Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Istri Kedua Untuk Tuan Duda

Siapa itu?

“Uuukk…”

“Uuk…”

Terdengar suara seseorang sedang muntah berkali-kali dari bilik toilet sebelah.

Vira, yang baru saja keluar dari toilet menatap pintu itu dengan heran. Siapa itu? pikirnya.

Ia menunggu beberapa saat sampai pintu toilet terbuka. Alangkah terkejutnya ketika melihat gadis yang keluar dari sana adalah anak didiknya sendiri.

“Lestari? Kamu kenapa, Nak?” tanyanya lembut.

Gadis itu tampak pucat, matanya sedikit berkaca. “Sepertinya saya masuk angin, Bu.”

“Ayo ikut Ibu ke UKS, ya.”

Mereka bergegas ke ruang UKS. Vira meminta perawat di sana untuk memeriksa kondisi Lestari.

Beberapa menit kemudian, setelah beberapa pertanyaan, perawat itu tampak ragu. Ia melirik ke arah Vira, lalu kembali ke arah Lestari.

“Hm… kita tes urine saja, ya?” katanya hati-hati.

Lestari mengangguk. Setelah itu, perawat membuka bungkus test pack, mencelupkannya ke wadah kecil berisi urine.

Beberapa detik berlalu. Dua garis merah perlahan muncul di stik itu.

Vira terpaku.

“Tari, kamu hamil?” suaranya lirih.

Gadis itu menunduk. Air matanya menetes, awalnya pelan, lalu berubah menjadi tangisan yang dalam dan getir.

“Ada apa, Nak? Katakan pada Ibu, siapa ayahnya?”

Tari hanya menggeleng. “Saya tidak tahu, Bu.”

Vira dan perawat itu saling pandang, terkejut. Lestari dikenal sebagai siswi paling rajin, pendiam, dan berprestasi. Tidak mungkin ia terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

“Nak, ceritakan saja. Kami tidak akan menghakimimu,” ujar Vira, suaranya lembut tapi tegas.

Lestari menggigit bibirnya. “Sa… saya diperkosa, Bu.”

Vira menegang, napasnya tercekat. Ia benar-benar tak menyangka mendengar itu.

“Siapa yang melakukan itu?” suaranya kini berat menahan marah.

Lestari menggeleng lagi. “Saya tidak tahu…”

“Coba ceritakan dari awal,” pinta perawat dengan hati-hati.

“Beberapa bulan lalu,” lirih Lestari, “Waktu saya pulang kerja paruh waktu, ada mobil berhenti di dekat saya. Di dalamnya ada beberapa anak muda, mereka menyeret saya masuk.”

Vira merasakan jantungnya berdegup cepat. “Kau kenal mereka?”

“Tidak.”

“Kau ingat ciri-cirinya?”

Lestari berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Apakah ada orang lain yang tahu tentang ini?” tanya Vira.

Lestari kembali menggeleng, tubuhnya gemetar.

Vira menepuk bahu pelan bahu Tari, "Orangtuamu tidak tahu?"

Tari hanya mengeleng.

“Kau belum lapor polisi?” tanya perawat.

“Belum…” jawabnya lirih.

Vira menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menatap gadis itu dengan teduh.

“Baiklah, Nak. Tenang dulu, ya. Ibu akan membantumu. Kami tidak akan memberi tahu siapa pun. Tapi kamu harus kuat.”

Lestari mengangguk pelan sambil menangis. Vira menatap ke arah perawat UKS, dan perawat itu membalas dengan anggukan.

Mereka sepakat akan menjaga rahasia itu, setidaknya sampai mereka tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Setelah beberapa saat, Lestari tertidur di ranjang kecil di ruang UKS itu. Wajahnya masih sembab oleh sisa air mata.

Vira duduk di kursi dekat jendela, menatap langit yang sudah mulai sore. Dadanya sesak.

"Anak sebaik itu kenapa harus mengalami hal seperti ini?"

Perawat UKS datang menghampiri pelan. “Bu Vira, apa Ibu mau saya hubungi kepala sekolah?”

Vira menggeleng cepat. “Belum. Jangan sampai ada yang tahu dulu, Bu. Saya takut kalau berita ini menyebar, hidup anak itu akan hancur.”

Perawat itu mengangguk pelan, memahami. “Kalau begitu, bagaimana rencananya, Bu?”

Vira terdiam lama. Ia tahu langkahnya berisiko. Tapi nalurinya sebagai guru dan ibu jauh lebih kuat daripada rasa takutnya pada aturan sekolah.

“Kita bawa dulu ke klinik luar. Saya punya teman bidan yang bisa periksa tanpa harus mencatat data ke sistem sekolah. Kita jaga dia dulu. Setelah itu, saya akan cari tahu siapa yang melakukan ini.”

Perawat itu menatap Vira, kagum sekaligus cemas. “Ibu yakin mau melibatkan diri sedalam itu?”

Vira menatap Lestari yang terbaring lemah. “Kalau saya diam, siapa lagi yang akan melindunginya?”

Vira menyalakan ponsel, mengetik pesan pada seorang temannya.

“Rani, Aku butuh bantuan, tapi tolong, rahasiakan dulu.”

Pesan itu terkirim. Dan di balik dadanya, ada perasaan berat. Campuran antara marah, takut, dan tekad.

Ia tahu hidupnya tidak akan tenang sampai kebenaran terungkap.

***

Malamnya, Vira mulai menulis apa yang ada dalam pikirannya di sebuah buku catatan.

Dia menulis langkah-langkah untuk membantu Lestari. Rencana jangka panjang kalau hal terburuk terjadi. Termasuk opsi perlindungan hukum dan jaringan pendukung psikososial.

Ia meraih ponselnya, lalu mulai mengscroll daftar lembaga yang bisa menjadi tempat perlindungan bagi perempuan muda seperti Lestari.

Bahkan ia menimbang-nimbang kemungkinan paling buruk jika situasi Lestari makin tidak aman, kemana harus dibawa, siapa yang bisa dipercaya, dan apa yang harus dilakukan tanpa membuat gadis itu semakin tertekan.

Tangannya berhenti sejenak. Vira menarik napas panjang.

“Masa depannya masih panjang, ia berhak menentukan hidupnya.” gumamnya lirih, hampir seperti doa.

Drrt… Drrt…

Ponsel Vira bergetar, itu telepon dari suami tercintanya Willie. Vira tersenyum lalu mengangkat panggilan itu.

Suaminya, seorang pengusaha muda di bidang kontraktor pembangunan, ia sedang berada di luar kota untuk meninjau proyek besar.

“Halo, sayang. Kau sudah tidur?” suara Willie terdengar dari seberang sana.

“Belum. Kau sedang apa?” tanya Vira sambil menutup bukunya.

“Aku baru selesai menemui klien. Sayang, aku sangat merindukanmu,” Jawab Willie.

Vira tertawa. “Aku juga, cepat selesaikan urusanmu dan cepatlah kembali. Rumah ini rasanya sepi tanpa kamu.”

Willie terkekeh. “Anak kita sudah tidur?”

“Sudah,” jawab Vira pelan sambil melirik ke arah ranjang.

Di sana, Alia, putri mereka yang baru berusia empat tahun, tengah terlelap dengan boneka kelinci kesayangannya. Wajahnya begitu damai seperti salinan kecil dari Vira.

“Selama kamu pergi, dia selalu tidur bersamaku,” lanjut Vira lembut. “Tadi sempat menangis, katanya rindu Papa.”

Willie tersenyum membayangkan anak kecil itu dengan rambut ikal dan mata besar yang selalu memeluk lehernya setiap kali ia pulang kerja.

“Sampaikan pada Alia, Papa akan cepat pulang, ya. Aku janji bawa sesuatu untuknya.”

“Baik. Tapi kamu juga jangan lupa istirahat. Aku tahu kamu keras kepala kalau sudah menyangkut urusan pekerjaan.”

Terdengar tawa pelan dari Willie. “Kau sangat hafal kebiasaan burukku, ya.”

“Bagaimana aku bisa lupa?” jawab Vira dengan nada manja yang jarang ia tunjukkan di depan siapa pun.

Hening sejenak di antara mereka.

“Sayang…” suara Willie lirih. “Kalau aku bisa memilih, aku ingin pekerjaan ini cepat selesai. Aku ingin pulang, makan malam bersamamu dan Alia seperti dulu.”

“Aku tunggu,” jawab Vira.

Malam itu terasa tenang. Di luar, angin berembus pelan lewat jendela kamar, menggoyangkan tirai putih yang berayun lembut.

Vira dan Willie tidak tahu, bahwa panggilan sederhana itu akan menjadi percakapan terakhir mereka sebelum hidup mereka berubah untuk selamanya.

Terpopuler

Comments

Val07

Val07

saya ga tahu, bu.
wktu kejadian remang2 jd ga tahu bpaknya siapa😡

2026-02-21

0

Tulisan_nic

Tulisan_nic

Vira please bantuin, korban perkosaan nggak cuma menyerang fisik. Lebih parah ke efek psikis. Titip penanganan psikis korban ini Thor 🙏

2026-01-21

0

d_midah (Hiatus)

d_midah (Hiatus)

suka banget sama orang-orang kayak gini, mencari dulu info yang benar sebelum menghujat sayang kak Vira🥰🥰

2025-12-12

1

lihat semua
Episodes
1 Siapa itu?
2 Menelusuri
3 Tragedi
4 Kepergian
5 Kabar Tak Di Inginkan
6 Janji dan Dendam
7 Pengasuh Resmi
8 Menikah Lagi?
9 Ingin Tinggal Bersama
10 Ayo Menikah
11 Kesempatan Kedua
12 Bersedia
13 Sah!
14 Malam Pertama
15 Hormat
16 Impian Kecil
17 Kesal
18 Jangan Ambil Hatinya
19 Kamarmu Tidak Enak
20 Memantau Perselingkuhan
21 Bukti
22 Aku Merindukanmu
23 Mabuk
24 Jijik
25 Tak sudi melihatmu
26 Pergi
27 Berkunjung
28 Bersenang-senang
29 Aku Siapamu?
30 Memalukan
31 Undangan
32 Minta Perhatian
33 Panggil Aku Sayang
34 Jangan Pergi
35 Sakit
36 Sakit 2
37 Mimpi Saat Demam
38 Peringatan
39 Ibu Tiri
40 Tidak Sayang
41 Khawatir
42 Sentuhan
43 Tamu Berandalan
44 Menginap
45 Sekamar
46 Terlalu Muda
47 Peduli
48 Pembalasan
49 Terbongkar
50 Jalan Pintas
51 Menahan Hasrat
52 Bahaya
53 Amarah Willie
54 Tekad
55 Saatnya Bergerak
56 Ambisi Arga
57 Lawan Berat
58 Terungkap
59 Pertikaian
60 Kerjasama
61 Proses Hukum
62 Tanggung Jawab.
63 Rindu
64 Penuh Alasan
65 Tantangan Manis
66 Pembalasan Setimpal
67 Perang Batin.
68 Cincin Yang Hilang
69 Nyaris Tenggelam
70 Aku Mengkhawatirkanmu
71 Sok Keras
72 Setuju
73 Memancing Kecemburuan
74 Kejutan
75 Kencan
76 Romantis
77 Aku Menerimamu
78 Yang Terpendam
79 Piyama
80 Menyatu
81 Tak Sesuai Rencana
82 Izin Istri Pertama
83 Kasih Sayang Berbeda
84 Pergulatan Batin
85 Tisha Cemburu
86 Godaan Luar
87 Ancaman
88 Pembalasan Nakal
89 Membela Adik Ipar
90 Panik
91 Mendampingi Arga
92 Deep Talk
93 Terbukalah!
94 Firasat
95 Terungkap Semua
96 Suara Hati
97 Lepaskan Arga
98 Foto Lama
99 Pose romantis
100 Cukup Satu Anak
101 Kehidupan Baru
102 Alia Menjadi Kakak
Episodes

Updated 102 Episodes

1
Siapa itu?
2
Menelusuri
3
Tragedi
4
Kepergian
5
Kabar Tak Di Inginkan
6
Janji dan Dendam
7
Pengasuh Resmi
8
Menikah Lagi?
9
Ingin Tinggal Bersama
10
Ayo Menikah
11
Kesempatan Kedua
12
Bersedia
13
Sah!
14
Malam Pertama
15
Hormat
16
Impian Kecil
17
Kesal
18
Jangan Ambil Hatinya
19
Kamarmu Tidak Enak
20
Memantau Perselingkuhan
21
Bukti
22
Aku Merindukanmu
23
Mabuk
24
Jijik
25
Tak sudi melihatmu
26
Pergi
27
Berkunjung
28
Bersenang-senang
29
Aku Siapamu?
30
Memalukan
31
Undangan
32
Minta Perhatian
33
Panggil Aku Sayang
34
Jangan Pergi
35
Sakit
36
Sakit 2
37
Mimpi Saat Demam
38
Peringatan
39
Ibu Tiri
40
Tidak Sayang
41
Khawatir
42
Sentuhan
43
Tamu Berandalan
44
Menginap
45
Sekamar
46
Terlalu Muda
47
Peduli
48
Pembalasan
49
Terbongkar
50
Jalan Pintas
51
Menahan Hasrat
52
Bahaya
53
Amarah Willie
54
Tekad
55
Saatnya Bergerak
56
Ambisi Arga
57
Lawan Berat
58
Terungkap
59
Pertikaian
60
Kerjasama
61
Proses Hukum
62
Tanggung Jawab.
63
Rindu
64
Penuh Alasan
65
Tantangan Manis
66
Pembalasan Setimpal
67
Perang Batin.
68
Cincin Yang Hilang
69
Nyaris Tenggelam
70
Aku Mengkhawatirkanmu
71
Sok Keras
72
Setuju
73
Memancing Kecemburuan
74
Kejutan
75
Kencan
76
Romantis
77
Aku Menerimamu
78
Yang Terpendam
79
Piyama
80
Menyatu
81
Tak Sesuai Rencana
82
Izin Istri Pertama
83
Kasih Sayang Berbeda
84
Pergulatan Batin
85
Tisha Cemburu
86
Godaan Luar
87
Ancaman
88
Pembalasan Nakal
89
Membela Adik Ipar
90
Panik
91
Mendampingi Arga
92
Deep Talk
93
Terbukalah!
94
Firasat
95
Terungkap Semua
96
Suara Hati
97
Lepaskan Arga
98
Foto Lama
99
Pose romantis
100
Cukup Satu Anak
101
Kehidupan Baru
102
Alia Menjadi Kakak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!