NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: BATU-BATU PENGHALANG

Bulan berikutnya terasa seperti hidup dalam dua kecepatan yang berbeda. Di satu sisi, waktu berjalan cepat dengan rutinitas baru yang mulai terasa akrab: kerja di bengkel, antar-jemput anak-anak, makan malam bersama, membantu Bima belajar. Di sisi lain, waktu juga berjalan lambat dengan ketegangan yang perlahan mengumpul seperti awan sebelum badai.

Awalnya hanya bisikan-bisikan kecil. Tatapan tetangga yang sedikit terlalu lama ketika aku mengantarkan Kinan ke TK. Sapaan yang tiba-tiba berhenti ketika aku mendekat di warung kopi. Lalu berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan "tidak berbahaya" yang sebenarnya penuh duri.

"Ini suami baru Maya ya?" tanya Bu Sari, tetangga sebelah, suatu pagi ketika aku sedang membersihkan halaman.

"Sepupu, Bu," jawabku singkat.

"Ooh... sepupu. Tapi kok tinggal di rumah? Rumahnya kan cuma tiga kamar."

"Bantu-bantu saja, Bu. Maya sendiri dengan dua anak kan."

"Ya, kasihan sih. Tapi hati-hati. Nanti orang-orang salah paham. Kan Maya masih status janda, belum resmi cerai."

Senyumku kaku. "Terima kasih nasihatnya, Bu."

Ini baru tetangga. Belum keluarga besar.

---

Pertemuan pertama dengan keluarga besar terjadi di acara arisan bulanan ibu-ibu di rumah Bibi Sartika. Awalnya aku tidak diundang atau lebih tepatnya, diharapkan tidak datang. Tapi Maya memaksaku ikut.

"Mereka harus terbiasa dengan kehadiranmu," katanya sambil memilihkan baju yang "paling tidak mencolok" untukku.

"Atau mereka akan semakin tidak terima."

"Lebih baik konfrontasi cepat daripada bisikan-bisikan yang meracuni perlahan."

Dia benar. Maka aku ikut.

Rumah Bibi Sartika ramai oleh sekitar lima belas perempuan ibu-ibu, bibi, sepupu, sepupu Maya dari pihak ibu. Beberapa membawa anak kecil. Suasananya semula riuh oleh tawa dan obrolan, tapi ketika aku dan Maya masuk, riuh itu mereda menjadi bisikan-bisikan.

"Selamat siang," sapaku, berusaha tetap ramah.

Beberapa menjawab, beberapa hanya mengangguk, sebagian lagi pura-pura tidak mendengar.

Bibi Sartika menyelamatkan situasi. "Raka, sini bantu pindahkan meja ke teras."

Kerja fisik. Aku bisa melakukan itu. Aku segera membantu memindahkan meja besar, lalu kursi, lalu menata kembali ruangan. Aktivitas fisik memberiku alasan untuk tidak harus terlalu banyak bicara.

Tapi pertanyaan tetap datang.

"Jadi Raka sudah tidak kembali ke Singapura?" tanya salah satu bibi yang tidak kukenal.

"Tidak, Bibi. Sudah menetap di sini."

"Kerja di mana?"

"Di bengkel Pak Hasan, Bibi."

"Ooh... bengkel. Padahal dulu kan kerja di perusahaan besar di Singapura. Kenapa turun derajat begitu?"

Bukan pertanyaan. Ini penghakiman.

"Bukan turun derajat, Bibi. Hanya pilihan untuk dekat dengan keluarga."

Dia mengangguk, tapi matanya mengatakan bahwa dia tidak percaya.

Sepanjang arisan, aku merasakan tatapan-tatapan itu. Diperiksa. Dinilai. Dikalkulasi. Seperti barang yang sedang dipertimbangkan untuk dibeli atau tidak.

Yang paling menusuk adalah sepupu Maya, Tasya perempuan seusia kami yang dulu sering bermain bersama. Dia mendekat ketika aku sedang mengambil minum di dapur.

"Lama tidak ketemu, Ra."

"Lama sekali, Tas. Delapan tahun."

"Delapan tahun yang mengubah banyak hal ya." Dia tersenyum, tapi tidak sampai ke mata. "Dulu kita bertiga sering main. Sekarang... kamu dan Maya seperti keluarga sendiri."

"Kami memang keluarga."

"Tapi berbeda kan? Lebih... dekat."

Aku berhenti, menatapnya. "Apa maksudmu, Tas?"

"Ah, tidak apa-apa. Cuma... hati-hati saja. Orang-orang mulai bicara. Katanya kamu dan Maya... terlalu dekat untuk sepupu."

"Dan menurutmu?"

Dia memandangku, lalu menghela napas. "Menurutku... kamu berdua selalu berbeda. Selalu punya dunia sendiri. Dulu kami aku, Maya, kamu tapi sebenarnya hanya kamu dan Maya. Aku cuma pelengkap."

Itu tidak benar. Tapi sebelum aku membantah, dia melanjutkan: "Jadi sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Hanya saja... tolong pertimbangkan anak-anak. Mereka akan menerima konsekuensi paling besar."

Dia pergi setelah itu, meninggalkan aku dengan gelas yang hampir tumpah di tangan.

---

Pulang dari arisan, Maya diam di mobil. Wajahnya pucat.

"Mereka bicara padamu juga?" tanyaku.

"Dari segala arah. Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan berbeda. 'Kamu sudah move on dari Rangga?' 'Raka kan cuma sepupu, jangan terlalu bergantung.' 'Anak-anak butuh figur ayah yang benar, bukan pengganti'."

"Kamu baik-baik saja?"

Dia menggeleng. "Tidak. Tapi harus bertahan. Karena kalau kita menyerah sekarang, mereka menang."

Malam itu, Bima bertanya sesuatu yang membuat kami terdiam.

"Teman sekolah bilang, Om Raka dan Mama nggak boleh tinggal serumah karena bukan suami-istri. Itu benar, Om?"

Maya dan aku saling memandang. Ini datang lebih cepat dari yang kami kira.

"Kamu jelaskan," bisik Maya padaku.

Aku menarik napas, duduk di hadapan Bima. "Itu aturan untuk orang yang tidak ada hubungan keluarga, Bima. Tapi Om dan Mama adalah sepupu. Jadi beda."

"Tapi temanku bilang, tetap nggak boleh. Katanya dosa."

"Kamu percaya Om dosa?"

Bima memandangku, lalu menggeleng. "Om baik. Nggak mungkin dosa."

"Terima kasih percaya padaku. Tapi ada yang perlu kamu tahu: Om mencintai Mama. Bukan seperti mencintai sepupu, tapi lebih dari itu."

Mata Bima membesar. "Seperti Papa dulu?"

"Lebih dari Papa dulu. Karena Om tidak akan pernah pergi."

"Dan Om mau jadi... jadi ayah kami?"

"Jika kamu mengizinkan. Dan jika Mama setuju."

Bima berpikir lama. "Kalau Om jadi ayah kami, teman-teman nanti bilang apa?"

"Itu yang sulit, Bima. Mereka mungkin akan bicara hal-hal tidak enak. Tapi Om janji akan selalu ada untuk melindungi kamu dan Kinan dari omongan itu."

"Kinan juga harus tahu?"

"Lambat laun. Tapi Kinan masih kecil. Dia mungkin tidak terlalu paham."

Bima mengangguk, lalu tiba-tanya: "Om mau nikah dengan Mama?"

Pertanyaan langsung. Aku melihat Maya yang menggeleng pelan belum. Terlalu cepat.

"Belum, Bima. Itu butuh waktu. Butuh persiapan. Dan yang paling penting: butuh persetujuan kamu dan Kinan."

"Kalau aku setuju, Kinan juga pasti setuju."

"Tidak semudah itu. Tapi terima kasih untuk dukunganmu."

Setelah Bima tidur, Maya dan aku duduk di ruang tamu. Dia terlihat lelah.

"Ini baru awal," katanya. "Dan Bima sudah terkena dampaknya."

"Kita tidak bisa melindungi mereka selamanya dari omongan orang."

"Tapi kita bisa mempersiapkan mereka. Memberi mereka kekuatan untuk menghadapinya."

---

Ujian terbesar datang minggu berikutnya, dari arah yang tidak kami duga: ayahku.

Teleponnya datang tengah malam. Suaranya dingin, tanpa basa-basi.

"Besok aku di Makassar. Mau ketemu. Berdua. Kamu dan Maya."

"Jam berapa, Yah?"

"Jam sepuluh. Di rumah Bibi Sartika. Aku sudah telepon dia."

Tidak ada ruang untuk negosiasi. Ayahku selalu seperti itu orang yang percaya bahwa sebagai kepala keluarga, keputusannya adalah hukum.

Besoknya, kami sampai di rumah Bibi Sartika tepat waktu. Ayahku sudah duduk di ruang tamu, ditemani suami Bibi Sartika. Wajahnya keras, seperti batu.

"Silakan duduk."

Kami duduk. Maya menggenggam tanganku erat.

"Delapan tahun tidak pulang. Sekarang pulang, langsung membuat skandal."

"Ayah, ini bukan"

"Diam. Aku belum selesai." Ayahku memandangku tajam. "Aku dengar kamu tinggal di rumah Maya. Dengan dua anaknya. Dengan status Maya masih janda."

"Rangga sudah setuju cerai, Paman," Maya menyela, berani.

"Tapi belum resmi! Dan meski resmi, kamu tidak boleh tinggal serumah dengan laki-laki yang bukan mahram!"

"Ayah, Raka mahram saya. Dia sepupu saya."

"Dia laki-laki! Dan kalian berdua... ada sejarah!" Ayahku berdiri, suaranya mulai meninggi. "Aku tahu apa yang terjadi delapan tahun lalu! Aku tahu kenapa kamu tiba-tiba mau ke Singapura!"

Ruang tamu itu tiba-tiba terasa panas.

"Ayah tahu?" tanyaku pelan.

"Tentu! Bibi Sartika cerita! Kamu mau mengacaukan pernikahan Maya! Kamu dikirim ke Singapura agar tidak membuat masalah!"

Maya terkesiap. "Aku tidak tahu..."

"Tentu kamu tidak tahu! Itu kesepakatan keluarga! Raka harus pergi agar kamu bisa menikah dengan tenang dengan Rangga!"

Segalanya menjadi jelas. Delapan tahun lalu, bukan kebetulan aku dapat tawaran kerja di Singapura. Bukan keberuntungan. Itu rencana. Untuk menjauhkanku dari Maya.

"Kenapa tidak ada yang bilang pada kami?" tanyaku, suara gemetar oleh kemarahan yang tertahan.

"Karena kalian masih muda! Tidak akan mengerti! Dan lihat sekarang delapan tahun kemudian, kalian kembali ke kesalahan yang sama!"

"INI BUKAN KESALAHAN!" teriakku, tidak bisa menahan lagi. "Ini cinta, Ayah! Dan kalian yang mengambil hak kami untuk memilih! Kalian yang memisahkan kami!"

"Aku menyelamatkan kalian! Menyelamatkan nama keluarga! Kalau kalian dulu bersama, apa kata orang? Sepupu yang pacaran? Itu memalukan!"

"Dan sekarang? Apa bedanya?"

"Sekarang lebih buruk! Karena Maya sudah punya anak! Punya sejarah pernikahan! Kalian akan jadi bahan gunjingan! Anak-anak akan diejek!"

Maya berdiri, air mata mengalir deras. "Jadi selama ini... keluarga tahu? Tentang perasaan kami? Dan malah memisahkan kami?"

Bibi Sartika turun tangan. "Maya, sayang... itu untuk kebaikan kalian"

"KEBAIKAN SIAPA?!" teriak Maya, suaranya pecah. "Kalian pikir dengan memaksa aku menikah dengan Rangga, dengan mengirim Raka ke Singapura, kami akan bahagia? LIHAT HASILNYA! Pernikahan yang hancur! Delapan tahun kesepian! Anak-anak yang tumbuh tanpa ayah!"

"Ayah Rangga"

"BUKAN AYAH YANG MEREKA BUTUHKAN! MEREKA BUTUH ORANG YANG MENCINTAI MEREKA! DAN RAKA ADA DI SANA SELAMA INI, TAPI KALIAN JAUHKAN DIA!"

Ayahku terdiam, wajahnya pucat. Mungkin baru kali ini ada yang berteriak padanya seperti itu.

"Kami akan bersama, Paman," kata Maya, sekarang lebih tenang tapi tegas. "Dengan atau tanpa restu kalian. Karena kami sudah dewasa. Dan kami belajar bahwa kadang, untuk bahagia, kita harus berani tidak disukai."

Aku berdiri di sampingnya. "Ayah, aku mencintai Maya. Selama ini. Dan aku akan menikahinya ketika waktunya tepat. Jika Ayah tidak bisa menerima... itu pilihan Ayah. Tapi jangan harap aku akan memilih antara Ayah dan kebahagiaanku lagi. Karena delapan tahun lalu, aku sudah memilih Ayah. Dan itu adalah keputusan terburuk dalam hidupku."

Kami berjalan keluar, meninggalkan mereka dalam keheningan yang pecah.

Di mobil, Maya menangis lagi. Tapi kali ini, tangisannya berbeda tangisan pembebasan.

"Mereka tahu," bisiknya berulang-ulang. "Mereka tahu dan memisahkan kita."

"Aku minta maaf. Karena tidak lebih berani dulu."

"Kita berdua salah. Tapi sekarang... sekarang kita punya kesempatan untuk memperbaiki."

Telepon berdering. Dari ayahku. Aku tidak mengangkat. Dia mengirim pesan:

"Aku tidak setuju. Tapi... aku tidak bisa menghentikan kalian. Hati-hati. Dunia tidak seindah yang kalian kira."

Bukan restu. Tapi juga bukan larangan. Itu... kompromi. Mungkin sebanyak yang bisa diharapkan dari ayah sepertinya.

---

Malam itu, kami mengumpulkan Bima dan Kinan di ruang tamu. Waktunya untuk jujur. Sepenuhnya.

"Ada yang perlu kami bicarakan," mulai Maya, suaranya tenang. "Tentang Om Raka. Dan tentang Mama."

Kinan duduk di pangkuanku, masih belum paham. Bima duduk di samping Maya, serius.

"Om Raka dan Mama... saling mencintai. Bukan seperti keluarga, tapi seperti... seperti Papa dan Mama dulu. Hanya lebih baik."

"Jadi Om Raka jadi Papa kami?" tanya Kinan polos.

"Jika kalian mau," jawabku.

"Aku mau!" Kinan langsung berseru. "Om Raka baik. Selalu main sama Adek."

Semua mata tertuju pada Bima. Dia diam lama, memikirkan.

"Kalau Om Raka jadi Papa kami... Om akan selalu ada? Nggak akan pergi seperti Papa dulu?"

"Tidak akan, Bima. Om berjanji."

"Dan... Om akan melindungi kami? Dari omongan orang?"

"Dengan segenap kemampuan Om."

Bima mengangguk, lalu tersenyum, senyum lebar, senyum yang menghapus semua kerutan di dahinya. "Kalau gitu... aku juga mau."

Maya menangis lagi, tapi kali ini tangisan bahagia. Kami berpelukan keempatnya di ruang tamu yang sederhana itu. Sebuah keluarga baru yang lahir dari puing-puing keluarga lama.

Nanti akan ada lebih banyak rintangan. Proses perceraian yang belum selesai. Reaksi keluarga yang masih mungkin berubah. Omongan tetangga yang akan semakin keras.

Tapi malam ini, di ruang tamu dengan lampu temaram dan pelukan yang hangat, kami punya sesuatu yang tidak bisa diambil oleh siapa pun: keyakinan bahwa kami bersama. Bahwa setelah delapan tahun terpisah oleh rahasia dan rencana orang lain, akhirnya kami menemukan jalan kembali.

Dan kali ini, tidak ada yang akan memisahkan kami lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!