Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecundang Bernama Qiu Liong
Gunung Awan Biru berubah jingga ketika Qiu Liong berjalan meninggalkan arena latihan. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena pukulan Zhao Wuchen, melainkan karena gema tawa yang masih terngiang di telinganya.
Di sepanjang jalan batu menuju asrama murid luar, bisikan mengikuti punggungnya seperti bayangan.
“Itu dia.”
“Masih berani melawan Zhao.”
“Tak tahu diri.”
Qiu Liong tidak mempercepat langkah, juga tidak melambat. Ia berjalan lurus, menatap ke depan. Jika ia mulai peduli pada setiap suara, ia akan hancur jauh sebelum pedang menyentuhnya.
Asrama murid luar terletak di sisi gunung yang lebih rendah. Bangunannya sederhana, kayu tua dengan atap genteng yang beberapa bagiannya sudah retak. Berbeda jauh dengan paviliun murid inti yang berdiri megah di atas.
Begitulah hidupnya selalu di bawah.
Ia mendorong pintu kamarnya. Ruangan kecil itu hanya berisi dipan kayu, meja usang, dan kendi air. Tidak ada dekorasi, tidak ada simbol kehormatan.
Qiu Liong menutup pintu perlahan, lalu bersandar di baliknya.
Baru saat itulah ia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai.
Nafasnya bergetar.
Tangannya masih terasa kebas akibat benturan. Ketika ia mengangkat lengan jubahnya, memar ungu mulai muncul di perutnya.
Ia menyentuhnya pelan.
Perih.
Namun rasa sakit fisik itu terasa lebih jujur dibandingkan luka di dalam dadanya.
“Pecundang…”
Kata itu bukan lagi sekadar ejekan orang lain. Kadang, ia sendiri hampir mempercayainya.
Ia teringat masa kecilnya.
Ketika pertama kali memasuki Sekte Awan Biru, ia datang dengan mata penuh harapan. Ia percaya kerja keras bisa mengalahkan bakat. Ia percaya langit akan adil bagi siapa pun yang berusaha.
Ternyata tidak.
Ia sudah mencoba berlatih lebih lama dari siapa pun. Saat murid lain tidur, ia masih duduk bersila di bawah cahaya bulan, mencoba menarik qi dari udara tipis. Ia pernah pingsan karena memaksa energi masuk ke meridian yang retak.
Namun hasilnya tetap sama.
Hampir nol.
Qiu Liong bangkit perlahan dan duduk bersila di tengah ruangan. Ia menarik napas dalam, mencoba kembali bermeditasi.
Aliran qi terasa seperti kabut tipis. Ia membimbingnya masuk melalui titik Baihui di puncak kepala, mengarahkannya turun ke dantian.
Di tengah perjalanan, aliran itu tersendat.
Seperti air yang bocor dari wadah retak.
Rasa sakit menjalar, menusuk-nusuk seperti jarum.
Keringat dingin muncul di pelipisnya, tapi ia tidak berhenti.
“Sekali lagi…” gumamnya.
Ia memaksa qi mengalir.
Retakan di meridiannya terasa seperti terbuka lebih lebar. Dadanya sesak. Tenggorokannya terasa panas.
Tiba-tiba
Pffft!
Darah tipis menyembur dari bibirnya.
Ia terhuyung ke depan, satu tangan menopang lantai.
Beberapa detik hanya ada suara napasnya sendiri yang berat dan tak teratur.
Air mata hampir jatuh, namun ia menahannya.
Bukan karena ia tak ingin menangis.
Melainkan karena ia sudah terlalu sering melakukannya sendirian.
Di luar, suara murid-murid terdengar samar. Mereka mungkin sedang makan malam, bercanda, membicarakan duel tadi.
Mungkin namanya disebut lagi.
Mungkin tidak.
Perlahan, Qiu Liong duduk kembali. Ia menyeka darah di bibirnya dengan lengan jubah.
Matanya tertuju pada pantulan samar di permukaan kendi air di meja.
Wajahnya biasa saja.
Tidak tampan luar biasa.
Tidak memiliki aura kebesaran.
Hanya seorang pemuda kurus dengan sorot mata yang terlalu keras untuk usianya.
“Jika memang aku ditakdirkan menjadi pecundang…” bisiknya pelan.
Tangannya mengepal.
“…maka aku akan menjadi pecundang yang tak pernah menyerah.”
Di dalam dadanya, meski lemah, ada sesuatu yang terus berdenyut.
Bukan qi yang kuat.
Bukan bakat surgawi.
Melainkan tekad.
Dan tekad itu, meski kecil, terasa lebih kokoh daripada tawa seratus orang di arena.
Malam turun perlahan menyelimuti Gunung Awan Biru.
Di kamar kecil yang sunyi itu, seorang pemuda bernama Qiu Liong kembali duduk bersila, memaksa qi mengalir meski meridian retaknya berteriak kesakitan.
Di luar, dunia mungkin telah melabelinya pecundang.
Namun di dalam dirinya sendiri…
ia sedang membangun sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar bakat.
Sebuah kehendak yang tak mau tunduk pada takdir.
jangan bikin kecewa ya🙏💪