"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dari Langit
Tiga bulan setelah pernikahan yang indah itu, rumah tangga Liam dan Ameera layaknya sebuah taman yang terus berbunga. Ameera telah sepenuhnya beradaptasi dengan peran barunya; ia bukan lagi sosialita yang bingung di dapur, melainkan seorang istri yang telaten menyiapkan bekal untuk suaminya sebelum berangkat ke rumah sakit. Namun, belakangan ini, ada yang berbeda dengan kondisi fisik Ameera.
Pagi itu, aroma nasi goreng yang biasanya menggugah selera justru membuat Ameera merasa mual luar biasa. Ia berlari ke kamar mandi, meninggalkan Liam yang sedang merapikan dasinya.
Liam, dengan insting dokternya, segera menghampiri Ameera di ambang pintu kamar mandi. Ia memijat tengkuk istrinya dengan lembut, memberikan rasa nyaman yang seketika menenangkan.
"Kau pucat sekali, Ameera. Apa karena kurang tidur? Semalam kau memang sangat khusyuk mengulang hafalanmu," tanya Liam, suaranya dipenuhi kekhawatiran yang tulus.
Ameera menyeka bibirnya dengan tisu, mencoba tersenyum meski wajahnya kuyu. "Hanya masuk angin biasa, Liam. Jangan khawatir, pergilah ke rumah sakit, pasienmu sudah menunggu."
Namun, di dalam hatinya, Ameera merasakan sesuatu yang bergetar. Sebuah firasat yang membuatnya diam-diam membeli test pack siang harinya, saat Liam sedang sibuk di ruang operasi.
.
.
Sore harinya, Liam pulang dengan wajah lelah namun tetap menyempatkan diri mencium kening Ameera. Saat mereka duduk di ruang tengah, ditemani dua cangkir teh hangat, Ameera memberikan sebuah kotak kecil yang dibungkus kain beludru hijau, kain yang sama warnanya dengan Al-Qur'an pertama pemberian Syifa.
"Hadiah? Untuk apa?" tanya Liam heran. Ini bukan hari ulang tahunnya, bukan pula hari jadi pernikahan mereka.
"Buka saja, Suamiku," bisik Ameera, matanya berbinar menahan haru.
Liam membuka kotak itu dengan hati-hati. Saat matanya menangkap dua garis merah di atas benda putih di dalamnya, tangan Liam yang biasanya sangat stabil saat memegang pisau bedah itu mendadak gemetar hebat. Ia terdiam cukup lama, matanya terpaku pada benda itu seolah-olah sedang membaca diagnosa paling ajaib sepanjang karier kedokterannya.
"Ameera... ini..." suara Liam serak, tertahan di tenggorokan.
Ameera mengangguk pelan, air matanya mulai luruh. "Alhamdulillah, Liam. Allah menitipkan amanah kecil di sini." Ameera menyentuh perutnya yang masih rata.
Liam langsung bersujud syukur di atas lantai. Cukup lama ia menempelkan keningnya ke bumi, membisikkan doa-doa syukur yang begitu dalam hingga bahunya terguncang. Saat ia bangkit, wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini dipenuhi tangis kebahagiaan yang pecah.
Ia menarik Ameera ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang begitu protektif dan hangat.
"Terima kasih, Ameera. Terima kasih sudah bersedia menjadi madrasah pertama bagi anak kita nanti," ucap Liam, suaranya bergetar di telinga Ameera. "Dulu aku berpikir menyelamatkan nyawa di meja operasi adalah kebahagiaan tertinggi. Tapi hari ini aku sadar, mendengar bahwa ada nyawa baru yang tumbuh di rahimmu adalah mukjizat terbesar yang pernah aku saksikan."
Liam melepaskan pelukannya, lalu berlutut di depan Ameera. Ia mendekatkan wajahnya ke perut Ameera, membisikkan kata-kata yang membuat hati Ameera luluh.
"Assalamualaikum, Nak. Ini Ayah. Tumbuhlah dengan sehat di sana, jadilah penjaga Al-Qur'an seperti Ibumu. Ayah berjanji akan menjagamu dan Ibu dengan segenap nyawa Ayah."
Sejak hari itu, Liam menjadi suami yang jauh lebih protektif. Ia tidak lagi membiarkan Ameera kelelahan. Setiap malam, Liam akan duduk di samping Ameera, membacakan surat Yusuf atau Maryam dengan suaranya yang merdu. Ia ingin anak mereka terbiasa mendengar lantunan kalamullah bahkan sebelum ia melihat dunia.
Ameera sering memperhatikan Liam yang kini rajin membaca buku tentang kehamilan dan pola asuh Islami. Pria itu tampak sangat bersemangat, seolah sedang mempersiapkan diri untuk ujian medis paling penting dalam hidupnya.
"Kau tahu, Ameera?" ucap Liam suatu malam saat mereka sedang bersantai. "Aku pernah bermimpi memiliki keluarga yang setiap harinya dihiasi dengan suara tilawah. Dan sekarang, Allah tidak hanya memberiku istri yang salihah, tapi juga calon penghafal Al-Qur'an kecil di rahimmu. Aku merasa tidak pantas mendapatkan nikmat sebesar ini."
Ameera menggenggam tangan Liam erat. "Ini bukan tentang pantas atau tidak, Liam. Ini tentang kasih sayang Allah pada hamba-Nya yang bersabar. Kita akan mendidiknya bersama, ya?"
Malam itu, di bawah cahaya lampu kamar yang hangat, mereka berjanji untuk menjaga titipan Tuhan itu dengan penuh cinta. Ameera merasa hidupnya kini benar-benar sempurna. Dari seorang gadis yang tersesat di kegelapan, kini ia menjadi wanita yang mengandung cahaya baru dalam hidupnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰