NovelToon NovelToon
LINTAS DIMENSI

LINTAS DIMENSI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Time Travel / Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..

Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.

Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.

Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.

Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.

Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Rumput Pelangi

Di malam hari, saat semua orang sudah tertidur lelap, Aruna masuk de dalam ruangnya. Betapa bahagianya melihat kabut putih makin jauh dari pandangannya, yang berarti ruangnya bertambah luas.

Saat dia berbalik, Aruna terbelalak melihat bangunan berlantai tiga. Dari mana asalnya bangunan ini? Apakah ini karena dia berhasil menyelamatkan dua nyawa?

Aruna melihat sekeliling, barang-barangnya sudah tidak ada, "Kemana perginya barang milikku? Apa di dalam bangunan itu?" Sangat kebingungan sekaligus penasaran.

Aruna membuka pintu, tubuhnya mematung melihat apa yang ada di depannya, Super Market yang sangat lengkap, barang- barang yang mengkilap tersusun dengan rapi. Syok, apakah ini miliknya? Apa maksud dari semua ini?.

Aruna berjalan untuk berkeliling, makin dia melangkah, makin dia dibuat takjub. Benar-benar lengkap, Pakain, kebutuhan makan, alat mandi, elektronik, bahan bangunan, berbagai macam bibit, dan yang paling membuatnya speechless adalah alat untuk bertani.

Aruna jalan mendekat ke alat bertani, dia sampai mendongak untuk melihat benda besar di depannya. Sebuah Traktor, yang sudah di mode robot, sangat canggih. Aruna sampai bertanya-tanya, apakah di dunia ini dirinya akan beralih profesi?

Aruna juga lihat berbagai macam alat tranportasi, dia tidak terkejut lagi. Karena semua itu hasil dari jarahannya sendiri saat di hari kiamat, Aruna memasukkan semua benda atau barang tanpa pilih-pilih, meski dia tau, jika benda itu tidak akan berguna.

Di langkah selanjutnya, Aruna melihat banyak drum dan jerigen yang bertuliskan bensin dan solar. Apakah dia harus menggunakan transportasi itu? Tapi sayang sekali, benda-benda yang berukuran besar belum bisa diakses.

Aruna terbang menuju lantai dua, Aruna rasanya ingin menangis melihat berbagai macam senjata dan benda tajam. Aruna mengambil benda yang paling kecil yang bisa diakses, sebuah jepit rambut, pas tombol kecil ditekan, muncul pisau kecil yang tipis dan tajam mengkilat. Tanpa ragu, dia langsung memakainya, tak ada yang bisa mengira, benda kecil imut itu sangat berbahaya.

Setelah puas melihat-lihat, Aruna menuju lantai tiga. Saat membuka pintu ternyata sebuah Apartemen, mata Aruna berseri-seri, dia bisa istirahat dengan nyaman di sini.

Ada tiga pintu di dalam Apartemen, pintu pertama sebuah kamar tidur dengan kamar mandi yang sangat luas, kamar kedua sebuah laboratorium, dan yang ketiga ruang bedah.

Air mata Aruna sudah mengalir, semua ini miliknya di tempat kerjanya di barak Militer. Tak disangka, bisa berpindah ke dalam ruangnya, dia sangat terharu. Aruna bisa melanjutkan tugasnya di dimensi ini sebagai Dokter. Tapi saat ini hanya ada satu kotak medis yang bisa diakses.

Keesokan harinya, Aruna bangun dengan keadaan bugar, bagaimana tidak, dia tidur di atas kasur yang empuk, tapi dia sudah keluar sebelum orang-orang bangun, saat keluar dari tenda, ternyata semua bersiap untuk serapan dan sedang menunggunya.

Aruna merasa sangat dipedulikan, padahal mereka bisa serapan tanpa menunggunya, tapi mereka malah berkata, 'Kita harus makan bersama-sama'. Serapan kali ini hanya sebuah roti kukus.

Setelah serapan, Kakek Ji bertanya kepada warganya. "Nak Aruna ingin masuk Kota, apakah ada diantara kalian yang ingin titip sesuatu?" Kepala Desa dan warganya sudah sepakat, keperluan dapur dibeli menggunakan uang kas Desa karena mereka masak dan makan bersama.

Ada banyak yang ingin mereka beli, tapi mereka harus menahan, perjalanan masih jauh, dan setelah sampai ditujuan juga harus membangun rumah, semua itu menggunakan uang, mereka tidak lagi memiliki tabungan yang banyak.

Kepala Desa hanya menghela nafas melihat warganya hanya diam. "Baiklah, jika tidak ada Nak Aruna akan masuk Kota sekarang.

Aruna yang ada di dalam tenda mendengar semuanya hanya diam, karena sudah tau bagaimana kondisi keuangan mereka. Sebenarnya dia berada di dalam ruangnya berganti pakaian, sekarang dia bisa melihat apa yang terjadi dari dalam.

Aruna menggunakan rok putih yang dipadukan dengan blus Hanfu yang bermotif bunga pudar. Sangat cantik dan menawan, rambut panjangnya disanggul setengah menggunakan tusuk konde.

Saat Aruna keluar dari tenda, suasana yang tadinya berisik tiba-tiba jadi hening. Semua mata memandangnya dengan kagum dan terpesona, Cantik, seperti Tuan Putri.

Aruna yang belum pernah merasakan respon seperti itu sedikit gugup, akhirnya dia merasakan bagaimana rasanya memiliki wajah yang cantik tapi dihargai dan dikagumi.

"Bibi ada apa?" tanya Aruna sok polos.

Bibi Ying ada di dekatnya seketika sadar dari rasa kagumnya. "Nak Aruna memang cantik, tapi hari ini cantiknya berkali-kali lipat." lihatlah sekarang bibirnya lebih berwarna.

Semua orang mengangguk setuju, Kulit putih bersih Aruna paling menonjol. Mereka seketika tersadar, inilah sosok Aruna yang sebenarnya, jadi yang kemarin-kemarin Aruna hanya menyesuaikan diri dengan mereka.

Kakek Ji tiba-tiba sedikit khawatir, "Nak, bagaimana jika ada yang mengganggumu di dalam kota?"

"Kakek jangan khawatir! Tidak ada yang berani menggangguku, Jika waktu makan siang aku belum kembali, kalian tidak perlu menunggu!"

"Nak tapi kamu sendiri,!" celetuk Nenek Suyu.

"Tidak apa-apa. Jika ada yang berani menggangguku, aku pasti membalasnya." Aruna hanya bisa menenangkan dengan ucapan, siapa yang berani cara masalah dengannya?

Setelah menenangkan mereka, Aruna berjalan menuju gerbang Kota, merasa dirinya sudah lebih jauh Aruna menggunakan jepit rambut dan kalung untuk melengkapi pesonanya. Apa yang harus perlu ditutupi? Wajah? Oh tidak, dia tidak ingin jadi orang yang naif, dia malah ingin pamer.

Ada beberapa orang yang antri ingin masuk kota, setelah gilirannya dia langsung di persilahkan masuk, penjaga kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, mungkin bergantian shift.

Semua penjaga yang melihat surat jalan Aruna yang ternyata warga pengungsi langsung tercengang, nona ini sangat cantik, bahkan kecantikan no satu di Kota Nuwu tidak ada bandingannya, meski hanya seujung kuku.

"Astaga Bidadari cantik dari Desa"

"Waahh cantik yang mematikan"

Aruna hanya terus berjalan, tidak peduli dengan bisik-bisikan yang tertuju padanya. Menurut informasi yang dia dapatkan dari penjaga semalam, Kota Nuwu lebih luas dan lebih ramai dari Kota Junsu.

Aruna mencari sebuah Restoran, dua roti kukus yang ukuran kecil hanya mengganjal laparnya saja, ada banyak makanan di ruangnya, tapi dia ingin mencoba makanan yang ada di kota Nuwu.

Dia masuk ke sebuah Restoran yang bernama ' Restoran Boilu'. Tapi baru saja ingin masuk, dia dihalang penjaga.

"Berhenti, Anda tidak boleh masuk!" pintanya dengan suara dingin tapi sedikit gugup melihat Aruna yang cantik dan anggun, tapi itu perintah dari manager Restoran.

"Kenapa saya tidak boleh masuk?" tanya Aruna tak kalah dingin.

Dua penjaga langsung ciut mendengar suara Aruna yang halus tapi tajam. "Kami hanya menjalankan perintah!" salah satu menjawab.

Dari dalam Restoran terdengar keributan, Aruna menggunakan kekuatan mentalnya untuk mengetahui apa yang terjadi. "Biarkan saya masuk!"

"Nona, sesuatu telah terjadi di dalam, lebih baik Anda pergi jika tidak ingin mendapat masalah." Penjaga menjelaskan sambil mengusap keringatnya, dia merasa sedang berhadapan dengan Jendral besar, sangat tertekan.

"Jika saya tidak masuk, masalahnya akan melebar!" Aruna tetap memaksa, sambil melangkah.

Kedua penjaga langsung mencabut pedang dan menghunuskan di depan Aruna, berharap Aruna takut, dan berlari pergi. Tapi sayang sekali, hanya dengan sekian detik, pedang penjaga sudah terjatuh.

Aarrgghh....

"Sa.. Sakit.. Ah tanganku.."

"Aduh, apa yang terjadi?" Tanyanya sambil melihat Aruna yang sudah masuk dalam Restoran.

Kedua penjaga saling tatap, tiba-tiba mereka merasa merinding. Keduanya tidak melihat bagaimana Aruna menjatuhkan pedang mereka, yang mereka rasa, sesuatu menusuk tangan hingga keram dan melemah. Tapi saat melihat titik sakit itu, tidak ada bekas tusukan atau luka sedikitpun. Ini kekuatan besar, badan mereka begetar karena rasa takut, mereka sudah menyinggung orang yang salah.

Di dalam Restoran, Aruna sudah duduk dengan santai di meja yang tidak jauh di mana keributan terjadi. Dengan terpaksa mengeluarkan roti isi kacang hijau, karena kegiatan dalam Restoran dihentikan sementara.

Aruna melihat seorang Tabib melakukan pemeriksaan kepada wanita yang tak sadarkan diri tergeletak di lantai.

"Tabib Jung, bagaimana? Sepupu saya masih bisa selamatkan?" seorang gadis yang duduk bersimpuh di samping wanita yang tidak sadarkan diri.

Sang Tabib menghela nafas pelan, "Dia keracunan Rumput pelangi. Tidak ada yang bisa selamat dari racun itu" jelasnya sambil menggelengkan kepala, kenapa bisa racun mematikan itu berada di dalam Restoran.

Mendengar kata 'Racun Pelangi' semua orang langsung terkejut. Konon, tidak ada Tabib yang bisa mengatasi racun itu, bahkan di Kota Nuwu sudah ada beberapa korban dari racun tersebut, racun itu tidak sesuai dengan namanya yang cantik.

"Tidak... Tidak... Bagaiman bisa sepupuku keracunan? Tadi semuanya baik-baik saja, kami makan sambil bercanda, wuwuwwu..!" ucapnya sambil terisak penuh kesedihan dan ketakutan.

Mendengar perkataannya, orang-orang langsung paham. Gadis itu keracunan setelah makan di Restoran Boilu, tapi itu hanya asumsi sementara karena tidak ada bukti.

"Ya, tadi semuanya baik-baik saja! Bagaimana bisa Yui langsung keracunan?" seorang gadis lain yang berdiri juga ikut menyahut "Kami makan bertiga dengan baik, apa mungkin Yui diracuni?" lanjutnya sambil menutup mulut.

"Lusi, apa yang kau katakan? Itu tidak mungkin" Bantahnya dengan raut tak percaya. "Kita semua tau, Yui orang yang baik, tidak mungkin ada orang berniat jahat kepadanya!"

"Sudah,, sudah. Jangan berdebat lagi. Tim penyelidik akan tiba. Kunci pintu, jangan ada yang keluar dari sini sebelum melakukan pemeriksaan." Pria paruh baya langsung menyela dengan tegas. Dia Manager Restoran Boilu.

"Dia keracunan setelah makan di Restoran kami. Tapi saya yakin, orang-orang kami tidak akan berbuat sekeji itu. Jadi kami pihak Restoran siap untuk diselidiki."

Semua mengangguk setuju, para pelanggan juga tidak keberatan untuk diperiksa, takutnya Mereka juga terkena racun yang mematikan.

"Wuwuwu.... Bagaimana dengan Yui? Tabib Jung, selamatkan sepupuku," Gadis itu hanya fokus dengan gadis yang sedang terbaring di lantai.

"Nona Yumi, Saya tidak bisa melakukan apapun..Bahkan jika kita memanggil Tabib Long pun tetap sama. Tahun lalu, hal yang serupa terjadi, sampai sekarang kami para Tabib belum menemukan penawarnya."

Tangis Yumi makin pecah, sepupunya adalah Anak yang sangat disayangi oleh keluarga besar, bahkan Ayahnya sendiri, selalu berpesan kepadanya untuk menjaga Yui, dan sekarang Yui malah keracunan saat makan bersama dengannya. Dia tidak bisa membayangkan, semarah apa keluarganya jika mengetahui, jika dirinyalah yang mengajak Yui makan di Restoran.

"Kasihan sekali nona Yui, dia gadis yang baik!"

"Ya, di juga sangat ramah!"

"Setiap bertemu dengannya, dia pasti akan tersenyum sambil mengangguk!"

"Nona Yui gadis cantik, tapi sayang sekali nasibnya bisa seperti ini!"

"Pasti keluarga Yu sangat bersedih!"

Yumi mendengar bisikan-bisikan itu makin terisak. Sepupunya memang seperti itu, badannya bergetar karena takut, dan juga takut keluarganya menyalahkan semua kepadanya.

1
Andira Rahmawati
ceritanya sgt keren
Andira Rahmawati
kerennnn👍👍👍👍
lanjut thorr💪💪💪
Chen Nadari
luar biasa thor👍
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
👍👍👍👍👍
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
ayo Thor lanjut 👍👍👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!