NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Label di Balik Bendera Kuning

Aira berjalan kaki pulang dengan langkah yang terasa seberat timah. Pikirannya masih tertinggal di laboratorium, pada tatapan terluka Kara sebelum laki-laki itu berbalik pergi. Seharusnya Aira merasa lega karena bentengnya kembali tegak, tapi kenapa dadanya justru terasa sesak seperti tercekik?

Saat memasuki gang menuju rumah nya, langkah Aira melambat. Ia melihat sekumpulan ibu-ibu sedang berkumpul di depan warung kelontong milik Bu RT, tak jauh dari pagar rumahnya. Salah satu dari mereka adalah Ibu dari Rini—teman sebangkunya.

Aira menunduk, mencoba lewat seperti bayangan. Namun, suara nyaring Ibu Rini menghentikan langkahnya secara paksa.

"Eh, Syaira! Baru pulang?" tanya Ibu Rini dengan nada yang dibuat-buah ramah, namun matanya penuh selidik.

"Iya, Bu," jawab Aira singkat tanpa berhenti.

"Tadi Rini cerita, katanya kamu sekarang lagi sering bareng sama si Yasa, Ketua OSIS itu ya? Yang anak orang kaya di komplek depan?" Ibu Rini setengah berteriak agar ibu-ibu yang lain dengar.

Langkah Aira terhenti. Ia menoleh sedikit. "Hanya urusan inventaris laboratorium, Bu. Pak Mulyono yang minta."

"Oalah... urusan lab toh," sahut tetangga lain, seorang wanita paruh baya yang terkenal paling vokal soal takdir keluarga Aira. Ia melipat tangan di dada. "Ya syukurlah kalau cuma urusan sekolah. Kasihan soalnya si Yasa itu, bibit unggul, ganteng, masa depannya cerah. Jangan sampai 'ketempelan' yang nggak-nggak."

Aira meremas tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu apa maksud 'ketempelan' itu.

"Iya, bener," timpal Ibu Rini sambil berbisik namun cukup keras untuk didengar Aira. "Rini saya kasih tahu, jangan terlalu dekat-dekat. Kita kan nggak tahu, ya... yang namanya 'punggelan' itu auranya kan beda. Lihat saja itu rumahnya, makin lama makin gelap. Apa yang didekati, biasanya nggak lama bakal kena apes. Kasihan Nak Yasa kalau sampai ketularan sialnya si Aira."

Tawa kecil yang bernada sinis pecah di antara mereka. Bagi mereka, hidup Aira hanyalah bahan dongeng pengantar minum teh sore hari. Mereka tidak tahu betapa setiap malam Aira harus memeluk sepi agar tidak gila. Mereka tidak tahu betapa Aira berusaha mati-matian untuk tidak menyukai apa pun agar dunia tidak merenggutnya lagi.

Aira tidak menjawab. Ia tidak membela diri. Untuk apa? Di mata mereka, dia sudah divonis sejak hari kematian kakaknya.

Ia berjalan tegap melewati kerumunan itu, masuk ke dalam pagarnya sendiri yang berkarat, dan membanting pintu kayu rumahnya.

Brak!

Aira bersandar di balik pintu yang tertutup. Napasnya memburu. Di dalam rumah yang gelap dan sunyi ini, kata-kata tetangganya tadi bergema lebih keras dari petir semalam.

Anak pembawa sial.

Jangan sampai Yasa ketularan apes-nya.

Aira memejamkan mata erat-alih. Air matanya jatuh, satu tetes, membasahi plester di jarinya. Ia teringat betapa hangatnya tangan Kara tadi pagi saat memegang jarinya ini.

"Mereka benar," bisik Aira pada kegelapan ruang tamu. "Matahari sepertimu tidak seharusnya ada di sini, Kara. Kamu terlalu berharga untuk menjadi korban dari kesialanku."

Aira menyadari satu hal yang paling mengerikan: Ia jauh lebih takut jika suatu saat nanti, Kara akan mulai menatapnya dengan tatapan yang sama seperti tetangga-tetangganya—tatapan penuh ngeri pada sosok yang dianggap "terkutuk".

Dan Aira lebih baik dihantui rasa bersalah karena mengusir Kara, daripada harus melihat ketakutan di mata sang Matahari saat ia mulai celaka nanti.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!