Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Organisasi Kampus
Setelah ujian presentasi berlalu, kehidupan kampus kembali berjalan seperti biasa. Sekar Arum semakin akrab dengan teman-teman sekelasnya dan mulai aktif mengikuti kegiatan kampus.
Suatu hari, Aisha menawarkan sesuatu yang menarik kepada Sekar Arum.
"Sekar, gimana kalau kita ikut organisasi kampus?" tanya Aisha saat mereka sedang bersantai di kantin.
"Organisasi kampus? Organisasi apa?" tanya Sekar Arum, penasaran.
"Hima Kom, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Aku dengar organisasi ini seru banget. Banyak kegiatan positif dan bermanfaat yang bisa kita ikuti," jawab Aisha, bersemangat.
"Kegiatan apa saja?" tanya Sekar Arum.
"Macam-macam, Sekar. Ada seminar, workshop, pelatihan, bakti sosial, dan lain-lain. Yang paling keren, tahun ini Hima Kom mau ngadain seminar nasional dengan mengundang dalang wayang kulit yang lagi naik daun, Dr. Ir. Damar Sasongko, M. Si!" jawab Aisha. "Aku dengar-dengar, Damar Sasongko itu aslinya dari Solo, tepatnya daerah Pajang, Laweyan. Selain jago mendalang, dia juga pinter banget memanfaatkan media sosial buat mempromosikan wayang kulit. Keren kan?"
Mendengar nama Damar Sasongko, mata Sekar Arum berbinar. Ia sudah lama mengagumi sosok dalang muda yang satu ini. Damar Sasongko bukan hanya sekadar melestarikan wayang kulit, tetapi juga berhasil membuat seni tradisional ini kembali relevan di mata generasi muda. Ia sering melihat video-video pertunjukan Damar Sasongko di YouTube dan terkagum-kagum dengan kemampuannya mengkombinasikan unsur-unsur klasik dan modern dalam setiap penampilannya. Ia juga terinspirasi oleh cara Damar Sasongko menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan para penggemarnya dan menyebarkan pesan-pesan positif. Sekar Arum percaya bahwa Damar Sasongko adalah contoh nyata bahwa seni tradisional dapat berkembang dan tetap dicintai di era digital. Ia berpikir, jika Damar Sasongko bisa melakukan itu, maka ia pun juga bisa melakukan hal yang sama di bidang komunikasi.
"Iya, Aisha, aku tahu Damar Sasongko. Dia itu keren banget! Aku sering nonton videonya di YouTube. Dia itu dalang yang pinter banget memanfaatkan media sosial," kata Sekar Arum, antusias.
Saat mereka sedang asyik berdiskusi, tiba-tiba notifikasi di ponsel Sekar Arum berbunyi. Ia melihat sebuah berita dari portal berita online lokal.
Judul berita itu adalah: "Innalillahi, Ki Bimo Samudro, Dalang Wayang Kulit Karangpandan Berpulang."
Seketika raut wajah Sekar Arum berubah. Ia terkejut dan sedih membaca berita tersebut. Meskipun ia tidak mengenal Ki Bimo Samudro secara pribadi, ia merasa kehilangan sosok seniman yang telah berjasa dalam melestarikan wayang kulit. Ia membayangkan betapa sedihnya keluarga dan para sahabat Ki Bimo Samudro. Ia juga teringat akan masa kecilnya, saat ia sering menonton pertunjukan wayang kulit di desanya. Wayang kulit adalah bagian dari identitas budaya Indonesia yang harus dilestarikan Namun, ia juga menyadari bahwa seni tradisional ini semakin terlupakan di kalangan generasi muda. Ia merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu agar wayang kulit tetap lestari dan dicintai oleh masyarakat luas."
"Innalillahi wainnailaihi rajiun," ucap Sekar Arum dengan suara lirih.
"Kenapa, Sekar?" tanya Aisha, khawatir melihat raut wajah Sekar Arum.
Sambil menunjukkan ponselnya kepada Aisha, Sekar Arum berkata, "Ki Bimo Samudro meninggal dunia."
Aisha terkejut. "Ki Bimo Samudro? Yang dalang wayang kulit terkenal itu?" tanya Aisha.
Sekar Arum mengangguk. "Iya, Aisha. Aku sedih banget dengar berita ini. Meskipun aku nggak kenal beliau, aku merasa kehilangan," kata Sekar Arum.
"Aku juga ikut berduka, Sekar. Ki Bimo Samudro itu seniman hebat. Jasanya dalam melestarikan wayang kulit nggak bisa diremehkan," kata Aisha.
Sekar Arum terdiam sejenak. Ia merenungkan kata-kata Aisha. "Aisha, aku jadi kepikiran sesuatu," kata Sekar Arum.
"Kepikiran apa?" tanya Aisha.
"Aku ingin ikut Hima Kom. Aku ingin belajar lebih banyak tentang komunikasi, terutama tentang bagaimana caranya memanfaatkan media sosial untuk melestarikan budaya tradisional," kata Sekar Arum dengan tekad yang membara.
Aisha tersenyum. "Nah, itu baru Sekar Arum yang aku kenal! Aku yakin kamu bisa memberikan kontribusi positif bagi Hima Kom," kata Aisha.
"Kamu juga ikut ya, Aisha?" tanya Sekar Arum.
"Tentu saja! Aku nggak akan ninggalin kamu sendirian," jawab Aisha.
"Makasih, Aisha. Kamu memang sahabat terbaikku," kata Sekar Arum.
Setelah itu, Sekar Arum dan Aisha bergegas menuju sekretariat Hima Kom untuk mendaftarkan diri. Mereka mengisi formulir pendaftaran dengan cermat dan teliti. Mereka juga mempersiapkan diri untuk menghadapi wawancara seleksi.
Sekar Arum merasa sedikit gugup, tetapi ia juga bersemangat. Ia ingin menunjukkan kepada para senior di Hima Kom bahwa ia memiliki minat dan potensi yang besar di bidang komunikasi. Ia juga ingin menyampaikan ide-idenya tentang bagaimana caranya melestarikan budaya tradisional melalui media sosial.
Saat tiba gilirannya untuk diwawancarai, Sekar Arum berusaha untuk tenang dan percaya diri. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para senior dengan jujur dan apa adanya. Ia juga menceritakan tentang kekagumannya terhadap Damar Sasongko dan keinginannya untuk belajar darinya.
"Saya sangat terinspirasi oleh Damar Sasongko. Beliau adalah contoh nyata bahwa seni tradisional dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tetap relevan di era digital. Saya ingin belajar bagaimana caranya memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan wayang kulit dan seni tradisional lainnya agar semakin dikenal dan dicintai oleh masyarakat luas," kata Sekar Arum dengan penuh semangat.
Para senior Hima Kom tampak terkesan dengan jawaban Sekar Arum. Mereka melihat potensi besar dalam diri Sekar Arum dan yakin bahwa ia akan menjadi anggota yang berdedikasi dan berkontribusi bagi organisasi.
Setelah melalui proses seleksi yang ketat, akhirnya pengumuman hasil pendaftaran Hima Kom keluar. Sekar Arum dan Aisha diterima sebagai anggota Hima Kom. Mereka sangat senang dan bersyukur.
"Alhamdulillah, kita diterima!" seru Aisha dengan gembira.
"Iya, Aisha. Ini adalah awal dari petualangan baru kita," kata Sekar Arum.
Sebagai anggota Hima Kom, Sekar Arum dan Aisha mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan oleh organisasi. Mereka mengikuti seminar, workshop, dan pelatihan yang bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka di bidang komunikasi. Mereka juga berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Namun, di atas segalanya, Sekar Arum sangat menantikan seminar nasional dengan Damar Sasongko sebagai salah satu pembicaranya. Ia berharap dapat bertemu langsung dengan idolanya dan belajar lebih banyak tentang bagaimana caranya melestarikan budaya tradisional melalui media sosial.
Ia tahu bahwa kesempatan ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Ia bertekad untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat memberikan kesan yang baik kepada Damar Sasongko.
Sekar Arum mulai mencari informasi tentang Damar Sasongko di internet. Ia membaca artikel-artikel tentangnya, menonton video-video wawancaranya, dan mengikuti akun media sosialnya. Ia ingin mengetahui lebih dalam tentang pemikiran dan gagasan-gagasan Damar Sasongko tentang wayang kulit dan media sosial.
Suatu hari, saat sedang mencari informasi tentang Damar Sasongko, Sekar Arum menemukan sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Damar Sasongko memiliki seorang putra yang bernama Dirga Ardhani. Artikel itu juga menyebutkan bahwa Dirga Ardhani adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi yang juga tertarik pada dunia wayang kulit.
"Wah, ternyata Damar Sasongko punya anak yang juga tertarik pada wayang kulit," gumam Sekar Arum.
Ia merasa semakin termotivasi untuk bertemu dengan Damar Sasongko dan putranya. Ia berharap dapat menjalin pertemanan dengan mereka dan bertukar pikiran tentang bagaimana caranya melestarikan wayang kulit di era modern. Ia juga ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan pribadi Damar Sasongko dan bagaimana ia berhasil membesarkan seorang putra yang juga mencintai seni tradisional."
Namun, di tengah semangatnya untuk bertemu dengan Damar Sasongko, Sekar Arum juga merasa sedikit khawatir. Ia takut tidak dapat memberikan kesan yang baik kepada idolanya. Ia merasa bahwa dirinya hanyalah seorang mahasiswa biasa yang belum memiliki banyak pengalaman. Ia takut Damar Sasongko tidak akan tertarik untuk berbicara dengannya.
"Ah, sudahlah. Yang penting aku berusaha semaksimal mungkin," pikir Sekar Arum.
Ia bertekad untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat memanfaatkan kesempatan bertemu dengan Damar Sasongko sebaik mungkin. Ia ingin menunjukkan kepada Damar Sasongko bahwa ia adalah seorang mahasiswa yang bersemangat, berdedikasi, dan memiliki potensi untuk memberikan kontribusi positif bagi pelestarian budaya tradisional.
Waktu terus berjalan. Hari pelaksanaan seminar nasional semakin dekat. Sekar Arum semakin sibuk mempersiapkan diri. Ia membuat catatan-catatan tentang hal-hal yang ingin ia tanyakan kepada Damar Sasongko. Ia juga berlatih berbicara di depan cermin agar dapat menyampaikan idenya dengan lancar dan percaya diri.
Di tengah kesibukannya, Sekar Arum tidak lupa untuk berdoa kepada Tuhan agar diberikan kelancaran dan kemudahan dalam segala urusannya. Ia juga berdoa agar dapat bertemu dengan Damar Sasongko dan mendapatkan inspirasi darinya.
Akhirnya, hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Hari pelaksanaan seminar nasional. Sekar Arum bangun pagi-pagi sekali dengan perasaan yang campur aduk antara senang, gugup, dan bersemangat. Ia mengenakan pakaian terbaiknya dan berangkat menuju lokasi seminar dengan hati yang berdebar-debar. Ia berharap semua persiapannya membuahkan hasil dan ia dapat memperoleh pengalaman berharga dari seminar tersebut.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*