarinya berjalan di halaman Dojo, memegang bambu kecil.

Ia ingat suara tawa berat ayahnya saat ia jatuh.

Ia ingat latihan pertama, tangannya gemetar memegang tongkat.

Ia ingat semangkuk sup bambu hangat di malam dingin.

Xiaouman tersenyum kecil, air mata jatuh ke lantai kayu.

“Ayah…”

“aku bodoh ya…”

“Aku nggak sadar…”

“kalau semua itu cara kamu bilang sayang.”

Suaranya hampir seperti bisikan.

“Aku nggak sempat bilang…”

“kalau aku sayang kamu juga.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Tapi kali ini…”

“aku akan buktikan.”

“Aku akan jaga Dojo ini.”

“Aku akan jaga murid-muridmu.”

“Aku akan jaga kota Shen.”

Ia berbalik.

Chika dan Princes menatapnya tanpa berkata-kata.

“Aku akan pakai Teknik Siongkino.”

“Bukan buat balas dendam semata…”

“tapi buat melindungi.”

Princes mendekat dan memeluk pinggang Xiaouman.

“Kamu nggak sendiri, Xiaouman.”

Chika berdiri di sampingnya, menepuk pundaknya.

“Kita bertiga… satu tim.”

Di perpustakaan tua itu, di antara gulungan sejarah dan debu masa lalu,

tekad baru lahir—

bukan hanya untuk membalas kematian,

tapi untuk menjaga warisan yang ditinggalkan seorang ayah

kepada anaknya.

...----------------...

Di bawah bukit kecil di pinggiran kota Shen, rumput liar tumbuh setinggi betis, bergoyang tertiup angin sore. Di kejauhan, reruntuhan Dojo masih terlihat seperti luka yang belum sembuh. Di sinilah mereka memilih berlatih—tempat sepi, hanya ditemani suara burung dan desir angin.

Gulungan Teknik Siongkino terbentang di atas batu datar.

Xiaouman berdiri di tengah, membaca ulang pola gerakan dengan alis berkerut.

“Langkah pertama… kaki kiri ke depan… tangan kanan ke atas… alirkan energi dari pusar ke dada…”

Chika berdiri di sisi kiri, mengangkat pedang Lumina lalu menurunkannya lagi.

“Kenapa teknik ini rasanya kayak senam pagi versi neraka…”

Princes di sisi kanan meniru pose Xiaouman dengan sangat serius—meski tubuhnya kecil, ia berdiri tegap, lidahnya sedikit menjulur karena fokus.

“Chika!” kata Princes.

“Aku bisa kok! Jangan meremehkan anak kecil!”

“Baik, baik. Siap, Hero kecil.”

Xiaouman menarik napas dalam.

“Kita coba satu per satu dulu.”

“Chika dulu.”

Chika mengangguk. Ia membuka kaki selebar bahu, lutut sedikit ditekuk.

Tangan kirinya membentuk lingkaran, tangan kanan lurus ke depan.

“Teknik Siongkino… tahap awal…”

Ia menutup mata.

Energi mulai berkumpul di dadanya.

Zzzzz…

Percikan cahaya biru muncul di antara kedua telapak tangannya, membentuk bola kecil sebesar jeruk.

Princes melongo.

“WOOOAH!”

Namun bola itu tiba-tiba… PFFFT!

Mengempis seperti balon bocor dan memercikkan cahaya ke wajah Chika.

“HEY!”

Chika mengibaskan tangan.

“Itu panas, tahu!”

Xiaouman menghela napas panjang.

“Kamu terlalu cepat menekan aliran energinya.”

“Maaf, refleks knight.”

Giliran Princes.

Ia berdiri dengan kaki agak goyah, meniru posisi Chika.

Tangannya terlalu tinggi, hampir menampar kepalanya sendiri.

“Begini, kan?”

Ia memejamkan mata dengan ekspresi sangat serius.

Fwooom…

Bola kecil merah muncul… tapi langsung melayang tak stabil.

“Eh… eh… EH?!”

Bola itu terbang ke arah semak.

BOOF!

Semak itu terbakar sedikit, mengeluarkan asap tipis.

Chika langsung menunjuk.

“Princes! Jangan bakar alam!”

Princes menepuk-nepuk bajunya sendiri.

“Aku… aku nggak sengaja!”

Xiaouman menahan tawa.

“Fokus. Jangan mikirin hasil, pikirin aliran.”

Kini giliran Xiaouman.

Ia berdiri di tengah, menutup mata.

Tangan membentuk simbol yin dan yang.

Tanah di bawah kakinya sedikit bergetar.

Wuuuum…

Cahaya hitam dan hijau giok berputar di sekeliling tubuhnya, membentuk bola energi besar di depan dadanya.

Chika dan Princes terpaku.

Namun Xiaouman tiba-tiba goyah.

“Eh—!”

DUARR!

Bola itu meledak kecil ke atas, menghantam awan dan menjatuhkan hujan debu ke kepala mereka bertiga.

Chika terbatuk.

“Oke… itu… dramatis.”

Princes mengibas rambutnya.

“Aku kayak habis kena tepung!”

Mereka terduduk di rumput, kelelahan.

Chika mengelus lehernya.

“Teknik ini… nggak ramah pemula.”

Xiaouman memandang gulungan.

“Karena ini teknik gabungan. Bukan cuma soal kekuatan… tapi sinkron.”

Princes berdiri lebih dulu.

“Ayo lagi!”

Mereka kembali ke posisi.

Kali ini, Chika mengatur napas lebih pelan.

Bola biru muncul… stabil.

Princes mengikuti.

Bola merah muncul… masih kecil tapi tidak liar.

Xiaouman membentuk bola yin-yang, lebih tenang dari sebelumnya.

Tiga bola melayang di depan mereka.

“Sekarang…”

Xiaouman membuka mata.

“Dekatkan.”

Chika dan Princes melangkah maju.

Bola biru dan merah bergerak mendekati bola hitam-hijau.

Awalnya bergetar keras.

KRRAAAKKK…

“Eh, kayak mau meledak!”

Princes mundur setengah langkah.

“Jangan lepas fokus!”

Chika menggertakkan gigi.

Tiga bola itu menyatu.

Cahaya berubah…

Biru, merah, hitam, dan hijau berpadu menjadi satu bola besar berwarna putih keperakan, dengan pola yin-yang di dalamnya.

Angin di sekitar mereka berputar kencang.

Rumput rebah.

Xiaouman tertegun.

“Berhasil…”

Chika menelan ludah.

“Kalau ini gagal… kita mati bareng ya.”

Princes mengangkat tangan.

“Tembak bukit! BUKIT!”

Xiaouman mengangguk.

“Sekarang!”

Chika mengayunkan pedangnya.

Princes mendorong dengan kedua tangan.

Xiaouman melepaskan segel energinya.

“TEKNIK SIONGKINO—

FORMASI TIGA JIWA!”

Bola cahaya melesat ke bukit.

WHOOOOOM—!

Sesaat… hening.

Lalu—

DUUUUUUUARRRR!!!

Bukit itu terbelah, batu-batu beterbangan, debu naik seperti awan.

Ketiganya terhempas ke belakang oleh gelombang angin.

Mereka terbaring di rumput.

Princes bangkit duluan.

“Bukitnya… ilang…”

Chika menatap kosong.

“…Kita barusan… ngeratakan bukit.”

Xiaouman tertawa kecil, bercampur lega dan kagum.

“Ayah… kamu benar.”

Princes meloncat-loncat.

“Kita hebat! Kita hebat!”

Chika mengangkat tangan.

“Oke, tapi lain kali… kita cari bukit yang lebih kecil.”

Mereka bertiga tertawa, di tengah debu dan reruntuhan batu—

untuk pertama kalinya sejak tragedi itu,

tawa mereka kembali terdengar di bawah langit kota Shen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!