[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bima Juga Punya Luka
Tante Asti dan Papa Mayang asyik mengobrol sambil menikmati teh poci. Teko dari gerabah itu berukir bunga cantik. Tante Asti meletakannya pelan-pelan di meja. Dia bilang teh poci baiknya pakai gula batu minumnya. Disesap pelan-pelan sampai gulanya tercampur dengan sempurna ke dalam teh. Nanti terasa manis. Mayang memandangi gula batu itu. Kali pertama ia melihatnya, seperti batu, batu kaca.
Bima menawari Mayang melihat-lihat lukisan ke kamarnya. Mamanya mengizinkan. Bukan kamar untuk tidur sepertinya, lebih mirip mini studio. Di dalamnya alat lukis berserakan. Kanvas-kanvas bersandar di dinding. Ada rak buku juga berisi buku-buku seni. Mayang bisa tahu karena sekilas melihat covernya. Ruangannya cukup luas, bakhan terlampau luas mungkin. Mungkin seukuran 3x Kamar Mayang. Ada sekat-sekat kaca dan pintu transparan.
"Iya itu, studio musik. Minggu lalu baru lengkap. Beberapa alat baru datang dari Jakarta. Katanya hadiah dari Mama karena aku rajin masuk sekolah."
Mayang menanggapinya dengan tawa, diikuti tawa Bima setelahnya.
"Kayak anak SD yang dibelikan orangtuanya hadiah kalau dapat rangking," Bima tertawa geli. "Kalau gitu caranya kamu pasti dapat banyak hadiah. Kata Mama kamu pinter banget."
Mayang menggeleng. Tawanya terhenti. Papa adalah hadiah terbesarnya. Ia tak mau ditawari apapun. Tapi Papanya selalu menghadiahinya tiket liburan kemanapun tempat yang Mayang tunjuk. Di belahan benua manapun.
Mayang menunjuk alat pemutar piringan hitam. Mirip punya Papanya. "Bima bilang kemarin Bima suka Beatles?"
Bima membuka rak di atasnya. Kumpulan piringan hitam koleksinya tersusun rapi. "Aku punya beberapa album Beatles. Tapi kayaknya kalah sama Papamu," Bima terkekeh.
Mayang ikut tertawa. Diamatinya satu persatu. Selera musik Bima cukup aneh untuk anak seusianya. Sama seperti Mayang. Tapi Mayang menyukai musik-musik itu karena Mamanya. Papa bilang itu kesukaan Mamanya. Jadi itu yang ia sukai semenjak kecil. Dia tak tahu musik apa yang sedang digemari remaja seusianya kini, dan ia tidak berminat ataupun tertarik. Ia berada di zona nyamannya. Apa yang Mamanya dengarkan, ia ingin dengarkan juga.
"Bima juga suka Morrissey?" Mayang berseru.
Bima mengangguk. Mereka berdua berdiri berdampingan.
"Mamaku juga suka," Mayang menimpali. Ia tahu bicaranya mengagetkan Bima.
Bima tampak kebingungan menemukan kata-katanya. Mayang menyadarinya. Surat itu, Mayang menangis karena teringat mendiang Mamanya.
"Iya. Mayang dengerin apa yang Mama suka. Tentunya aku tahu dari Papa," kata Mayang sambil tersenyum melanjutkan ceritanya. Berusaha mencairkan suasana.
Lalu perhatiannya beralih pada buku-buku. Dan seperangkat komputer canggih di samping rak.
"Itu buat ngedit video," Bima menjelaskan.
Mayang terkagum. Ruangan ini adalah tempat bermain Bima. Di sebelah komputer ada rak transparan lagi. Berisi beberapa kamera dengan berbagai koleksi lensanya. Juga drone.
"Itu drone dari Papa. Hadiah ulang tahun katanya." Mayang jadi teringat. Sebentar lagi ulang tahun Mama. Berarti ulang tahun Bima juga.
"Ingat juga dia punya anak. Aku nggak mau pakai. Aku minta dibeliin Mama tapi Mama nggak mau. Ngapain katanya beli lagi. Ini udah ada." Bima menyilangkan tangannya ke depan. Ada nada getir dalam suaranya.
"Mama kayaknya udah maafin Papa. Beberapa tahun terakhir Papa selalu ngirim sesuatu kalau Bima ulang tahun. Bima nggak kepengen tahu Papa gimana sekarang. Bima bilang kalau Papa berani-beraninya datang nemuin Bima, Bima bakalan pergi dari rumah. Mungkin Mama takut. Nggak berani-berani lagi nyebut nama Papa. Cuma kalau Papa ngirim hadiah aja. Tapi Bima nolak terus. Tapi mama maksa. Cuma kalau Bima ulang tahun. Sekali aja setahun."
Bima terduduk bersandar di balik kisi jendela. Mayang ikut duduk di lantai. Pikirannya mengembara jauh. Semua orang punya luka. Ia kemudian teringat Susi. Betapa mudahnya ia mengatakan kalau orang tuanya bercerai dan menikah lagi. Mayang tahu ada kesedihan pada suara Susi. Tapi ia tetap tersenyum, menganggap omongannya hanya angin lalu. Pasti tidak mudah menjadi Susi. Tapi ia tak mengizinkan seorangpun melihat lukanya. Ia menutupnya dengan senyum. Mengganggapnya biasa.
Bima juga punya luka. Ada nada benci tiap ia menyebut Papanya. Tapi suara itu keluar begitu saja. Mayang terpekur dalam pikirannya. Tak ada seorangpun yang tahu tentang lukanya. Termasuk Tisya, yang sudah ia anggap sahabat sejak lama. Tak ada yang tahu kalau Mayang pernah merasa begitu sepi karena sikap dingin Papanya. Tak ada yang tahu kalau Mayang takut ditinggalkan. Ia punya Papa sekarang. Seutuhnya Papa yang menyanyanginya segenap jiwa. Tapi rasa takut akan trauma masa kecilnya terkadang hadir sebagai mimpi buruk. Banyak malam yang ia lalui dengan menangis sendirian, kalam ketakutan, dalam kekalutan.
"Mayang juga nggak punya Mama, Bim sejak kecil."
"Iya. Tapi Mayang punya Papa."
Mayang tersenyum, dilihatnya Bima. Tak disangka cerita tentang Papanya membuat raut mukanya sesuram itu.
"Waktu aku kecil, Mama hamil adikku. Tapi Papa nggak pernah pulang lagi. Aku yang nemenin Mama ke rumah sakit. Lupa umur berapa, tapi Bima ingat. Mama kesakitan. Aku punya adik perempuan. Meninggal 24 jam Setelah ia lahir. Mama terpukul. Mama cuma punya aku. Papa pergi, nikah lagi. Mama cuma punya Bima. Bima tau Mama sayang. Tapi dia jadi posesif sama Bima."
"Tu lihat di dinding. Mama yang masang foto itu. Takut lupa kali kalau Bima punya Mama," Bima tertawa. Suasana cair lagi.
Mayang menatap foto di dinding yang ditunjuk Bima. Foto Tante Asti dan Bima ketika kecil. Dengan latar belakang Menara Eiffel. Mayang juga punya foto serupa bersama Papanya. Mayang merasa punya kesamaan, foto keluarga mereka hanya 2 orang saja. Bima dengan Mamanya. Mayang dengan Papanya.
Bima beranjak dan membuka laci. Ditunjukkannya sebuah foto pada Mayang. Mayang mengikutinya. Sebuah foto lawas, Bima ambil dari selipan buku.
"Ini foto bayi. Adik Bima. Namanya Alice, Mama yang kasih nama. Pas Mama hamil, kita pernah nonton Alice in Wonderland di bioskop. Kita nonton berdua. Bima ingat Mama nangis pas gelap. Dia ke bioskop cuma buat nangis. Waktu itu Papa udah lama nggak pulang ke rumah."
"Mama seneng banget sama kamu. Dia pengen punya anak perempuan. Tiap hari nyeritain kamu terus. Kayaknya Papa kamu banyak cerita tentang kamu ke Mama. Takutnya Mayang jadi nggak nyaman. Mama memang begitu."
Mayang hanya tersenyum. Tante Asti baik. Entah mengapa kali ini rasanya berbeda. Dibandingkan Tante Erika, kali ini Mayang tak merasa cemburu lagi melihat kedekatan Papanya dengan perempuan lain.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹