"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: JAM TANGAN YANG TERLARANG
Mansion Valerius setelah jam sepuluh pagi berubah menjadi labirin yang sunyi namun mengancam. Adrian sudah mengunci diri di ruang kerja untuk rapat besar yang ia sebutkan semalam. Kesunyian ini seharusnya memberikan rasa lega bagi Arunika, namun yang ia rasakan justru sebaliknya. Ia merasa seperti sedang berada di dalam perut paus yang raksasa; sunyi, lembap oleh ketakutan, dan setiap saat bisa hancur oleh kontraksi dindingnya.
Arunika berdiri di tengah kamar utama, menatap nakas di samping tempat tidur. Di sana, jam tangan perak milik Adrian tergeletak dengan angkuh. Jam itu bukan sekadar penunjuk waktu; bagi Arunika, itu adalah gembok dari seluruh misteri yang menyiksa batinnya.
Tangannya gemetar saat ia meraih benda logam dingin tersebut. Ia teringat percakapannya dengan Bi Marta tempo hari tentang betapa Adrian sangat menghargai privasi dan keteraturan. Menyentuh barang milik Adrian tanpa izin adalah pelanggaran berat—sebuah tiket menuju "hukuman" yang belum pernah ia bayangkan.
“Cari berkas di laci rahasia meja kerja Adrian saat dia sedang rapat besar.”
Instruksi dari chip memori itu terus berputar di kepalanya. Arunika memasukkan jam tangan itu ke dalam saku gaunnya yang dalam. Berat jam itu terasa seperti batu besar yang menarik bahunya turun.
Ia melangkah keluar kamar. Koridor lantai dua tampak tak berujung. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar hanya memberikan penerangan parsial, meninggalkan sudut-sudut lorong dalam bayang-bayang yang pekat. Arunika berjalan dengan ujung kaki, berusaha agar langkahnya tidak menimbulkan bunyi sekecil apa pun di atas lantai kayu ek yang mengilap.
Setiap kali ia melewati kamera CCTV yang terpasang di sudut plafon, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia menundukkan kepala, berpura-pura sedang merapikan ujung gaunnya, berharap lensa merah kecil itu tidak bisa membaca niat busuk di balik wajah pucatnya.
Ia sampai di depan pintu ruang kerja Adrian. Suara bariton suaminya terdengar samar dari balik kayu jati yang tebal. Adrian sedang berbicara dalam bahasa Inggris, nada suaranya tajam dan penuh otoritas. Rapat itu tampaknya sedang memanas.
Arunika tidak mungkin masuk melalui pintu depan. Ia memutar otak, lalu teringat pada ruang perpustakaan yang bersebelahan dengan ruang kerja tersebut. Antara kedua ruangan itu terdapat pintu penghubung kecil yang biasanya digunakan pelayan untuk mengantar dokumen atau kopi tanpa harus melewati lorong utama.
Dengan langkah cepat namun senyap, ia menyelinap ke dalam perpustakaan. Aroma buku tua dan lilin lebah menyambutnya. Ia bergerak ke sudut paling belakang, di mana sebuah tirai beludru berat menutupi pintu kayu kecil.
Perlahan, Arunika mendorong pintu itu. Cklek. Bunyi engsel yang kering terdengar seperti ledakan di telinganya. Ia membeku selama beberapa detik, menunggu apakah Adrian menyadarinya. Namun, suara Adrian masih terdengar stabil, terus mendikte angka-angka keuntungan kepada rekan bisnisnya di layar monitor.
Arunika menyelinap masuk. Ruang kerja Adrian jauh lebih gelap daripada bagian rumah lainnya. Tirai-tirainya ditutup rapat, hanya menyisakan cahaya dari monitor komputer yang memantul di wajah Adrian yang dingin.
Arunika bersembunyi di balik rak buku besar yang terletak hanya tiga meter dari meja kerja. Ia bisa melihat punggung Adrian yang tegak. Pria itu tampak sangat fokus, sesekali jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang membuat Arunika merinding.
Arunika mengeluarkan jam tangan Adrian dari sakunya. Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, ia meraba bagian belakang jam tangan tersebut. Ia menemukan sebuah celah kecil, hampir tidak terlihat. Ia mencongkelnya menggunakan kuku hingga sebuah kunci tipis—hanya sepanjang dua sentimeter—jatuh ke telapak tangannya.
Inilah kunci menuju laci rahasia itu.
Arunika merangkak di lantai, memanfaatkan bayang-bayang meja besar Adrian. Ia harus sangat berhati-hati. Jika Adrian sedikit saja memutar kursinya, tamatlah riwayatnya.
Begitu sampai di bawah meja, ia melihat lubang kunci kecil yang tersembunyi di balik ukiran singa. Ia memasukkan kunci itu.
Klik.
Suara mekanisme kunci itu sangat halus, namun bagi Arunika, itu terdengar seperti lonceng kematian. Ia menarik laci itu perlahan. Di dalamnya, tidak ada tumpukan uang atau senjata. Hanya ada sebuah map kulit hitam dengan inisial “E.V.”
Elena Valerius.
Arunika membuka map itu. Lembar pertama adalah sebuah foto. Bukan foto pernikahan, melainkan foto candid Elena yang sedang duduk di taman, namun wajahnya tampak hancur oleh kesedihan. Matanya sembap, dan tangannya mencengkeram lengan kursinya begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
Di bawah foto itu, ada catatan medis bertanggal lima tahun yang lalu.
“Pasien menunjukkan gejala paranoid schizophrenia. Pasien bersikeras bahwa suaminya mencoba meracuni makanannya. Direkomendasikan isolasi total untuk keselamatan pasien.”
Arunika membeku. Meracuni? Ia teringat bagaimana Adrian selalu menatapnya saat ia makan, memastikan ia menghabiskan setiap suapannya. Apakah itu bentuk kasih sayang, ataukah Adrian sedang memastikan "dosisnya" tepat?
"Dan pastikan pengiriman dari pelabuhan tidak tertunda lagi. Aku tidak ingin ada mata-mata otoritas yang mencium ini," suara Adrian tiba-tiba meninggi.
Arunika tersentak. Ia buru-buru menutup map itu. Ia tidak bisa membawa map ini sekarang. Adrian pasti akan menyadarinya. Ia hanya mengambil satu lembar kecil yang terselip di bagian belakang—sebuah sobekan kertas berisi tulisan tangan yang tergesa-gesa: “Jangan makan daging di hari Selasa. Dia menaruhnya di sana.”
Hari ini adalah hari Selasa.
Arunika memasukkan kembali map itu, mengunci laci, dan mengembalikan kunci ke dalam jam tangan. Ia merayap kembali menuju pintu perpustakaan secepat yang ia bisa. Paru-parunya terasa terbakar karena ia terlalu lama menahan napas.
Saat ia berhasil keluar dari perpustakaan dan kembali ke lorong, ia hampir menabrak Bi Marta yang sedang membawa vas bunga baru.
"Nyonya," suara Bi Marta datar, namun matanya memindai wajah Arunika yang berkeringat. "Anda tampak seperti baru saja melihat hantu."
"Aku... aku hanya butuh udara segar, Bi," jawab Arunika gagap.
Bi Marta mendekat, lalu merapikan rambut Arunika yang sedikit berantakan. "Tuan Adrian akan selesai rapat dalam lima menit. Sebaiknya Anda sudah ada di meja makan saat dia keluar. Dan Nyonya..."
Bi Marta merendahkan suaranya hingga nyaris tak terdengar.
"Sembunyikan apa pun yang Anda bawa sekarang di tempat yang tidak pernah Tuan sentuh. Dia memiliki kebiasaan memeriksa semua barang Anda saat Anda sedang tidur."
Arunika mengangguk cepat, lalu berlari menuju kamarnya. Ia menyembunyikan sobekan kertas itu di dalam lipatan kain di balik bingkai foto ayahnya yang ia bawa dari rumah—satu-satunya benda yang ia harap Adrian tidak akan merusaknya karena menghormati "perjanjian" mereka.
Tepat saat ia selesai, pintu kamar mandi terbuka. Adrian masuk dengan wajah yang tampak lelah namun puas. Ia langsung menghampiri nakas, mengambil jam tangannya, dan memakainya kembali tanpa kecurigaan sedikit pun.
"Kau menungguku, Sayang?" tanya Adrian sambil mengecup puncak kepala Arunika.
"Iya, Adrian."
"Bagus. Mari kita makan siang. Aku meminta pelayan menyiapkan menu spesial hari ini," ucap Adrian dengan senyum yang tampak sangat tulus. "Steak daging sapi wagyu. Favoritmu, bukan?"
Darah Arunika terasa membeku. Hari Selasa. Daging.
Ia menatap tangan Adrian yang melingkar di pinggangnya. Tangan yang sama yang mungkin telah menaburkan racun atau obat penenang ke dalam makanan istrinya terdahulu. Sangkar emas ini kini terasa lebih mencekik daripada sebelumnya, dan perjamuan siang ini mungkin akan menjadi awal dari tidurnya yang panjang jika ia tidak berhati-hati.
Apakah Arunika akan berani menolak makanan dari Adrian? Dan apakah ia bisa menemukan cara untuk menghubungi dunia luar sebelum ia benar-benar kehilangan kewarasannya?