NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SINGGASANA PASIR DAN PARADOKS

"Jadi, ini semua cuma panggung sandiwara lo, Kek?"

Suara Viona bergetar, bukan hanya karena amarah yang meluap, tapi karena rasa perih yang luar biasa menjalar dari jantungnya ke seluruh pembuluh darah. Di telapak tangan kirinya, tulisan 'SEKARANG' masih berdenyut merah redup, seolah-olah kata itu adalah jantung kedua yang mencoba memompa realitas ke dalam dimensi yang sudah rusak ini. Viona berdiri terhuyung, menatap Alfred yang kini tampak sepuluh kali lebih berwibawa sekaligus seratus kali lebih mengerikan daripada saat mereka pertama kali bertemu di halte bus.

Alfred tidak langsung menjawab. Ia mengetukkan jemarinya yang kurus ke lengan singgasana yang terbuat dari susunan roda gigi kuno yang masih berputar pelan. Jutaan jam pasir di sekeliling mereka menciptakan suara desir halus, seperti bisikan jutaan nyawa yang sedang memohon waktu tambahan.

"Sandiwara adalah kata yang kasar, Viona," Alfred akhirnya bersuara. Nada bicaranya tetap tenang, seolah ia sedang membicarakan cuaca sore hari. "Sebut saja ini... proses eliminasi. Ordo Chronos butuh kepastian. Kami butuh tahu apakah 'Jantung Waktu' yang dicuri ayahmu itu jatuh ke tangan seorang pengecut, seorang tiran, atau seorang pejuang yang cukup bodoh untuk memilih rasa sakit daripada keabadian."

"Persetan sama Ordo lo!" maki Viona. Ia melirik ke samping. Riko sedang berlutut di samping Elena, wajahnya pucat pasi menatap tumpukan pasir yang mulai merayap di kaki mereka. Adrian masih terbaring tak jauh dari sana, mencoba mengaktifkan kembali tabletnya yang kini hanya mengeluarkan percikan listrik statis.

"Vio... lo liat nggak?" bisik Riko dengan suara tercekat. "Pasir di jam-jam itu... itu bukan pasir biasa. Itu foto-foto kita! Liat itu, itu pas kita lagi lembur di kantor!"

Viona menajamkan penglihatannya. Riko benar. Butiran-butiran kecil yang mengalir dari jam pasir raksasa di sekeliling mereka adalah fragmen memori—potongan gambar mikro yang bergerak cepat. Setiap butir adalah satu detik kehidupan manusia yang telah kedaluwarsa, dikumpulkan dan dialirkan menuju pusat kekuatan Alfred.

"Kek, lepasin Ibu sama temen-temen gue," desis Viona. Ia menggenggam gagang payung birunya yang kini sudah tidak berbentuk lagi, hanya berupa batang logam yang bengkok. "Lo mau koin ini, kan? Ambil! Tapi biarin mereka pulang ke Jakarta yang asli!"

Alfred tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan dua batu nisan. "Jakarta yang asli? Viona, Jakarta yang kamu kenal sudah berhenti bergerak sejak kamu membuka payung ini di halte itu. Dunia sedang menunggu keputusanmu. Kamu telah menelan koin itu, menjadikannya bagian dari biologimu. Jika aku mengambilnya sekarang secara paksa, realitas di luar sana akan kolaps karena pusat gravitasinya hilang."

"Terus lo mau apa?!"

"Aku ingin kamu menandatangani kontrak baru," Alfred berdiri dari singgasananya. Saat ia melangkah, jam pasir di jalurnya berhenti mengalir. "Ayahmu, Nathan, adalah arsitek yang brilian tapi emosional. Dia pikir dengan menanamkan koin itu padamu, dia memberimu kebebasan. Padahal, dia memberimu penjara paling mewah di alam semesta. Kamu adalah 'Tinta' bagi Ordo. Apa pun yang kamu rasakan, apa pun yang kamu alami, akan menjadi sejarah baru bagi umat manusia."

Adrian tiba-tiba berteriak dari posisinya, "Vio, jangan percaya! Dia mau jadiin lo baterai buat nulis ulang dunia sesuai kemauan Ordo! Kalau lo setuju, lo nggak bakal pernah bisa mati, tapi lo juga nggak bakal pernah bener-bener hidup!"

"Diam, Kurir!" Alfred mengibaskan tangannya, dan sebuah tekanan udara yang dahsyat menghantam Adrian hingga pemuda itu terlempar ke tumpukan jam pasir di kejauhan.

"ADRIAN!" Viona hendak berlari menolong, namun langkahnya terhenti. Pasir di bawah kakinya mendadak mengeras seperti semen, mengunci pergelangan kakinya.

"Pilihanmu sederhana, Viona," Alfred kini sudah berdiri tepat di depan Viona. Bau tubuhnya seperti debu perpustakaan kuno dan hujan yang sudah lama mengering. Ia mengeluarkan sebuah pena emas—bukan pena milik 'Sweeper' tadi, tapi sesuatu yang jauh lebih kuno, yang ujungnya terbuat dari berlian hitam. "Tuliskan namamu di kontrak ini. Sebagai gantinya, aku akan menyembuhkan ibumu, memberikan kekayaan yang tidak habis tujuh turunan untuk temanmu yang malang itu, dan menghapus memori tentang Julian, Baskara, dan tempat terkutuk ini dari kepala mereka. Mereka akan pulang ke hidup yang sempurna."

Viona menatap Elena. Ibunya tampak sangat rapuh, matanya yang bersinar emas kini meredup, menyisakan tatapan kosong yang menyayat hati. Lalu ia menatap Riko, sahabatnya yang tidak tahu apa-apa tapi terseret ke dalam neraka ini hanya karena ia peduli pada Viona.

"Ibu... bakal sembuh?" tanya Viona lirih.

"Sembuh total. Dia akan berjalan lagi, tertawa lagi. Seolah kecelakaan itu tidak pernah terjadi," janji Alfred.

"Vio... jangan..." Elena bersuara, sangat tipis, nyaris seperti embusan angin. "Jangan... jual... dirimu..."

Viona merasakan air mata panas mengalir di pipinya. Ia melihat ke telapak tangan kirinya. Kata 'SEKARANG' yang ia tulis dengan darahnya sendiri tampak berdenyut lebih kencang, seolah-olah kata itu menolak tawaran Alfred. Viona menyadari sesuatu. Jika ia memilih masa depan yang ditawarkan Alfred, 'SEKARANG' miliknya akan hilang. Ia akan menjadi budak waktu, sementara orang-orang yang ia cintai hidup dalam kebohongan yang manis.

"Kek," Viona mendongak, menatap mata Alfred yang sedalam jurang. "Lo bilang ayah gue itu arsitek yang emosional. Tapi lo lupa satu hal. Emosi itu yang bikin karyanya jadi berharga."

"Apa maksudmu?" Alfred menyipitkan mata, merasakan aura koin di dalam dada Viona mulai bergejolak tidak stabil.

"Lo nawarin kesembuhan buat Ibu lewat manipulasi waktu. Tapi itu bukan Ibu gue yang asli. Ibu gue yang asli adalah wanita yang tetap sayang sama gue meski gue sudah bikin dia lumpuh. Riko yang asli adalah temen gue yang cerewet dan penakut, tapi masi ada di sini buat gue. Gue nggak mau nuker mereka sama versi 'sempurna' buatan lo!"

Viona mengepalkan tangan kirinya. Rasa panas dari koin itu kini mencapai puncaknya. Ia merasa seolah-olah ada energi kosmik yang mencoba merobek kulitnya.

"Viona, jangan bodoh! Kamu sedang memicu Paradoks Inti!" teriak Alfred panik, pertama kalinya ia kehilangan ketenangan. Ia mengangkat tongkat jam pasirnya, mencoba menyedot energi dari Viona.

"Gue nggak peduli!" raung Viona. "Gue pilih rasa sakit ini! Gue pilih kegagalan ini! Karena ini NYATA!"

Viona menusukkan batang logam payung yang bengkok itu ke telapak tangan kirinya, tepat di atas kata 'SEKARANG'. Darah segar mengucur, menyatu dengan pendar emas koin yang mulai menembus pori-pori kulitnya. Ia tidak menulis nama, ia menghapus ruang antara masa lalu dan masa depan.

BOOOOOMMMM!

Ledakan energi putih-biru menghantam seluruh ruangan singgasana. Jam pasir raksasa meledak menjadi jutaan kepingan kaca. Fragmen memori beterbangan seperti badai salju di tengah gurun. Viona merasakan dirinya ditarik ke pusat ledakan, sementara Alfred berteriak saat tubuhnya mulai memudar, tergerus oleh ketidakteraturan yang diciptakan Viona.

"KAU MENGHANCURKAN SEMUANYA!" suara Alfred bergema sebelum akhirnya lenyap.

Dunia seakan terhenti. Viona merasa dirinya melayang di ruang hampa yang sunyi. Tidak ada suara detak jam. Tidak ada desir pasir. Hanya ada kegelapan yang tenang. Namun, di tengah kegelapan itu, ia melihat sebuah titik cahaya biru kecil.

Viona mencoba menggapai titik itu. Saat jemarinya menyentuh cahaya tersebut, ia merasakan tarikan gravitasi yang sangat kuat. Ia merasa dirinya jatuh... jatuh kembali ke Bumi.

Bruk!

Viona tersentak bangun. Ia merasakan dingin yang luar biasa. Ia membuka matanya dan menyadari dirinya sedang berbaring di atas aspal yang basah. Suara bising klakson mobil, deru mesin bus, dan aroma polusi Jakarta menyerbu indranya secara bersamaan. Hujan deras masih mengguyur kota.

Viona mengerang, mencoba duduk. Ia berada di pinggir jalan raya yang padat. Beberapa langkah di depannya, ada sebuah halte bus. Tapi itu bukan halte tua milik Alfred. Itu adalah halte TransJakarta yang modern dengan lampu neon yang terang.

"Vio! Viona! Bangun, Vio!"

Viona menoleh. Riko ada di sana, memegang payung plastik transparan yang murah. Wajahnya tampak panik, tapi ia terlihat... normal. Tidak ada debu emas, tidak ada luka dimensi.

"Riko? Kita... kita di mana?" tanya Viona dengan suara serak.

"Di depan kantor, Vio! Lo tadi pingsan pas baru keluar dari lobi! Gue sudah bilang kan jangan nekat hujan-hujanan!" Riko membantu Viona berdiri. "Lo kayaknya kecapekan banget gara-gara urusan Pak Baskara tadi."

Viona tertegun. Ia melihat ke arah gedung kantornya yang menjulang tinggi. Semuanya tampak seperti biasa. Apakah semua itu hanya mimpi? Halusinasi karena stres akibat kegagalan presentasi?

"Ibu... Ibu gimana?" tanya Viona cepat.

"Ibu lo? Tadi dia telepon gue, katanya lo nggak bisa dihubungi. Dia nungguin lo di rumah sakit buat jadwal fisioterapinya sore ini. Ayo, gue anterin sekarang!"

Viona membiarkan Riko menuntunnya masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti. Di dalam taksi, Viona terus menatap tangannya. Tidak ada luka. Tidak ada tulisan darah. Kulitnya bersih. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia sudah kembali ke realitas yang normal.

Namun, saat ia meraba saku jas hujannya, ia merasakan sebuah benda keras. Viona menarik benda itu keluar.

Sebuah pena perak. Pena milik Alfred.

Jantung Viona berdegup kencang. Ia memutar pena itu di tangannya, dan matanya menangkap sebuah ukiran kecil di ujung gagangnya yang tidak ia sadari sebelumnya. Ukiran itu berbentuk kepala burung gagak.

Tiba-tiba, sopir taksi yang sejak tadi diam, melirik melalui kaca spion tengah. Sopir itu mengenakan topi yang menutupi sebagian wajahnya, tapi Viona bisa melihat senyum tipis di bibirnya.

"Hujan di kota ini memang tidak pernah hanya sekadar air, kan, Mbak?" ucap sopir itu dengan suara berat yang sangat akrab.

Viona membeku. Ia menatap ke luar jendela taksi. Di trotoar yang mereka lewati, ia melihat sosok pria jangkung dengan jas hujan transparan berdiri diam di bawah lampu jalan, memegang sebuah buku catatan hitam.

Julian.

Viona menyadari bahwa ia tidak benar-benar pulang. Ia hanya dipindahkan ke 'lapisan' realitas yang lain. Dan koin di dalam dadanya... ia masih bisa merasakannya. Berdenyut pelan, seirama dengan rintik hujan yang menghantam kaca mobil.

"Turunin saya di sini," bisik Viona.

"Lho, Vio? Ini kan masi jauh dari rumah sakit!" protes Riko.

"Turunin saya sekarang, Riko!" perintah Viona dengan nada yang sangat tegas, nada yang ia pelajari dari Ordo Chronos.

Taksi itu berhenti mendadak di tepi jembatan layang. Viona keluar tanpa payung, membiarkan dirinya kembali basah kuyup. Sopir taksi itu menurunkan kacanya, menatap Viona dengan mata abu-abu jernih yang sangat ia kenal.

"Satu hal yang perlu kamu tahu, Viona," ucap 'sopir' yang ternyata adalah Alfred yang sedang menyamar. "Kamu tidak menghancurkan singgasana itu. Kamu hanya menjadikannya milikmu sendiri. Selamat bertugas, Sang Arsitek Baru."

Alfred menginjak gas, dan taksi itu melesat hilang di tengah kabut hujan, membawa Riko yang berteriak bingung di dalamnya.

Viona berdiri sendirian di atas jembatan. Ia mengangkat pena perak itu ke arah langit yang kelam. Saat kilat menyambar, ia melihat sesuatu yang membuatnya nyaris berhenti bernapas.

Di telapak tangan kirinya, kulitnya mulai mengelupas, menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi di bawahnya. Bukan daging atau darah, melainkan rangkaian roda gigi emas kecil yang berputar cepat, dan di tengahnya, tertulis satu kata yang bersinar permanen: SEKARANG.

Viona menoleh ke arah ujung jembatan. Dari kegelapan, muncul sesosok wanita yang berjalan kaki dengan sangat tegak, sangat lancar. Wanita itu mengenakan gaun yang persis dengan milik ibunya. Saat wanita itu melangkah mendekat ke arah lampu jalan, Viona melihat wajahnya.

Itu Elena. Ibunya yang seharusnya lumpuh, kini berjalan ke arahnya dengan tatapan mata yang sepenuhnya perak tanpa pupil.

"Waktunya pulang, Viona," ucap Elena dengan suara yang bukan miliknya. "Ayahmu sudah menunggu di bawah jembatan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!